Sosbud
19-Aug-2005 15:53:55 WIB
PROFIL
Potret Surastri Karma Trimurti
Legenda Jurnalisme Indonesia



Berita HOT:
Tubuh itu layu, tergolek pucat diatas ranjang rumah sakit. Raut mukanya yang lebam, menyisakan kepolosan dan ketulusan akan segala hal. Meski demikian, ia masih tampak tegar menyisakan kekuatannya di masa lalu, yang sudah tiga jaman dilewatinya.

Nama Surastri Karma Trimurti tercatat dalam sejarah dalam dunia jurnalisme di Indonesia. Coretan dan tulisannya, meninggalkan bekas di kalangan wartawan tiga jaman. Melalui karya-karya dan tulisannya, ia bahkan pernah menjalani hidup di bui Belanda (1936-1943). Bahkan, anak partamanya lahir dalam penjara Belanda yang kumuh dan sempit kala itu.

Wanita kelahiran Solo, 11 Mei 1912 tidak lain tidak bukan adalah istri dari penulis naskah otentik proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Muhammad Ibnu Sayuti atau yang lebih dikenal dengan Sayuti Melik. Menikah ditahun di tahun 1938 namun kemudian bercerai pada tahun 1969. Dari perkawinan mereka lahir dua orang putra yang diberi nama Moesafir Karma Boediman (MK Boediman) dan Heru Baskoro.

Di usia senjanya ini, wanita berperawakan mungil ini masih tetap menuangkan kritikan-kritikan tentang apa yang tejadi disekitar dalam tulisan dan goresan diatas kertas. Sikap ramah dan penuh kesopanan, menuntunnya dalam mengungkap fakta-fakta ketidak adilan.

SK Trimurti, demikian ia lebih dikenal, lahir dari pasangan Salim Banjaransari Mangunsuromo dan Saparinten binti Mangunbisomo. Nama Karma dan Trimurti yang sering dimunculkannya, digunakannya sebagai samaran secara bergantian untuk untuk menghindar dari delik pers masa pemerintahan kolonial Belanda.

Rupanya siasat itu tidak sampai meloloskannya dari penjara pemerintah Belanda. Sampai-sampai, beliau harus melahirkan anak pertamanya Mohammad K Budiman tahun 1939 di lorong penjara penjajah Belanda.

Wanita yang menjadi Menteri Perburuhan pertama pada era Soekarno ini, mengenal dunia politik sejak ia tamat dari Sekolah Ongko Loro, yang waktu itu lebih dikenal dengan sebutan Tweede Inlandsche School. Saat menjadi guru dan sering mendengar pidato Bung Karno, diradio-radio, ia pun tergerak untuk aktif sebagai kader di Partindo. Di partai tersebut, Surastri mengal Sudiro, Sanusi Pane dan Intojo.

Pada masa-masa itu, saat mengajar di Bandung, Surastri sempat menetap dirumah Ibu Inggit Ganarsih, yang saat itu menjadi contoh tauladan bagi gadis-gadis sebaya Surastri, karena oleh Bung Karno, Ibu Inggit dikatakan sebagai Srikandi Indonesia.

Akibat keaktifannya di dunia perjuangan, SK Trimurti sempat merasakan dinginnya dinding penjara pada tahun 1936. Ia dihukum di Penjara Wanita, di Bulu, Semarang, akibat menyebarkan pamflet anti penjajah. Sekeluarnya ia dari penjara, karena tidak boleh lagi mengajar, Surastri pun bekerja di sebuah percetakan kecil, yang merupakan percetakan kaum pejuang. Disinilah ia belajar tentang membuat koran atau mencetak majalah. Dan bakat menulisnya pun mulai terlihat.

Pada tahun 1937, SK Trimurti berkenalan dengan Sayuti Melik. Kedua orang aktivis politik ini pun mengikat janji untuk menjadi suami istri pada 19 Juli 1938. Maka jadilah mereka pasangan suami istri yang saling bahu membahu dalam dunia perjuangan. Dalam masa pernikahannya itu, Sayuti dan Trimurti mengalami romantisme perjuangan. Bahkan demi membela Sayuti, yang menulis artikel berisi anjuran agar rakyat Indonesia tidak membantu Belanda dan dimuat di majalah tempat Trimurti bekerja, Surastri rela mengaku itu tulisannya sehingga ia dikenakan tahanan luar, karena saat itu ia tengah mengandung anak pertamanya.

Pada masa kemerdekaan, oleh Soekarno, SK Trimurti diangkat sebagai Menteri Perburuhan dalam Kabinet Amir Syarifuddin, mulai dari 3 Juli 1947 sampai 23 Januari 1948. Awalnya ia merasa tidak mampu, namun berkat bujukan Drs Setiajid, hatinya pun luluh. Namun kabinet tersebut tidak berjalan lama.

Pensiun jadi menteri, SK Trimurti menjadi anggota Dewan Nasional RI. Ia juga melanjutkan kuliahnya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan tamat tahun 1960. 1962 hingga 1964, ia diutus oleh Pemerintah RI ke Yugoslavia untuk mempelajari Worker's Management dan ke negara-negara sosialis lainnya di Eropa untuk mengadakan studi perbandingan mengenai sistem ekonomi. Karena dedikasinya kepada dunia perburuhan, SK Trimurti diangkat sebagai anggota dewan pimpinan Yayasan Tenaga Kerja Indonesia (YTKI).

Meski bergelut dalam dunia perburuhan, timbul rasa rindu dihatinya untuk kembali menekuni dunia jurnalistik. Maka ia pun menerbitkan majalah yang diberi nama Mawas Diri, yang memuat soal-soal kekagamaan, aliran kepercayaan, soal-soal etika, moral dan sebagainya.

Kini wanita yang sudah berusia 93 tahun itu, tinggal sendiri di rumah mungilnya di Jalan Kramat Lontar H-7, Kramat, Jakarta Pusat. Rumah sederhana itu jauh dari kemegahan dan kementerengan. Sebagian rumah itu kini digunakan untuk tempat kost karyawan wanita.

Satu-satunya persoalan fisik yang serius dialaminya adalah keterbatasan penglihatan mata sebelah kanannya yang merosot karena termakan usia. Jadi tidak aneh, jika lontaran senyum yang disampaikan orang yang mengenalnya tidak pernah dibalasnya.

Saat ini SK Trimurti terbaring lemah di ruang 8 Mawar Rumah Sakit Cikini, Jakarta. Usianya yang mulai uzur, diikuti dengan melemahnya organ-organ tubunya. Dokter sendiri sampai kini tidak bisa memastikan penyakit penyebabnya lemahnya tubuh gesit sang mestro jurnalistik ini. Sayangnya, tidak banyak orang yang mengetahui tentang keadaan dirinya, padahal ia ikut menghantarkan bangsa Indonesia menikmati 60 tahun kemerdekaannya. Cepat sembuh pejuangku....!(Bagus Herawan dan Indah Julianti)

Nama:
Email:

More PROFIL:
[ more Profil ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :