Sosbud
19-May-2007 05:04:10 WIB
PROFIL
Deddy Mizwar : Indonesia Butuh Dua Juta Nagabonar



Berita HOT:
Rambutnya putih keperak - perakan. Kumis dan jenggotnya pun sama. Kerutan kulit di kelopak matanya tampak pula, pertanda usia yang sudah diambang senja. Namun masih terlihat gagah. Badannya gempal, tinggi besar. Kata - katanya masih seperti dulu, terdengar lantang dan jumawa. Kadang tertawa terbahak khas seorang Deddy Mizwar, si Jenderal Nagabonar.

Deddy Mizwar seakan tak berubah. Jenderal Nagabonar, anak pasangan Andris dan Sun'ah ini tidak lagi repot mengurus anak buahnya yang teledor dan ngeyel saat diperintah sang komandan. Ia juga sudah lama cuti dari profesinya sebagai raja copet. Nagabonar ini, sekarang lebih dikenal sebagai sutradara. Di beberapa sinetron, ia berubah menjadi alim ulama yang selalu mengenakan kain sarung dan sorban di bahu. Kini ia sedang sibuk dengan film layar lebar terbarunya berjudul Nagabonar Jadi 2.

Demi Nagabonar pula Deddy rela begadang di kantor hingga pagi untuk mengurus promosi filmnya. Beruntung Jelita bisa menemuinya. Pukul 10.00 WIB, waktu yang diberikan Sang Jenderal pada Jelita. Karena esok paginya ia akan terbang ke Makassar untuk promo film. Dengan duduk di sebuah sofa hitam, satu persatu cerita tertutur. Katanya butuh waktu lama hingga akhirnya memutuskan untuk membuat Nagabonar Jadi 2. Mungkin lantaran film ini memiliki muatan sosial. Tapi yang jelas film ini dibuat atas bentuk keprihatinannya pada negeri ini. Bagaimana pandangan Sang Jenderal lebih jauh soal kisruh di negeri ini ? Bagaimana pula kehidupan sehari - harinya ? Berikut petikan wawancara Deddy Mizwar dengan Madina dan fotografer Ambi dari Jelita.

Darimana Anda mendapat ide untuk membuat film Nagabonar Jadi 2 ?

Ide ini tidak muncul begitu saja. Butuh waktu sedikitnya dua tahun untuk memikirkan matang - matang. kalau boleh jujur, ide ini tercetus sebagai bentuk keprihatinan saya pada kondisi Indonesia sekarang ini.

Maksud Anda, kondisi Indonesia yang seperti apa ?

Kita ketahui bersama, permusuhan terjadi dimana - mana. Antara satu suku dengan suku lain saling bentrok. Kita bisa lihat berita media massa. Tindakan kriminal setiap hari ada saja. Pertengkaran, perselisihan, saling hujat. Itu yang saya sayangkan. Yang diberitakan selalu saja yang mengandung sensasi. Mungkin karena itu yang mereka anggap paling laku.

Maksud Anda, Nagabonar bisa menjadi solusi permasalahan yang terjadi di Indonesia ?

Benar. Saat ini tokoh Nagabonar sangat diperlukan. Bukan hanya satu. Bisa dua, tiga, atau bahkan dua juta Nagabonar. Sosok yang memiliki komitmen pada bangsanya, jujur, polos dan berguna. Dua Nagabonar saja nggak cukup. Makanya masyarakat senang melihat Nagabonar (Bioskop - bioskop yang menayangkan film Nagabonar Jadi 2 selalu dijubeli penonton). Karena saat ini mereka tidak melihat tokoh seperti itu.

Jadi Anda ingin mengajarkan dan menanamkan imej Nagabonar kepada masyarakat ?

Ya. Kalau dulu ada penjajah yang bisa dilawan, sekarang kan sudah nggak ada lagi. Sekarang ini bagaimana caranya bisa menanamkan kasih sayang dan menerima perbedaan serta menanamkan kepekaan akan kebutuhan masyarakat. Bukan justru saling membunuh dan menghancurkan. Mari kita lihat Indonesia dengan hati, bukan hanya dengan kepala.

Lantas, atas dasar apa Anda memilih Tora Soediro sebagai Bonaga (anak Nagabonar) ?

Saat ini, menurut saya, Tora adalah aktor dan orang terbaik dan yang paling tepat memerankan Bonaga. Tidak ada lagi. Dia adalah ikon anak muda jaman sekarang. Penampilannya asyik, heterokseksual banget. Mengenai cerita filmnya, tidak jauh berbeda dengan film Nagabonar pertama. Tentang cinta antara laki - laki dan perempuan.

Era kebangkitan film nasional diawali maraknya film horor. Bagaimana Anda menyikapi fenomena ini ?

Biarkan saja. Itu kan proses kreativitas. Kalau sudah bosan juga berhenti sendiri. Namanya juga bergaul dengan setan. Buat saya film - film itu adalah bentuk kegelisahan - kegelisahan dan ketidak puasan mereka. Maaf, saya nggak tahu film horor yang mereka bikin bagus apa nggak. Soalnya saya nggak pernah nonton filmnya. Mendingan saya pelajari yang lain daripada nonton yang begituan.

Dulu, Anda hanya dikenal sebagai pemain film saja. Tapi belakangan Anda juga menjadi sutradara. Kapan pertama kali Anda menjadi sutradara ?

Sekitar tahun 1994 ketika sinetron Abunawas dibuat. Waktu itu kebetulan Abumawas ditinggal pergi sutradaranya ke luar negeri. Semua kebingungan. Nah disitu kemudian saya dipercaya menggantikan posisi sutradara untuk pertama kalinya. Pertama sih gugup juga. Tapi lama kelamaan jadi biasa.

Darimana Anda mempelajari ilmu tentang penyutradaraan ?

Saya tidak belajar formal tentang penyutradaraan. Karena saya yakin belajar itu bisa dilakukan dimana - mana, bukan hanya di sekolah. Bisa di jalanan, di sekolah atau di mikrolet sekalipun. Proses mempelajari soal penyutradaraan cukup lama, kurang lebih 14 tahun. Karena sering bermain dengan sutradara terkenal seperti Arifin C. Noer dan yang lain, pelan - pelan saya mengerti bagaimana menyutradarai film.

(Sejak pertama kali bermain film dalam Cinta Abadi (1976) karya sutradara Wahyu Sihombing, karier Deddy terus menanjak. Ia meraih penghargaan sebagai aktor terbaik FFI 1986 lewat film Arie Hanggara, pemeran pembantu terbaik FFI 1986 lewat Opera Jakarta, aktor terbaik FFI 1987 dalam Nagabonar, dan pemeran pembantu terbaik FFI 1987 dalam film Kuberikan Segalanya).

Sebagai orang sibuk, waktu Anda lebih banyak dirumah atau dikantor ?

Kadang - kadang saya lebih banyak waktu dikantor hingga pagi. Tidak jarang juga lama di jalan. Seharian bermalas - malasan dirumah juga sering, sampai - sampai istri empet ngeliatnya. Pokoknya suka - suka aja. Nggak ada aturan mesti begini atau begitu.

Anda sekarang pasti sibuk keluar kota untuk promo film. Bagaimana dengan anak dan istri ?

Kewajiban kepala keluarga membimbing akhlak anak - anak dan isrinya. Istri ngomel - ngomel sedikit, itu sih hal biasa. Siti Aisyah, istri Nabi Muhammad saja pernah marah juga kok. Yang paling penting mereka mendoakan saya supaya berhasil dan selamat, selesai.

Apakah anak - anak ada juga yang mengikuti jejak ayahnya ?

Dua anak saya sepertinya memilih dunia yang berbeda. Yang tertua, Senandung Nacita (20) kuliah di jurusan akuntansi. Sedangkan yang kedua Zulfikar Rakita Dewa (19) ikut Akmil (Akademi Militer). Tapi, Senadung sepertinya juga memiliki bakat akting. Dalam film Ketika, dia masuk nominasi festival film nasional.

Kabarnya, Anda baru saja dikarunia anak perempuan ?

Ya. Namanya Gasia Kalila, umurnya baru dua bulan. Seneng punya mainan lagi. Kalau pulang pagi dari kantor, saya pasti sempetin main - main dan gangguin Gasila. Yah sekalian gangguin mamanya juga, ha ha ha ....

Anda sering berperan sebagai tokoh alim ulama dalam beberapa sinetron. Tapi sebenarnya bagaimana karakter Anda sehari - hari ?

Jauh. Aslinya jauh sekali. Tapi saya kepinginnya kayak begitu. Makanya di film itu saya latihan. Intinya saya ingin menyampaikan sesuatu yang benar melalui media yang saya kuasai.

Dari dulu sampai sekarang, Anda sudah populer. Orang populer, biasanya banyak godaan, terutama wanita. Pernah Anda tergoda wanita lain, atau malah pernah ingin berniat menikah lagi ?

Asal menikah dan resmi, itu bukan masalah. Diperbolehkan agama kok, tidak diharamkan. Yang penting mampu atau tidak bersikap adil ? Kalau tidak bisa adil, satu istri sudah cukup. Menikah itu sunnah. Jodoh Tuhan yang menentukan. Jadi buat apa sewot kalau ada orang yang memiliki istri lebih dari satu. Kalau saya mampu bersikap adil, saya pasti sudah nikah lagi dong, ha ha ha .....

Jadi, dalam usia Anda yang 52 tahun, masih ada saja wanita yang menggoda Anda ?

Itu manusiawi banget. Setiap saat godaan pasti ada. Bukan cuma wanita. Karena setan dalam tubuh manusia lebih dekat aliran darah kita. Cuma, setan yang menggoda saya sudah kurus karena tidak saya beri kesempatan.

Anda juga sering olahraga untuk menjaga kesehatan ?

Kalau sedang ada waktu saya olahraga. Kalau pagi kepingin saja. Nggak perlu dipaksa. Kalau suplemen, kadang saya minum. Tapi sering juga lupanya. Tapi bila daya tahan tubuh melemah, saya istirahat dan periksa ke dokter. Hidup itu simpel, jangan dibikin susah.

Jadi, karena rutinitas pekerjaan tidak banyak waktu Anda untuk istirahat atau tidur ?

Kalau badan kita capek, pasti tidur sendiri. Walaupun itu siang hari. Nggak ada itu aturan manusia mesti tidur selama 8 jam. Aturan darimana itu. Yang bikin itu jiwanya mungkin sakit, he he he ... Banyak kok orang yang hanya dua jam tidur lalu bisa seger lagi.

Apakah Anda tidak berniat terjun ke dunia politik atau menjadi anggota DPR ? mengingat saat ini banyak artis yang mulai mengincar "kursi basah".

Kita harus melihat lebih banyak manfaat atau mudharatnya untuk menekuni sebuah bidang pekerjaan. Kalau mau jujur, politikus dari partai mana sih yang nggak saya kenal. Saya kenal semuanya, karena mereka adalah teman - teman saya sendiri.

Jadi, Anda merasa tidak mampu terjun ke dunia politik ?

Begini. Bila kita beramal tanpa ilmu, semua pasti rusak. Jadi semua harus memiliki pengetahuan untuk melakukan sesuatu. Nah, saya belum memiliki ilmu itu. Makanya sebaiknya saya seperti ini saja menekuni dunia yang sudah saya jalani bertahun - tahun. Kayaknya belum perlu terjun ke dunia politik.

Sekarang Anda lebih relijius ketimbang dulu. Baik soal penampilan dan tutur kata.

Semua orang di dunia ini berproses mencari Tuhan. Karena sesungguhnya manusia adalah makhluk rohani selain makhluk duniawi. Tidak ada yang abadi di dunia ini, semuanya pasti berpulang kepada Tuhan. (Perbincangan terhenti sejenak. Tangan Deddy meraih rokok diatas meja. Sebatang rokok ia ambil lalu dibakar. Asap rokok mengepul dan memenuhi ruangan kerja Deddy. Menyelisip ke sudut - sudut bingkai foto di dinding dan tumpukkan kertas - kertas diatas mejanya. Matanya menerawang, terlihat tenang).

Berarti Anda sudah menemukan jalan Tuhan ?

Siapa bilang. Saya belum menemukan. Siapa coba yang pernah ketemu Tuhan ? Semuanya masih proses kok. Perjalanan spritual saya biasa - biasa saja, nggak yang istimewa. Saya ingin hidup saya terus lebih baik. Karena saya yakin setiap orang berpotensi menuju ke arah kebaikan.

Tapi Anda pasti pernah nakal saat masih muda ? Apalagi pada jaman itu Anda adalah aktor besar dan populer.

Dulu, saya tinggal di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, yang lingkungannya keras. Sekarang saya tinggal di Pondok Gede, Jakarta Timur. Waktu itu, dimana sih ada tempat yang aman ? Nongkrong dan kebut - kebutan sih hal biasa. Tapi sekarang, seperti yang sudah saya bilang tadi, saya ingin hidup lebihj baik lagi.

Sebagai pria, Anda sudah memiliki segalanya. Apaakah masih ada keinginan yang belum kesampaian ?

Nggak ada obsesi. Karena semua yang saya miliki adalah amanah dari Tuhan. Popularitas yang saya punya adalah sebuah ujian. Keinginan saya hanya satu, ingin menjadi orang yang lebih baik dan bermanfaat. Karena sebaik - baiknya manusia, dimata Tuhan adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.(TabloidJelita/Dv/Idh)

Nama:
Email:

More PROFIL:
[ more Profil ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :