
"Tidak ada yang terlalu istimewa. Pada dasarnya setiap (calon) penulis tahu kok, apa yang harus dilakukan. Temukan alasan mengapa kamu ingin menulis, banyak membaca dan latihan, disiplin diri dalam menulis, dan tentu saja…daripada membicarakan “Iya nih, saya lagi nulis novel!” lebih baik tutup mulut dan mulai BEKERJA. Asal niat dan tekad kuat, saya yakin, pasti bisa!" papar Donna.
Kalaupun dalam perjalanan menerbitkan karya tersebut mengalami kegagalan atau penolakan dari penerbit, itu adalah hal yang biasa. Apalagi, menurut Donna, penolakan tidak hanya dialami oleh para calon penulis, tetapi juga penulis yang banyak menerbitkan buku. Misalkan saja dirinya. Buku Jangan Berkedip ! karya bersama sang suami tercinta, Isman, sebelum diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU) pada bulan April 2006, pernah ditolak oleh satu penerbit. Lalu, naskah anak dalam bahasa Inggris, yang ditawarkannya kepada GPU pun mengalami penolakan.
"Sedih sih, apalagi editornya berkata sebenarnya ceritanya menarik, tapi memang genre cerita yang saya tulis dianggap kurang menjanjikan. Padahal saya sudah menemukan ilustrator yang sesuai untuk buku itu. Tapi sedihnya hanya sebentar. Saya makin bersemangat untuk memperbaiki kualitas tulisan saya dan bertekad suatu hari nanti, saya ingin menerbitkan buku anak. Dari sana saya belajar untuk tetap tangguh dan tegar, tetap berbahagia dan nyaman dengan menjadi diri sendiri. Dulu, kalau mengalami kegagalan dan penolakan, dengan ego yang besar saya akan berkata berulang kali, “Nggak mungkin deh, masa hal ini terjadi padaku?” Saya pun menyia-nyiakan waktu berharga saya untuk mengasihani diri sendiri, terperangkap dalam zona ketidaknyamanan", ucap perempuan kelahiran Rumbai, Pekanbaru, 7 Oktober ini.
"Mengalami kekecewaan atau kegagalan, sangat manusiawi untuk merasa sedih. Saya biarkan saja perasaan sedih itu menguasai saya. Saya coba renungkan, bagian apanya yang membuat saya patah hati, dan apa yang saya dapat lakukan agar tidak terjadi lagi di masa yang akan datang. Kalau perlu saya lampiaskan perasaan marah dan kesal dalam tulisan, sampai saya bisa menerima kenyataan mengecewakan itu. Biasanya dalam waktu kurang dari lima belas menit saya sudah pulih dan kembali bersemangat untuk beraktivitas."
Ketertarikan Donna dalam dunia penulisan diawali karena kesukaannya membaca buku sejak kecil. Ia kemudian senang mereka-reka cerita sendiri dengan membuat kisah yang menarik, menciptakan puisi dan lagu. Saat di Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia mulai rajin menuliskan puisi dan cerpennya dalam buku catatan. Sewaktu SMA, ia memberanikan diri mengirimkan dua puisi ke koran lokal, memasukkan beberapa cerpen ke majalah cerpen remaja yang saat itu sangat terkenal, namun ditolak. Penolakan demi penolakan sempat membuatnya kecewa. Namun karena panggilan hati yang sangat kuat, ia tetap menulis dan yakin bahwa tahun-tahun di mana ia tetap menulis adalah latihan yang menyiapkannya untuk membentuk naskah yang layak terbit. "Practice does make perfect," katanya.
"Saat saya kuliah, saya disibukkan dengan berbagai kegiatan, jadi saya lebih banyak menyelesaikan puisi-puisi singkat, bukannya cerpen. Apalagi pacar saya saat itu tidak mendukung kegiatan menulis, yang membuat saya kecewa dan malas untuk berusaha meningkatkan kemampuan saya. Begitu putus, saya kembali pada cinta pertama saya—menulis. Puncaknya ketika saya menikah dengan partner yang memiliki visi dan misi yang serupa dengan saya. Saya jadi mencoba untuk menulis novel. Alhamdulillah, begitu saya menawarkannya ke penerbit, naskahnya diterima," ungkap Mami dari Aza (2,5 tahun) dan Chika (3,5 bulan).
Isman H. Suryaman, adalah pendukung utama Donna dalam menulis. Isman membebaskan Donna menulis sesuai idealismenya. Perkenalan Donna dengan Isman pertama kali “bersua” via internet. Melalui sebuah mailing list pecinta anime (kartun Jepang) dan manga (komik Jepang). Saat pertama kali bertemu di dalam mal yang terletak di Jalan Merdeka, Bandung, Donna sama sekali tidak berpikir kalau Isman akan menjadi pasangan hidupnya. Isman adalah seorang penulis juga (Buku Humor : Bertanya Atau Mati). Karena itulah, setelah berkolaborasi di Jangan Berkedip ! Donna berkeinginan bisa kembali menelurkan karya bareng mereka lagi, meskipun gaya dan cara menulis mereka berbeda dan dibutuhkan penyesuaian yang tidak sebentar.
Orang tua Donna sendiri, meski awalnya sempat merasa ragu dengan pilihan profesi wanita yang gemar merangkai pernak pernik ini, namun dengan pembuktian darinya, mereka mendukung Donna sepenuhnya berkiprah di dunia tulis menulis. Padahal, ungkap Donna, almarhum kakek dari pihak ibunya pernah menulis naskah mengenai cara bermain bridge. Sayangnya naskah itu ‘dibajak’ seseorang yang mengaku sahabatnya.
"Naskah itu terbit dan laris-manis. Namun sayang keluarga saya tidak mendapatkan royaltinya serupiah pun. Peristiwa ini memicu saya untuk segera menuangkan ide secepat mungkin, dan membuat saya sangat menjaga kerahasiaan berbagai proyek yang saya kerjakan. Nenek saya dari pihak ibu juga rajin menulis buku harian. Ibu saya juga senang menulis puisi dan lagu. Paman saya, kakak ayah saya, berprofesi sebagai wartawan yang cukup terkenal di salah satu harian ternama di Indonesia. Kagum pada sepak-terjang beliau, saya sempat ingin jadi wartawan, tapi akhirnya saya menemukan panggilan hidup saya yang sesungguhnya — menjadi penulis fiksi."
"Hubungan saya dan keluarga besar saya tergolong unik. Barangkali orang lain yang melihat bisa melabeli saya anak kurang ajar, karena saya begitu santai di depan orangtua. Saya dan orangtua saya seperti sahabat saja. Seingat saya, semenjak saya masih anak-anak, mereka mau mendengarkan semua kata saya. Mungkin karena itulah saya jadi berani dan pede mengejar semua mimpi dan cita-cita, karena saya yakin apa pun yang saya lakukan, orangtua saya akan tetap sayang dan mendukung. Keluarga saya sangat mencintai musik. Ayah saya ahli bermain biola, ibu saya jago bermain piano dan keyboard walau tidak pernah belajar secara formal. Adik bungsu saya pintar bermain gitar—terutama untuk musik rock progressive sejenis Dream Theater. Adik saya yang satu lagi suka mendengarkan musik walaupun tidak benar-benar terpanggil untuk memainkan satu instrumen musik tertentu. Dulu saya sempat belajar keyboard dan menyanyi di berbagai acara, tapi sekarang saya sudah pensiun. Sekarang saya hanyalah penyanyi kamar mandi dan karaoke amatiran," cerita Donna.
Ketika ditanya apakah buku-bukunya merupakan pengalaman pribadinya, dengan tegas Donna mengatakan tidak. Kalaupun berdasarkan pengalaman orang lain atau peristiwa yang ia saksikan sendiri, ia mengembangkan semua itu sehingga menjadi cerita yang berdiri sendiri, tidak terkait dengan kejadian nyata. Menurut Donna, ia adalah penulis fiksi, bukan autobiografi dan paling pantang menggunakan terlalu banyak pengalaman pribadi dalam menulis.
Donna percaya inspirasi atau ide berkeliaran di sekitarnya, menunggu dengan cukup sabar dan siap berada dalam kondisi tertentu untuk menangkap dan menuangkan mereka dalam bentuk tulisan. "Dalam visualisasi saya, ide itu seperti virus atau bakteri. Saat kita menangkapnya, ide itu biasanya akan berkembang jadi jauh lebih banyak lagi. Sekaligus jauh lebih kuat. Saya biasanya mendapatkan inspirasi dari mendengarkan lagu, menonton film, mendengar penggalan percakapan di mal, mendengar cerita orang lain, atau pengalaman diri sendiri. Kadang ekspresi wajah seseorang bisa menimbulkan keinginan saya untuk menulis."
Dalam menulis Donna memilih genre sastra populer karena ingin merengkuh pembaca yang lebih banyak lagi. "Saya menulis untuk berbagi dan memberikan inspirasi. Saya ingin meyakinkan para pembaca bahwa impian dapat dicapai apabila kita bekerja keras untuk meraihnya. Juga, kebahagiaan adalah pilihan. Kamu bisa memilih untuk sedih atau bahagia. Sayangnya, tidak semua orang sadar bahwa kamu punya ekuatan untuk memilih. Khusus untuk genre TeenLit, saat saya masih remaja, saya ingat, buku-buku dengan genre TeenLit-lah yang membuat saya terinspirasi. Masa remaja saya dulu tidak dapat dikatakan menyenangkan. Orangtua dan keluarga sangat suportif, dan saya memiliki beberapa sahabat yang dapat diandalkan. Tapi saya tidak dapat dikatakan anak yang cantik, percaya diri, atau populer. Disadari mau pun tidak, saya sering merasa minder dan kecil hati kalau melihat remaja perempuan lain yang tampak begitu “berkilau”. Saya banyak mendapatkan pelajaran tentang hidup di buku-buku TeenLit," tuturnya.
"Saya percaya pada siklus lingkaran. Dulu saya menggemari buku-buku TeenLit. Sekarang sudah saatnya bagi saya untuk menuliskan cerita-cerita saya sendiri, berbagi inspirasi pada pembaca, memberi keyakinan bahwa harapan itu akan selalu ada dan kalau kamu percaya masa depanmu baik, maka hal itu akan terjadi. I took, now it’s my time to give. Bosan? Tentu tidak. Karena ini memang pilihan saya sendiri, yang datangnya dari hati. Juga karena saya mencintai genre ini. Do what you love to do and you’ll be happy. That simple," ucap Donna menambahkan.
Kecintaannya pada genre inilah yang membuat Donna menyenangi semua hasil tulisannya, tanpa membedakan satu karya yang lain lebih baik dari pada yang lainnya. Baginya, semua kisah yang dituliskannya memiliki kesan dan keunikan masing-masing. Misalnya saja novel Quarter Life Fear, sangat berkesan karena ini naskah novel pertama yang diselesaikannya. "Belanglicious berkesan karena ia memasukkan banyak hal yang disukainya, mulai dari sentuhan Jepang, resep masakan, sampai berbagai karakter manis.
Love at First Fall karena beberapa bab pertamanya, ditulis sewaktu ia masih SMP dan diselesaikannya menjadi novel setelah setelah belasan tahun. Novel Jangan Berkedip!, karena ditulisnya dengan sang suami. Kumpulan cerita superpendek (flash fiction) ini, pengerjaannya berawal saat mereka masih bersahabat dan tidak pernah berani berharap kumpulan cerita itu akan diterbitkan. Quarter Life Dilemma menempati tempat khusus di hati Donna karena ia mulai berani menulis di luar zona kenyamanannya saya. Ia juga sangat suka dengan keanekaragaman tokohnya. Naskah ini istimewa karena versi singkat kisah ini ditulis Donna semasa SMA. Sementara Resep Cinta, karena memuat beraneka resep yang istimewa bagi ia dan keluarga.
"Dua buku lagi yang akan terbit, satu bergenre MetroPop. Spesial karena saya menulisnya bersama Syafrina Siregar. Saya belajar mengombinasikan dua keinginan dan gaya yang berbeda agar menjadi satu kisah yang utuh. Buku yang satu lagi, bergenre TeenLit, adalah sekuel dari Belanglicious. Dalam menulisnya saya jadi banyak melakukan riset dan mengobrol dengan banyak orang. Saya sangat menikmati proses menulis buku ini," jelas Donna yang selain menulis juga sebagai penerjemah dokumen dan buku, copywriter, editor serta membuka usaha kecil-kecilan berjualan aksesoris dan pernak-pernik secara online.
Yang mengagumkan semuanya itu dilakukan Donna dari rumah. Padahal kesibukannya mengurus dua anaknya yang balita nyaris menyita waktu. Lalu dalam suasana seperti apa Donna menulis ? "Dalam suasana apa pun. Saya menulis kapan pun saya bisa, namun sesekali harus siap berhenti dan memulai lagi. Kalau seseorang dikaruniai dua anak, satu masih balita dan satunya lagi masih bayi, harus siap diinterupsi setiap saat. Saya juga harus rela tidak mendengarkan musik saat bekerja (agar saya lebih tanggap mendengar tangisan bayi di malam hari, juga karena anak pertama saya pasti akan meminta saya menyetel lagu-lagu kesayangannya. Atau ikut menyanyi. Sulit bagi saya untuk berkonsentrasi menulis kalau lagu yang saya dengarkan adalah ‘Balonku Ada Lima…’ dan di bagian reffrain, anak saya akan menyanyi, ‘Meletus balon hijau… DON!’ Saya pasti akan tergoda untuk tertawa dan menguliahi Aza, “Za, yang benar itu DOR, bukan DON! Sisi baiknya, saya jadi terbiasa menulis kapan pun dan di mana pun saya mau. Kalau ada komputer atau lap top, bagus, tapi kalau tidak ada pun, masih ada pensil/pena dan kertas", tandasnya.(Foto : dokumentasi Primadonna Angela/Indjul/rev)