
indosiar.com - Tidak pernah terbayang sebelumnya dalam benak Kasman mnejadi penggembala kambing. Sarjana Hukum keluaran salah satu universitas negeri di Mataram ini, seharusnya menjadi pengacara atau pegawai.
Namun untuk menyambung hidup bersama istri dan empat anaknya, tak ada lagi pilihan pekerjaan yang lebih baik.
Sejak pagi, Kasman berangkat menggiring puluhan ternak kambingnya menuju Sondanodaru atau lokasi penggembalaan yang berupa padang luas, yang memang khusus untuk penggembala ternak. Dengan setia, Kasman bersama beberapa orang rekannya, sesama penggembala menjaga kambingnya sambil sesekali mengontrol ternaknya, agar tidak sampai keluar dari kelompoknya.
Rutinitas yang dilakukan oleh Kasman ini, akan berakhir menjelang petang. Seluruh ternaknya kemudian digiring kembali ke kandang, yang dibuat khusus secara berkelompok dengan warga lainnya, guna memudahkan dalam penjagaan dan pengawasan dari pencuri.
"Tak ada pilihan lain. Selain itu saya berpikir, biar teman-teman lain yang lain, yang lari kekota. Saya tetap berada didesa saja, berada ditengah-tengah masyarakat dan berkecimpung dengan mereka. Kalau ada permasalahan dibawah, dengan ilmu yang saya miliki, saya mencoba membantu mengatasinya," jelas Kasman mengenai pekerjaannya.
Loyalitas Kasman mulai membuahkan hasil. Kambing yang dulunya hanya berjumlah 5 ekor, kini sudah menjadi 72 ekor dan 10 diantaranya sudah menjadi miliknya, dari hasil pembagian kesepakatan dengan pihak BNP, sebagai pemilik modal.
Biasanya untuk pembagian hasil ini, Kasman akan mendapatkan pembagian dengan sistem bagi hasil, dimana perhitungannya adalah bagi dua sesuai jumlah anak kambing yang lahir.
Sementara untuk menghidupi keluarganya, Kasman kesehariannya juga berprofesi sebagai petugas pengganti penghulu, yang bertugas mengawinkan warga. Selain itu, ia juga menggantungkan hidup dari dua petak tanah yang dimilikinya.(Agus Zaironi/Idh)