
indosiar.com, Jakarta - Gembong teroris paling dicari oleh aparat kepolisian Republik Indonesia, Dr Azahari, dilaporkan tewas dalam sebuah operasi penggerebekan di sebuah rumah kontrakan di Jalan Flamboyan II, Kelurahan Songgokerto, Kota Batu, Jawa Timur, Rabu (9/11) sore.
Dr Azahari bin Husin benar-benar patut diberi gelar sebagai "The Demolition Man" di Indonesia karena keterlibatannya dalam sejumlah aksi peledakan bom mulai bom Bali tahun 2002 hingga bom Bali jilid II Oktober 2005 lalu.
Selama tiga tahun terakhir ini, Azahari bersama Noordin Mohd Top terus melakukan sejumlah aksi teror di wilayah Indonesia yang telah menelan ratusan korban jiwa. Aksi pengejaran terhadap kedua gembong teroris ini terus diupayakan dan menjadi target utama Kapolri Jenderal Polisi Soetanto sejak terpilih menggantikan Jenderal Dai Bachtiar.
Di tahun 1970-an, Dr Azahari menuntut ilmu ke Adelaide, Australia. Saat itu, lelaki berkacamata ini baru berusia 17 tahun. Menjelang tahun 1980, Azahari berhasil memperoleh gelar sarjananya strata I di bidang engineering di Adelaide University.
Kemudian, Azahari melanjutkan studinya untuk meraih gelar master, tetapi gagal menyelesaikannya. Dr Azahari, pria kelahiran 14 September 1957 ini melanjutkan studi S2-nya di Reading University dan berhasil meraih gelar doktornya (Phd) di tahun 1990 dalam kajian model statistika dengan yudisium cum laude.
Di Inggris, Azahari dikenal juga sebagai Azar. Dr Peter Byme selaku tutornya mengatakan bahwa Azahari adalah seorang yang pendiam. Sekembalinya dari Inggris, Azhari bersama isteri dan anaknya tinggal di Skuddai, Johor.
Azahari menjadi dosen pada Fakultas Teknis dan Ilmu Geoinformasi di Universitas Teknologi Malaysia. Sejak itu, dia disapa sebagai Dr Azahari. Pertengahan tahun 1990-an Dr Azahari harus menghadapi kenyataan pahit karena isterinya Noraini dinyatakan menderita sakit kanker kerongkongan yang serius.
Diduga kuat bahwa kemelut batin inilah yang membuat Dr Azahari memilih untuk mendalami agama. Pada tahun 1999, Dr Azahari berangkat ke Mindanao, Filipina. Disana beliau dilatih dalam penggunaan dan pembuatan senjata api serta bom.
Selama di Mindanao, Azahari berteman dengan Fathur Rahman Al Ghozi. Dari Ghozi, Azahari banyak berlajar tentang cara-cara meracik bom. Pada tahun 2000, Azahari pergi ke Kandahar, Afganistan, selama tiga bulan untuk belajar lebih mendalam mengenai cara-cara membuat bom.
Awal pengenalan Azahari dengan organisasi Jemaah Islamiah terjadi pada tahun 1991 setelah berkenalan dengan Abu Bakar Basyir dan Hambali alias Riduan Hisamuddin di Skuddai, Johor, yang diduga memimpin Jemaah Islamiah.
Kemudian, Dr Azahari terlibat dengan Sekolah Agama Luqmanul Hakiem di Ulu Tiram, Johor, yang dipelopori oleh Abu Bakar Basyir dan Abdullah Sungkar. Dr Azahari menjadi salah seorang guru pengajar di sekolah tersebut.
Meski disebut-sebut telah memiliki andil dalam sejumlah peristiwa peledakan bom di Indonesia sebelumnya, namun nama Dr Azahari dan Noordin M Top mencuat setelah ledakan bom Bali pertama di Kuta Bali 12 Oktober 2002.
Sejak itulah kedua menjadi buron paling dicari oleh kepolisian Indonesia. Berikut ini adalah perjalanan serangkaian aksi teror bom komplotan Azahari dan upaya pengejaran aparat kepolisian :
12 Oktober 2002:
Bom berkekuatan high explosive meledak di Sari Club dan Paddy's Cafe, Legian, Kuta, Bali. Akibatnya, 156 orang tewas, korban berasal dari 22 negara.
5 Agustus 2003:
Bom meledak di Hotel JW Marriott, Jakarta. Akibatnya, 12 orang tewas dan 150 orang luka-luka.
30 Oktober 2003:
Polisi berusaha menangkap dua tersangka teroris kelas kakap yaitu Dr Azahari dan Noordin M Top di Jalan Kebun Kembang RT 04 RW 11 Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Sumur Bandung, Jawa Barat.
Namun keduanya berhasil kabar dengan membawa bom yang siap diledakkan kapan saja di tubuh tersangka. Di rumah kontrakan tersangka, polisi menemukan 3 kg TNT, buku yang berisi cara pembuatan bom dan radio komunikasi.
9 September 2004:
Bom berkekuatan high explosive meledak di depan Kedutaan Besar Australia di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Dengan menggunakan sebuah mobil boks. Akibatnya, 8 orang tewas dan 100 orang lainnya luka-luka.
12 September 2004:
Polisi menyergap sebuah rumah kontrakan di jalan raya VI RT 04 Kampung Menceng, Cengkareng, Jakarta Barat, yang diduga dihuni oleh Noordin M Top dan kawan-kawan. Namun para buronan telah kabur sebelumnya.
1 Oktober 2005:
Bom meledak di Kuta dan Jimbaran, Bali. Akibatnya, 27 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.
9 November 2005:
Dr Azahari tewas dalam baku tembak dengan tim Detasemen khusus anti teror Mabes Polri dan Detasemen 88 Polda Jatim di Blok L 9 Perum Flamboyan Indah Jalan Flamboyan Raya, Kota Batu, Malang, Jawa Timur.
Sampai berita ini diturunkan, proses identifikasi dan evakuasi belum dilakukan mengingat di sekitar lokasi kejadian masih perlu disterilkan oleh Tim Jihandak. Kepastian tewasnya Dr Azahari masih perlu dibuktikan melalui uji test DNA karena jenazah yang dianggap gembong teroris itu hancur berkeping-keping.
Terlepas dari benar atau tidaknya berita kematian Dr Azahari, kita patut mengucapkan selamat atas kerja keras dari aparat keamanan untuk memburu para tersangka teroris yang telah meresahkan warga Indonesia selama 3 tahun terakhir ini. (Berbagai Sumber/Tom)