
Kalau saja waktu itu Christian Simamora tidak berpikir jernih dan terpuruk dalam keputus-asaan, mungkin saat ini ia hanya menjadi seorang sarjana pertanian bukan penulis yang sedang sibuk mempromosikan novel keduanya, Boylicious.
Christian atau akrab dipanggil Ino, mengawali karier menulisnya dengan menerbitkan novel berjudul "Jangan Bilang Siapa-siapa", terbitan Elexmedia Komputindo. Jujur saja, menurut Ino, novel yang diterbitkan itu sebenarnya bukan novel pertamanya.
"Pertama kali, aku menawarkan novel berjudul Loving Days kepada Elexmedia. Setelah menunggu beberapa waktu, lewat surat aku disuruh datang ke kantor Elex untuk bertemu dengan editor yang menangani bukuku, Bu Retno Kristy. Saat itu aku berpikir, wah diterima nih. Rasanya senang gak keruan," ungkap Ino.
Dengan hati berdebar, Ino datang menemui editornya. Namun betapa terkejutnya Ino, ketika sang editor mengatakan novelnya tidak diterima karena ceritanya datar dan terlalu biasa. Editor tersebut meminta Ino memperbaikinya.
"Mungkin editornya gak tega bilang lewat surat makanya aku dipanggil. Tapi itu malah bikin aku shock, sampai seminggu gak apa-apa. Megang komputer aja, rasanya jijik banget. Aku gak sudi memperbaikinya. Aku merasa hancur banget dan berpikir karir menulis tinggal impian," lanjut abang satu-satunya dari adik perempuan bernama Grace.
Sampai pada satu titik, Ino berpikir kalau orang Indonesia itu suka cerita yang sedih-sedih, kenapa ia tidak membuat cerita yang sedih saja. Ino kemudian membuat novel dengan cerita yang berbeda dari novel sebelumnya. Pemuda bertubuh tinggi besar ini kemudian membuat novel berjudul Jangan Bilang Siapa-siapa, dalam waktu seminggu.
"Bisa dibilang novel itu novel balas dendam. Dengan penerbitan dan editor yang sama, novel itu diterbitkan pada bulan Mei 2005. Mungkin editornya kaget juga, melihat perubahanku. Dalam waktu 2 minggu, aku bisa memberi naskah yang berbeda dari novel "Loving Days." Dikatakan Ino, kegagalan itu ada gunanya juga, karena menjadi cambuk bagi dirinya untuk membuat karya yang lebih baik lagi.
Awal karier Ino di dunia kepenulisan terjadi pada tahun 2004. Secara tak sengaja ia mengikuti suatu perlombaan menuliskan keinginan diawal tahun dan seberapa banyak keinginan tersebut yang bisa dipenuhi. "Ternyata dari beberapa wish list yang aku bikin, seperti menguruskan badan, menyelesaikan kuliah secepatnya, dan mempublikasikan karyaku, gak musti novel, bisa cerpen atau puisi. Sampai habis tahun, wish list itu tak ada satupun yang terlaksana. Aku langsung berpikir, kenapa sih aku ini, masa satupun tak ada yang berhasil aku lakukan. Dengan tekad itulah, di tahun 2005, aku memperbaiki diri dan aku pun tertantang untuk menulis novel," jelas Ino.
"Aku suka menulis itu sejak SD kelas III. Guru Bahasa Indonesiaku saat itu orangnya asyik banget. Beliau selalu mengajak kami murid-muridnya untuk selalu menuliskan apa saja yang kami alami. Tujuh tulisan yang terbaik itu kemudian dibacakan didepan kelas. Aku ingin tulisanku dibacakan, jadi aku selalu berusaha menjadi yang terbaik. Mulai saat itulah aku menjadi gemar menulis. Efek itu benar-benar aku rasakan sampai sekarang," ungkap pemuda yang kesukaannya menulis ini dilakukan setiap saat, meski harus menggunakan sobekan kertas.
"Kalau tiba-tiba aku lagi membaca majalah, buku atau koran, ada kata-kata yang bagus atau tiba-tiba mendapat ide, langsung aku tulis saat itu juga. Gak mesti di buku catatan, kalau cuma ada robekan kertas didekat aku, yah aku tulis disitu. Kalah gak langsung ditulis, nanti idenya bisa hilang. Makanya jangan heran kalau isi tasku banyak sobekan kertas...he....he..."
Namun diakui Ino, karena dia orangnya pemalas, hingga SMA dia lebih banyak menulis puisi, yang lebih cepat diselesaikan ketimbang menuliskan cerita. Dengan menulis puisi, ia nyaris saja memperoleh beasiswa dari Poetry.com, namun karena saat itu, sang mama menganggapnya belum bisa dilepas pergi ke tempat negara lain, akhirnya Ino pun mundur. "Kalau diingat-ingat, puisi yang aku bikin ternyata norak-norak...he...he... Pernah kan aku bikin sendiri buku kumpulan puisiku, secara gak sengaja buku itu aku temukan lagi di rak buku. Waktu aku baca, aku cuma bisa ketawa sendiri. Isinya gak bermutu, hampir saja aku mau bakar, tapi aku pikir sayang juga, ini kan sejarah," tutur Ino, yang sangat bersyukur adanya Pulau Penulis di Forum Indosiar, yang semakin memicunya untuk giat berkarya, karena banyak berkenalan dengan penulis-penulis lainnya..
Ino atau Christian Mangampin Samuel Simamora lahir di Jakarta 9 Juni 1983. Semasa kecil hidup berpindah-pindah dari Jakarta, Medan, Siantar, dan Tarakan, karena mengikuti tugas sang Ayah, seorang pendeta HKBP dan ibunya yang berprofesi sebagai guru PKPN. Ino yang bergelar Sarjana Pertanian dari Institut Pertanian Bogor ini, selalu menekankan kepada dirinya untuk selalu menghasilkan karya yang lebih baik dari pada karya sebelumnya. "Ini janji kepada diriku sendiri. Dengan janji itu, suatu saat nanti aku bisa membuat novel yang lebih serius dibanding sekarang," tandasnya.(Indjul)