Sosbud
30-Jun-2007 11:44:35 WIB
PROFIL
Mira Lesmana : Film Belum Mendapat Perhatian Pemerintah



Berita HOT:

Sebagai wanita, ia memiliki intuisi tajam mengangkat sebuah cerita yang menjadi fenomena di masyarakat. Bukan lantaran istri Mathias Muchus yang juga aktor senior, Mira bisa sukses seperti sekarang. Atau bukan juga lantaran ia kakak kandung Indra Lesmana.

Menurut anak ketiga dari 4 saudara pasangan Jack - Nien Lesmana ini, keluarganya adalah musisi. Hanya Mira yang berbeda. Diakui Mira, sejak usianya masih sangat muda, ia sudah menyukai film. Bahkan sempat memutuskan untuk belajar film ke Australia.

Dengan Madina dan fotografer Sarwito dari Jelita, Mira menuturkan hitam putih dunia perfilman Indonesia. Mulai dari birokrasi yang dianggap menyusahkan dan bertele - tele, hingga trik untuk mengatasi paceklik film. Berikut petikan wawancaranya :

Anda baru saja merampungkan film terbaru yang berjudul Tiga Hari Untuk Selamanya. Sudah pasti sibuk ?

Yang namanya baru ngeliris film baru, pasti sibuk distribusi dan promosi. Film baruku sudah beredar sejak 8 Juni kemarin, Disaat yang sama, aku juga sedang menggarap 3 proyek baru. Film drama, film anak - anak dan film laga. Skenarionya masih dikembangkan.

Kapan persisnya Anda menyukai film ?

Sejak kecil. Nonton film adalah kebiasaan keluarga kami, selain musik. Karena hampir semuanya pemusik, kegiatan utama keluarga kami adalah nonton film. Sejak kecil aku selalu diajak nonton bioskop. Waktu itu umurku sekitar 5 atau 6 tahun. Habis nonton, makan es krim sama - sama sambil ngomongin filmnya.

Waktu itu, kecintaan Anda dipengaruhi oleh kebiasaan keluarga. Lalu kapan Anda sadar bila Anda betul - betul menyukai film ?

Aku yakin mencintai film waktu aku umur 17 tahun, saat masih sekolah di Sidney. Umur segitu aku sudah banyak baca buku tentang film. Saat itulah aku bilang ayahku kalau aku ingin terjun kedunia film. Ayahku sih oke - oke aja. Malah mewanti - wanti agar aku cari sekolah film, untuk bekal akademisku yang lebih baik. Ayahku juga bilang aku harus berdedikasi dan siap sengsara. Karena almarhum ayahku tahu hidup didunia kesenian itu tidak mudah.

Setelah lulus SMU, Anda meneruskan ke sekolah film di Australia ?

Yah, aku mendaftar disebuah sekolah film sangat terkenal di Australia, Australian Film and Television School. Tapi waktu aku datang untuk mencari informasi, mereka bilang hanya menerima 21 murid dalam 1 tahun. Sangat selektif. Dan salah satu syaratnya adalah menyertakan karya, film maupun foto. Aku kebingungan, baru lulus SMU mana aku punya karya ?

Anda jadi melanjutkan sekolah film disana ?

Aku disarankan balik ke Indonesia dan bersekolah di IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Setelah setahun sekolah di IKJ, baru kemudian ditransfer ke AFTC. Tapi setelah belajar di IKJ aku berpikir, buat apa ke Australia kalau ilmu yang aku butuhkan ternyata bisa aku dapatkan di Indonesia. Enaknya di IKJ, berbagai disiplin ilmu seni ada. Bisa pilih dan interaksinya bagus. Akhirnya sampai lulus aku tetap di IKJ.

(Mira kelahiran 8 Agustus 1964. Ibu dari dua anak, Kafica Keandr (19) dan Galih Galinggis (16). Tak ada komplain dari suaminya Mathias Muchus, dengan aktivitas super padatnya seperti sekarang. Apalagi keduanya datang dari dunia yang sama. Justru mereka sering sharing seputar film. Namun begitu, Mira juga tidak melupakan tugasnya sebagai istri dan ibu. Terutama hari Sabtu dan Minggu, ia selalu membuatkan hidangan racikan tangannya untuk keluarga).

Film apa yang menjadi debut Anda ?

Kuldesak tahun 1998. Film ini salah satu film "gerilya" di Indonesia. Waktu itu aku kerja bareng Riri Reza, Nan T. Achnas dan Rizal Mantovani. Betul - betul gerilya, nggak ada yang dibayar. Pemain pun gratis, dananya juga hasil sumbangan. tapi betul - betul film profesional adalah Petualangan Sherina.

Sedikit sekali wanita yang terjun menjadi sineas. Dunia ini boleh dibilang dominan dengan kaum pria. Merasa kAikuk pertama kali terjun ?

Ada perubahan mendasar yang terjadi dalam dunia film Indonesia diera tahun 90 an. Apalagi sejak tahun 1993 tidak ada satupun film Indonesia yang dibuat, kecuali mas Garin (Garin Nugroho). Saat itupun FFI berhenti. Aku dengan Kuldesak, ada juga Christine Hakim dengan Daun di Atas Bantal. Dan di televisi pun, pucuk - pucuk pimpinan yang berperan sebagai decision maker justru wanita. Bahkan produser yang indepeden pun kebanyakan wanita. Seperti Nia Dinata, Shanti Harmain, Paquita Widjaya, dan lain - lain. Mungkin karena wanita tidak terlalu memikirkan kalkulasi untung rugi saat membuat film.

Jadi Anda ingin mengatakan, dunia film lebih cocok dihandle wanita ?

Kami, kaum wanita merasa sudah memiliki tempat didunia film. Bahkan sekarang porsinya lebih besar. Biasanya kami mengikuti hati dan keinginan, tanpa harus pikir panjang. Walaupun secara teknis lapangan saat syuting, memang lebih banyak didominasi pria. Tapi menurutku tidak ada diskriminasi dalam film. Nyatanya sejak awal aku tidak pernah mengalami kesulitan ketika harus bekerjasama dengan pria. Mereka juga tidak diskriminatif. Respek itu datang sebagai pertner dan sesama filmmaker, bukan antara wanita dan pria. Sejak Kuldesak, aku merasa tidak ada lagi wanita tidak boleh terjun dalam film. Wanita yang ada didunia film, berarti wanita yang bisa bekerja dalam film.

Nia Dinata dikenal sebagai produser dan sutradara yang sering mengangkat fenomena sosial. Misalnya poligami dalam Berbagi Suami. Anda sendiri bagaimana ?

Yang menentukan adalah orang yang melihat filmnya. Tapi yang jelas, filmku sangat beragam, mulai dari film anak - anak (Petualangan Sherina), remaja (Ada Apa Dengan Cinta) dan politik (Gie). Ketika membuat film, kita memang harus peka terhadap peristiwa disekeliling kita. Interestnya saja yang mungkin berbeda. Yang jelas semua menuju pendewasaan.

Apa yang Anda kedepankan saat membuat film ? Visualisasi atau alur cerita ?

Tidak spesifik harus visual atau alur cerita. Feeling aja. Menurut salah seorang kritikus film luar negeri, untuk melihat film karya MILES adalah unpredictable. Sangat tidak bisa ditebak. Rata - rata katanya, mengagetkan orang. Karena manusia dasarnya memiliki sifat dinamis, makanya aku juga terus berubah.

Apa film Anda yang paling berkesan ?

Semua film berkesan dan meninggalkan bekas. Tapi Gie mungkin film yang paling berkesan dan paling mahal. Settingnya tahun 1960, ada adegan demonstrasi besar - besaran yang melibatkan 2500 figuran. Syutingnya panjang, 60 hari. Prosesnya 3 tahun. Bayangkan, aku dan kru naik ke puncak Mandalawangi (Gunung Pangrango) bawa alat syuting. Malah 5 hari aku nggak mandi, kedinginan dan kehujanan. Pengalaman itu nggak mungkin bisa dilupakan.

Sudah berapa film Anda yang diikutkan ke festival luar negeri ?

Hampir semua filmku diikutkan festival film luar negeri. Sejak Kuldesak sampai Gie. Cuma memang tidak banyak orang tahu. Dan yang paling banyak mendapat penghargaan adalah Eliana, Eliana dan Gie.

Bagaimana apresiasi masyarakat film luar negeri dengan film Indonesia ?

Sangat bagus. Setiap tahun mereka menanti film - film Indonesia. Meskipun jumlahnya tidak banyak, tapi terus dinanti - nanti.

(Dengan ikut sertanya film Indonesia ke ajang internasional adalah upaya untuk memperkenalkan film Indonesia. Selain itu, Mira juga ingin menunjukan bahwa sineas Indonesia selama ini berjalan sendiri alias independen. Tak ada peran dari pemerintah sedikitpun).

Nicolas Saputra, aktor yang sering direkrut dalam film Anda. Tiga film dibintangi Nico (AADC, Gie, Tiga Hari Untuk Selamanya). Sebetulnya, kriteria seperti apa yang Anda terapkan ketika akan merekrut pemain ?

Nico atau siapapun aktornya, bukan masalah asal memiliki bakat. Kemudian dedikasi dan profesionalisme. Yang terakhir adalah attitude. Aku akan kesulitan bekerjasama dengan seseorang yang ingin menjadi primadona dan diperlakukan lebih dari yang lain. Buatku Nico memiliki 3 elemen yang aku sebutkan tadi. Itulah mengapa aku sering bekerjasama dengannya.

Berarti dalam perannya di 3 film Anda, Nico cukup memuaskan ?

Yah, perannya sebagai Rangga bagus, sebagai Gie karakternya juga cocok, dan sebagai Yusuf di Tiga Hari Untuk Selamanya, sangat delivered.

Di Indonesia hanya ada 1 sekolah film yaitu IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Menurut Anda kondisi ini adalah pemicu, paceklik film Indonesia ?

Jelas ini masalah. Baik pendidikan secara general atau pendidikan film pada khususnya, belum mendapatkan perhatian dari pemerintah. Untuk itu kami membentuk Masyarakat Film Indonesia (awal Januari lalu komunitas ini melakukan protes dengan menyerahkan piala Citra yang mereka dapatkan ke FFI). Yang kami tuntut adalah agar pemerintah memberi perhatian kepada dunia film. Susah sekali untuk memajukan film Indonesia bila fasilitas pendidikannya tidak disediakan. Fasilitas pendidikan film ini seharusnya tidak hanya ada di Jakarta saja, tapi harus didirikan disetiap daerah. Aku yakin banyak bakat - bakat film berkualitas didaerah yang belum terdeteksi.

Apa usulan Anda untuk pemerintah ?

Masukkan film sebagai kurikulum ditingkat SLTP atau SLTA. Bisa juga dijadikan bagian dari kegiatan ekstrakurikuler. Intinya, perkenalkan sejak dini tentang film. Aku setuju jika pemerintah mau mendirikan dan menambah sekolah film baru.

Kabarnya, banyak kebijakan dari birokrat yang mempersulit sineas ?

Banyak ijin - ijin dan tetek bengek lainnya yang harus dilakukan saat kami akan membuat film atau syuting disatu lokasi. Jujur aku sering langgar perijinan itu, toh ditangkap juga tidak, apalagi dihukum ! Karena UU memang sudah tidak beres. Kenapa kita tidak belajar dari Korea. Pemerintah menganggap bahwa film adalah sesuatu yang pentingnya luar biasa. Ada satu kota di Busan yang dijadikan sebagai kota sinema. Apabila ada syuting film, fasilitas semisal polisi, pemadam kebakaran, disediakan tanpa dipungut bayaran. Imbasnya, devisa akan naik dan perekonomian pun bergulir. Mereka  juga membatasi jumlah film Hollywood yang masuk ke negara mereka. Dengan begitu Korea bisa mengurangi penetrasi dari Hollywood. Ini yang sedang kami perjuangkan.

Menurut Anda bagaimana kondisi perfilman Indonesia sekarang ?

Sangat sensitif. Sekarang memang dalam keadaan antusias. Banyak orang yang ingin terjun ke film dan mencoba macam - macam. Negatifnya, karena infrastrukturnya belum kuat, maka akan sangat mudah runtuh. Agar pondasinya kuat harus dibenahi beberapa hal yakni pendidikan film, profesionalisme kerja, serta kebijakan pemerintah.

(Mira adalah wanita yang sangat peduli dengan perkembangan film Indonesia. Sebagai wanita, ia tak merasa lemah memperjuangkan kejayaan film Indonesia. Sebagai istri, ia tak pernah melupakan kodratnya mengurus suami. Sebagai ibu, ia teladan yang pantas ditiru. Seperti ayahnya, ia tidak mau berhenti sebelum semuanya selesai).(Sumber: Tabloid Jelita/Dv/Idh)


 

Nama:
Email:

More PROFIL:
[ more Profil ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :