Malam dedaun lelap
selimut biru muda menemani
senyummu menidurkanku
bermimpi aku tanpa gigil dingin
melesatnya waktu beriring uban
tak kurangi cantikmu
tak ubah sapa lembutmu
sesekali aku masih bersandar di bahumu
dalam lenguh manja seperti dulu
aku kini menggigil
oleh sapa wanita
bantulah aku, Ma
agar kasihnya tak punah
seperti kasihmu
padaku
priok, juli 06
Itulah salah satu puisi yang ditulis oleh Johannes Sugianto yang berjudul Bantulah Aku, Ma. Puisi tersebut ada dalam buku kumpulan puisi "Di Lengkung Alis Matamu, karya Johannes, yang diterbitkan secara independen alias "menguras" uang dari kantong sendiri.
Johannes Sugianto, kelahiran Bojonegoro, 5 Mei ini, mengaku tidak memiliki latar belakang dan pendidikan sastra. Ia menulis puisi secara otodidak. Karena itulah, ia tak pernah menyangka bisa menerbitkan sendiri buku kumpulan puisinya yang diluncurkan November tahun 2006 lalu dan mendapat sambutan hangat dari kalangan penggiat sastra.
Puisi-puisi dari bapak tiga putri (Nasyrah Ines Kirana, Yasintha Ayu Kinasih, dan almarhumah Anggita Ramadhanti) ini, tersebar di berbagai komunitas puisi cyber, dengan id blue4gie (www.blue4gie.com). Karyanya juga tersebar di berbagai media cetak dan turut dalam antologi puisi yang berkaitan dengan bencana gempa Yogyakarta (Antologi Empati Yogya dan Jogja 5,9 Skala Richter), beberapa waktu lalu. Selain menulis puisi, aktifitas sehari-harinya adalah Staf Public Relation (PR) di PT Bogasari di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Lalu apa harapan Johannes tentang puisi di masa depan ? Kepada Suprihatin dan Arizal Wahyudi dari indosiar.com, pria yang akrab dipanggil Yo ini, mengutarakan harapannya. Berikut petikan wawancaranya :
Apa yang mendorong Anda untuk menulis puisi ?
Bagi saya menulis puisi sudah menjadi kebutuhan dan panggilan jiwa. Sebagian besar untuk kontemplasi, perenungan. Menulis puisi itu lebih pada keterpacuan atas endapan-endapan masa lalu. Semacam reduksi dari peristiwa-peristiwa yang saya alami.
Saya menulis di saat saya ingin. Tidak tergantung oleh suasana. Ada sesuatu yang mengelitik perasaan, saya menulis, apalagi jika itu dalam suasana sedih atau senang. Di mana saja jadi, di kertas apa pun, tidak perlu tempat yang khusus.
Disaat saya butuh menulis atau merespons sesuatu, ya menulislah di situ. Istilahnya, di saat saya punya kegelisahan, disitulah saya butuh menulis. Dalam sehari berapa puisi yang saya tulis, tidak tentu, tidak ada timing. Kalau pikiran saya lagi buntu, dua hari bahkan tidak sanggup membuat puisi. Tetapi kalau sedang mood, sehari bisa membuat 7 atau 10 puisi pendek.
Bisa diceritakan kapan Anda tertarik dengan puisi ?
Sejak kecil saya sudah senang menulis, membaca cerita pewayangan, kungfu atau silat, mengumpulkan (mengkliping) cerita-cerita dan puisi di koran, mendengarkan musik, dan sepak bola. Puisi bukan hal yang asing untuk saya, meskipun baru saya tekuni dengan belajar secara otodidak pada tahun 2006. Menjadi seorang penyair atau penulis puisi, bukan merupakan cita-cita saya. Saya juga tidak memiliki latar belakang dan pendidikan sastra.
Saya sendiri sebetulnya sempat bertanya-tanya, awalnya kapan sih seseorang mulai berpuisi ? Jika kita baca buku wayang atau novel, menonton film sebenarnya kita melihat puisi, namun kita tidak tahu kalau itu sebenarnya puisi. Puisi itu merupakan cerminan diri dari seseorang (si penyair).
Puisi juga membuat kita peka dan ingat ada orang-orang di luar sana, yang masih kesulitan dalam hidup. Puisi akan membuat kita peduli. Menulis puisi, akan membuat kita merenung sangat dalam. Ketika kita merenung dan bertanya kepada diri sendiri tentang apa yang telah kita lakukan.
Apakah puisi Anda dipengaruhi oleh penyair-penyair ternama ?
Menurut saya, saat pertama berpuisi, seseorang mencoba menghampiri puisi. Dikenalnya, diselaminya, hingga dia akrab dan makin mengakrabi puisi itu. Jika dalam proses berpuisi itu, ada pengaruh penyair ternama, itu merupakan hal yang lumrah. Karena pada akhirnya, di tengah proses belajar itu, puisi akan menghampiri dirinya. Menyatu dengannya. Puisi menjadi bagian hidupnya yang tak terpisahkan. Hingga seorang penyair menemukan gayanya sendiri. Saya adalah pengagum penyair Sapardji, Rendra, Joko Pinurbo. Dari merekalah saya banyak belajar tentang puisi.
Banyak orang yang merasa sulit membuat puisi, bagaimana menurut Anda ?
Awalnya, saya pun merasakan hal itu. Namun karena keingintahuan dan rasa penasaran saya terhadap puisi, saya pun mencoba menyelaminya. Ternyata bukan masalah susah atau tidak?. Tetapi bagaimana puisi itu menyatu dengan kita. Puisi itu berbeda dengan cerpen atau novel, yang memfokuskan pada isi cerita. Membaca puisi tidak cukup hanya dengan dibaca, tetapi harus direnungi artinya. Puisi itu sesuatu yang misteri, yang membuat orang terpukau atau bisa juga ngeri setelah merenungi puisi itu.
Orang mengatakan dalam dunia sastra, tingkatan paling tinggi itu puisi. Mungkin kesulitan orang membuat puisi itu adalah bagaimana kita menuangkan semua pemikiran/gagasan/ide dan sebagainya, dalam kalimat-kalimat yang pendek. Belum lagi ada metafora atau pemilihan kata-kata. Karena itulah, untuk mendalami puisi, kita harus belajar terus.
Kapan pertama kali mempublikasikan puisi dan yang paling berkesan bagi Anda?
Pertama kali dipublikasikan pada Februari 2006 di komunitas puisi, Bunga Matahari, dimana saya merupakan salah satu anggotanya. Kalau di media cetak, pada Mei 2006 di Suara Pembaruan.
Puisi yang paling terkesan adalah "Mengantar Bunda dan beberapa puisi dalam buku Di Lengkung Alis Matamu tentang anak saya, Anggita Ramadhanti, yang telah meninggal dunia. Puisi-puisi itu menyatakan bagaimana perasaan saat ditinggal orang yang dicintai.
Mengapa Anda "nekat" menerbitkan buku kumpulan puisi Anda secara independen ?
"Di Lengkung Alis Matamu", adalah dokumentasi perjalanan saya. Karena kecintaan saya kepada puisi dan agar masyarakat mengenal puisi, saya mencoba belajar menerbitkan satu buku. Memang membutuhkan keberanian yang luar biasa, karena dari awal saya sudah tahu aspek komersial buku puisi tidak akan menghasilkan uang. Dan ini harus jadi patokan, agar kita tidak kecewa. Untuk itu, saya rela mengeluarkan uang sendiri untuk menerbitkan buku pertama saya, termasuk untuk launchingnya.
Bisa dikatakan ini adalah idealisme saya yang kuat. Untuk mengenalkan puisi di masyarakat, tugas penyair adalah tidak bosan-bosannya memperkenalkan puisinya.
Bisa dikatakan dalam menerbitkan buku, baik itu cerpen, novel maupun kumpulan puisi, banyak yang harus diperhatikan. Misalnya, apa sih yang menentukan laku atau tidaknya suatu buku ? Apakah puisinya disukai orang atau tidak, desain cover yang membuat orang tertarik membeli, atau promosi besar-besaran dari penerbitnya.
Sedangkan mengenai royalti, menurut saya, saat ini masih sangat memprihatinkan. Karena untung rugi berdasarkan kacamata ekonomi penerbit, puisi itu sangat tidak berprospektif. Cerpen dan novel juga mengalami masa keemasan baru beberapa tahun lalu, namun perjuangan ke arah itu butuh beberapa tahun. Puisipun pun sama. Dan saya punya keyakinan 2 atau 3 tahun nanti, puisi akan meraih ke tahapan seperti itu, bahkan puisi bisa akan menjadi semacam standar pergaulan.
Apa pandangan Anda tentang penyair ?
Penyair adalah orang yang secara konsisten bersyair. Meski mereka telah menciptakan 10 buku, tapi kalau dia tidak membuat puisi dan aktif dalam komunitas atau menyapa pengemarnya ya susah juga. Seorang penyair sebisa mungkin menjelaskan isi puisinya. Namun tidak wajib menjelaskan semuanya, karena puisi itu begitu lahir seperti bayi yang yatim piatu. Jadi siapa orangtuanya, ya si pembaca itu sendiri. Kalau boleh berharap saya ingin mati sebagai penyair.
Bagaimana dukungan keluarga terhadap profesi Anda ?
Alhamdullilah semua keluarga, istri, anak mendukung. Pada awalnya, keluarga tidak tahu kalau saya seorang penulis puisi. Saya mencoba menyempatkan mengajak anak-anak, saat saya sedang membaca puisi agar mereka tahu kalau bapaknya seorang penulis dan pembaca puisi. Anak-anak saya sudah besar dan mengerti serta memahami profesi bapaknya.
Apa Anda pernah mengalami kegagalan dan bagaimana menyikapinya ?
Setiap manusia pasti mengalami kegagalan tapi bagaimana kita menyikapi kegagalan itu tadi. Persoalan hidup kegagalan ataupun kemenangan itu adalah sebuah pertanyaan dan pasti akan ada jawabannya.
Berkaitan dengan puisi, adakah harapan Anda ?
Saya berharap agar masyarakat lebih mengenal puisi dan meningkatkan apresiasinya. Bukan hanya dalam bentuk komersial tapi terhadap puisi itu sendiri. Supaya rasa kita semakin terasah. Sehingga orang tidak cepat marah dan emosional. Jangan mematikan ciri khas atau budaya kita sebab puisi, pantun, cerpen, sajak adalah salah satu budaya bangsa kita.(Idh)