
Dalam suasana seperti apa Anda menulis ?
Saya akan protes keadaan dengan cara menulis. Melihat orang dikhianati, saya akan menulis. Melihat berita di koran, saya akan menulis. Melihat perempuan tertindas, saya juga akan menulis. Begitu hati tersentuh, saya akan mudah menulis. Rasanya ada yang sesak di dada, kalau saya belum menuangkannya dalam sebuah tulisan.
Sebaliknya, kalau hati saya tak tersentuh, saya sukar menulis. Makanya, saya susah sekali ikut lomba menulis yang menggunakan tema tertentu. Saya sih mencoba, tetapi tetap saja hasilnya kurang maksimal bahkan belok dari tema yang ditetapkan. Kreatifitas menulis saya susah diatur.
Darimana inspirasi menulis Anda ?
Bisa dari pengalaman pribadi, pengalaman orang - orang disekitar kita, bacaan di koran, buku - buku bacaan atau apa saja yang menyentuh perasaan saya bisa menjadi sebuah tulisan. Kalau tulisan yang berdasarkan pengalaman pribadi, saya olah dengan riset, baik melalui bacaan maupun pengamatan. Sehingga hasilnya, tak seasli pengalaman pribadi. Tetapi itulah seninya menulis. Kita bisa mengolahnya sesuai yang kita mau. Kita adalah dalang dari sebuah pertunjukan. Baik buruknya nasib sang tokoh ada di tangan kita.
Adakah idealisme tertentu saat Anda menulis ?
Ya, setiap kali saya menulis tentu ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada pembaca. Didalam cerpen–cerpen saya, sering ingin saya sampaikan pesan, bahwa perempuan selalu menjadi pihak yang disalahkan, ketika ada sistem yang salah dalam masyarakat. Sebaliknya, kalau ada yang salah dalam masyarakat, hendaknya lelaki dan perempuan sama-sama introspeksi untuk memperbaiki, bukan saling menyalahkan dan melemahkan satu sama lain. Perempuan punya keinginan yang sama dengan lelaki. Hanya saja kondisi masyarakat dengan budayanya, sering membuat perempuan tak bisa mengungkapkan keinginannya dengan optimal.
Tetapi ketika menjadi sebuah cerpen, pengarang sudah mati. Sehingga terserah pembaca hendak menilai cerpen saya dari sudut mana. Saya bisa sangat berhasil dalam menyampaikan ide tetapi bisa gagal juga, karena pembaca kadang menangkap nilai-nilai yang bertolak belakang, dari apa yang hendak saya sampaikan.
Kapan Anda mulai berani mempublikasikan karya Anda ?
Sejak SD sebenarnya karya saya sudah ada yang dipublikasikan di majalah anak -anak. Waktu itu, menulis masih pakai tulisan tangan. Saat saya SMP, SMA dan kuliah, umumnya menulis sudah memakai mesin tik. Nah, saya paling tak bisa mengetik. Tak telaten dengan Tip Ex menip Ex, jika ada kesalahan. Jadinya aktivitas menulis saya cukup mandeg. Beberapa karya puisi saya yang menggunakan tulisan tangan, tak bisa saya kirimkan ke koran atau majalah. Tetapi saya masih menulis untuk lomba karya ilmiah dan sempat menang beberapa kali. Itupun karena boleh memakai tulisan tangan.
Faktor lainnya yang membuat saya mandeg menulis adalah, ketika saya di Yogya, saya banyak bertemu dengan sastrawan yang sudah punya nama. Tak hanya kenal di koran, tetapi kenal secara personal karena sering diskusi dalam satu meja. Akibatnya, saya bukanya termotivasi tetapi malah minder tak karuan. Dulu ada yang namanya Pengadilan Puisi. Saya tak tahan kalau melihat penyair-penyairnya dibantai. Tetapi jangan salah, justru mereka yang dibantai habis-habisan itulah, yang sekarang jadi penyair betulan. Sedang saya yang minder ini, tak jadi apa-apa dan memilih karir yang saya percaya diri mengarunginya yaitu berteater. Apalagi saat itu, jarang ada pemain teater perempuan. Sehingga sayapun muncul di pertunjukan teater dimana-mana. Sementara dibidang kepenulisan saya berhenti sama sekali.
Diantara sekian banyak tulisan Anda, adakah yang paling berkesan ?
Wah, pertanyaan sulit. Rasanya, masing-masing tulisan ada kesan tersendiri. Susah kalau disuruh pilih yang paling berkesan. Mungkin “Addicted to Weblog” yang paling berkesan karena betul-betul “saya banget” dan menulisnya pun cepat, karena semuanya benar-benar berangkat dari pengalaman pribadi, yang saya lebih-lebihkan sedikit tentunya.
Selain sebagai penulis, apa pekerjaan Anda yang lain ?
Pustakawan dan mengajar. Saya mengajar sejak saya belum lulus kuliah. Itu yang secara formalnya. Kalau secara informalnya, saya sudah mengajar sejak saya kelas 5 SD. Benar! Kelas 5 SD! Guru TK saya, Bu Nani, mengirimkan siswanya kepada saya untuk diajari pidato dalam rangka hari Kartini. Maka tiap sore saya mengajar anak TK tersebut dengan gigih. Dan saya merasa senang, ketika anak tersebut mendapat juara 1 lomba pidato tingkat Kotamadya.
Sedang sebagai pustakawan, saya sudah memulainya sejak saya duduk di kelas 3 SD. Ibu saya rajin membelikan buku untuk anak-anaknya, sehingga buku-buku kami, baik berupa majalah maupun buku cerita banyak sekali. Sampai mencapai sebuah lemari pakain besar dan sebuah lemari kecil, yang direlakan Ibu saya untuk dijadikan tempat menyimpan buku-buku kami. Itu belum termasuk buku -buku koleksi ibu dan ayah saya.
Pada saat itu, saya mulai menyewakan buku-buku tersebut buat tetangga dengan harga sewa Rp 5 rupiah. Setelah terkumpul, saya dan kakak saya akan ke toko buku untuk menambah koleksi buku baru. Dari situlah, jiwa pustakawan saya tumbuh. Jadi, begitu lulus S1 dan ada lowongan beasiswa untuk belajar ilmu perpustakaan, saya mendaftar saja dan diterima. Setelah S2 perpustakaan, saya mengajar ilmu perpustakaan di kampus, juga menangani perpustakaan universitas dan beberapa kali terlibat dalam pembenahan perpustakaan sekolah juga workshop tentang perpustakaan. Perpustakaan dan pendidikan adalah ilmu yang saling menunjang satu sama lain. Pustakawan dan pengajar serta menulis adalah perpaduan yang sangat mengasyikkan bagi saya.
Mengapa Anda tertarik mengajar ?
Ibu saya guru, Abah saya pernah menjadi guru, kedua kakak saya juga guru. Ibu, Abah, kedua kakak saya adalah guru. Jadi darah guru memang sudah mengalir ditubuh saya. Suami saya pun juga pernah menjadi guru.
Saya sebenarnya tak tertarik mengajar tetapi ibu saya sudah mengarahkan sedemikian rupa supaya saya menjadi seorang guru juga. Terbukti ketika saya mau mendaftar di SMA Negeri Pekalongan, ibu saya tak setuju dan menyuruh saya mendaftar PGAN. Waktu itu ibu saya bilang, beliau tak yakin bisa membiayai saya kuliah. Nah kalau di PGAN saya kan dapat lisensi mengajar, bisa langsung bekerja setamat PGA. Kalaupun tak mengajar, secara formal akan berguna dalam mengajar anak-anak saya.
Tetapi saya kemudian yakin bahwa saya punya bakat mengajar. Saya sangat menikmati ilmu pedagogik, psikologi dan metode mengajar. Mengajar bagi saya tak membosankan. Setiap hari kita menyampaikan materi yang berbeda. Tiap semester kita mengajar hal-hal yang berbeda. Kadang muridnya pun berbeda-beda. Jadi sangat variatif dan dinamis.
Pengalaman menarik mengajar ?
Saya pernah mengajar anak TK, SD, SMP, SMA dan mahasiswa. Semuanya menarik. Masing-masing punya kekhasan sendiri-sendiri.Yang paling menarik, ketika saya harus mengajar di sebuah workshop kepala-kepala sekolah se DIY dan Jawa Tengah. Eh, diantara pesertanya adalah guru saya di SMA, teman-teman PGA dan kuliah saya. Pertemuan itulah, akhirnya malah seperti reuni.
Saya senang sekali kalau ada murid saya yang sukses. Saya pernah terkejut ketika apartemen kami datangan tamu mahasiswa Indonesia yang akan mengambil S3 di kampus saya. Setelah berbicara panjang lebar, saya dan dia sama-sama kagetnya, karena ternyata dia adalah mantan murid saya di MAN Yogya. Wah, saya senang bercampur haru.
Bagaimana dukungan suami dan anak-anak terhadap karier Anda ?
Suami saya tukang kritik. Harus berpikir puluhan kali kalau mau menujukkan tulisan saya ke suami saya. Dia adalah penyair yang sangat peduli dengan diksi, yang untuk menemukan sebuah kata saja harus berhari-hari. Beda dengan saya yang praktis dan mudah dimengerti. Tetapi tentu saja dia senang dan kaget sekali begitu tahu kalau saya mulai menulis cerpen. Dia tahunya saya tak tertarik dengan dunia fiksi.
Jadi, begitu tahu saya nulis cerpen dan tulisan saya terbaca olehnya, langsung dia akan memberikan kritikannya yang saya akui sangat membantu saya dalam memperbaiki kualitas tulisan saya. Utamanya dalam menempatkan simbol didalam sebuah cerita supaya tak terkesan tempelan.
Anak-anak saya sangat bangga kalau melihat tulisan ayah ibunya ada di koran. Dan merekapun berlomba-lomba untuk ikut menulis juga. Walaupun anak saya yang nomor dua, Danial, pernah protes dengan mengatakan buku-buku ibunya membosankan karena tak ada gambarnya. Lalu dia akan membuat sendiri bukunya yang penuh dengan gambar..ha...ha....
Sedangkan yang paling besar, Yasa juga termotivasi dengan membuat cerita- erita yang diikutkan dalam lomba ”Story Telling” di sekolahnya. Beberapa ceritanya termasuk yang dipajang disekolah.
Anak-anak juga sering protes dengan Kesibukan saya, jika saya masih berkutat di komputer, sementara mereka sedang libur sekolah. Tetapi Alhamdulilah, mereka anak-anak yang pengertian. Saya akan bilang mereka harus menunggu sampai jam makan siang sebelum mereka saya antar pergi ke taman.
Labibah, atau Bibah, panggilan akrabnya, adalah anak perempuan dari pasangan suami istri Zain A Yahya dan almarhumah Ni'mah Yahya, yang merupakan keturunan Arab. Labibah menikah dengan Ali D Musyrifa, pada 1 November 1995. Di tahun ke-11 pernikahan, mereka telah dikarunia satu orang putri, Akyasa Adiba, kelahiran 17 September 1996, dan dua orang putra : Danial Ahmad Allaudza’i (12 Juli 2000)dan Zirak Ahmad Mubarak (22 Februari 2006). Labibah mengatakan Ibunya sangat menyukai puisi, karena itulah ia jatuh cinta ketika suaminya melamar dirinya dengan puisi-puisi karya Ali, yang anak pedagang batik itu. Labibah yang bersama keluarganya, tinggal di Montreal, Kanada ini, juga dikenal sebagai founder dari komunitas blogger Indonesia terbesar, Blogger Family (Blogfam).
Bagaimana dukungan keluarga besar terhadap karier Anda ?
Ayah, ibu, kedua kakak saya bahkan nenek saya sangat mendukung semua kegiatan-kegiatan saya baik di organisasi Siswa, pramuka, teater maupun menulis. Pernah sekali waktu, saya baru pulang dari berkemah, sementara ada deadline lomba menulis karya ilmiah penghijauan besok paginya. Seharian saya berkutat di meja belajar dengan setumpuk referensi yang saya dapatkan dari koleksi buku-buku ibu saya. Saya menulis tanpa peduli apapun. Ketika jam makan tiba, kakak saya menyuapi saya dan nenek saya memijiti kaki saya di bawah meja belajar, sementara saya terus menulis. Hasilnya saya mendapatkan juara 1 dalam lomba itu.
Apakah dunia menulis, yang juga menjadi latar belakang Anda mendirikan Blogfam ?
Tidak! Blogfam didirikan lebih karena ingin menciptakan sebuah komunitas blogger Indonesia yang ramah pada siapa saja dan bisa berbagi informasi tentang apa saja, tanpa membedakan latar belakang usia, agama, suku, pangkat dan kedudukan. Kalau kemudian, Blogfamers bisa menerbitkan buku, itu merupakan kebanggaan tersendiri, akibat berbagi informasi dalam situasi yang ramah dan kekeluargaan tadi. Sama bangganya ketika Blogfam masuk MURI dengan lomba masak virtualnya. Kalau bisa sih, inginnya semua anggota blogfam bisa mengembangkan bakat sesuai dengan bidangnya masing - masing. Yang bakat menyanyi, menulis, olahraga, bikin film, design hingga masak, kita kompori agar bisa berprestasi.
Apa keuntungan yang didapat dengan menjadi anggota Blogfam ?
Banyak!
Problem terbesar dalam suatu organisasi/komunitas adalah dana. Bagaimana Anda menggalang dana bagi Blogfam ?
Alhamdulilah, anggota Blogfam merasa memiliki Blogfam. Ini penting! Karena rasa kepemilikan inilah Blogfam bisa mengatasi kesulitan dana.
Kalau Blogfam mengadakan acara, konsumsinya pasti dibawa oleh anggota Blogfam sendiri dengan cara Potluck. Door prize dan hadiah-hadiah lomba didapat dari para anggotanya juga. Ketika diminta jadi pembicara untuk sebuah acara, kebanyakan anggota/moderator Blogfam yang mewakili mengikhlaskan honornya buat kas Blogfam, penerbitan juga. Hosting dan domain juga awal-awalnya merupakan sumbangan dari para donaturnya. Hanya tahun ini saja, yang domainnya bisa didanai dari hasil pemasangan iklan. Itu semua karena anggota Blogfam merasa memiliki Blogfam. Saya bangga terhadap mereka. Kini Blogfam sudah regenerasi dan ditangani oleh tenaga-tenaga muda. Saya memantau saja dari jauh dan saya yakin kedepannya Blogfam akan lebih maju ditangan Parwita dan kawan-kawan. Sampai kapanpun saya akan bangga terhadap mereka. Semoga dana-dana yang demikian akan terus mengalir, sehingga kedepannya Blogfam tak kesulitan untuk beraktivitas.
Pernahkah Anda merasakan kegagalan dan bagaimana menghadapinya ?
Pernah. Berserah diri kepada Tuhan sambil mencari-cari hikmah dibaliknya. Juga introspeksi baik yang bersifat horisontal untuk berikhtiar maupuan vertikal (kepada Tuhan). Menurut saya, hal yang paling berat ketika kegagalan datang adalah ketika rasa malu harus berhadapan dengan orang lain karena kita gagal. Nah menurut saya. Malu itu wajar tetapi bukan lantas terus berkubang dalam rasa malu itu, tetapi kita harus menyiapkan mental bahwa masing-masing orang punya karakter yang berbeda didalam menghadapi kegagalan seorang. Jangan biarkan kita larut dalam omongan orang-orang, yang negatif thingking kepada kita. Tunjukkan kepada mereka gagal bukan akhir dari segalanya. Gagal bisa berarti banyak hikmah, termasuk mungkin jalan itu bukan jalan yang terbaik bagi kita. Mungkin juga sebagai cambuk agar kita lebih banyak berusaha. Intinya kita jadikan kegagalan untuk berbenah. Saya tahu sulit dalam pelaksanaannya tapi tak ada salahnya kita berusaha.
Apa harapan Anda selanjutnya ?
Ingin bisa menyelesaikan sekolah saya. Barulah setelah itu saya bisa menulis sesuai dengan kemauan saya sendiri, sambil berkiprah didunia pendidikan. Dan juga menyaksikan anak-anak saya yang tumbuh besar, berhasil dalam kehidupannya masing-masing dan bermanfaat bagi agama nusa dan bangsa tentunya.(Indjul/her)
Tulisan-tulisan Labibah bisa dinikmati di http://serambirumahkita.blogspot.com