Sosbud
20-Mar-2006 15:09:24 WIB
PROFIL
Dari Tentara ke Guru Mengaji



Berita HOT:
Lantunan adzan Maghrib berkumandang memecah keramaian yang terjadi di Lapangan Basket Kompleks Seroja, Harapan Jaya, Pondok Ungu, Bekasi Utara. Saat para pemuda yang rutin berlatih setiap Minggu sore itu mengakhiri permaian mereka dan bersiap-siap pulang kerumah masing-masing, sosok pria tua menggunakan baju koko berwarna putih dan sarung garis-garis hijau, tampak berjalan menuju Masjid Al Kautsar, dengan langkah tertatih-tatih.

Tiba di masjid yang belum terlalu ramai itu, pria tua tersebut langsung menunaikan shalat sunnah. Beberapa saat kemudian, jemaah masjid ramai berdatangan dan kemudian menunaikan shalat Maghrib berjamaah dengan dipimpin pria tua tersebut.

Sosok tua tersebut adalah Sersan Mayor purnawirawan Kukuh Sudjoko, yang dihari tuanya lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menjadi pengasuh pengajian di Kompleks Seroja dan menjadi Imam Masjid Al - Kautsar, Seroja. Kepada indosiar.com dan Harian Seputar Indonesia, pria yang akrab dipanggil Pak Kukuh ini menceritakan pengalaman hidupnya.

Terlahir sebagai anak seorang Kiai, dari kecil kehidupan Kukuh sudah lekat dengan kehidupan pesantren. Karena ayahnya seorang Kiai, maka Kukuh masuk ke Pesantren Muntilan, Yogyakarta. Setelah itu ia pun melanjutkan sekolah ke Pendidikan Guru Agama (PGA).

"Saat itu saya diharapkan bapak untuk menjadi kiai atau guru ngaji. Karena itu setelah delapan tahun belajar di Pesantren saya melanjutkan sekolah ke Pendidikan Guru Agama(PGA). Setamat PGA, saya mengajar agama disebuah sekolah dasar di Muntilan," urai Pak Kukuh.

Namun ternyata pekerjaan sebagai guru agama tidak mencukupi kebutuhan hidup Kukuh yang saat itu sudah berkeluarga. "Saya tidak bisa membohongi diri sendiri, bahwa penghasilan sebagai guru agama tidak cukup, apalagi saat itu Indonesia sedang mengalami krisis. Waktu itu saya diajak teman-teman untuk kerja di pabrik dan bersamaan dengan itu, ada penerimaan untuk masuk kesatuan tentara untuk membela tanah air. Saya merasa terpanggil dan tergerak untuk menjadi tentara," lanjut Kukuh mengenang perjalanan kariernya di TNI.

"Kakak saya sempat marah karena saya mau-maunya jadi tentara. Karena saat itu dikeluarga saya tidak ada yang jadi tentara. Kata kakak saya, percuma ilmu agama yang telah bertahun-tahun saya pelajari tidak bisa diamalkan. Namun karena keinginan saya kuat, mereka tidak bisa apa-apa selain menyetujuinya," ungkap pria yang tampak sehat diusia tua itu.

Tahun 1964, setelah menjalani seluruh test masuk untuk menjadi tentara, Kukuh Sudjoko ditempatkan ke Kopaskhas Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara dan ditugaskan di Bandung, Jawa Barat. Selama bertugas di Bandung, Kukuh melaksanakan tugasnya dengan baik bahkan pernah dikirim ke Kalimantan untuk Operasi Barako. Tahun 1975, Kukuh ditugaskan ke Seroja untuk mengikuti Operasi Seroja di Timor Timur.

"Sebagai anggota prajurit, apa yang diperintahkan atasan harus dilaksanakan. Saya waktu itu tidak tahu apa-apa mengenai politik. Disuruh untuk bertugas di Timor Timur, yah saya manut apalagi seluruh tentara di semua angkatan diperintahkan untuk mengikuti operasi tersebut. Sesampai di Seroja, ternyata tugas disana sangat berat. Silih berganti cobaan datang kepada pasukan TNI di Seroja. Saking beratnya tekanan yang kami terima, sampai ada doktrin anggota pasukan, "Lebih baik bunuh diri daripada ditangkap dan menyerah," papar Kukuh sambil tersenyum getir.

Doktrin tersebut diucapkan karena menurut Kukuh, jika tertangkap, siksaan yang mereka terima akan lebih parah dan menyakitkan. Beratnya medan perjuangan di Seroja, Timor Timur itu, memberikan kenangan yang nyata di kaki kirinya yang mengalami luka tembak. Bahkan akibat luka tersebut, kaki kirinya cacat sehingga jalannya terlihat timpang hingga sekarang.

Luka di kaki kiri Kukuh mungkin sudah tidak dirasakannya, namun luka akibat lepasnya Timor Timur dari bagian Indonesia tak bisa terobati sampai sekarang. "Rasanya perjuangan kami yang dulu sia-sia saja. Tetesan darah para prajurit yang gugur di Seroja, Timor Timur, hilang begitu saja. Kalau ada yang bilang, Indonesia merebut Timor Timur, itu tidak benar. Karena disana kita membantu bagian wilayah kita sendiri yang berada dibawah tekanan Portugis. Tapi mau ngomong apalagi sekarang, kan Timor Timur sudah bukan punya Indonesia lagi," jelas bapak 3 anak tersebut.

Setelah usai Operasi Seroja, Kukuh kembali ke Bandung. Namun karena cacat kaki yang dideritanya, Kukuh mendapat tugas-tugas yang lebih ringan. Sebagai balas jasa pemerintah atas keterlibatannya dalam Operasi Seroja, Kukuh diberikan sebuah rumah di Kompleks Seroja, Bekasi Utara, yang hingga sekarang ditempatinya.

Tahun 1992, Kukuh pensiun dari dinas ketentaraan dengan tugas terakhir sebagai Provost di TNI AU Halim Perdanakusumah. Meski pensiun, Kukuh tetap ingin bekerja, karena itulah ia mencoba mendaftarkan diri sebagai satuan pengamanan (Satpam) pribadi. "Seperti teman-teman yang lainnya yang berlatar belakang kesatuan dan gak punya modal buat usaha sendiri, yah jadi satpam. Tapi pekerjaan sebagai satpam ternyata gak sesuai dengan saya. Kesannya seperti centeng. Karena saya pernah jadi guru, saya pun kembali kepekerjaan yang dulu saya tinggalkan. Kembali keakar...he...he...," ucap Kukuh.

Ternyata mengajar mengaji di lingkungan tempat tinggal sekarang, ujar Kukuh, tidak segampang sewaktu ia menjadi guru agama di Muntilan. Apalagi saat itu di Kompleks Seroja tidak ada tempat beribadah seperti masjid. "Menurut pengurus Yayasan Seroja kala itu, tidak boleh ada rumah ibadah di Seroja. Makanya saran saya untuk membangun sebuah masjid baru terlaksana 10 tahun kemudian. Bayangkan saja, sejak saya tinggal disini tahun 1978, baru ada masjid tahun 1995. Dan ternyata tidak sia-sia pembangunan Masjid Al-Kautsar itu, karena masjid itu menjadi pengumpul dana zakat terbesar di seluruh Bekasi Utara," ujar Kukuh bangga.

Hingga saat ini, mengajar mengaji menjadi kegiatan rutin Kukuh Sudjoko. Bahkan pria bertubuh besar ini yang membentuk pengajian ibu-ibu di lingkungan RT 01 tempat tinggalnya. Ia juga rutin menghadiri kegiatan Lembaga Veteran Republik Indonesia (LVRI).

Diakhir percakapan, Kukuh mengatakan selain mengembangkan kegiatan keagamaan di Seroja, ia masih punya keinginan satu lagi yang semoga bisa terlaksana sebelum ajal menjemput, yaitu memperjuangkan nasib para janda pejuang. Hal ini dikarenakan minimnya uang pensiun yang diterima para janda tersebut, padahal suaminya sudah mempertaruhkan jiwa raganya. "Mereka kan sudah kehilangan suaminya dan mengurus keluarganya sendirian yang tentunya sangat berat, tapi pensiun yang mereka terima sama dengan pensiunan lainnya. Para janda itu kan mengandalkan hidup dari uang pensiun, kasihan kalau tidak ada perbaikan dari pemerintah," ucap Kukuh lirih.

Wajar jika Kukuh berkata demikian, ia telah merasakan bagaimana dirinya seorang pensiunan yang cacat harus menghidupi istri dan tiga orang anaknya. Berkat kerja keras, akhirnya ia sukses mengantarkan ketiga anaknya mendapat pendidikan yang baik dan kehidupan yang layak bagi keluarganya masing-masing. Bagi Kukuh, dirinya yang saja merasakan beratnya hidup mengandalkan pensiun, apalagi para janda tersebut. Karena itulah ia akan terus berusaha memperjuangkan nasib para janda tersebut.(Indjul)

Nama:
Email:

More PROFIL:
[ more Profil ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :