
Wanita bernama lengkap Anastasia Novita Dewi Sulistyowati, kelahiran Bandung, 15 November 1971, mengaku tertarik dengan dunia masak memasak sejak ia masih kanak-kanak. Percobaan memasak pertama saat ia duduk di kelas 4 SD, membuat crepes isi ice cream. Kemudian ketika ia kuliah dan harus kost, daripada membeli makanan, menurut Vita, demikian panggilan akrabnya, ia pun memanfaatkan dapur ibu kost untuk membuat aneka kudapan.
Masa kecil dan remaja Vita dilalui di empat kota. Lahir di Bandung, kemudian saat berusia 5 tahun pindah ke Padang, mengikuti pekerjaan sang Papa, hingga ia berusia 10 tahun, dan selanjutnya menetap di Sukabumi dan berkuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB). Menurut wanita berdarah Jawa ini, masa kecilnya tidak ada yang istimewa, kecuali rada bandel. Bermain di sungai, memanjat pohon, kabur dari jendela rumah ketika disuruh tidur siang dan nongkrong di perpustaakan umum daerah, bagian dari masa kecil Vita yang tak terlupakan.
Setelah berpacaran cukup lama (sejak dari SMA), Vita akhirnya menikah dengan temannya semasa SMA di Sukabumi, Hady Susanto. Bersama Hady, yang dikatakan Vita adalah partner, teman setia, pemberi semangat, sekaligus kritikus dan tukang cela, mereka dikaruniai sepasang anak, Catharina Amartya Putri (Catrin) dan Benedictus Radityaswara (Bennet). Dengan semua yang telah dicapainya, apa harapan Vita selanjutnya ? Berikut petikan bincang-bincang indosiar.com dengan home baker & photo cake editor ini.
Anda dulu adalah seorang wanita karier, bisa diceritakan perjalanan karier Anda ?
Saya lulus kuliah dari IPB tahun 1994, sebagai lulusan terbaik dari Fakultas Pertanian dengan kekhususan Management Agribisnis. Lalu saya bergabung dengan PT Bahana Artha Ventura, salah satu BUMN yang bernaung di bawah Depkeu dan BI, yang mengkhususkan diri pada Pembiayaan melalui Venture Capital dan Pembinaan Usaha Kecil. Pekerjaan saya sangat menarik dan dinamis. Pada posisi saya sebagai Venture Capital Officer, saya banyak melakukan perjalanan dinas keliling Indonesia, baik untuk mengunjungi pengusaha binaan, juga ke kantor ”cabang” yang saat itu ada di 27 provinsi. Kala itu saya belum berkeluarga, penugasan keluar kota merupakan saat yang sangat saya nanti-nantikan. Setelah menikah dan mempunyai anak, penugasan ke luar kota malah menjadi masalah, karena bingung anak dititipkan pada siapa ? Orang tua dan mertua di luar kota, sementara pekerjaan suami juga banyak melakukan dinas keluar kota. Saat saya resign dari Bahana, posisi terakhir saya adalah Manager-Risk Management Group dengan masa kerja 10 tahun.
Adakah pergolakan bathin saat Anda memutuskan untuk berhenti kerja ?
Saat berhenti bekerja, sama sekali tidak terbersit bahwa saya akan permanently be Working at Home Mom. Niat saya adalah break dari pekerjaan untuk beberapa bulan, sambil mencurahkan perhatian pada anak anak dan keluarga yang selama ini sangat minim mendapatkan perhatian dan waktu sang ibu, sambil mencari pekerjaan baru. Ternyata setelah saya di rumah, melihat keseharian anak-anak yang sangat bahagia karena mamanya dirumah, juga keseharian anak tetangga yang ayah ibunya bekerja seharian (karena rumah kami cukup jauh dari Jakarta), saya jadi tidak tega untuk bekerja lagi. Niat untuk kembali bekerja maju mundur terus. Ingin kembali bekerja, tapi nggak tega meninggalkan anak anak lagi, ditambah sulitnya mencari asisten (PRT atau BS) yang bisa diandalkan. Kebetulan bisnis iseng iseng saya juga mulai stabil menghasilkan income.
Anda mengatakan bahwa tertarik dengan dunia kuliner sejak dari kecil. Kapan tepatnya ?
Waktu SD kelas 4. Percobaan resep pertama kali adalah crepes isi ice cream. Gambar resep itu di majalah Femina milik mama, sudah berminggu-minggu saya pandangi sebelum memutuskan untuk mencoba membuatnya. Uniknya, ice creamnya saya beli di sekolah sepulang sekolah, di abang abang penjual es dong dong. Sampai dirumah ice creamnya sudah separo lumer...he....he.
Ketika saya kuliah dan kost, sempat-sempatnya praktek memasak aneka kudapan di dapur ibu kost. Ketika saya sudah berkeluarga, saya mulai sering ikut aneka kursus memasak, karena senang saja. Padahal paling dipraktekkan sekali dua kali, karena keterbatasan waktu karena ketika itu saya masih bekerja
Jika itu hobby, kapan berubah menjadi suatu bisnis ?
Setelah resign, bulan pertama di rumah, saya sering kebingungan karena tidak ada kegiatan. Lalu iseng-iseng, hobby membuat kue, saya seriusin. Maksudnya sering praktek dan coba-coba resep baru. Anak saya yang sulung ketika itu masih TK dan di sekolah maupun di lingkungan rumah sering diundang untuk acara ulang tahun. Karena saya sangat suka dengan cake decorating, setiap kali ada undangan ulang tahun, saya telpon mamanya yang ulang tahun, menawarkan untuk membuatkan kue ulang tahun, dengan harga ”persahabatan”, sekedar pengganti bahan dan profit ala kadarnya. Ternyata banyak yang suka. Saya juga senang karena semakin banyak pesanan jadi berkesempatan untuk melancarkan tangan dalam decorating. Mula-mula hanya sebatas lingkungan sekolah, tetangga, lama kelamaan banyak juga pemesannya. Seiring dengan kebutuhan cake decorating, saya pun investasi untuk alat yang bisa mencetak foto/gambar diatas sugar sheet. Di kemudian hari, edible image ini menjadi ciri khas produk saya.
Usaha saya yang lain yang masih sangat berhubungan dengan dunia kuliner yang sangat saya cintai adalah edible photo printing.
Awal mulanya saya mempunyai edible printing machine ini untuk keperluan usaha cake saya. Namun belakangan, banyak ibu-ibu yang sering curhat karena ingin membeli kue untuk special event (ulang tahun, anniversary) namun budget terbatas karena biaya kebutuhan hidup yang semakin melambung, sedangkan harga di bakery yang berkualitas semakin tidak terjangkau. Ingin membuat kue sendiri, penampilannya koq tidak cantik. Sebagai ibu-ibu, saya tentunya merasakan hal yang sama. Saya menawarkan solusi untuk titip membuat edible-nya saja pada saya, dan tentunya kalau sudah pakai edible image, cakenya sudah cantik meskipun didécor minimalis karena saya edit dengan penambahan aneka karakter sesuai favorit di anak.
Ternyata banyak sekali peminatnya. Ibu-ibu yang semula ragu membuatkan kue untuk keluarganya karena khawatir tidak bisa mendecornya, dengan adanya edible image jadi sangat dimudahkan. Saya juga sangat gembira, Saya mendapatkan banyak teman baru dari pemesan edible image ini. Banyak yang sering telpon untuk konsultasi mengenai cara pemasangan edible, bertanya resep resep cake, trik membuat cake yang enak, yang tentunya saya jawab dengan gembira, karena bisa membagi ilmu dan membuat ibu ibu lain jadi pintar. Karena pemesan edible image ini berasal dari seluruh Indonesia (bahkan banyak juga dari luar negeri), maka saya jadi punya banyak teman di mana-mana. Contohnya, waktu saya sedang berlibur di Solo dan bingung mencari lokasi penjual oleh-oleh, ada teman disana (pelanggan edible image tepatnya hehe..) yang menawarkan menjadi guide sehingga kami nggak nyasar-nyasar... he..he....
Upaya apa yang Anda lakukan untuk memperkenalkan dan memasarkan produk Anda ?
Selama ini promosi yang saya lakukan hanya sebatas di mailing list kuliner yang saya ikuti. Saya juga punya blog (http://www.dapurnyavita.blogspot.com) yang memuat sebagian kecil hasil karya saya, terutama yang unik atau mempunyai kisah tersendiri dibalik pembuatan cakenya. Traffic pengunjung blog saya cukup baik, dan ternyata banyak juga customer yang datang dari blog saya.
Promosi yang paling utama tampaknya dari mulut ke mulut saja.
Adakah ciri khas dari produk Anda ?
Ciri khas cake buatan saya, selalu ada sentuhan edible image, baik berupa foto maupun gambar karakter sesuai dengan thema foto. Saya melakukan sendiri editing atas foto foto yang akan ditempel diatas cake, mixing dengan karakter kesukaan si anak, warna favorit, dan memang ini menjadikan cake lebih ”hidup” dan tentunya juga membuat birthday boy/girl menjadi lebih excited.
Selain itu, cake cake buatan saya cenderung ”light” artinya tidak terlalu manis dan berlemak (Butter creamnya) seperti pandangan kita terhadap umumnya kue ulang tahun.
Apa kata pelanggan Anda tentang produk yang Anda jual ?
Pelanggan saya umumnya mengatakan bahwa cake buatan saya lembut, tidak kasar, butter creamnya tidak eneg, dan sooo delicious. Selain itu mereka biasanya takjub dengan foto foto yang ada di atas cakenya. Sudah sering terjadi bahwa birthday boy/girl melarang kuenya dipotong saat acara ulang tahun. Sayang katanya he...he...he...
Sering terjadi juga, saat acara ulang tahun, pelanggan saya laporan, kuenya ludes tak bersisa, karena banyak yang minta tambah kue. Biasanya mereka menyesal kenapa nggak pesan dengan ukuran yang besar sekaligus, hehehe...
Bagaimana Anda menghadapi pesaingan bisnis masak memasak ?
Wah, rasanya bukan hanya di dunia masak memasak, tapi di setiap bidang pasti ada persaingan. Saya tidak pernah menganggap para pesaing itu ”musuh”, tapi memberikan semangat untuk berbuat lebih baik. Saya tetap rajin mengikuti kursus supaya update dengan produk baru dan resep-resep baru, serta tetap menjaga kualitas dari produk produk saya. Meskipun harga bahan baku meningkat gila-gilaan, namun saya tidak pernah berpikir untuk mengurangi mutu kue buatan saya. Pernah bereksperimen mencoba dengan bahan yang harganya lebih rendah, tapi saya dan anak-anak, yang selalu jadi tester produk saya, jadi tidak puas dengan rasanya. Yah, kalau di lidah saya saja tidak cocok, apalagi di lidah pelanggan saya ya ? akhirnya kembali deh ke resep awal dengan bahan baku premium.
Diatas semua itu, saya percaya penuh bahwa rejeki sudah ditentukan oleh Yang Mahakuasa.
Bagaimana dukungan keluarga terhadap kegiatan Anda sekarang ?
Keluarga saya sangat mendukung. Kalau anak anak dan suami, sudah pasti mereka gembira saya ada dirumah dan bisa memperhatikan mereka lebih dari saat bekerja. Kedua orangtua saya juga sangat mendukung keputusan saya untuk ”berkarya” dari rumah. Meskipun dari segi income masih jauh dibandingkan saat saya masih bekerja (yang disisi lain juga pengeluaran bisa ditekan hehe..), namun memberikan kebahagiaan dan kepuasan bathin.
Pesan atau kesan untuk wanita yang ingin bekerja dari rumah ?
Untuk WAHM to be, sebelum memutuskan berhenti bekerja dan memulai bisnis, galilah minat dan potensi diri Anda, sehingga saat memulai usaha, benar-benar usaha itu sesuatu yang Anda sukai dan cintai. Perluas network karena saat sudah berhenti bekerja, benar-benar serasa tidak punya teman dan terasing dari dunia pergaulan, kecuali sebelumnya sudah punya banyak teman di luar lingkungan pekerjaan. Teman-teman dan relasi ini nantinya bisa menjadi pasar potensial untuk bisnis Anda.(foto : dokumentasi Novita Dewi/Indjul)