Sukses menjadi Entrepreneur bukanlah impian wanita kelahiran Jakarta 17 November 1939 ini. Ia hanya ingin menjadi seorang dokter. Keinginan itu diawali oleh keingin tahuan akan jerawat yang timbul di wajahnya, semasa SMA. Bahkan saat perploncoan di Kampus, ia mendapat julukan janda bopeng dari seniornya Dr. Asih Wiyasti Wilopo (alm). Keingintahuan itu semakin besar ketika Dr. Retno mengikuti kakaknya kursus kecantikan.
"Meskipun saya diterima diterima di ITB, IPB, PTPG, akhirnya saya memilih UI kedokteran. Dari situ saya mengenal kebersihan. Ceritanya, pada suatu waktu saya membeli sabun dan memakainya untuk membersihkan wajah saya. Waktu itu 80 persen wanita Indonesia tidak mengenal sabun untuk wajah. Ternyata wajah saya menjadi bersih. Sejak itu saya tau kebersihan wajah itu penting," kata ibu tiga orang anak.
Ide untuk membuat resep obat jerawat muncul ketika dokter Spesialis Kulit yang juga mengajar di FK UI ini membuka poliklinik. Saat itu pasiennya kebanyakan wanita yang wajahnya berjerawat. "Saya kasih resep apotik yang mengandung belerang untuk jerawat. Tapi kemudian mereka mengeluh karena obat dan bedak racikan apotik tersebut berbau tidak enak dan berwarna putih, sehingga kalau dipakai seperti topeng. Akibatnya mereka tidak mau memakai sehingga tujuan untuk mengobati tidak tercapai," kata dokter yang meraih gelar spesialis kulit dan kelamin dari FK UI tahun 1968 ini.
Kemudian Dr. Retno meminta bantuan suaminya, Dr. psikiater Suharto Tranggono yang mempunyai teman apoteker ditempat prakteknya. Teman Dr. Suharto lalu mengenalkan kepada mereka, seorang juru racik yang berpengalaman. "Obat atau resep yang saya formulasikan itu kemudian saya buat menjadi obat racikan di garasi rumah saya di jalan Rajawali Kemayoran. Ternyata obat racikan yang saya buat di garasi instansi Angkatan Udara di Kemayoran itu mendapat sambutan yang luar biasa. Permintaan tidak hanya sebatas pasien-pasien saya saja, tetapi juga dari para sejawat dokter kulit di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Bandung, Surabaya, Medan, Samarinda," papar Direktur Penelitian dan Pengembangan teknologi Kosmetika Rista Laboratories yang pelan-pelan merekrut apoteker dan mengembangkan produk, bukan saja dua bedak, tapi juga dengan pembersihnya.
Sebagai seorang dokter spesialis kulit, Dr. Retno prihatin dengan banyaknya kasus efek samping penggunaan kosmetika pada wanita sekitar tahun 1970-an. Hal tersebut mendorongnya untuk melakukan penyelidikan dan penelitian tentang kosmetika dan kulit orang Indonesia. Tahun 1970, anggota dari Internastional Society Of Cosmetics dermatology ini menghadap Kepala Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI yang pada waktu itu dijabat oleh Prof M Djuwari.
Dr. Retno menyampaikan banyaknya keluhan masyarakat yang ingin mendapatkan pertolongan dokter tentang kelainan kulit yang bersifat estetik. Menurut Dr Retno seharusnya kosmetika membuat kulit menjadi bersih, sehat dan cantik, bukannya malah dapat menyebabkan kulit pemakainya menjadi rusak. Dokter sendiri tidak dapat memberikan solusi karena ilmu tersebut memang belum pernah ada dalam kurikulum pendidikan kedokteran di Indonesia.
"Usulan saya untuk mendirikan Sub-Bagian Bedah Kulit dan Kosmetika disetujui dan didukung oleh Beliau. Pada saat itulah awal ilmu Cosmetic Dermatology ada di Indonesia. Saya memang ingin membuat kosmetika yang aman dipakai untuk orang Indonesia yang hidup di lingkungan tropis dan dapat dipertanggungjawabkan, "ujar dokter yang lahir dari keluarga pendidik. Ayah Dr. Retno dan Ibu mertuanya berprofesi sebagai guru. Sedangkan ayah mertuanya memang berlatar belakang bisnis.
Setelah melalui penelitian yang panjang, tahun 1981 Dr, Retno Tranggono mempersembahkan seperangkat kosmetika yang diberi nama "Ristra Cosmetics", mulai saat itu produksinya tidak hanya dipakai sendiri untuk pasien tetapi juga semakin banyak digunakan oleh para dokter ahli kulit di seluruh Indonesia. Karena permintaan terus meningkat, maka pada tahun 1981 Dr. Retno dan suami memberanikan diri untuk menerjuni bidang pembuatan kosmetika dengan mendirikan badan hukum yang diberi nama PT. Dwi Citra Utama dan produknya diberi nama 'Ristra'. Nama tersebut adalah singkatan nama dari Retno Iswari -Tranggono. Untuk lebih berkonsentrasi dalam penelitian, pengembangan dan produksinya, Dr Retno dan Dr Tranggono melepaskan diri dari jabatan-jabatan pemerintahan.
Dalam mengelola bisnisnya ini, Dr Retno banyak didukung oleh suaminya Dr psikiater Suharto Tranggono yang bekerja sebagai Psikiater dari Air Force dengan pangkat Kolonel di RSP TNI AU Halim. "Suami saya yang memegang manajemennya, karena beliau punya pengalaman sebagai Kepala Rumah Sakit Pusat TNI AU di Halim. Beliau berhasil membenahi manajemen RS. Pusat di Halim yang nggak karuan menjadi bagus. Sedangkan saya yang lebih ke teknologi Formulasinya," kata wanita yang dengan gigih terus mencari sumber ilmu kosmetika.
Tahun 1982, Dr. Retno mendapatkan buku tentang 'Cosmetika Dermatology' cetakan Amerika tahun 1936. Lalu Dr. Retno banyak membantu di Departemen Kesehatan, menjadi wakil ketua dan Staff Ahli Panitia Monitoring Efek Sampingan Kosmetika dan membenahi pendidikan ahli kecantikan di bawah pendidikan luar sekolah, Departemen P&K.
Sebagai seorang yang ingin banyak tahu, Dr. Retno selalu ingin mencari informasi terbaru tentang dunia kosmetika. Makanya begitu tahu ada kongres besar yang diadakan wadah Ilmuwan Kosmetika Internasional atau IFFCC tahun 1986, ia pun mengikutinya. "Pada kongres dibicarakan soal pH. Menurut mereka, produk kosmetik harus sesuai dengan pH kulit supaya kulit tidak rusak. Begitu pulang ke Indonesia, saya langsung mem-balanced ph produk saya dengan pH kulit. Perusahaan kosmetika di seluruh Asia tidak begitu mudah membanting setir untuk merubah produk mereka, karena mereka sudah perusahaan besar. Sementara saya yang baru mulai merintis, lebih gampang merubah kosmetika saya dengan pH balanced," kata pionir dalam kosmetika modern dan konsep pH Balanced di Asia ini.
Namun Dr. Retno Tranggono sama sekali tidak mempunyai beban dalam mengembangkan kosmetikanya. Ia memang menyenangi bidang teknologi kosmetika. "Teknologi kosmetika adalah hobby saya, sehingga dalam kerja keras yang saya lakukan, banyak menghasilkan gagasan-gagasan yang inovatif," kata wanita yang selain melakukan uji coba formulasi di laboraturium, juga hobi berkebun, menata rumah dan ikut konferensi di luar negeri. Prinsipnya Dr. Retno memang ingin 'Balanced in Everything'. " Disamping kerja keras dan serius, hidup ini harus selalu diisi dengan kegatan untuk diri sendiri, keluarga dan negara".
Profesionalisme yang ia terapkan di perusahaannya sampai saat ini tidak lepas dari pengalamannya tahun 1955 (SMA). Ibunya waktu itu kreatif membuat barang-barang seperti tas. Ia yang disuruh untuk menjual barang tersebut di toko di Semarang. "Saya nangis karena malu disuruh jualan . Mental saya dulu itu masih mental 'ndoro'. Tapi harus saya lakukan, jadi sambil nangis-nangis naik sepeda saya bawa barang-barang itu ke toko. Tapi dari situ saya tahu kalau berjualan itu bisa menghasilkan uang," ujar anak nomor 5 dari 6 bersaudara ini yang rata-rata sekolah di luar kota.
Dr. Retno selalu berusaha menciptakan iklim kekeluargaan diantara para karyawan, sehingga suasana kerja akan terasa lebih akrab dan harmonis, tapi tidak mengabaikan profesionalisme. Profesionalisme dalam bekerja memang sangat diutamakan. "Bagaimana kita membina agar hubungan atasan bawahan dapat terjaga dengan baik, kalau keseimbangan antara hak dan kewajiban tidak dijaga. Selain itu saya selalu menekankan kepada karyawan, well done is better than well said," ujar tim penyusun Kamus istilah Kosmetika Proyek Pengembangan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen P & K.(Elz/Idh)