indosiar.com - Masih ingat kasus Teluk Buyat ? Saat ini kasus pencemaran Teluk Buyat, yang ditenggarai dilakukan oleh PT Newmont Minahasa Raya (NMR) sudah dalam tahap penyidikan di Mabes Polri. Dua orang telah ditetapkan sebagai pelaku pencemaran yang mengakibatkan beberapa warga Teluk Buyat menjadi korban pencemaran.
Terkuaknya kasus pencemaran Teluk Buyat, tak lepas dari peran wanita ini. Berkat bantuan wanita inilah, warga Teluk Buyat, melaporkan peristiwa pencemaran yang terjadi di Teluk Buyat.
dr. Jane Pangemanan, demikian nama wanita yang lahir di Makassar tanggal 7 Juni 1953. Wanita ini merupakan Direktur Yayasan Sahabat Perempuan dan dosen di Universitas Sam Ratulangi.
Keterlibatannya dalam penderitaan warga Teluk Buyat, menurut dr Jane, secara tidak sengaja. "Kebetulan saya seorang dokter, oleh Yayasan Hati Nurani saya dimintai tolong untuk melakukan pengobatan cuma-cuma bagi masyarakat Buyat Pantai. Dan pada bulan Juni 2004, saya bersama dengan teman-teman dari Pasca Sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi yang berjumlah 9 orang melakukan pengobatan kepada warga Buyat Pantai," jelas dr Jane saat memulai perbincangan dengan indosiar.com, beberapa waktu yang lalu.
Dari pengobatan tersebut, lanjut Jane, dari 100 pasien yang diperiksa, ternyata 80 % menderita penyakit dengan gejala-gejala yang sama. Keadaan itu sempat mengagetkannya karena tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa kelompok populasi masyarakat yang memiliki gejala yang sama.
"Gejala yang saya temukan merupakan gejala yang mengarah kepada penyakit-penyakit yang bersifat regeneratif. Yakni gejala adanya keram-keram, sakit kepala, pusing, kemudian gangguan pada kulit. Hal yang membingungkan yakni timbulnya benjolan pada bagian-bagian tubuh", ucapnya menahan getir.
Jane makin kaget, saat melakukan pemeriksaan terhadap seorang anak bernama Andini Lengkung, karena kulit di sekujur tubuh balita tersebut seperti terbakar dan mengelupas. Kulit balita Andini berwarna hitam disertai adanya benjolan-benjolan di kepalanya. "Saya kaget sekali ada bayi berusia 5 bulan dengan kondisi seperti itu", ujar istri Didi Sumampaw, Wakil Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Utara.
"Saya kemudian bertanya kemasyarakat Buyat, apakah sudah memeriksakan diri di puskesmas tersebut dan mereka mengatakan bahwa puskesmas setempat hanya mengatakan penyakit yang mereka derita hanya penyakit kulit biasa. Saya mulai berfikir, tidak mungkin satu populasi masyarakat mempunyai penyakit dengan gejala yang sama. Ini merupakan sebuah kejadian yang luar biasa. Saya melakukan pengamatan lebih lanjut, dan ternyata mereka mengkonsumsi biota alam, yang berasal dari laut yakni ikan dimana ikan itu sudah tercemar", papar Jane dengan jelas.
Jane berfikir, mungkinkan masyarakat Buyat terkena racun logam berat. Kecurigaannya terbukti saat ia mengikuti satu seminar yang menjelaskan bahwa di Teluk Buyat sudah terjadi pencemaran.
Jane Pangemanan mengatakan, kedatangannya ke Jakarta untuk meminta penyelidikan lebih lanjut ke Mabes Polri dan mengharapkan tanggung jawab negara atas penyakit yang sudah dapat dinyatakan kejadian luar biasa di Pantai Buyat. "Karena kami tidak tahu hukum, jadi kami meminta bantuan LBH Kesehatan untuk melakukan upaya-upaya hukum dan untuk hal tersebut maka kami bersama 4 orang warga Buyat ke Jakarta, untuk menuntut keadilan pada pemerintah," lanjutnya.
Jane yang menikah tahun 1975 ini mempunya tiga orang anak. Satu orang anaknya saat ini bekerja di Amerika, satu-satunya anak perempuannya menjadi diplomat, dan yang paling kecil masih berumur 9 tahun.
"Saya lulus kedokteran pada tahun 1980. Dan meneruskan sekolah S2 di Universitas Airlangga tahun 1990 hingga 1992. Selain mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, saya juga memiliki kesibukan lain sebagai Ketua Yayasan Sahabat Perempuan yang memiliki visi untuk menangani permasalahan yang berhubungan dengan perempuan dan anak. Yayasan ini didirikan tahun 1999 yang dimotori oleh para mahasiswa dari Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Sosial dan Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi. Kegiatan kami yang pertama yakni melakukan penelitian-penelitian khususnya mengenai HIV/AIDS, menangani masalah trafficking bekerja sama dengan ICFC," ungkapnya sambil tersenyum.
Sebenarnya masalah yang dihadapi oleh masyarakat Buyat, jelas Jane, sudah cukup lama dan telah ditangani oleh beberapa organisasi NGO (Non Goverment Organization) disana. Tetapi sampai bulan Juni 2004 tidak pernah terangkat, sehingga para NGO menjadi frustasi sendiri.
Meski masalah pencemaran Teluk Buyat sudah ditangani pihak Mabe Polri, namun Jane tidak yakin apa hal tersebut bisa merubah keadaan yang menimpa masyarakat Buyat. Karena logam berat itu susah untuk dihilangkan.
Jujur Jane mengatakan saat mengobati warga Buyat, dalam hatinya mengatakan bahwa tidak mungkin menyembuhkan penyakit yang diderita warga Buyat. "Upaya kita sekarang adalah upaya hukum. Karena mereka telah mengalami keracunan logam berat dalam tubuhnya dan itu susah sekali dinetraliasir", tegasnya.
Ia juga kecewa dengan sikap puskesmas di Buyat yang menyatakan bahwa penyakit yang diderita oleh warga Buyat adalah penyakit biasa. Karena seharusnya, puskesmas di Buyat harus bertanggung jawab kepada kesehatan warga sekitarnya. "Miris memang, tetapi saya sedikit gembira karena sudah melakukan hal yang benar yaitu membela kepentingan kemanusiaan. Sebab jika saya melihat kesehatan masyarakat belum tercapai, saya belum merasa puas", tandasnya menutup perbincangan.(Bagus Herawan/Idh)