
"Kalau ternyata karena tulisanku, orang mendapatkan nilai-nilai yang buruk, itu sama saja dengan menjerumuskan diriku sendiri kan"?! kata Syafrina tegas. Syafrina, adalah salah satu dari beberapa penulis wanita berusia muda yang berhasil menembus dunia penerbitan.
Menarik memang berbicara dengan gadis kelahiran Medan, 9 Februari 1977 ini. Setidaknya itulah yang indosiar.com simpulkan dari satu pertemuan saat Syafrina sedang mempromosikan novelnya di salah satu radio swasta berbasis wanita di Jakarta dan percakapan via chatting. Mengenai kedatangannya di Jakarta, Nana yang saat ini memilih tinggal dan berkarier di Batam, mengatakan harus dilakukannya meski menggunakan uang sendiri.
"Promosi itu perlu supaya sedikit banyak pembaca tahu mengenai isi tulisan kita dan agar benar-benar bermanfaat. Selain uang dari royalti (sekitar 10 persen untuk promosi, red), mau gak mau harus menggunakan uang sendiri karena gak ada sponsor. Bisa dibilang, gak terlalu banyaklah uang yang kita dapat dari menulis. Karena itulah, selain menulis aku tetap bekerja di salah satu NGO (Non Government Organization,red) internasional yang punya program HIV/AIDS di Batam. Selain itu, aku tetap independen dengan nilai-nilaiku sendiri dalam menulis dan tagihan bulanan tetap terbayar," ungkapnya sambil tersenyum.
Meski demikian, Syafrina tidak setuju jika dunia kepenulisan tidak bisa diandalkan menjadi karier atau sumber pendapatan. Menurut Nana, semua itu tergantung orangnya. "Yang aku tidak setuju jika orang memutuskan terjun kedunia menilai semata-mata karena faktor materi. Menulis adalah satu diantara sekian bidang yang harusnya dipilih bukan karena materi seperti profesi di bidang medis, pengacara, guru", jelas gadis yang mulai menulis sejak SMA ini.
"Kalau sampai mengatasnamakan materi, hancurlah. Karena yang akan kita tulis berpengaruh pada masyarakat. Jika hanya semata-mata mengejar materi atau royalti, buatku, maaf - dangkal sekali. Misalnya, karena materi, apa yang sedang menjadi trend dan kebetulan disuka masyarakat, kita ikut-ikutan menulis disitu. Kita bisa didikte pasar, padahal seharusnyalah kita yang mengedukasi pasar," tandas Nana.
Perjalanan karier Nana sendiri didunia penulisan tidak muncul begitu saja. Pada masa SMA, cerpen-cerpennya sering dimuat di koran lokal kota kelahirannya, Medan. Setelah menyelesaikan kuliahnya di Universitas Sumatera Utara (USU) jurusan Sastra Inggris tahun 1999, tahun 2001 Nana melanjutkan pendidikan pada program graduate diploma in Business Administration di Singapore Institute of Management, Singapura. Pada tahun 2003, terpilih sebagai duta Indonesia dalam program beasiswa seminar dan riset ke Suzuka-Jepang oleh IATSS (International Association Traffic and Safety Science) Forum Foundation-Japan.
Ketika ditanyakan apakah menulis itu merupakan bakat atau karena memang ada keturunan penulis, gadis yang mengaku sedang jomblo (lajang,red) itu sempat tertawa. "Gak ngerti juga. Menurutku, semua orang itu bisa menulis. Hanya tergantung individu, larinya ke bidang tulisan yang bagaimana. Ada yang menulis novel, artikel, tulisan ilmiah, diary atau sebagainya. Yang menulis artikel, belum tentu bisa menulis novel. Dan jangan pernah menyuruh aku untuk menulis artikel, gak bakalan kelar...ha...ha..".
"Tidak seperti menyanyi yang memang harus ada bakat. Gak lucu kan, suara cempreng dipaksa nyanyi. Kalau menulis, itu suatu hal yang benar-benar bisa diasah. Mirip dengan memasak. Yang gak pernah ke dapur sekalipun, kalau dicoba, dilatih terus-terusan, at least dia bisa punya 1 spesialisasi, bisa memasak meskipun itu berbentuk cah kangkung atau nasi goreng saja. Begitu juga menulis. Kalau rajin dan rutin, meski hanya ungkapan perasaan kalau sudah dituangkan dalam bentuk tulisan itu artinya kita bisa menulis," papar gadis berkacamata ini.
Perjalanan Nana sendiri dalam menulis novel “Life begins at Fatty”, bisa dibilang bukan hal yang gampang. Meski ia mengerjakan novel tersebut dalam waktu 2 minggu saja, namun untuk diterbitkan ia harus menunggu selama 10 bulan. "Waktu itu pada tahun 2004, tepatnya tanggal 19 Oktober, aku berhenti dari pekerjaanku di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang ship building & repair di Tanjung Uncang, Batam. Keputusan itu aku ambil karena aku merasa jenuh. Saat itu kuanggap sebagai masa-masa 'turning point', aku ingin tahu sebenarnya motivasi kerjaku apa. Aku kemudian memutuskan pulang ke Medan dan melakukan hal-hal yang aku anggap bisa menyenangkan diriku," jelas Nana.
Namun ternyata Nana kembali bingung. Dipikiran saat itu hanyalah keinginan untuk menulis dan menulis. Ia pun kemudian memutuskan untuk menulis cerita. Dengan modal laptop pinjaman kakaknya, Nana mulai menulis dan 20 hari kemudian lahirlah novel tulisan pertamanya yang berjudul Menjemput Impian (yang kini sedang dalam proses penerbitan). Selesai satu, ia semakin bernafsu membuat satu karya lagi yang dikerjakannya dalam tempo 10 hari (buku ini yang kemudian diterbitkan oleh Grasindo).
"Sebelum diberikan ke penerbit, aku sempat mengirimkan novel-novelku kepada Aditya Mulya (penulis Jomblo,red) untuk dikritisi. Kritiknya sempat membuat aku down dan membuat aku tidak mau membuka laptop. Tapi aku pikir, kalau mau maju kita harus siap terima kritikan. Aku kemudian membenahi tulisanku hingga aku merasa benar-benar sudah layak diterbitkan," ungkap Nana.
Syafrina kemudian mulai mencari informasi penerbit dan pertengahan Januari 2005 memutuskan untuk menyerahkan novelnya ke Grasindo. Disatu sisi, Nana juga memutuskan untuk kembali ke Batam mencari pekerjaan baru dan tetap berkonsentrasi untuk menulis novel lainnya.
"Ternyata lama sekali menunggu jawaban dari Grasindo. Sambil menunggu jawaban, aku mengirimkan novel itu kepada novelis Arul Khana dan menerima pujian darinya yang bikin aku terharu. Tapi sayangnya penerbitan beliau hanya menerima novel dengan ketebalan tertentu. Aku juga sempat umroh dan berdoa jika memang memberikan manfaat buat pembaca semoga dimudahkan prosesnya," ucap Nana.
"Alhamdulillah, 2 Mei 2005 mbak Mira dari Grasindo mengirim sms: “Selamat mbak, naskah diterima. Tinggal tunggu surat kontrak dan saya minta file-nya. Aku menangis saat itu. Tapi lagi-lagi semuanya tidak semudah itu untuk diraih. Minggu demi minggu menunggu, tapi blueprint-nya tak kunjung tiba. Baru awal Juni aku terima dan langsung kuperiksa, kemudian mengirimkan kembali ke Jakarta. Lalu ada sedikit masalah dengan judul dan pihak Grasindo meminta untuk diganti. Baru tanggal 21 Oktober 2005, novel itu sudah masuk gudang dan siap untuk diedarkan".
Meski sudah berhasil menerbitkan novel (novel kedua akan diluncurkan pada tanggal 12 April, novel ketiga yang masuk nominasi lomba Metropop Gramedia Pustaka Utama (GPU) rencananya akan diterbitkan sekitar Mei - Juni. Dan satu novel lagi akan dikeluarkan Grasindo diakhir tahun 2006), Nana mengaku dirinya masih jauh dari sebutan penulis berkualitas.
"Penulis berkualitas adalah penulis yang mampu menghasilkan tulisan bagus, penokohan kuat, ada konflik, ceritanya menarik, dan diakhir cerita, dia meninggalkan "sesuatu" untuk pembacanya. Nah, aku masih jauh dari itu...he...he... Untuk menuju kearah penulis berkualitas aku banyak belajar. Nyontek buku-buku yang lain, bagaimana caranya membuat penokohan yang kuat atau cari konflik yang menarik," kata Nana yang mengaku dirinya tidak mengkhususkan diri sebagai penulis dengan tema tertentu.
"Kalau mau nulis, yah nulis saja, tanpa tendensi apa-apa. Diterbitkan syukur, gak terbit yah gak apa-apa. Mungkin itu yang terbaik. Editor biasanya yang melihat, novel ini cocoknya ke metropop atau chiklit, ke prosa atau kelainnya". Diakhir percakapan, Syafrina Siregar mengatakan ingin mempunyai hidup yang bermakna hingga pada saat kembali menghadap Sang Khalik tidak menyesal. Salah satu menuju hidup bermakna adalah menulis yang benar-benar bermanfaat.(Indjul)