*********
"Kami sangat menginginkan masyarakat terutama masyarakat yang tinggal disekitar gedung seperti warga yang tinggal di Gang Kancil, Kampung Jawa atau warga Kali Krukut, berpartisipasi mengatur dan memiliki gedung ini. Karena itulah, setiap hari dari pukul 6 pagi sampai 6 sore, taman kita buka. Supaya anak-anak bisa bermain disini," ungkap Tamalia Alisjahbana, Direktur Eksekutif Gedung Arsip.
Sejarah Gedung Arsip Nasional, berawal dari satu rumah peristirahatan yang dibangun pada 1760 oleh Gubernur Jenderal Reinier de Klerk. "Rumah peristirahatan itu merupakan rumah impian de Klerk. Ia sangat mencintai gedung ini dan sebagian dari desain rumah itu digambarkan sendiri oleh de Klerk. Desain itu masih tetap dipertahankan sampai sekarang," jelasnya.
Sebagian besar koleksi Gedung Arsip adalah peta, yang melukiskan sejarah pemetaan di Indonesia. Mulai peta pertama yang menggambarkan Kepulauan Nusantara sebagaimana dibayangkan oleh Bartholomeus dari Alexandria, Mesir. Hingga peta terakhir yang dibuat oleh tentara Amerika pada waktu Perang Dunia kedua.
"Selain peta, ada juga koleksi perabot lama. Salah satu program Yayasan Gedung Arsip Nasional adalah berupaya menambah koleksi-koleksi. Ini diupayakan agar Gedung Arsip menjadi museum untuk mencari tahu perubahan gaya-gaya perabot dari abad ke abad. Misalnya gaya perabot abad ke-17 dengan kayu arang atau ebony, gaya abad ke-18, atau gaya perabot abad ke-19. Selain itu, kami harapkan para pengunjung dapat melihat bagaimana rumah seorang gubernur jenderal dengan ruang makannya, ruang tidur, dapur atau ruang para budak."
"Orang sering bertanya apa gunanya gedung-gedung lama dirawat dan dipugar kembali. Saya kira, ada tiga tujuan utama. Pertama, berhubungan dengan identitas nasional, sebab dari gedung-gedung tersebut kita bisa melihat sejarah atau cerita tentang bangsa kita sendiri. Kedua, gedung bersejarah itu mempunyai sifat khas suatu daerah. Kalau tidak, semua tempat atau kota akan terlihat sama yaitu kota beton. Ini kurang nyaman dan tidak enak. Apalagi di Indonesia, ada banyak gaya bangunan seperti di Minangkabau, Toraja atau Pulau Jawa," papar putri dari sastrawan pujangga baru Indonesia, Sutan Takdir Alisjahbana ini.
Dan yang ketiga, lanjut Tamalia adalah dari segi ekonomi. Jika dilihat pada tahun 2005, jumlah wisatawan di Indonesia, yang domestik adalah diatas 100 juta sedangkan wisatawan asing sebesar 5 juta orang untuk seluruh daerah wisata di Indonesia. Tentu saja angka tersebut sangat kurang jika dibandingkan dengan Kota Malaka, Malaysia, yang pada tahun lalu dikunjungi oleh 4 juta wisatawan asing. "Itu hanya Kota Malaka, bukan seluruh Malaysia. Menurut saya, ini satu sumber penghasilan nasional yang sekarang ini agak terbengkalai. Karena itulah perlu digiatkan lewat gedung-gedung bersejarah," katanya.
Keterlibatan Tamalia sendiri di Gedung Arsip pada tahun 1998. Secara tak sengaja, ia melihat iklan lowongan kerja di Gedung Arsip ini dan melamar pekerjaan tersebut. Tamalia pun menjalani proses seleksi. Bersama dua orang lainnya ia pun lolos sebagai calon direktur. Ketika salah seorang ekspatriat, yang menjadi calon mengundurkan diri, maka Tamalialah yang menjadi pilihan utama untuk menduduki jabatan tersebut.
Selain itu, pemerintah Indonesia mengijinkan pendirian yayasan swasta untuk mengelola bangunan-bangunan bersejarah termasuk Gedung Arsip Nasional. Dengan ijin tersebut, maka didirikanlah Yayasan Gedung Arsip Nasional, yang bertugas setiap tahun mencari dana untuk memelihara dan merawat gedung, serta untuk kebutuhan sehari-hari seperti bayar listrik, kebersihan dan menyelenggarakan program-program pendidikan seperti pameran yang ditargetkan untuk sekolah.
"Sudah delapan tahun, pemerintah tidak mengeluarkan satu rupiah pun untuk Gedung Arsip. Bisa dibilang, Gedung Arsip sudah mandiri dalam hal pendanaan. Namun gedung ini tetap milik pemerintah. Dengan kemandirian itu, Gedung Arsip menjadi model bagi gedung lainnya."
Karena menjadi model itulah, Gedung Arsip membentuk komunitas para pemilik dan pencinta bangunan-bangunan bersejarah Indonesia. Perkumpulan tersebut bertujuan membantu para pemilik rumah atau bangunan lama, yang ingin melakukan revitalisasi. "Program komunitas itu antara lain membuat seminar, membuat buku petunjuk bagi para pemilik bangunan lama yang mencakup pajak bangunan, IMB, atau mengenai kelembaban karena semua bangunan sejarah memiliki masalah kelembaban atau memberi penghargaan kepada rumah-rumah yang bersejarah dan dipelihara dengan baik," paparnya lebih jauh.
Bagi Tamalia sendiri bekerja di Gedung Arsip merupakan rahmat Tuhan. "Saya suka sekali bekerja disini. Dan orang yang cocok bekerja disini, salah satu sifat yang harus dipegang adalah harus jadi "tukang cerita". Dan memang saya suka bercerita. Ini mungkin karena keturunan dari ayah saya yang pengarang. Karena itulah saya hapal semua cerita tentang sejarah gedung-gedung lama," ujar wanita yang kadang suka menulis di media cetak ini.
Diakhir pembicaraan, Tamalia menekankan kembali pentingnya sejarah agar kita tahu dari mana kita datang sebagai rencana masa depan bangsa dan penting untuk jiwa nasional.(Indah Julianti/HIS)