indosiar.com, Simalungun - Para perantau dari desa-desa pesisir Danau Toba, Kabupaten Simalungun, hingga kini masih jarang yang peduli terhadap kesulitan ekonomi masyarakat di kampung halaman mereka.
Perantau desa-desa pesisir Danau Toba tampaknya tidak miris melihat kesengsaraan petani di kampung mereka, yang saat ini nyaris tidak memiliki mata pencaharian, akibat punahnya bawang merah dan bawang putih sejak tahun 2001.
Namun bagi Hamonangan Saragih SH, perantau asal Desa Hutaimbaru, Kecamatan Silimakuta, Simalungun, yang sekarang tinggal di Kota Kembang Bandung, kesulitan ekonomi petani di kampung halamannya itu membuatnya sedih dan terbeban.
Betapa tidak sedih. Di tengah kesulitan ekonomi warga desa, ternyata ada oknum-oknum yang memanfaatkan mereka melakukan tindakan kriminal. Sejak tahun 2003 lalu misalnya, beberapa penduduk desa pesisir Danau Toba di Simalungun, termasuk desanya sendiri, Hutaimbaru dan Nagori Purba terlibat penanaman ganja. Bahkan, beberapa warga desa sempat diproses hingga ke pengadilan akibat tindakan kriminal itu.
Hamonangan yang akrab dipanggil Monang Saragih kepada kontributor indosiar.com di Desa Hutaimbaru baru-baru ini mengungkapkan, akibat kesulitan ekonomi, para petani di desa-desa pesisir Danau Toba banyak yang terjerumus menjadi petani ganja.
Para petani terjebak cengkeraman mafia ganja karena tanaman bawang tidak tumbuh lagi di daerah itu. Kemudian, para petani menanam tomat dengan biaya mahal. Tetapi, harganya sering anjlok. Sedangkan hasil tangkapan ikan di Danau Toba tidak ada.
“Akhirnya petani menanam ganja. Selain itu, warga desa yang mau beribadah ke gereja juga semakin sedikit. Sedangkan sekolah di daerah itu sudah tutup karena guru tidak betah tinggal di desa terpencil ini,” ujarnya.
Melihat keputusasaan para petani itu, Monang Saragih yang memiliki usaha radio pemancar Mora FM Bandung pun merasa prihatin. Ketika dia kembali ke kampung halaman, Maret 2004 lalu, dia memberikan bantuan sekitar Rp 70 juta kepada warga Desa Hutaimbaru. Setiap keluarga miskin di kampung itu mendapat bantuan modal Rp 1 juta. Modal tersebut dimaksudkan untuk menanam kopi “sigarar utang” (pembayar hutang) yang bisa panen setahun.
“Bantuan yang saya berikan itu sebenarnya hanya sekadar membangkitkan semangat petani agar kembali bergairah bertani. Bantuan tersebut dulu saya harapkan mendapat tambahan dari pemerintah setempat atau perantau. Tetapi ternyata tidak,” katanya.
Monang Saragih yang kini juga termasuk pengacara terkenal di Bandung mengatakan, kurangnya dukungan perantau dan pemerintah terhadap pemberdayaan ekonomi desa pesisir Danau Toba tersebut, membuat bantuannya itu tidak berhasil.
“Pada saat pulang kampung ketika ibu saya meninggal Minggu (06/02/05), ternyata bantuan yang saya berikan tidak berhasil. Bantuan tidak dibuat untuk modal, tetapi dijadikan biaya rumah tangga. Ini karena kurangnya pendampingan pemerintah desa terhadap warga desa dalam pemanfaatan modal usaha dan penyuluhan pertanian,” ujarnya.
Kendati bantuannya yang diberikan kepada warga kampung halaman tidak berhasil, ternyata Monang Saragih yang lahir di Desa Haranggaol, 26 Juni 1957 ini tidak berhenti mengulurkan tangan membantu petani di desanya. Monang Saragih masih berencana membantu petani di desanya bibit babi. Setiap keluarga rencananya diberikan sepasang bibit babi untuk dikembangkan.
“Kita harapkan bibit babi itu nanti akan dapat dikembangkan warga desa untuk membangkitkan kembali usaha tani mereka. Dalam setahun, babi yang mereka pelihara nanti sudah bisa dijual. Harga daging babi di daerah ini sekarang cukup mahal, mencapai Rp 23.000/Kg,” ujarnya.
Menghibur
Ternyata Monang Saragih tidak hanya memberikan bantuan materi bagi orang kampungnya. Dia juga mau bersusah payah menghibur warga desanya. Ketika dia pulang kampung ke Desa Hutaimbaru karena ibunya meninggal, dia sengaja menghadirkan artis ibukota Trio Ambisi ke desa terpencil itu untuk menghibur warga desa.
Selain itu, artis Bandung pun turut serta dibawa seperti Parna Trio dan Wildan Nasution, si pencipta lagu dangdut “Hujan di Malam Minggu”. Kehadiran artis nasional dan Kota Kembang Bandung tidak diduga warga desa tersebut. Karena itu, mereka terperangah melihat artis datang ke kampung mereka yang terpencil.
Para artis tersebut yang manggung hingga subuh pun benar-benar mampu menghibur warga desa yang sedang berduka akibat meninggalnya seorang tokoh masyarakat desa itu yang juga ibunda Monang Saragih.
Menyaksikan penampilan Trio Ambisi, Parna Trio dan Wildan Nasution yang cukup memikat dan mampu mengobati duka orang kampung, membuat ratusan warga desa langsung mengelu-elukan Monang Saragih yang mereka nilai sangat peduli terhadap penderitaan warga miskin di kampung halamannya.
Menurut Monang Saragih, dia bersusah payah mendatangkan Trio Ambisi, Parna Trio dan Wilda Nasution ke kampung halamannya atas permintaan almarhum ibunya semasa hidup. Permintaan itu tercetus dari ibunda Monang Saragih karena melihat kedekatan Monang Saragih dengan Trio Ambisi dan Parna Trio selama ini. Hal itu sudah pernah disampaikan Monang kepada Trio Ambisi.
Karena itu ketika Monang memberitahukan ibunya meninggal kepada Trio Ambisi di Jakarta, mereka langsung siap berangkat ke Desa Hutaimbaru tanpa minta bayaran. Ketika itu, Trio Ambisi sedang rekaman untuk album terbaru mereka. Hal yang sama juga dilakukan Parna Trio dan Wildan Nasution di Bandung.
“Ya, upaya kita mendatangkan kawan-kawan artis Ibukota ke desa ini hanya untuk menghibur orang kampung. Hal itu saya lakukan sebagai ucapan terima kasih saya kepada warga kampung. Merekalah yang selama ini mendampingi ibunda saya yang sudah menjanda sejak tahun 1975. Kami anak-anaknya sebagian besar merantau. Hanya seorang yang tinggal di kampung ini,” katanya. (RS Manihuruk/Tom)