
Menurut hitungan matematika, untuk satu program acara saja, Tukul mengantongi 10,6 miliar. Belum lagi job lainnya. Ibarat mendapat durian runtuh. Begitulah Tukul. Tapi bukan semata - mata keberuntungan yang menaungi Tukul. Kerja keras dan perjuangan tak kenal lelah, yang diistilahkan Tukul kristalisasi keringat, membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Sebelum sukses, Tukul pernah menjalani hidup prihatin. Bekerja sebagai tukang gali sumur pompa, sopir pribadi, MC di pesta perkawinan kampung, bahkan menjadi tukang kebun, pernah dilakoninya.
Berbekal kepandaiannya melawak, pria asal Perbalan, Purwosari, Semarang ini mengadu nasib ke Jakarta. Tukul butuh waktu 17 tahun untuk menaklukkan kerasnya kehidupan Jakarta. Perjuangannya tak sia - sia. Tukul kini menjadi salah satu entertainer papan atas di jagad hiburan tanah air. Status yang tadinya bukan apa - apa, mendadak menjadi penghias media masa.
Berubahkan sosok Tukul setelah menggapai manisnya popularitas ? Dijumpai Allamanda dan fotographer Atok Sugiarto dari Jelita, Tukul bercerita seputar karir dan kehidupannya. Berikut ini petikan wawancaranya.
Anda sekarang terkenal dan kaya raya. Apakah semua itu membuat Anda gamang ? Atau ada yang berubah dalam kehidupan pribadi ?
Bagi saya biasa-biasa saja. Saya tidak terlalu kaget dengan perubahan nasib yang cukup drastis. Biar saja orang - orang bilang, Wah, mas Tukul saiki wis terkenal, tampil di tv setiap hari, duwite akeh ... Ya biarkan saja, itu hak mereka untuk mengatakan apa yang mereka lihat terhadap perubahan kehidupan pribadi saya.
Tapi saya sendiri tetaplah Tukul yang dulu, yang masih senang bergaul dengan tetangga, sering kumpul - kumpul dengan mereka. Tidak ada yang berubah dari saya. Falsafah Jawa, ojo gumunan (jangan terlalu heran) merupakan bekal yang sudah tertanam dalam diri saya sejak masih kere dulu. Yang terpenting, dulu waktu susah profesi saya cover boy, sekarang juga cover boy ... (tangannya mengusap - ngusap rambutnya yang dipotong cepak gaya tentara, dan itu menjadi salah satu ciri khasnya).
Kalau melihat celetukan-celetukan lawakan Anda, kelihatan sekali Anda begitu percaya diri ?
Awalnya saya ragu dengan profesi pelawak. Masak sih, kalau mau sukses hanya berbekal profesi pelawak ? Keraguan itu makin kuat saat saya berkali-kali menjuarai lomba lawak, tapi rejeki tidak juga datang menghampiri. Bahkan saya sering diremehkan, direndahkan. Tukul itu siapa sih ? Semua itu saya terima dengan ikhlas dan sabar. Kembali ke laptop .. eh, ke pertanyaan tadi.
Sebenarnya apa yang menjadi celetukan lawakan saya yang terkesan pede, itu tidak lebih dari kontradiksi terhadap diri saya sendiri, yang culun, katro, ndeso... Dari sisi wajah, wedhus (kambing) saja kabur lihat saya, apalagi cewek. Dan saya berusaha menutupi kekurangan ini dengan memperkenalkan diri saya sebagai cover boy majalah sobek, ha ha ha ... Trus mosok sih cover boy jenenge (namanya) Tukul ? Kelihatan ndeso banget gitu. Karena itu saya ganti dengan Re, Re, Reinaldi, biar kelihatan kota gitu.
Bagi saya melawak itu ibarat bermain musik. Selain perlu jam terbang tinggi, jiwanya juga harus besar. Kelemahan yang ada di dalam diri saya bila dimanfaatkan dengan baik, tentunya menjadi sebuah kelebihan yang membawa berkah. Yah, yang terpenting you much quick thinking whatever you do (berpikir cepat apa yang kami perbuat). Sorry saya terpaksa pake bahasa Inggris karena saya lama di British, jadi masih kebawa kebiasaan sana. Hayo ketawa, ngece (meledek) tak sobek, sobek ....
Sepertinya Anda tidak melupakan darimana Anda berasal ?
Saya sadar betul siapa saya ? Saya berasal dari keluarga tidak mampu dan bukan dari keluarga yang serba kecukupan. Ayah saya Abdul Wahid dan almarhum ibu saya Sutimah, adalah orang Jawa ndeso yang lugu. Untuk menjadi kaya dan sukses seperti sekarang ini, melalui proses perjalanan hidup yang panjang. Saya tidak pernah gengsi atau rendah diri untuk mengerjakan pekerjaan apa saja.
Mulai jadi sopir omprengan, sopir pribadi, kerja menjadi tukang sumur bor, model figuran, atau pembawa acara seperti sekarang ini. Semuanya saya kerjakan dengan serius dan profesional. Saya paling bersemangat kalau dengar ada kerjaan. Hidup adalah sebuah proses. Kalau ingin sukses harus dengan kristalisasi keringat yang panjang.
Rumah saya ini, saya jadikan posko Ojo Lali, bukannya tanpa maksud. Karena di sini berkumpul teman-teman yang mencoba meraih sukses seperti saya. Semua itu saya tampung, dan berbagi sukses dengan saya. bila mereka sudah sukses ojo lali (jangan lupa) terhadap akarmu. Selain itu, teman - teman yang saya tampung di sini juga menjadi filter untuk saya, agar selalu ingat ketika saya masih hidup susah. Bagi saya harta, kekayaan dan popularitas itu hanya titipan. Tidak ada yang perlu dibanggakan.
Melihat kondisi ekonomi Anda sekarang, bisa saja Anda memilih tempat tinggal di daerah elit yang jauh dari keramaian. Kok, Anda memilih tinggal di tempat yang padat penduduk ?
Saya suka tinggal di sini (tempat tinggal Tukul di kawasan Cipete), karena saya suka bersosialisasi dan bermasyarakat. Saya suka keramaian. Di sini saya bisa dengar suara motor lewat, anak - anak teriak - teriak bermain, bisa ditegur sapa penuh keakraban dengan tetangga. Kalau ada kemeriahan semacam Hari Kemerdekaan 17 Agustus, suasana menjadi bertambah ramai, ada gotong royong, pawai dan kerja bakti.
Suasana seperti ini suasana kampung saya di Perbalan Seamarang. Tidak jarang saya mendapatkan inspirasi dari hasil kongkow - kongkow saya dengan para penduduk sini. Kalau untuk kesuksesan, memang saya sama kok dengan David Beckham. Hanya bedanya, dia dibayar dengan poundsterling, saya dengan rupiah, ha ha ha.
Kesuksesan dan ketenaran terkadang mengundang banyak wanita untuk masuk dalam kehidupan pribadi Anda. Bagaimana menyikapinya ?
Maksudnya saya kawin lagi, terus foya - foya lupa diri, begitu ? Insya Allah, saya tidak seperti itu. Cukup Susiana saja yang menjadi istri saya. Saya sendiri juga heran, kok istri saya itu mau dengan saya. Padahal waktu saya melamar dia, saya tidak punya pekerjaan tetap. Modal saya hanya wajah yang mirip cover boy (kembali orang - orang yang hadir saat wawancara tertawa).
Puas, puas, tak sobhek, sobhek ... (kemudian obrolan dilanjutkan) Saya beranikan diri datang ke orang tuanya dan menyatakan kalau Tukul itu siap menjadi laki - laki yang bertanggung jawab, dan siap menjadi suami yang baik. Saya menikah tahun 1995. Untungnya, istri saya itu bukan cewek matre.
Untuk modal menikah, kebetulan saya punya motor Honda GL Max bekas dan itu saya gadaikan. Sampai sekarang motor itu saya simpan untuk kenang - kenangan abadi. Begitu besar pengorbanan istri saya, bayangkan saja ketika awal - awal kami menikah setiap harinya saya hanya memberi uang belanja seribu atau dua ribu rupiah. Kurang ? Jelas kurang. Itu ditutupi oleh penghasilan istri saya yang bekerja sebagai kasir di sebuah restoran. Bagaimana saya bisa ke lain hati kalau mengingat perngorbanan istri saya.
Bagaimana peran istri terhadap kesuksesan Anda ?
Besar sekali. Karena dia merupakan orang yang paling dekat. Istri saya itu bisa dijadikan teman diskusi, tempat untuk curhat, dan memberi dorongan terhadap segala sepak terjang suami. Bahkan dia juga bisa menjadi manajer saya. Bagi saya kesuksesan itu tidak harus membuat saya lupa diri, termasuk menjaga perasaan istri.
Walau di acara yang saya pandu saya sering melakukan cipika cipiki (istilah Tukul untuk mencium pipi kanan -kiri bintang tamunya) dengan gadis - gadis cantik, toh istri saya menyadari kalau itu hanya bagian dari hiburan yang dilakukan oleh
suaminya demi kesuksesan acara itu sendiri. Menurut saya untuk menjaga sebuah rumah tangga tetap utuh, tergantung dri komitmen berdua.
Salah satu saja yang melanggar komitmen , maka percaya deh, pasti rumah tangga itu akan hancur. Saya bekerja seperti ini demi anak - istri. Kalau istri dan anak senang, saya juga senang. Tapi bagaimana kalau suami senang ? Istri dan anak belum tentu senang. Pedoman seperti itu yang selalu mendasari saya untuk tidak terpeleset dalam menjaga kelanggengan karier saya.
Nama beken Anda Tukul Arwana. Ada artinya untuk Anda ?
Sebenarnya nama asli saya adalah Riyanto. Tapi karena sering sakit - sakitan, orangtua saya menambahkan Tukul (Thukul) yang artinya tumbuh. Arwana adalah nama pemberian sahabat saya seorang pemusik, Toni Rastafara. Toni memberikan nama tambahan Arwana dengan asumsi, bahwa Arwana adalah nama ikan yang dipelihara oleh orang kaya dan dipercaya membawa hoki. Kata Toni siapa tahu dengan tambahan Arwana di belakang nama saya kelak bisa menjadikan saya orang kaya.
Menurut Toni, kumis saya mirip ikan Arwana, ikannya orang kaya. Belakangan setelah lama saya tinggal di British, nama Tukul disesuaikan dengan spelling British menjadi Too Cool. Biar orang British lebih mudah menyebut nama saya. Bagi saya, nama juga bisa membawa hoki. Lihat Tukul jangan luarnya saja, tapi dalamnya, wouw, my heart is good.(Tabloid Jelita/Dv/Idh)