
Sejak kematian Munir tiga tahun silam, sebagai istri Suciwati tak pernah menyerah. Ia terus mengais kebenaran dan keadilan. Ketika tak satupun orang mampu menguak tabir gelap kematian Munir, Suciwati terbang dari satu negara ke negara lain. Bahkan lembaga internasional sekelas PBB pun ia sambangi. Mencoba mencari dukungan atas perjuangan yang selama ini selalu buntu. Ia rela diprotes dan harus berjauhan dengan dua buah hatinya, Alif Allende (8) dan Diva Suukyi (4). Semua ia lakukan karena selama ini informasi yang didapat dari aparat hukum seputar kematian suaminya sangat sedikit.
Bukan karena Munir suaminya, atau ayah dari dua anaknya. Tapi ada yang lebih penting adalah keadilan. Perjuangannya jujur, mencari keadilan. Hitam-putih apalagi yang dilalui Suciwati di tengah perjuangannya? Berikut petikan wawancara Suciwati dengan Madina dan fotografer Atok Sugiarto dari Jelita.
Apa aktivitas Anda sekarang ?
Aku sekarang bekerja di beberapa tempat. Tapi aku lebih fokus di KASUM (Komite Aktif Solidaritas Untuk Munir). Di situ aku terjun dalam advokasi, berkampanye dan melobi. Orang-orang disana juga mendukung perjuangan yang sedang aku lakukan.
Sampai sekarang kasus kematian Munir masih berjalan. Tentunya Anda juga terus mengikuti perkembangannya.
Jelas. Aku terus memantau kinerja polisi dan aparat hukum. Aku akan terus menanyakan perkembangan kasus Munir, meskipun hak informasi yang aku dapatkan dari aparat hukum sangat sedikit, entah itu informasi dari polisi atau kejaksaan. Tapi tidak apa-apa, aku akan tetap terus bekerjasama dengan mereka. Aku juga terus menghadiri undangan teman-teman, baik dari dalam maupun luar negeri untuk meng-up date kasus Munir.
Anda juga keluar negeri untuk meminta dukungan agar kasus Munir segera dituntaskan. Apa responnya sangat antusias?
Sangat antusias. Bahkan baru saja rombongan perwakilan human right defender dari PBB datang ke kantor KONTRAS dan KASUM untuk meng-up date kasus Munir. Kedatangan mereka dalah perkembangan terakhir. Tak usah ditanyakan bagaimana respon dari dalam maupun luar negeri. Ini kasus internasional. Tentunya ini pesan serius untuk pemerintah agar segera mengusut kasus Munir sampai tuntas.
Selain ke Brussel (Belgia) untuk meminta dukungan luar negeri, ke negara mana lagi?
Aku baru saja dari Kanada, terus mampir ke New York aku bertemu dengan anggota UN (PBB) untuk membicarakan kasus Munir. Selain itu aku juga bertemu teman-teman dari Yale University untuk mempelajari kasus Munir. Respon mereka sungguh besar.
Permohonan dukungan dari negara lain, apakah bentuk kekecewaan Anda pada sistim hukum di Indonesia?
Banyak jalan mencari keadilan. Ketika di negeri sendiri aku tidak mendapatkan, sementara banyak uluran tangan untuk memberi bantuan, kenapa tidak? Segala hal demi kebenaran akan aku cari. Itu saja prinsipku. Sebenarnya aku tidak perlu keluar negeri, jauh dari anak, ketika keadilan itu bisa aku dapatkan di negeri sendiri. Seharusnya ini tanggung jawab negara. Tapi kenyataannya kan tidak begitu? Ini jelas jalan panjang yang harus aku tempuh bersama teman-teman.
Anda sudah meminta dukungan dari berbagai negara. Tapi kenyataannya belum ada transparansi tentang kasus ini. Informasi yang anda dapatkan juga sangat minim. Anda kecewa?
Sangat kecewa. Seharusnya informasi itu tidak aku minta, tapi diberikan oleh mereka. Sejak kasus ini muncul, sejak itu pula aku kecewa. Ini jelas-jelas pembunuhan politik yang dilakukan secara sistematis. Bayangkan, lembaga negara yang seharusnya melindungi dan menyelamatkan warganya malah justru menghilangkan nyawanya. Bukan dibongkar, malah disembunyikan. Ini kan tidak benar. Dengan tindakan saya meminta dukungan luar negeri, seharusnya kepolisian dan kejaksaan mulai membuka diri untuk memberikan informasi yang seharusnya menjadi hak saya.
Polycarpus disebut-sebut sebagai tersangka. Sekarang muncul nama Ongen. Anda percaya mereka terlibat?
Aku selalu berbicara berdasarkan bukti. Aku tidak tahu Ongen terlibat atau tidak karena kepolisian sendiri tidak pernah menunjukkan bukti-bukti yang mereka punya padaku.
Feeling sebagai wanita. Anda yakin Ongen terlibat?
Aku tidak mau berbicara feeling saat membicarakan kasus. Itu tugas kepolisian untuk mendalaminya. Kalau misalnya Ongen terlibat, lalu dilepas, itu sebenarnya yang harus dipertanyakan. Kalau kejadiannya seperti itu, pasti aku gugat.
(Suciwati lulusan sekolah hukum dengan gelar SH. Ia tak pernah canggung bersinggungan dengan hukum. Dulu ketika Munir masih aktif, Suciwati adalah orang yang terus mensupport suami, meskipun harus dibayar dengan kemiskinan dan pada akhirnya kematian suaminya)
Tentu Anda tahu ada novum (bukti baru) terkait keterlibatan Polycarpus atas kematian Munir. Bagaimana pendapat Anda?
Aku sudah lama mendengar itu. Sebelum kasus Ongen muncul, aku sudah diberitahu dari Kabareskrim. Kabarnya ada yang tidak beres di tingkat putusan MA. Tapi apakah kesaksian Ongen adalah bagian dari novum itu, polisi tidak memberitahu aku secara gamblang. Padahal aku perlu tahu dan harus tahu. Semuanya berantakan karena aku dan masyarakat tidak pernah diberitahu. Tiba-tiba pengadilan mendakwa Polycarpus pun aku tidak tahu. Tahu-tahu ada tersangka yang ditetapkan. Mengapa korban tidak dilibatkan? Siapa tahu kita mengerti dan malah bisa memberi masukan.
Anda dan TPF (Tim Pencari Fakta) Munir sudah menyerahkan hasil kerja ke presiden. Ada angin segar dari beliau?
Kerja TPF Munir luar biasa. Tapi yang saya sangat kecewa presiden tidak menindaklanjuti temuan TPF. Pak SBY pernah bilang, kasus Munir adalah otak ukur apakah sejarah bangsa Indonesia berubah. Tapi nyatanya tidak ada yang dilakukan Pak SBY. Pelanggaran HAM sering terjadi karena sistim negara kita betul-betul sudah akut dan sulit diperbaiki. Apalagi orang-orang yang duduk di birokrasi negeri ini adalah orang-orang yang masih tersangkut dengan dosa masa lalu.
Sampai saat ini apakah Anda masih menerima ancaman dan teror lantaran perjuangan Anda?
Sebetulnya aku enggan bicara soal ancaman dan teror. Itu sama saja aku menyebarkan teror dan rasa ketakutanku. Jujur, teror itu sampai sekarang masih ada. Tapi bagiku, sudah tidak ngaruh lagi. Itu tidak penting. Hidup dan mati Tuhan yang menentukan. Bukan aku sombong. Yang menyebarkan teror itu justru pengecut.
Anda sebagai pejuang keadilan juga seorang ibu dan sering pulang-pergi luar negeri. Bagaimana dengan anak-anak?
Apapun pekerjaan dan aktivitasku, aku tetap seorang ibu. Sekarang bagaimana caranya aku memenej waktu untuk anak-anak dan aktivitasku.
Ada protes dari anak-anak?
Beberapa kali mereka memang protes. Tapi aku selalu cerita ke mana dan untuk apa aku pergi. Bagiku penjelasan seperti itu sangat penting. Aku katakan juga, aku tidak nyaman dan tidak ingin meninggalkan mereka. Tapi keadaan yang memaksaku begini. Ini berat. Untungnya anak-anak mulai paham apa yang aku perjuangan. Aku bekerja untuk mereka, untuk abah (Munir) dan untuk sejarah bangsa ini.
(intonasi bicara Suciwati agak mengendur ketika membicarakan anak-anaknya. Tentu tidak mudah membesarkan dua anak seorang diri. Terlebih, Alif, putra pertamanya mengidap Attention Defisit Syndrom. Alif jelas membutuhkan perhatian ekstra dari Suciwati)
Tiga tahun sudah Munir meninggal. Apakah Anda sudah bisa melupakan kesedihan kehilangan suami?
Tidak mungkin. Munir adalah bagian dari sejarah hidupku. Luka itu abadi. Yang namanya luka, tidak bisa hilang. Luka pasti meninggalkan bekas. Lama atau baru, luka tetap saja luka. Lebih menyakitkan lagi ketika orang yang terlibat justru menduduki posisi bagus di pemerintahan.
Anda yakin kasus Munir bisa tuntas?
Butuh kerja berat bila sistimnya masih seperti sekarang. Negara ini masih bisa bermain-main dengan hukum. Dengan komitmen untuk menuntaskan kasus Munir dari PBB, aku rasa pemerintah harus lebih serius. Aku optimis bisa tuntas. Karena kalau tidak aku tidak akan mampu lagi melakukan apa-apa.
Anda sempat dijuluki Asian Heroes oleh majalah Times. Anda merasa pantas?
Buatku itu sebuah dukungan. Aku melihatnya itu sebuah komitmen mereka membantu perjuanganku. Itu saja. Aku tidak pernah menganggap diriku pahlawan. Apalagi pahlawan Asia. Aku hanya wanita dan seorang ibu yang sedang mencari keadilan. Bukan semata-mata karena Munir suamiku, tapi untuk negeri ini. Bisa saja, siapa tahu sepuluh tahun ke depan tiba-tiba anakku menjadi aktivis. Sungguh ngeri dibayangkan bila nanti ia mengalami nasib seperti ayahnya.
Alif pernah bilang ingin menjadi aktivis seperti almarhum ayahnya?
Saya sih membebaskan. Silahkan mau jadi apa. Kalau Diva belum tahu apa-apa karena masih kecil. Alif bilang tidak ingin jadi aktivis. Dia ingin jadi ilustrator atau wartawan. Waktu aku tanya kenapa tidak ingin seperti Abah? Alif bilang tidak mau dibunuh seperti Abah. Buatku itu sebuah trauma mendalam untuk Alif. Ini juga trauma untuk siapapun.
Alif atau Diva yang sering menanyakan ayahnya?
Dua-duanya. Dan aku selalu memberi tahu mereka bahwa ayahnya adalah orang hebat.
Apa peninggalan paling berharga dari Munir selain anak-anak?
Peninggalannya luar biasa. Yang paling berharga adalah kecintaannya pada keadilan. Kami bangga memiliki Munir. Dan ini adalah peninggalan yang penting untuk saya dan anak-anak. Ia hanya ingin negara ini lebih baik.
Apa harapan Anda ke depan? Apalagi harus menjadi ibu sekaligus ayah bagi Alif dan Diva?
Aku berharap anak-anak menjadi anak-anak yang mandiri. Dapat dibanggakan. Aku juga berharap pemerintah lebih serius menuntaskan kasus Munir. Meskipun berat, karena indikasi keterlibatan militer sangat kental pada kasus ini. Semua tergantung kemauan dan keberanian pemerintah. Dan ini juga menyangkut kredibilitas bangsa kita di mata dunia.
(Suciwati memang pantas menjadi tauladan. Perjuangannya semata-mata demi keadilan. Sampai kapan Suci akan bergelut dalam pencarian? Ia wanita sederhana yang memiliki keinginan tak muluk-muluk. Sekali lagi, hanya sebuah keadilan).(sumber: Tabloid Jelita edisi 186/Idh)