
Waktu itu sekitar pukul 09.30 WIB. Dikursi tamu sudah duduk seorang pria tua dari Malang, Jawa Timur, dan tiga wartawan dari Jakarta. Inu memang sedang menjadi narasumber berbagai media. Ia tak pernah menolak orang yang ingin bertemu dan wartawan yang ingin wawancara dengannya. Sebenarnya ia jenuh karena harus mengulang - ulang cerita. Namun, Inu mengaku belajar dari Nabi Muhammad -- menyayangi dan menghormati tamunya.
Inu memang sedang menjadi pusat perhatian publik, lokal maupun internasional. Keberaniannya membongkar pembunuhan Praja Cliff Muntu, serta menguak kebobrokan petinggi IPDN, membuatnya populer. Ditengah kebobrokan birokrasi dan moral, Inu tiba - tiba lantang menyerukan kebenaran. Batinnya berontak ketika melihat ketidak adilan di IPDN. Meskipun itu harus dibayar dengan sanksi dan ancaman serta teror pembunuhan, selain dikucilkan dari pergaulan kampus.
Apalagi yang harus diterima dosen bertubuh kecil ini ? Ia menceritakan kepada Madina dan fotografer Atok Sugiarto dari Jelita. Berikut petikan wawancaranya.
Bagaimana Anda menyikapi kisruh di IPDN ?
Di IPDN, saya melihat banyak yang mahzabnya materialistik. Di otaknya, isinya hanya uang dan uang saja. Meski shalat, pergi ke gereja atau ke pura, Tuhan - nya tetap saja uang. Puncak tujuannya bukan Tuhan, tapi uang. Bisa - bisanya mereka menutup kasus lalu dapat uang. Ketika saya bongkar, mereka bilang IPDN adalah tempat menggantungkan hidup. Mereka keliru. Seharusnya manusia menggantungkan hidup kepada Allah SWT.
Jadi, dosen dan pegawai IPDN rata - rata materialistis ?
Budaya materialistis di IPDN terjadi pada tingkat atas. Sedangkan pada level bawah terjadi budaya hedonistis. Yang penting happy, seks, memukul lalu merasa gagah dan tidak mati saat dipukul. Ini jelas salah. Ketika kebenaran diinjak - injak, berarti mereka menginjak - injak Tuhan. Lalu saya berontak. Lucunya, mereka marah waktu saya berusaha membongkar semua. Sekarang, ketika bola salju menggelinding, saat semua sudah terbongkar, mereka diam. Manggut - manggut.
Saya melihat jiwa - jiwa yang sakit di kalangan petinggi IPDN. Hanya 10 persen yang jiwanya sehat. Tapi yang 10 persen itu tidak semuanya berani seperti saya. Mereka hanya membantu perjuangan saya dengan doa. Tapi bagi saya itu sudah cukup. Karena saya yakin orang jujur itu pasti berani. Tapi orang berani belum tentu jujur.
Orang berani tanpa kejujuran pasti akan mengarah kemaksiatan. Semua akan saya bongkar. Saya tidak takut ! Saya tidak terlalu butuh uang. Dalam hidup itu harus berani. Perasaan takut pasti ada, tapi takut kepada Tuhan. Perasaan benci itu harus ada, tapi benci pada ketidak adilan dan ketidak jujuran.
Anda 'sendirian' di IPDN ? Anda dikucilkan. Bagaimana Anda menyikapinya ?
Saya tidak merasa sedih, apalagi kecewa. Toh, nantinya mereka akan mendekati saya dengan sendirinya, karena mereka semua penjilat. Bagi saya, dikucilkan bukan masalah besar. Nabi Muhammad dulu juga mengucilkan diri di gua Hira ketika menyebarkan agama Islam.
Ada wacana sebaiknya IPDN dibubarkan saja. Anda setuju ?
IPDN seperti lumbung padi yang didalamnya banyak sekali tikus. Mari kita perbaiki lumbung padinya dengan menangkap tikusnya lalu masukkan ke penjara. Kalau lumbung padinya yang dibakar, tikusnya akan lari kemana - mana, malah bahaya. Akan muncul pemukulan, penganiayaan dan pembunuhan baru dimana - mana ....
Bagaimana pendapat Anda terhadap rencana penghilangan satu generasi atau satu tahun penerimaan praja IPDN ditiadakan ?
Bagus itu. Nanti, petinggi yang biasa mendapat pemasukan uang dari penerimaan praja pasti kebingungan. Bayangkan saja, setiap kali penerimaan praja, mereka bisa beli mobil. Coba Anda cek ke Penyawangan (sebuah komplek mewah dikawasan Jati Nangor - Red). Meskipun tinggal di rumah dinas, mereka punya rumah mewah diluar sana.
Bagaimana mengatasi budaya kekerasan di IPDN ?
Sebaiknya memang dipecah. Serahkan pada otonomi daerah. Di Sumatera, bisa dibuat IPDN di Bukit Tinggi dan Medan. Sulawesi di Ujung Pandang, Jawa di Jati Nangor, dan untuk wilayah Papua, NTT dan NTB berpusat di Papua. Harusnya memang di pecah.
Sejak berganti nama dari STPDN menjadi IPDN, ada beberapa perombakan yang dilakukan. Bagaimana Anda melihat ini ? Apakah semakin baik ?
Tidak. Malah mendatangkan tikus - tikus baru. Justru tikus baru ini lebih bejat. Bayangkan, penjual ijazah palsu, pembela narkoba, pelindung seks bebas, tukang mabuk - mabukan di night club, malah jadi pejabat di IPDN. Akhirnya kejahatan justru malah mendatangkan uang. Data - data ini sudah saya serahkan ke polisi, tinggal bagaimana polisi menanganinya.
Separah itu ?
Memang begitu. Yang dianggap sakit malah saya. Padahal mereka yang sakit. Iya kan ? Bayangkan, satu tahun bekerja sudah punya rumah seharga satu milyar. Sangat tidak wajar ! Parahnya lagi, ada praja mati karena penganiayaan lalu ditutup - tutupi. Bahkan dilaporkan ke polisi malah disuntik formalin untuk menghilangkan jejak.
Tindak kekerasan apa saja yang sudah Anda saksikan dari praja senior kepada praja yunior di IPDN ?
Banyak. Kelamin hancur ditendang dengan lutut, dada hancur dipukul hingga jantungnya rusak. Ini biadab ... Mereka mirip diktator proletariat, melakukan kejahatan secara bersama - sama. Ini namanya comune atau komunis !
Kapan tepatnya Anda tahu kekejian tindakan praja senior kepada yuniornya di IPDN ?
Kira - kira tahun 1994. Waktu itu saya lihat ada murid bernama Gatot, dadanya biru. Saya yakin itu dipukul. Di badannya ada daun rumput. Mungkin habis berguling dia dipukul. Sekarang nama Gatot tidak ada di daftar praja IPDN. Mestinya
tidak boleh diperlakukan begitu, dia kan murid. Sejak itu saya vokal dan saya bongkar. Waktu itu saya di bagian pengasuhan.
Saya coba lapor polisi, tapi mentok. Setelah saya berada di anggota senat, saya mulai kuat dan mulai didengar. Tapi sayangnya, tidak dilaksanakan penghukuman pada penjahat yang melakukan penganiayaan. Sampai akhirnya people power yang bergerak.
Bagaimana dengan praja wanita ?
Praja wanita IPDN mengaku mereka adalah wanita bermartabat. Kalau bermartabat, kenapa mereka masuk ke kamar kos berpasang - pasangan ? Lalu kenapa berserakan kondom - kondom di kamar kos mereka ? Coba sesekali hari Minggu Anda keliling ke tempat - tempat kos mereka. Pemandangan seperti itu pasti ada.
Masyarakat percaya dan yakin Anda jujur. Pernahkah Anda disuap ?
Pernah. Ada seseorang memberi uang, tapi saya tolak. Saya disuruh meluluskan murid yang terlibat narkoba. Besoknya, saya malah dipecat. Saya mau menerima uang asal ada keringat yang keluar dan halal. Pernah ada orangtua murid menyogok saya agar anaknya bisa masuk IPDN, juga saya tolak.
Tidak takut dipecat ?
Sama sekali tidak. Saya mengajar dimana - mana, bukan hanya di IPDN. Tapi kalau saya diusir dari rumah (dinas) ini, saya jadi gelandangan ! Saya nggak punya rumah. Kemana - mana saya masih naik bus kok, nggak punya kendaraan.
Anda pernah diteror atau diancam karena sikap vokal Anda ?
Dulu, waktu saya mencoba bongkar kematian Wahyu Hidayat tahun 2004, saya sering mendapat ancaman dan hujatan. Banyak ancaman pembunuhan melalui telepon dan surat. Tapi, sekarang, pada kasus kematian Cliff Muntu, tidak .....
Apakah istri dan anak - anak Anda juga mendapat teror dan tekanan serupa ?
Ancaman dan teror lebih ditujukan kepada saya, bukan ke anak dan istri. Istri saya justru lebih keras. Meskipun mualaf, dia tipe orang yang mencari Tuhan. Malah dia bilang saya kurang keras.
Artinya, istri sangat mendukung Anda ?
Ya ! Istri saya sangat tersinggung ketika saya dihantam, dicaci maki petinggi IPDN dan dianggap memfitnah kampus sendiri. Istri saya marah mendengar murid - murid saya bilang kalau penganiayaan di IPDN itu sudah biasa. Istri saya memarahi mereka dan bilang mereka bodoh. Ternyata mereka takut dimarahi ibu - ibu, ha ha ha ....
(Inu Kencana yang lahir tahun 1952 ini adalah putra Abdullah Syafi'ie, mantan Bupati Bengkalis. Setelah tahun 1964 ayahnya meninggal dunia, Inu jadi yatim piatu ketika 10 tahun kemudian ibunya, Zaidar Syafi'ie, juga dipanggil sang Pencipta. Tahun 1984 ia menikahi Indah Prasetiati Syafie dan dikaruniai tiga anak -- Raka Manggala Syafi'ie, Nagara Belagama Syafi'ie, dan Periskha Bunda Syafi'ie).
Apa dampak lain dari tindakan Anda, khususnya terhadap keluarga ?
Sampai sekarang, kemanapun anak - anak dan istri saya pergi, dikawal polisi. Saya tidak minta dikawal. Ini inisiatif dari kepolisian.
Anda sungguh - sungguh tidak merasa takut ?
Takut itu pasti ada. Karena oleh Tuhan tubuh ini diberi rasa takut, benci, cinta dan sebagainya. Tapi rasa takut saya lebih kepada Tuhan, bukan kepada harimau, hantu, semut apalagi pada atasan. Saya takut tidak bisa berbuat apa - apa melihat ketidakadilan. Saya tidak pernah takut pada ancaman - ancaman. Malah saya bilang sama mereka 'Kasian deh kamu'. Ha ha ha .... ! Bukan karena saya gila, tapi karena saya yakin kebenaran pasti menang. Kalau soal mati, setiap orang pasti mati.
Lantas, apakah itu tidak mengganggu karier Anda di IPDN ?
Jelas menghambat. Bayangkan, pangkat saya dijegal oleh Pak I Nyoman Sumaryadi (rektor yang kini diberhentikan setelah peristiwa kematian Cliff Muntu - Red). Penghentian pangkat jelas - jelas ditulis Pak Nyoman diatas kertas. Alasannya : insubordinansi dan dianggap pengkhianat. Anehnya, saya juga dilarang khotbah di mesjid. Bayangkan, sebegitu bencinya mereka pada saya. Seharusnya sekarang saya sudah profesor.
Padahal, ketika mereka membuat buku, saya yang membuatkan dan nama mereka yang ditulis di buku seolah - olah sebagai penulisnya. Tapi kenapa pangkat saya justru dijegal ? Tapi, buat saya itu hal kecil ....
Ketika pangkat dijegal, apakah Anda masih mendapat gaji ?
Honor saya dihentikan. Bayangkan, saya pernah berjalan kaki dari Lebak Bulus ke sebuah kampus untuk mengajar, hanya gara - gara saya tidak punya ongkos. Keterlaluan sekali, kan ?
Anda tergolong pria konservatif ?
Tidak. Saya malah suruh istri saya mengecat rambutnya agar terlihat cantik. Tapi kalau dirumah dia harus pakai jilbab. Tahun 1994 saya naik haji dengan modal uang 10 ribu rupiah. Tapi kemudian saya dideportasi oleh pemerintah Arab Saudi. Dari situ kemudian terbit buku saya berjudul Orang Miskin Naik Haji.
Bagaimana Anda menyikapi dukungan atau pujian yang terus mengalir dari masyarakat atas keberanian Anda ?
Saya malah malu. Karena pujian hanya untuk Tuhan. Saya tidak mau takabur. Saya hanya bersyukur karena tindakan saya didukung oleh seluruh elemen, mulai dari Polri, TNI, bahkan Presiden.(Tabloid Jelita/Dv/Idh)