
indosiar.com - 14 Desember 2006, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB - United Nation) melantik Ban Ki-moon sebagai Sekretaris Jenderal kedelapan menggantikan Kofi Annan, yang telah habis masa jabatannya. Ban Ki-moon adalah mantan Menteri Luar Negeri Korea Selatan.
Politikus Korsel yang fasih berbahasa Inggris, Jerman, Jepang dan Perancis ini, mencalonkan diri sebagai pengganti Kofi Annan, pada Februari 2006. Ini adalah kali pertama seorang Korea Selatan mencalonkan diri dalam pemilihan jabatan tersebut. Setiap kali pengumpulan pendapat yang dilakukan oleh Dewan Keamanan PBB pada 24 Juli, 14 September, dan 28 September 2006, Ban selalu menduduki tempat teratas.
Pria berkacamata yang mempunyai nama panggilan khas Korea, "Ban-joosa" ini, dilahirkan di Eumseong, Chungcheong Utara, Korea, pada tanggal 13 Juni 1944. Ban pernah menjabat Menteri Luar Negeri Republik Korea (Korea Selatan) pada periode Januari 2004 hingga 1 November 2006. Dan sebagaimana ciri khas pejabat Korea, hanya sedikit yang diketahui tentang kehidupan pribadinya, Ban Ki-moon menikah dan mempunyai seorang anak laki-laki serta dua anak perempuan.
Ia memperoleh gelar sarjana hubungan internasional dari Universitas Nasional Seoul pada tahun 1970 dan memperoleh gelar Master of Public Administration dari John F. Kennedy School of Government di Universitas Harvard pada 1985.
Ban bergabung dengan Kementrian Luar Negeri Korea pada Mei 1970. Ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan Republik Korea pada Januari 2004.
Penempatannya yang pertama di luar negeri adalah di New Delhi, India. Setelah bekerja di Divisi Perserikatan Bangsa-bangsa di markas besarnya, ia bertugas sebagai Sekretaris Pertama pada Perwakilan Tetap Republik Korea di PBB di New York. Kemudian ia menjabat sebagai Direktur Divisi PBB. Ia pernah ditempatkan dua kali di Kedutaan Besar Korea di Washington D.C.
Di antara kedua penempatannya ini, ia menjabat sebagai Direktur Jenderal untuk Urusan Amerika pada 1990-1992. Ia dinaikkan pangkatnya menjadi Wakil Menteri untuk Perencanaan Kebijakan dan Organisasi Internasional pada 1995. Kemudian, ia diangkat menjadi Penasihat Keamanan Nasional kepada Presiden pada 1996, dan menjabat sebagai Wakil Menteri pada 2000. Penempatannya yang paling mutakhir adalah sebagai Penasihat Kebijakan Luar Negeri untuk Presiden Roh Moo-hyun.
Ban aktif terlibat dalam masalah-masalah yang terkait dengan hubungan dengan Korea Utara. Pada 1992, ia bertugas sebagai Wakil Ketua Komisi Pengendali Nuklir Gabungan Selatan-Utara. Pada September 2005, sebagai Menteri Luar Negeri, ia memainkan peranan penting dalam usaha-usaha diplomatik untuk memecahkan masalah nuklir Korea Utara.