Kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, tepatnya di Jalan Tambak No.55 B, Menteng, Jakarta Pusat, terdapat sebuah ruko yang menyediakan alat bantu medis yang jarang kita jumpai. Ruko tersebut mematok plank Tambak Prothese dan Orthose.
Yang dimaksud dengan Prothese adalah alat bantu seperti kaki palsu, tangan palsu, jari palsu, dan gigi palsu. Sedangkan Orthose adalah alat bantu pendukung berupa kloset, tongkat, roda. Selain menyediakan beragam jenis alat bantu seperti kaki dan tangan palsu, tempat ini juga merupakan workshop (pembuatan kaki dan tangan palsu) dan tempat pelatihan berjalan bagi pasien.
Adalah Victoria Silalahi, pengelola Tambak Prothese dan Orthose itu. Dengan ramah, wanita berkaca mata ini menuturkan keterlibatannya dalam bisnis yang menurutnya lebih banyak bersifat sosial ini. Menurut Victoria, keterlibatannya dalam bisnis prothese dan orthose dimulai seusai ia menamatkan sekolahnya di jurusan fisioterapi di Rumah Sakit Glugur Medan, Sumatera Utara, ia melamar pekerjaan di Jakarta dan diterima bekerja di sebuah fisioterapi di kawasan Sunter, Jakarta Utara.
Selama 4 tahun bekerja ditempat yang menyediakan alat-alat bantu bagi penderita catat tubuh, baik akibat kecelakaan atau cacat lahir, ia banyak belajar, mengenal pasien dan beberapa dokter. Merasa telah mendapat pengalaman yang lumayan banyak, ia berkeinginan membuka usaha sendiri. Kebetulan saat itu salah seorang dokter mengajak dirinya untuk membuka usaha bersama yakni penyediaan alat bantu bagi orang cacat.
Wanita yang sejak kecil sudah mandiri dan bekerja keras untuk dapat membiayai sekolah adik-adiknya ini pun, tak menolak kesempatan tersebut. Dan akhirnya berdiri sebuah tempat terapi pada tahun 2002 yang ada di kawasan Menteng tepatnya di Jalan Tambak, Jakarta Pusat, yang diberi nama Tambak Prothese dan Orthose. Pada saat itu, dirinya hanya sebagai pelaksana atau pengelola di tempat tersebut yang masih dalam pantauan dokter.
Menurut wanita yang menamatkan SMA-nya di Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, usaha Prothese dan Orthose ini bukan rumah sakit atau klinik namun sebagai mitra rumah sakit atau penyedia alat bantu. Yang menjadi mitra mereka saat ini adalah dari Rumah Sakit Medistra, RS Cikini, RSUPN Cipto Mangunkusomo, RS Dharmais, RS Harapan Bunda dan Rumah PMI.
Kepada mitra-mitranya tersebut, Ria menawarkan segala macam alat bantu alat pendukung ke dokter rehab, bedah orthopedic serta dokter neologi.
Menurut Ria, pasien yang memakai kaki palsu sangat berbeda-beda misalnya karena kecelakaan dan cacat bawa lahir. Agar pasien tidak rendah diri menggunakan kaki atau tangan palsu adalah memperlihatkan foto-foto pasien yang telah berhasil menciptakan lapangan kerja. "Misal seorang cacat bisa membuka bengkel atau sablonan hanya dengan menggunakan tangan palsu. Alat bantu semacan ini akan dapat menolong orang tidak putus asa dengan keadaan yang mereka alami", jelas Ria.
Untuk pembuatan kaki palsu, diungkapkan Ria, memerlukan waktu yang cukup lama. "Untuk satu buah kaki palsu atau tangan palsu, menghabiskan waktu sampai 3 minggu. Sedangkan bahan utamanya adalah terbuat dari fiber dan aluminum, paku dan palu yang kesemua dipasok dari kawasan Poncol, Jakarta", papar anak ketiga dari 6 bersaudara ini.
Di Tambak Prothese dan Orthese ini, Ria melibatkan 4 orang karyawan yang mengerjakan kaki dan tangan palsu, yang semuanya dilakukan dengan cara manual. "Biasanya yang membutuhkan kaki atau tangan palsu memesan terlebih dulu baru akan dibuatkan, menurut bentuk dan ukuran", ujarnya.
Usaha ini juga membawa Ria terlibat dalam Program Peduli Kasih Indosiar sejak tahun 2001. Keterlibatannya dalam program sosial tersebut berawal saat salah seorang karyawan Ria yang menyandang cacat bawaan lahir. Mereka memiliki perkumpulan sesama penyandang cacat yang butuh kaki palsu. Kebetulan istri salah seorang penyandang cacat itu karyawan Indosiar. Dari situ Ria mendapat pesanan dari Peduli Kasih untuk membuatkan kaki palsu hingga sekarang.
Victoria Silalahi mengatakan bahwa program Peduli Kasih sangat bagus karena dapat membantu masyarakat yang betul-betul tidak mampu. Semoga program ini juga diikuti oleh televisi yang lain. Mengingat masih banyak orang yang membutuhkan alat bantu bagi orang cacat.
Bagi Ria ia tidak pernah membayangkan akan terjun ke usaha penyedia alat bantu seperti ini. "Mungkin ini rahasia Tuhan", ucapnya sambil tersenyum. Yang jelas ia merasa bangga bisa membantu orang lain dengan usaha yang dijalani selama ini. Ia merasa senang jika bisa sedikit saja memberi rasa kebahagiaan bagi penderita cacat tubuh, dengan menyediakan alat bantu agar tidak merasa rendah diri dan percaya diri.
Meskipun ruko yang dijadikan usaha selama ini masih kontrak dengan biaya Rp 7 juta rupiah pertahun, namun dia akan terus mengembangkan usaha ini karena masih banyak orang yang membutuhkan alat-alat seperti itu.(Suprihatin/Idh)