Sosbud
27-Jan-2008 14:02:36 WIB
PROFIL
Meninggal di Usia 86 Tahun
In Memoriam : HM Soeharto



Haji Muhammad Soeharto, lahir di Kemusuk, Argomulyo, Godean, Yogyakarta, 8 Juni 1921. Setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Pertamina selama dua minggu, Pak Harto meninggal dunia di Jakarta, Minggu, 27 Januari 2008 pada pukul 13:10 WIB.

Dalam otobiografinya : Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, dituliskan Soeharto merupakan anak ketiga dari pasangan Kertosudiro dan Sukirah. Kertosudiro, adalah petugas pengatur air desa (ulu-ulu dan bertani hanya di sawah lungguh, tanah jabatan.

Agaknya perkawinan Kertosudiro dan Sukirah tidak bertahan lama. Mereka cerai tidak lama setelah Soeharto lahir. Ibu Sukirah yang menjanda, menikah lagi dengan Pramono, melahirkan tujuh orang anak, termasuk putra kedua, Probosutedjo. Dan ayah Soeharto juga menikah lagi, memperoleh empat anak dari istrinya yang ketiga.

Usianya belum genap empat puluh hari, tatkala bayi Soeharto dibawa ke rumah mBah Kromo, lantaran ibunya sakit, tak bisa menyusui. Mbah Kromolah yang mengajarnya berdiri dan berjalan.

Kenangan semasa kecil yang tak pernah dilupakannya, memberi komando pada kerbau tatkala membajak; maju, belok kiri atau belok kanan. Ia juga suka bermain air, bermandi lumpur atau mencari belut, ikan kegemarannya sampai usia tua.

Ketika usianya semakin besar, Soeharto tinggal bersama kakeknya, mBah Atmosudiro, ayah dari ibunya. Soeharto masuk sekolah tatkala berusia delapan tahun, tetapi sering pindah. Semula disekolahkan di Sekolah Desa (SD) Puluhan, Godean. Lalu pindah ke SD Pedes, lantaran ibunya dan suaminya, Pak Pramono pindah rumah, ke Kemusuk Kidul. Namun, Pak Kertosudiro lantas memindahkannya ke Wuryantoro. Soeharto dititipkan di rumah adik perempuannya yang menikah dengan Prawirowihardjo, seorang mantri tani.

Di bawah bimbingan pamannya yang mantri tani, Soeharto menjadi paham dan menekuni pertanian. Pamannya sering mengajaknya meninjau ke desa-desa. Dari pamannya, ia tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, melainkan juga praktik. Di tiga kebun percontohan, di desa Ngungking, Kenongo, dan Tangkil, ia diberi kesempatan untuk menggumuli sawah. Ia juga sering mengikuti acara tanya jawab antara Pak Prawirowihardjo dan para petani.Hal ini diterapkannya ketika menjadi Presiden RI dari 1967 sampai 1998.

Setamat sekolah rendah empat tahun, Soeharto dimasukkan orang tuanya ke sekolah lanjutan rendah (schakel school) di Wonogiri. Ia pun pindah ke Selogiri, enam kilometer dari Wonogiri, tinggal di rumah kakak perempuannya, istri seorang pegawai pertanian.

Di Wonogiri, ia tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak punya sepatu dan celana pendek. Karena itulah ia kembali ke kampung asalnya, Kemusuk, untuk melanjutkan sekolah. Soeharto masuk sekolah Muhammadiyah di Yogya, karena di situ ia boleh mengenakan sarung, tanpa sepatu. Dari rumah ke sekolah, dan sebaliknya, ia mengayuh sepeda butut.

Setamat SMP Muhammadiyah, Soeharto sebenarnya ingin melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Apa daya, ayah dan keluarganya yang lain tidak mampu membiayai. Kondisi ekonomi mereka sangat lemah. Ia masih mengingat pesan ayahnya waktu itu: “Nak, tak lebih dari ini yang dapat kulakukan untuk melanjutkan sekolahmu. Kamu sebaiknya mencari pekerjaan. Dan kalau sudah dapat, Insya Allah, kamu dapat melanjutkan pelajaranmu dengan uangmu sendiri.”

Soeharto pun berusaha mencari kerja ke sana-kemari, tidak berhasil. Ia memutuskan kembali ke rumah bibinya di Wuryantoro. Di sana ia diterima sebagai pembantu klerek pada sebuah Bank Desa (Volks-bank). Tugasnya mengikuti klerek bank berkeliling kampung dengan sepeda, mengenakan pakaian Jawa lengkap, kain blangkon dan baju beskap. Mereka menampung permohonan pinjaman para petani, pedagang kecil dan pemilik warung.

Karena kainnya sudah usang, tak patut lagi dipakai, ia meminjam kain bibinya. Namun ia bernasib sial. Sewaktu turun dari sepedanya yang reot, kainnya tersangkut per sadel, sobek. Meskipun tak bersalah, ia dicela oleh klereknya. Bibinya juga memarahinya. Tak lama kemudian Soeharto minta berhenti.

Setelah lama menganggur, suatu hari tahun 1942, Soeharto membaca pengumuman penerimaan anggota KNIL—Tentara Kerajaan Belanda. Ia pun mendaftarkan diri, lulus dan diterima, tetapi hanya sempat bertugas tujuh hari dengan pangkat sersan. Soalnya terjadi perubahan, Belanda menyerah kepada Jepang. Sersan Soeharto kemudian pulang ke desa Kemusuk. Dari sinilah karir militernya dimulai.

Di kemiliteran, Pak Harto memulainya dari pangkat sersan tentara KNIL, kemudian komandan PETA, komandan resimen dengan pangkat Mayor dan komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel.

Saat berusia 26 tahun dengan pangkat Letnan Kolonel, Soeharto yang bertugas di Resimen III Yogyakarta, diperkenalkan oleh bibinya, Ibu Prawiro dengan seorang gadis, yang disarankan untuk dijadikan istrinya. Soeharto tidak menganggap serius soal ini, karena ia merasa perjuangannya belum selesai.

Tidak mau mengecewakan bibinya, Soeharto bersedia diperkenalkan dengan Siti Hartinah (Tien). Tidak lama setelah perkenalan, mereka pun sepakat menikah pada tanggal 26 Desember 1947 di Solo. Waktu itu usia Soeharto 26 tahun dan Hartinah 24 tahun. Mereka dikaruniai enam putra dan putri; Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

Sejalan dengan pernikahannya, karier militernya pun meningkat, Soeharto kemudian diangkat menjadi Kepala Staf, Panglima Kodam Diponegoro, Jawa Tengah, dengan pangkat Mayor Jenderal. Setelah menempuh pendidikan Seskoad di Bandung, ditunjuk sebagai Panglima Komando Mandala, Wakil Panglima I Kolaga dan kemudian Pangkostrad dengan pangkat Letnan Jenderal.

Tanggal 1 Oktober 1965, meletus G-30-S/PKI, Soeharto mengambil alih pimpinan Angkatan Darat. Selain dikukuhkan sebagai Pangad, Jenderal Soeharto ditunjuk sebagai Pangkopkamtib oleh Presiden Soekarno. Bulan Maret 1966, Jenderal Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret dari Presiden Soekarno. Tugasnya, mengembalikan keamanan dan ketertiban serta mengamankan ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.

Karena situasi politik yang memburuk setelah meletusnya G-30-S/PKI, Sidang Istimewa MPRS, Maret 1967, menunjuk Pak Harto sebagai Pejabat Presiden, dikukuhkan selaku Presiden RI Kedua, Maret 1968. Pak Harto ditinggalkan oleh Ibu Tien yang meninggal dunia tahun 1996. Pak Harto memerintah lebih dari tiga dasa warsa lewat enam kali Pemilu, hingga mengundurkan diri, 21 Mei 1998.(dirangkum dari Otobiografi; Soeharto : Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya/Ijs)

Nama:
Email:

More PROFIL:
[ more Profil ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :