Sosbud
10-Apr-2007 17:20:18 WIB
PROFIL
Rano Karno : Si Doel Adalah Konsep Pembangunan Jakarta



Berita HOT:
Pengalaman hidup di lingkungan masyarakat asli Jakarta begitu membekas dalam ingatannya. Menumbuhkan sebuah obsesi luhur dalam hatinya untuk menyumbangkan yang terbaik bagi masyarakat Betawi. Sinetron Si Doel Anak Sekolahan (SDAS), merupakan karya fenomenal Rano sebagai wujud pengejawantahan obsesinya itu.

Sinetron serial yang sempat digemari seluruh masyarakat di berbagai pelosok ini, bukan satu - satunya karya persembahan Rano untuk masyarakat Betawi yang dicintainya. Masih banyak rencana mulia, yang ingin diwujudkan pria kelahiran 8 Oktober 1960 itu. Berikut bincang - bincang Allamanda dan fotographer Atok Sugiarto dengan Rano Karno, pada suatu pagi di rumahnya yang asri di kawasan Lebak Bulus Jakarta Selatan.

Apa yang mendasari Anda begitu peduli dengan kehidupan masyarakat Betawi ?

Begini. Ketika saya kecil, keluarga kami hidup di daerah Kepu, Kemayoran, yang komunitas masyarakatnya adalah asli Betawi. Walau saat itu almarhum bapak saya, Soekarno M. Noer, sudah menjadi aktor film, tapi kehidupan tidak berubah. Kehidupan masa kecil begitu membekas dalam benak saya. Sebagai anak kecil, tentunya saya bermain dan bergaul dengan teman - teman sebaya.
Dari pergaulan itu terekam terus hingga sekarang. Saya terus mengingat kehidupan teman - teman saya yang asli Betawi.

Apa yang Anda lihat dari masyarakat asli Betawi ?

Berdasarkan pengamatan saya, faktor pendidikan masyarakat Betawi harus di tingkatkan lagi. Beruntung saya mempunyai bapak yang begitu peduli terhadap pendidikan anak - anaknya, walaupun untuk itu ia harus pontang - panting mencari uang. Kalau di banding dengan teman - teman sepermainan saya dulu, mereka rata - rata tidak bersekolah.

Bukan karena mereka bodoh, tapi lebih di sebabkan pandangan kuno orang tua mereka bahwa lembaga sekolah merupakan peninggalan kompeni (penjajah Belanda). Mereka menganjurkan anak - anaknya pandai mengaji dan pintar berdagang. Mungkin dari sinilah kemudian timbul obsesi saya, untuk merubah imej masyarakat tentang orang - orang asli Betawi ini. Mereka itu tidak hanya pandai berdagang serta mengaji saja, tapi juga makan sekolahan.

Saya melihat masyarakat Betawi sebagai masyarakat yang terbuka. Dan ini bisa di lihat dari arsitektur rumah - rumah Betawi asli yang serba terbuka. Bisa di lihat juga dari keseniannya yang merupakan fasilitator pertemuan dan transformasi budaya dari penjuru dunia yang melahirkan produk budaya khas Jakarta. Misalnya budaya Cina yang bersentuhan dengan budaya Betawi, menghasilkan Cokek dan Gambang Kromong.

Lalu, bangsa Portugis yang berinteraksi dengan warga Kampung Toegoe, maka jadilah Keroncong Tugu, yang juga menjadi seni khas Jakarta. Bangsa Arab yang berkolaborasi dengan orang Betawi asli, sehingga terciptalah musik Gambus yang Islami. Juga perkawinan budaya suku Sunda dengan pribumi Betawi yang menghasilkan seni pertunjukan Topeng Betawi.

Anda menyebutkan obsesi untuk mengubah imej masyarakat asli Betawi. Apakah sinetron Si Doel Anak Sekolahan merupakan salah satu bagian dari obsesi Anda ?

Benar. Ketika saya ingin membuat sinetron ini, saya banyak bicara dengan almarhum Babe Benyamin S. Memang waktu itu saya tidak berpikir kalau usaha yang akan saya lakukan akan berhasil. Tapi saya tidak peduli. Bagi saya berhasil atau tidak, itu belakangan. Yang penting saya telah melakukan sesuatu yang positif untuk masyarakat Betawi lewat pikiran maupun karya - karya saya.

Lewat Si Doel Anak Sekolahan, misi yang ingin saya sampaikan pada orang - orang tua Betawi yang masih kolot itu, bahwa sekolah penting demi mengangkat harkat dan martabat keluarga. Saya ingin memperkenalkan kepada Indonesia, bahwa inilah kultur masyarakat Betawi yang sebenarnya.

Berhasilkan usaha Anda lewat Si Doel ?

Saya tidak tahu. Karena ukuran keberhasilan itu di lihat dari sisi apa ? Tapi yang pasti, sebagai tayangan televisi, sinetron Si Doel Anak Sekolahan masuk dalam rating tertinggi di dunia (rating 58 untuk tayangan sejenis). Dan sampai saat ini belum ada yang bisa mengalahkannya.

Hanya saja pihak stasiun televisi yang menayangkan sinetron tidak mengurusnya. Kalau tidak, sinetron Si Doel Anak Sekolahan ini masuk dalam Guinness Book of Record . Kalau ukuran keberhasilan usaha saya dilihat dari sisi ini, jelas berhasil. Saya merasa betul - betul mendapatkan simpati karena Si Doel Anak Sekolahan ini.

Lalu apa arti kesuksesan Si Doel Anak Sekolahan bagi Anda sendiri ?

Kesuksesan Si Doel Anak Sekolahan bukanlah kesuksesan saya sendiri. Tapi kesuksesan Keluarga Si Doel secara keseluruhan. Disitu ada Aminah Cendraksih, almarhum Pak Tile, almarhum Pak Bendot yang semuanya terangkat secara ekonomi. Dan almarhum Babe Benyamin... (Tiba - tiba air mata Rano menetes. Percakapan terhenti. Rano mengeluarkan sapu tangan dari kantong celana panjangnya untuk menyeka air mata). Maaf, saya betul - betul terharu jika mengenang keluarga Si Doel yang telah mendahului saya. Saya sangat terharu dengan dedikasi mereka.

Ketika sinetron Si Doel dibuat, tidak sekalipun terlontar dari bibir mereka soal bayaran. Berapa pun di kasih mereka terima. Ini yang membuat saya terharu dan menjadi kenangan saya sampai saat ini. Mungkin masyarakat hanya tahu kesuksesan Si Doel ketika melihat tayangannya di televisi. Tapi apa perlu mereka tahu bagaimana perjuangan saya dengan teman - teman ketika menawarkan tayangan ini ke stasiun televisi ? Saya seperti mengemis mendatangi stasiun - stasiun televisi.

Dan apa jawaban mereka ? Tayangan dengan setting cerita masyarakat Betawi di anggap tidak layak secara komersil. Akhirnya ada satu stasiun televisi yang bersedia menayangkannya. Itu juga dengan sistim sharing dan harganya murah serta di tayangkan di bulan Ramadhan pula. Tapi Alhamdulillah, Allah Maha Besar. Ternyata Si Doel berhasil secara moril maupun materil.

Apakah populernya Si Doel Anak Sekolahan ini, akhirnya memunculkan wacana untuk mencalonkan Anda sebagai Wakil Gubernur Jakarta ?

Saya pikir itu hal yang wajar saja. Memang pada awalnya saya tidak begitu peduli. Tapi hasil polling menempatkan saya di posisi lima besar. Ini juga yang akhirnya merubah pendirian saya. Saya merasa tertantang untuk melakoninya. Walau saya sendiri tidak memasang target harus menang, tapi paling tidak konsep dan pemikiran saya untuk Jakarta bisa saya tuangkan.

Apa konsep Anda untuk Jakarta yang Megapolitan ini ?

Konsep saya adalah Jakarta Si Doel, artinya Jakarta yang sehat, di mana warganya bisa sehat jasmani hidup di lingkungan bersih, bebas polusi dan layak huni. Selain itu sehat rohani. Warga kota ini perlu hidup dalam pranata sosial yang beriman, berakhlak, berpendidikan, yang roda pemerintahannya di jalankan secara jujur dan bersih.

Kemudian Jakarta yang inspiratif, adalah warga dan pemerintahannya menghargai, merawat dan mengapresiasi warisan masa lalu, berupa monumen, gedung, kanal - kanal dan bangunan fisik bersejarah sebagai sumber inspirasi. lalu, Jakarta yang damai dalam pengertian Jakarta yang aman dari tindak kejahatan, anarki dan terorisme.

Sehingga tercipta suasana yang kondusif untuk berkreasi dan berdemokrasi. Jakarta yang optimis, adalah Jakarta yang memberikan peluang sama terhadap warganya untuk bisa mewujudkan harapan mencapai hidup sejahtera. Kemudian untuk E nya adalah Jakarta yang penuh empati. Bisa di artikan bahwa warga dan pemerintahan kota ini memiliki kepedulian dan empati terhadap nasib dan penderitaan hidup sesamanya.

Rasa kesetiakawanan harus di tumbuhkan. Karena di mata saya, Jakarta yang sekarang adalah Jakarta yang individualistis. Kemudian yang terakhir, adalah Jakarta yang toleran, di mana warga dan pemerintahannya mampu menghargai dan bersikap toleran terhadap perbedaan suku, ras, kultur dan keyakinan sesama.

Anda yakin konsep ini akan berhasil ?

Wallahualam ... Tapi yang pasti inilah bentuk sumbangan pemikiran saya terhadap kota Jakarta pada umumnya dan masyarakat asli Betawi khususnya. Saya menyadari sepenuhnya bahwa mewujudkan Jakarta Si Doel tidak semudah mengulang sukses Si Doel Anak Sekolahan.

Bagaimana penemuan proses kreatif Anda untuk mewujudkan Jakarta Si Doel ?

Jakarta Si Doel bukanlah sekadar gagasan hasil rekayasa setelah muncul wacana yang memasukkan saya dalam bursa pilkada DKI. Melainkan hal yang tanpa saya sadari sudah tertanam sejak tahun 1972, saat usia saya masih 12 tahun. Saat itu saya mendapat kepercayaan memerankan Si Doel Anak Betawi, sebuah film yang antara lain di bintangi oleh almarhum bapak saya Soekarno M. Noor dan almarhum Benyamin S dan di sutradarai oleh almarhum Syumanjaya. Ini terus "berinkubasi" dan menjadi pergulatan kreatif saya selama 20 tahun lebih. Kemudian tahun 1982 proses pergulatan kreatif itu menemukan bentuknya.

Tahun 1984, saya mulai menuangkan gagasan tentang Si Doel Anak Sekolahan dalam bentuk cerita pendek dan novelet. Baru pada tahun 1994 bersama sutradara Ida Farida menuliskan gagasan tersebut menjadi 6 episode serial sinetron Si Doel Anak Sekolahan I. Kemudian dari tahun 1995 sampai dengan 1997, saya bersama Harry Tjahjono menulis skenario Si Doel Anak Sekolahan II, III, IV dan V. Selama kurun waktu sekitar 25 tahun itu, sejak saya memerankan Si Doel Anak Betawi sampai pada Si Doel Anak Sekolahan, tidak hanya proses pergulatan intelektual. Kenapa ? Karena saya harus banyak membaca, banyak bertanya, tentang terpinggirnya budaya Betawi.

Apa yang Anda dapatkan dari Si Doel Anak Sekolahan, sebagai seorang Rano Karno ?

Sepanjang pembuatan serial Si Doel Anak Sekolahan, dari tahun 1993 sampai sekarang, saya sering melakoni pergulatan sosial. Dalam arti menyimak dan melakukan observasi atas realitas kehidupan masyarakat kelas bawah dan orang - orang pinggiran, yang merupakan realitas sosiologis yang menjadi nyawa serta ruh dari Si Doel Anak Sekolahan ini.

Adakah wujud nyata yang Anda tuangkan dari hasil observasi Anda terhadap masyarakat kelas bawah ?

Sebenarnya jauh sebelum saya masuk dalam bursa pilkada DKI Jakarta, saya sudah melakukan aktifitas sosial untuk masyarakat kelas bawah. Tahun 1996 saya mendirikan sanggar kerja dan sebuah mushala di tengah perkampungan pemulung di belakang pemakaman Joglo, Jakarta Selatan seluas 1 hektar.

Begitu juga sejak 2 tahun lalu, saya juga aktif menangani sampah di lingkungan perumahan tempat saya tinggal. Sampah - sampah itu saya olah menjadi pupuk kompos ramah lingkungan. Tempat saya tinggal ini, saya jadikan sanggar pelatihan untuk pembuatan pupuk kompos.

Sekarang saya sudah mempunyai anggota 3000 orang. Semua itu saya lakukan diam - diam tanpa publikasi. Tapi karena saya di calonkan untuk ikut pilkada DKI Jakarta, setiap aktifitas saya mendapat sorotan pers. Bagi saya itu hal yang wajar. Sepanjang kegiatan yang saya lakukan mempunyai manfaat sosial, apa pun kata orang saya akan terus melakukannya. Jika saya terpilih di pilkada, tetap akan berbuat untuk masyarakat bawah. Begitu pula jika tidak terpilih. Pokoknya nothing to loose sajalah ....

Apa komentar Anda tentang banyaknya selebriti yang terjun ke dunia politik praktis ?

Ini suatu bukti kalau seniman juga bagian dari kehidupan politik negeri ini. Ternyata mereka juga mempunyai gagasan, pemikiran, demi kemajuan bangsa. Jadi anggapan kalau artis atau seniman hanya sekadar pemanis sebuah negeri, tidak benar sama sekali. Qomar, Adjie Massaid, Angelina Sondakh, Dede Yusuf, dan saya sendiri tidak hanya sekadar tampil di panggung politik karena popularitas.

Saya yakin teman - teman saya itu mempunyai kepedulian terhadap kemajuan negeri. Seperti juga almarhum Adam Malik yang wartawan, ternyata bisa tampil bahkan menjadi politikus dunia yang di segani di PBB. Kenapa tidak, artis juga bisa seperti itu ?(Tabloid Jelita/Dv/Idh)

Nama:
Email:

More PROFIL:
[ more Profil ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :