Sosbud
27-Feb-2008 11:15:00 WIB
PROFIL
Kak Seto : Mantap Berjuang di Dunia Anak



Berita HOT:

Pria itu memang sudah terkenal di antara anak-anak dan orangtua karena kiprahnya selama 30 tahun di dunia anak. Terlahir dengan nama Seto Mulyadi, tapi ia lebih kondang dengan sebutan Kak Seto, sejak menulis tips anak di majalah Bahagia sewaktu masih SD.

Kak Seto menyenangi anak-anak sejak ia masih kecil. Awalnya saat ia kecil, dirinya dan Kak Kresno - kembarannya, serta Kak Makruf memiliki adik yang diberi nama Arief Budiman. Tapi beberapa tahun kemudian, Arief meninggal karena sakit setelah beberapa hari dirawat bersama Kak Seto, yang juga sama-sama sakit.

“Saya merasa kehilangan sekali dan sedih,” katanya mengingat adik yang sangat disayangi itu. Setelah itu, Kak Seto tidak juga diberikan adik baru sehingga akhirnya Kak Seto senang bermain dengan anak-anak tetangga. Magister Psikologi Pasca Sarjana Universitas Indonesia dan kembarannya ini sejak umur empat tahun dikenal sebagai anak yang tidak bisa diam. Lari ke sana ke mari, naik ke atas genting dan akhirnya sering jatuh dan terluka, terutama kening kirinya sobek . “Banyak yang nanya pada saya, kenapa mode rambut saya yang ala Beatle ini, poni ke sebelah kiri, nggak pernah berubah. Padahal rambut di depan ini untuk menutup luka bekas jahitan di kening sebelah kiri,” ungkap Kak Seto.

Sebenarnya sejak kecil kak Seto punya keinginan untuk menjadi dokter, makanya ia rajin mengikuti tes di Fakultas Kedokteran UI, namun selalu gagal. Akhirnya suatu hari, Pak Kasur dan Bu Kasur yang menjadi tokoh panutannya menyarankan untuk menjadi seorang seorang psikolog. Menurut Pak Kasur, psikolog cocok untuk karir Kak Seto yang selama ini suka dengan anak-anak. Bahkan di sanggar milik Pak Kasur, Kak Seto jadi makin piawai mengajak anak-anak asuhnya menyanyi, mendongeng dan main sulap.

Sejak itulah ia mulai membuat acara, diantaranya program acara remaja dan Aneka Ria Anak-anak di televisi pada tahun 1978 bersama Henny Purwonegoro. "Sejak itu saya mantap memilih berjuang melalui dunia anak-anak. Karena anak-anak adalah lapisan masyarakat yang harus diperjuangkan untuk kemajuan negara,” kata Kak Seto yakin.

Kak Seto yang mengaku malu jika disuruh menyanyi di depan umum, banyak menciptakan lagu dan tokoh-tokoh boneka anak-anak. Anda mungkin masih ingat dengan boneka Si Komo yang popular dengan ungkapan, "Macet lagi macet lagi, gara-gara si Komo lewat !". Lagu ini salah satu ciptaan kak Seto yang cukup terkenal. “Waktu sedang mencari nama-nama hewan Indonesia yang bersahabat, saya menemukan nama hewan komodo dari Indonesia bagian timur. Tapi karena komodo terlalu panjang lalu saya singkat menjadi si Komo,” kenang Kak Seto yang selalu jogging sejak kecil supaya tetap lincah.

Juni 2001, Kak Seto kembali meluncurkan adik si Komo, yaitu Komimo yang merupakan singkatan nama tiga anak kembar, Komi, Kimi dan Kimo. Untuk lagu ini, idenya didapat kak Seto dari celotehan dan komentar salah satu dari empat anaknya, masing-masing Minuk, Bimo, Shelomita dan Nindya. “Waktu itu saya iseng-iseng saja nyanyi lagu Komimo pakai piano. Eh, nggak tahunya salah satu anak saya sangat menyukainya,” cerita Kak Seto yang pernah mendapt penghargaan, Orang Muda Berkarya Indonesia Jakarta dengan kategori Pengabdian pada dunia Anak-anak pada tahun 1987.

Pecinta anak yang sudah mendapat gelar Doktor bidang Psikologi program pasca Sarjana UI ini, akhir-akhir ini lebih kosentrasi pada kesibukannya sebagai Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak. Menurutnya masih banyak masyarakat yang belum paham persoalan perlindungan anak. Indikasinya, banyak orangtua yang merasa wajar memukul, memaksa atau mencela anak. Lima persen ‘child abuse’ di keluarga Indonesia justru dilakukan orang-orang terdekat seperti ayah, ibu, kakak atau paman.

Untuk konsekwensinya dalam menyebarluaskan program perlindungan anak ini, Kak Seto mendapat beberapa penghargaan, diantaranya, penghargaan The Outstanding Young Person of The World Amsterdam dengan kategori Contribution to World Peace dari Jaycess International tahun 1987, lalu sekjen PBB Javier Perez de Cuellar sudah mengalungkan Peace Messenger Award di New York dan The Golden Ballon Award dengan kategori, Social Activity dari World Children’s Day Foundation & UNICEF tahun 1989.

Di Komnas Perlindungan Anak, Kak Seto banyak keliling ke berbagai tempat pengungsian, diantaranya menghibur anak-anak di IrianJaya. “Mereka kasian sekali, kalau kita tidak melakukan tindakan konkrit, kita akan kehilangan bukan satu generasi tapi kehilangan sebuah bangsa. Mereka sangat terpuruk,”ungkap kak Seto yang menghibur anak-anak pengungsian itu dengan mendongeng, bercerita, main sulap, menyanyi dan menari bersama.

Berikut komentar lain Kak Seto pada indosiar.com seputar pengamatannya terhadap perkembangan anak dan remaja saat ini.

Belakangan ini banyak sekali remaja yang terlibat tawuran membawa senjata dan narkoba. Hal itu masih dikategorikan kenakalan remaja ?

Anak yang berusia 18 tahun ke bawah sangat rentan, perlu perlindungan dan bimbingan karena pada usia mereka gampang sekali terserap berbagai pengaruh buruk seperti narkoba dan contoh dari televisi. Kalau tidak diawasi mereka bisa berprilaku negatif. Tapi hal itu jangan dijadikan sasaran kesalahan, justru menjadi sasaran kita untuk melindungi mereka. Dalam ilmu psikologi semua prilaku bisa diubah.
Makanya ada penjara dan undang-undang untuk mengubah perilaku. Kalau masih anak-anak, setiap tindakan negatif yang dilakukan dapat dikategorikan kenakalan yang pada dasarnya menjadi tanggung jawab kita sebagai orangtua untuk bisa mengubah penyimpangan tadi. Sedangkan penyimpangan yang dilakukan anak yang usia 18 tahun ke atas, sudah dikategorikan kejahatan karena mereka sudah tahu hal yang tidak boleh dilakukan tapi tetap melakukannya.

Apa yang menyebabkan kenakalan remaja ?

Saya percaya pada dasarnya semua anak itu baik. Kalau akhirnya ada yang menjadi buruk itu karena polusi lingkungan yang masih mendominasi kehidupan anak di sekeliling kita. Tugas kita adalah menciptakan lingkungan kondusif agar tercipta anak-anak yang unggul karena mereka punya potensi, kreatif dan cerdas. Semua itu sia-sia kalau arahnya negatif, kalau mereka tidak punya landasan moral, tidak miliki pemahaman, aturan atau norma. Tugas kita sebagai orangtua meluruskan kembali penyimpangan perilaku anak secara optimal.

Seberapa besar peran orangtua dan sekolah terhadap perkembangan anak?

Institusi yang paling bisa diharapkan untuk mengawasi anak adalah keluarga. Itu institusi kecil yang membuat kontrol dan pelaksanaan lebih mudah. Sekolah kan jumlah orangnya lebih besar sehingga sulit. Sekolah dan bermasyarakat apalagi. Kita mulai dari keluarga. Biasanya keluarga melimpahkan semua tugasnya pada pendidikan formal. Orangtua terlalu lepas tangan terhadap sekolah dan guru, padahal sebagian besar waktu anak dihabiskan di luar sekolah, bukan di dalam sekolah.
Pendidikan formal yang diajarkan sekarang juga masih banyak yang salah. Sehingga wajar saja kalau suatu lembaga meletakkan negara dan pelajar kita di tempat yang paling buruk di bawah Vietnam.

Sejauh mana letak kesalahan pendidikan formal kita ?

Kesalahan paling mencolok, kita terlalu menekankan pada otak kiri, anak yang cerdas pada akademik dan menekankan anak yang harus rangking. Tapi sebenarnya secara tidak langsung kita mencetak robot yang patuh yang mungkin bisa berpikir dengan cara yang diajarkan guru tapi tidak berpikir dengan cara sendiri. Anak-anak itu juga tidak akan berpikir dengan ide-iednya yang cemerlang untuk mengatasi berbagai masalah dengan lebih kreatif.

Definisi nakal bagi anak atau remaja itu sebenarnya apa ?

Nakal adalah penyimpangan perilaku pada anak-anak yang pada dasarnya dilatar belakangi ketidaktahuan. Tugas orangtua memberitahu, membimbing dan melatih agar anak berperilaku lebih baik lagi. Saya sudah membuktikan sendiri sehingga di mata saya nggak ada anak nakal, kalau diberitahu pasti bisa asal caranya jangan dimarahi dan tidak dengan bentakan karena mereka pasti melawan.

Kak Seto ingin mengatakan kalau cara orangtua yang mendidik anak dengan marah itu salah ?

Ya… bukan hanya orangtua, guru, pemerintah, masyarakat luas dan media massa juga berperan untuk memperbaiki dan melakukan yang terbaik pada anak. Media massa harus buat sosialisasi tentang hak anak. Kalau anak-anak dihargai dan tidak diperlakukan dengan keras mereka akan jauh lebih baik.

Apakah para artis cilik termasuk korban eksploitasi anak ?

Kita tidak bisa pukul rata artis cilik itu korban eksploitasi. Bisa saja itu memang kemauan dan bakat anaknya sendiri. Makanya kita tanya, anak suka nggak menyanyi ? Kalau suka dan orangtua melarang, itu baru melanggar hak anak. Jadi semua dikembalikan pada kepentingan anaknya. Kalau sesuai dengan potensinya biarkan anak berkembang sesuai bakat.

Kak Seto sendiri pernah kerja waktu kecil ?

Pernah dan itu kemauan saya sendiri. Saya pernah menjadi pedagang asongan yang berkeliling di jalanan untuk membiayai sekolah, karena ayah saya meninggal setelah saya lulus SMP. Yang saya jual macam-macam, mulai dari koran, tas anyaman plastik untuk belanja sampai balon. Mengisi rubrik khusus anak-anak di majalah Bahagia di Surabaya, honornya cuma Rp. 500 waktu itu. Lalu saya juga pernah menjadi pelayan toko kacamata, jadi tukang parkir di Blok M sampai menjadi tukang di rumah yang sedang dibangun.
Bukan itu saja, bermain sulap dan menjadi pembantu juga saya jalani. Sampai akhirnya saya bisa mendidik anak-anak di tempat Pak Kasur dan tampil di televisi untuk program acara anak-anak. Uang yang saya dapat dipakai untuk membiayai sekolah saya, saudara kembar saya Kresno dan abang saya Makruf. Tapi itu juga kadang-kadang belum cukup. Sehingga untuk nambah keperluan sehari-hari, mereka masing-masing bekerja juga.

Bagaimana dulu Kak Seto sampai bisa gagap ?

Sampai sekarang saya masih gagap kalau ngomong di panggung. Terutama kalau lagi stress. Saya kan kembar dan kidal. Saya dipaksa untuk memakai tangan kanan. Berhasil, tapi akhirnya saya jadi gagap. Kalau sudah capek, saya pasti ngomongnya gagap. Tapi saya terus menerus latihan keras, belajar pidato, berteriak-teriak di tengah hujan deras dan berbicara sendiri di tengah hutan selama 40 tahun. Sampai detik ini kalau menyetir mobil saya suka ngomong sendiri untuk menyembuhkan gagap saya. Hasilnya sekarang saya bisa menjadi MC, bisa ikut seminar, tapi kalau stres kadang-kadang suka muncul juga sih.

Bagaimana menerapkan pendidikan terhadap keempat anak Kak Seto ?

Saya menjadikan suasana rumah yang demokratis saling, menghormati dan menghargai, menganggap anak-anak punya ide yang bagus. Kalau kita mendengar ide mereka, semuanya akan terasa lebih mudah. Pada setiap kesempatan mengikuti seminar, saya sering menyampaikan pada orangtua kiat menghadapi anak-anak di rumah dengan Dasa Busana. Dasa busana adalah istilah untuk orangtua yang semestinya memakai busana tertentu sesuai dengan situasi untuk menghadapi anak. Mulai dari busana hakim, guru, polisi, busana badut sampai busana dokter dan santai. Dengan mengandaikan diri sedang mengenaka busana itu, saya dan istri lebih mudah mengatur sikap sesuai keadaan, Sehingga anak-anak saya merasa lebih dihargai dan bahagia.(*/Ijs)

Nama:
Email:

More PROFIL:
[ more Profil ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :