Sosbud
3-Mar-2006 16:56:01 WIB
PROFIL
Chris John : Sempat Ogah Main Tinju



Berita HOT:
Perjalanan petinju kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah ini dalam menggapai juara dunia penuh perjuangan. Dia berlatih keras, mengasah talentanya dengan bimbingan sejumlah pelatih. Dalam perjalanan kariernya di dunia tinju, Chris John, sempat dijuluki petinju yang merana karena kasusnya dengan seorang mantan pelatihnya.

Chris John atau Yohannes Christian John, mengenal dunia tinju sejak masih kanak-kanak dari sang ayah, Johan Cahyadi, mantan petinju amatir di tahun 1970-an. Ia lahir tanggal 14 September 1980 di Desa Gelang, Kecamatan Rakit, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Meski sempat "ogah-ogahan" karena tidak suka dengan olah raga tinju namun sang ayah tidak pernah bosan mengajaknya untuk berlatih bertinju. Berkat bimbingan ayahnya, Chris John pun mulai dikenal di tinju amatir ketika pada usia 15 tahun mengikuti kejuaraan amatir tinju di Banjarnegara, Jawa Tengah.

Tiga tahun Chris John menggeluti tinju amatir dengan prestasi hingga tingkat nasional. Tahun 1995, ketika sedang mengikuti pelatihan untuk mewakili Jawa Tengah dalam Kejuaraan Nasional Junior di Palangkaraya di Sasana Orang Tua Semarang (kini Sasana Bank Buana), ia tertarik untuk menekuni tinju profesional. Dengan dukungan ayahnya dan Ibunya, Warsini, Chris memutuskan pindah ke Semarang dan berlatih di klub tersebut dibawah bimbingan pelatih Muklis Sutan Rambing.

Setelah berlatih selama dua tahun, tahun 1997 ia mulai bertarung di tinju profesional melawan Firman Kanda, di kelas bulu junior, yang diselenggarakan oleh Stasiun Televisi Indosiar. Dalam pertandingan itu, iapun memutuskan Sutan Rambing untuk menjadi manajernya. Malang melintang di dunia tinju pro di Indonesia, Chris bersama pelatihnya, Muklis Sutan Rambing pun meningkatkan prestasi ke mancanegara. Tahun 2003, di Bali ia melakukan pertandingan dengan petinju Kolombia, Oscar Leon, untuk memperebutkan gelar Juara Dunia kelas bulu (57,1 kg) Asosiasi Tinju Dunia, WBA.

Kala itu, gelar tersebut kosong karena Derrick Gainer, petinju asal Amerika Serikat, kalah dalam pertandingan unifikasi melawan Juara IBF, Juan Manuel Marquez. Dalam pertandingan tersebut, Chris mampu menundukkan Oscar Leon. Namun sayangnya prestasi Chris mendapat cibiran sebagai petinju dengan juara diatas kertas.

Kesempatan untuk membuktikan dirinya sebagai juara sejati terjadi ketika pada usia 25 tahun. Dalam pertandingan wajib untuk mempertahankan gelar Juara Dunia WBA itu, Chris John bertanding melawan petinju Jepang Osamu Sato di Ariake Colosseum, Tokyo, 4 Juni 2004. Dalam pertandingan yang berlangsung selama 12 ronde, kemenangan Chrisjon ditetapkan setelah hakim asal Korea Selatan memberikan angka 116-113. Hakim asal Belgia memberikan angka untuk petinju Indonesia ini dengan 117-113. Sedangkan Hakim asal Finlandia memberikan angka untuk Chrisjon 120-109.

Atas kemenangannya itu, Chris Jon menerima bayaran 100.000 dolar AS atau sekitar Rp 900 juta untuk pertandingan wajib ini. “Saat itu, saya bersyukur kepada Tuhan, karena doa dan harapan saya, agar Chris Jon menang melawan Osamu Sato, terkabul," ujar Johan Cahyadi, sang ayah.

Kota Tokyo menjadi menjadi saksi kemenangan Chris John dalam mempertahankan gelarnya untuk pertama kali. Dan ini merupakan pertandingan pertama buat Chris John bertanding di negeri orang. Namun kemenangannya atas Sato tersebut menimbulkan persoalan baru.

Berawal dari perselisihan antara pelatih sekaligus manajernya, Sutan Rambing dengan promotor Daniel Bahari mengenai pembayaran terhadap Chris John. Sutan menuduh Daniel terlalu membayar murah petinjunya. Adanya persoalan ini membuka pikiran Chris John karena ternyata ia telah menandatangani kontrak hingga tahun 2007 dan pembayaran yang diperolehnya harus dibagi rata (50:50) dengan pelatih sekaligus manajernya Muklis Sutan Rambing !

Bisa dibayangkan betapa perihnya hati Chris, ketika melawan Jose Rojas, ia hanya memperoleh bayaran sekitar Rp 400 juta dari total bayaran Rp 1.2 milyar. Chris John pun memutuskan untuk lepas dari Muklis Sutan Rambing sebagai pelatih dan manajer serta keluar dari Sasana Bank Buana Semarang. Ia kemudian pindah ke Australia bergabung dengan Sasana Herry Gym`s.

"Usai pernikahan tanggal 27 Febuari 2005, saya langsung terbang ke Australia bergabung dengan sasana Herry Gym's yang berada di Perth," kata Chris John. Ia pun memilih Greg Christian sebagai manajernya menggantikan posisi Muklis Sutan Rambing.

Chris mengenal Greg melalui seorang temannya. "Perkenalan dengan Greg itu setelah terjadi kemelut dengan Muklis Sutan Rambing. Di Herry Gym`s, banyak pelatih yang handal dan saya dilatih salah satu pelatih yang ada di sasana itu," jelas Chris. Keinginan Chris John berlatih dengan pelatih asing juga tak lepas dari peran Johan Cahyadi, yang mengharapkan demi karir Chris Jon ke depan, sebaiknya ia dilatih oleh pelatih asing.

Tahun 2005, merupakan tahun yang tak terlupakan buat Chris John karena ia menang mempertahankan gelarnya saat berhadapan dengan sang penantang Derrick Gainer, petinju mantan juara dunia di kelas bulu. Saat itu Chris bertanding di Tenggarong, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. Dan di Kalimantan Timur juga Chris John akan berusaha mempertahankan gelarnya dengan melawan peringkat satu asal Meksiko, Juan Manuel Marquez.

Meski diprediksi akan menghadapi pertarungan yang berat terutama karena cedera engkel kaki kanan yang dialaminya, Chris John mengatakan akan tetap berjuang dengan maksimal untuk mempertahankan gelarnya dan mengharumkan nama bangsa. Dan ini patut mendapatkan dukungan dari bangsa Indonesia.(Indjul)

Nama:
Email:

More PROFIL:
[ more Profil ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :