
Bahkan, pemimpin, yang mengembalikan secercah harapan dari semua rakyat Liberia untuk keluar dari segala krisis multi dimensi di negaranya, adalah seorang wanita. Ellen Johnson-Sirleaf, dialah pemimpin baru Liberia, dan sekaligus pemimpin wanita pertama Afrika, yang sudah kenyang makan asam garam politik.
Dalam putaran pertama pemilihan presiden yang berlangsung tanggal 8 November 2005, Ellen berhasil mengantongi 175.520 suara dan membuatnya lolos untuk bersaing dengan mantan bintang sepakbola George Weah dalam putaran kedua.
Dan pada tanggal 11 November, dengan hasil penghitungan suara yang hampir mencapai 97 %, Komisi Pemilihan Nasional Liberia secara resmi mengumumkan bahwa Ellen Johnson-Sirleaf menjadi presiden terpilih Liberia.
Namun, keputusan tersebut tidak diakui oleh George Weah. Menurut bintang sepakbola ini, telah terjadi kecurangan dalam pemilihan presiden putaran kedua. Untuk itu, Weah telah mengajukan tuduhan kecurangan itu Pengadilan Tinggi Liberia untuk membatalkan keputusan Komisi Pemilihan Nasional.
Terlepas dari semuanya itu, Ellen, mantan bankir yang meraih master dalam administrasi publik dari Harvard University ini, tidak pernah merasa dendam dengan Weah. Bahkan, wanita yang berusia 67 tahun ini berharap Weah dapat bergabung dengan pemerintahan baru. Ellen menawarkan posisi kepada Weah dalam pemerintahannya, kemungkinan sebagai menteri pemuda dan olah raga.
Dalam wawancara dengan BBC, Johnson-Sirleaf mengatakan, tuduhan kecurangan dalam pemilu itu tidak masuk akal. Sementara para pemantau internasional dari PBB, Uni Eropa dan Carter Centre, juga menyatakan keyakinannya bahwa pemilihan presiden di Liberia berlangsung dengan bebas dan jujur.
Usai dinyatakan sebagai pemenang, Ellen mengungkapkan rasa senangnya. "Saya sangat senang bahwa rakyat Liberia memberikan suara dan memilih saya untuk memimpin pembangunan kembali dan perujukan negara kami. Saya merasa terharu dengan berbagai tantangan yang telah menanti di depan," ujar Johnson-Sirleaf seperti yang dilansir oleh BBC.
Ellen Johnson-Sirleaf menghabiskan seluruh karir profesionalnya sebagai tokoh yang mempromosikan perdamaian, keadilan, pemerintahan bersih dan penguasa demokratis di Liberia, dan khususnya di benua Afrika.
Perjuangannya sendiri tidak berlangsung mulus seperti yang diharapkan. Bahkan, dia harus mendekam di penjara lebih dari satu tahun pada saat Presiden Samuel Doe berkuasa, serta menjalani hidup dibawah ancaman kematian yang dikeluarkan oleh mantan presiden Charles Taylor.
Meskipun demikian, Ellen tidak pernah patah semangat dan terus melakukan kampanye internasional guna menjatuhkan Charles Taylor dari jabatannya. Kemudian, dia juga berperan aktif dan menjadi tokoh pendukung dalam pemerintah transisi Liberia sebagai Ketua Komisi Reformasi Pemerintah.
Ellen, yang dilahirkan tanggal 29 Oktober 1938, mengundurkan diri dari Komisi Reformasi pada bulan Maret 2004 karena beliau menerima pencalonan sebagai Presiden Partai Persatuan Liberia. Jauh hari sebelumnya, wanita yang pernah kuliah di Harvard ini sudah melibatkan diri dalam pemerintahan Liberia.
Ellen memulai karirnya di pemerintahan dengan menjabat sebagai menteri keuangan di jaman pemerintahan William Tolbert pada tahun 1970. Disaat menjadi anggota senat di tahun 1985, Ellen berbicara keras soal rezim militer di negaranya. Akibatnya, dia dijatuhi hukuman 10 tahun penjara.
Tetapi, Ellen dibebaskan dalam periode yang singkat dan harus menjalani pengasingan di luar negaranya. Kemudian, Ellen kembali ke negaranya pada tahun 1997 dalam kapasitasnya sebagai seorang ekonom dan bekerja untuk Bank Dunia dan Citibank di Afrika.
Keikutsertaan Ellen dalam pemilihan presiden di tahun 2005 ini merupakan yang ketiga kalinya dalam 20 tahun terakhir ini. Pertama, pada tahun 1985 di zaman rezim militer Samuel Doe. Ellen ditangkap karena kritikan kerasnya. Berkat korupsi dan kecurangan, Doe menang pemilihan presiden Liberia.
Upaya kedua Johnson-Sirleaf ke kursi kepresidenan berlangsung tahun 1997, delapan tahun setelah perang saudara mencabik-cabik Liberia dalam upaya mengusir Samuel Doe. Waktu itu, Ellen mendukung upaya menjatuhkan Doe.
Tetapi, tokoh yang dipercayanya yaitu Charles Taylor ternyata lebih buruk dari Samuel Doe. "Taylor membunuh ibu saya, ia juga membunuh ayah saya. Tetapi saya tetap mendukungnya." Artinya, kalau Taylor tidak didukung maka perang saudara akan terus berlanjut," jelasnya.
Ellen kalah, dan pemerintahan teror Taylor dimulai, sehingga Liberia kembali terjerembab dalam perang saudara. Namun, impian Ellen untuk menjadi pemimpin Liberia akhir tercapai juga setelah keikutsertaannya yang ketiga kalinya dalam proses pemilihan presiden tahun 2005 ini.
Ellen Johnson Sirleaf memang akhirnya menjadi presiden perempuan pertama di sebuah negara Afrika modern. Dan ini dianggap sebagai terobosan baru di Afrika disaat ada anggapan bahwa perempuan merupakan pemimpin yang lebih baik, tetapi inilah yang harus dibuktikan dulu oleh Ellen.
Sebagai presiden wanita pertama Afrika, nenek yang memiliki 4 anak dan 6 cucu ini menegaskan prioritas utamanya adalah untuk memastikan persamaan hak kepemilikan tanah, pinjaman dan keadilan di negaranya.
Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh wanita yang memiliki segudang pengalaman di bidang keuangan ini, mulai dari jalanan yang tidak bisa dipakai, aliran listrik dan air bersih yang hampir tidak ada, serta perekonomian yang macet. (Berbagai Sumber : Tom/Idh)