Sosbud
7-Jul-2007 12:14:26 WIB
PROFIL
Yenny Wahid : Aku Ingin Segera Menikah



Berita HOT:
Keputusan Yeni Wahid mundur dari kabinet SBY membuat orang bertanya-tanya. Ada apa dibalik itu ? Padahal, jabatan sebagai staf khusus kepresidenan bidang komunikasi politik, dapat dikatakan sebagai "kursi basah" sekaligus prestisius.

"Banyak yang mengeluh kepadaku, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Cuma garuk-garuk kepala. Aku merasa tidak bisa melaksanakan amanah rakyat. Apa gunanya punya kedudukan basah kalau kita gelisah ?" Itulah jawaban yang diungkapkan pemilik nama lengkap Yeni Zannuba Arifah C. Rahman kepada Jelita ketika ditemui di Wahid Institute, dibilangan Manggarai, Jakarta Selatan.

Alasan lainnya, ia ingin lebih fokus menjabat sebagai Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang dipelopori ayahnya, KH. Abdurrachman Wahid alias Gus Dur. Sejak HM. Lukman Edy dicopot lantaran terpilih sebagai Menteri Pemberdayaan Daerah Tertinggal (PDT), Yeni Wahid memang dipercaya sebagai Sekjen PKB.

Setelah secara lisan mengungkapkan pengunduran dirinya kepada SBY, Yeni langsung ke Bandara Soekarno - Hatta menuju ke Porong, Sidoarjo. Berjumpa dengan pengungsi dan menginap semalaman. Di Porong, Yeni mengaku merasakan langsung penderitaan pengungsi. Tidur di tenda darurat, ditemani gerombolan nyamuk yang gonta ganti genit mencubit kulit mulusnya.

Sejak berurusan dengan politik, kehidupan Yeni memang melulu dipenuhi urusan pemerintahan. Tak terendus sedikit pun kisah asmaranya. Padahal ia punya target ingin memiliki pendamping hidup dibawah usia 35 tahun (sekarang umurnya baru 33 tahun). Terlebih kedua orangtuanya, Gus Dur & Shinta Nuriyah, seringkali menanyakan soal itu. Kepada Madina dan fotografer Sarwito dari Jelita, Yeni menuturkan keluh kesah politik dan kehidupan pribadinya. Berikut petikan wawancaranya :

Apa yang melatarbelakangi keputusan Anda mundur dari jabatan sebagai staf khusus kepresidenan ?

Ini dilandasi pikiranku, bahwa yang paling penting sebagai manusia adalah bisa berguna untuk sesama. Berada didalam sistem pemerintahan, sebagai staf khusus kepresidenan, aku merasa tidak bisa terlalu memberikan kontribusi maksimal untuk rakyat. Bersamaan dengan itu, aku diberi kepercayaan sebagai Sekjen PKB. Dan aku memilih berkiprah aktif dalam politik bersama PKB. Disini aku diberikan kesempatan maksimal. Tak ada perasaan rikuh untuk menyuarakan hati nurani dan bersuara tentang pembelaan pada rakyat. Ketika berada dalam sistem, terus terang otoritasku sangat terbatas dan itu menggelisahkan.

Maksudnya, Anda merasa lebih nyaman sebagai oposan ?

Di sistem ketatanegaraan kita, tidak mengenal oposisi. Boleh kritis tapi konstruktif. Ini perlu. Setiap kekuasaan harus dikritisi. Kalau tidak akan cenderung mau menang sendiri dan semena - mena. Di staf kepresidenan, aku bekerja dengan 7 staff khusus lainnya. Fungsiku cuma penghubung saja. Menyerap aspirasi rakyat dan menyerahkannya ke Sekretaris Kabinet (yang dijabat Sudi Silalahi).

Tidak bisa mengambil keputusan yang menurutku mungkin bisa memberikan perubahan untuk rakyat. Keterbatasan otoritasku bukan karena aku perempuan, tapi lebih karena jabatan. Karena itu, lama - lama frustasi juga, ha ha ha..., bayangkan 1 tahun lebih bekerja tidak bisa maksimal.....

Persisnya apa sih yang memicu Anda sampai mengundurkan diri ?

Yang bikin aku memutuskan mundur adalah saat peringatan setahun lumpur Lapindo bulan Mei lalu. Nggak tahu gimana, aku nggak bisa ngomong. Aku menangis nggak henti - henti waktu para korban cerita soal penderitaannya kepadaku. Aku sampai malu sendiri. Ini adalah kristalisasi semua beban yang tidak terlontarkan, keluarnya melalui airmata. Sepertinya karena aku orang Jawa Timur, pengungsi nangis dan mengadu ke keluarga kami.

Tapi sebenarnya bukan karena aku orang Jawa Timur, tapi lebih karena kemanusiaan. Aku sudah berkali - kali kesana. Cuma waktu itu aku masih didalam sistem. Cuma sepintas dan hanya mendengarkan, tidak bisa nginap. Aku juga menyesal tidak melakukan tindakan ini dari dulu. Tapi sekarang paling tidak aku bisa bersuara. Dibantu oleh fraksi PKB di DPR, keberpihakannku pada rakyat jadi lebih jelas dan maksimal.

Langkah pertama apa yang Anda lakukan setelah mundur ?

Aku langsung terbang ke Porong Sidoarjo, mengunjungi pengungsi korban lumpur Lapindo. Nginap di pengungsian untuk menyelami kehidupan mereka. Bagaimana susahnya hidup mereka. Makanannya saja tidak bisa dimakan, nasinya pera banget. Lebih cocok untuk makanan ternak. Lauknya ikan yang baunya amis sekali dan tidak layak dimakan. Mandi saja mesti antri berjam - jam. Nyamuknya banyak banget. Nih, dibadanku masih ada bekas - bekas bentol gigitan nyamuk !

Staf Presiden kan bisa dibilang posisi "basah". Kenapa memilih mundur ?

Basah ? Bocor kali ha ha ha ....
(Dari derai tawanya, terasa benar seolah Yeni telah terlepas dari sebuah beban yang sekian lama menghimpitnya. Wajahnya pun terlihat segar merona).

Aku memang punya akses ketemu Presiden langsung, tapi tidak serta merta apa - apa jadi mudah. Yang tadi aku bilang, kerjaku tidak bisa maksimal. Banyak yang mengeluh kepadaku, tapi aku tidak bisa berbuat apa - apa. Cuma garuk - garuk kepala. Aku merasa tidak bisa melaksanakan amanah rakyat. Apa gunanya punya kedudukan basah kalau kita gelisah ? Karena ajaran orangtuaku, kedudukan mesti bermanfaat bagi banyak orang, bukan untuk diri sendiri.

Jadi Anda menanggung beban batin selama menjadi staff kepresidenan ?

Jelas beban, dong. Ditangisi korban kapal tenggelam yang belum dapat ganti rugi sampai sekarang. Aku kan jadi bingung harus bagaimana.

Apa komentar Presiden SBY waktu Anda bertemu dan menyampaikan pengunduran diri ?

Beliau merasa sangat kehilangan ..... Apalagi keluarga Presiden juga dekat denganku. Ia sayang terhadap aku dan keluarga dan berharap tali silaturahmi kami tidak terputus. Presiden menganggap aku seperi adik dan anak sendiri. Aku berterima kasih kepada beliau karena telah mengajarkan bagaimana cara mengelola negara.

Anda tidak bekerja sendiri, ada 6 staff khusus lainnya. Kabarnya, pengunduran diri Anda juga lantaran pratik "saling sikut" diantara rekan - rekan sesama staff khusus ?

Itu sih wajar, namanya juga office politic. Tapi aku nggak mau bilang praktik itu ada di sistem pemerintahan SBY sekarang. Intinya, saat berada dalam sistem, niatku mengabdi pada Presiden untuk kepentingan rakyat.

Sebelum mundur, apakah Anda sampaikan niat itu ke Gus Dur ?

Ya. Aku bilang pada bapak ingin mundur, beliau bilang "terserah". Keputusan ada ditanganku, karena aku dianggap sudah dewasa. Ini bukan keputusan Gus Dur, tapi keputusanku. Sebagai orangtua, tidak kurang tidak lebih, Bapak hanya merestui.

Bagaimana setelah keluar dari sistem ?

Plong .... Dulu kan nggak, stres dan gelisah. Sekarang enak dan santai. Enak makan, enak tidur, ha ha ha .....
(Selain sebagai Sekjen PKB, Yeni Wahid juga aktif di Wahid Institute. Dilembaga yang digagas oleh Gus Dur ini Yeni menjabat posisi Direktur. Sebagai sebuah lembaga Islam moderat dan progresif, Wahid Institute bertujuan menciptakan demokrasi, pluralisme agama - agama, multikulturalisme, dan toleransi kaum Muslim di Indonesia dan seluruh dunia).

Sosok Gus Dur, sudah pasti tidak lepas dari perjalanan politi Anda selama ini. Anda merasa risih terus menjadi bayang - bayang beliau ?

Nggak lah. Ini berkah. Aku malah bangga dan bersyukur dilahirkan sebagai anak Gus Dur. Biarin aja dibilang bayang - bayangnya. Menjadi bayang - bayangnya saja aku sudah bangga, kok. Aku manusia terkutuk jika berpikiran Gus Dur tidak memiliki peran apapun atas apa yang aku dapat sekarang.

Aku harus mengingat, bisa seperti sekarang karena Gus Dur. Dan, setiap tindakan politikku pastinya membawa nama besar Gus Dur dan kakekku (Wahid Hasyim). Beban yang aku rasakan seperti menyangga gunung.

Anda pernah merasakan jasi anak Presiden. Bagaimana rasanya sih ?

Nggak enak ! Lebih enak sekarang. Lebih bisa menikmati hidup. Bisa cari duit lagi. Dulu, karena anak Presiden, aku nggak boleh cari duit. Sangat disiplin. Ada yang kasih hadiah, dikembaliin lagi. Tapi banyak orang - orang disekitar ayahku yang berpesta pora. Dan namanya .... ada dalam catatanku. Mereka mengaku dekat dengan Gus Dur.

Saat - saat bagaimana yang paling bebas bagi Anda ?

Ketika aku menjadi wartawan koran Australia, sebelum Gus Dur jadi Presiden. Meliput ke daerah Timor Timur (sekarang Timor Leste), ke Aceh bertemu dengan pasukan GAM, juga kerusuhan di Ambon. Pernah juga ngerasain hampir mati di Timor Timur karena berada ditengah - tengah baku tembak. Disitu aku ngerasain Yeni yang bukan anak Gus Dur. Nggak ada efeknya bawa - bawa nama besar Gus Dur.

(kerja kerasnya sebagai wartawan, membuahkan hasil maksimal. Dari hasil reportasenya seputar Timor Timur, Yeni dan 6 teman lainnya dianugerahi penghargaan jurnalistik tertinggi didunia. Tropi penghargaan itu hingga kini masih menghiasi meja kerjaku di Wahaid Institute. Dan itu, merupakan kebanggaan sendiri bagi Yeni Wahid).

Ngomong - ngomong, Anda tidak pernah terlihat jalan dengan pria. Kisah asmara Anda juga tidak pernah terungkap.

Siapa bilang ? Aku sering kok jalan sama pria. Sama pengawalku, maksudnya, ha ha ha.... Gimana ya ? Memang belum ketemu jodohnya mau diapain dong ? Ada sih beberapa teman dekat, tapi belum grengggg .... Tapi kebanyakan dari pria yang dekat dengan aku, satu dua kali ketemu nggak ada 'ser - ser'annya gitu, ha ha ha .....

Anda mencari pendamping hidup dari kalangan politik juga barangkali ya ?

Nggak juga, ah. Aku pernah dekat dengan beberapa orang yang bukan dari kalangan politik. Untuk pendamping hidup, mesti ada sesuatu yang aku hormati dari dia. Paling tidak aku kagumi. Aku pernah loh pacaran dengan ekonom, tapi nyatanya nggak cocok. Pernah juga dengan seorang musisi, tapi akhirnya kandas. Tapi setelah putus hubungan kami baik - baik saja..............

Lalu kriteria pria seperti apa yang Anda cari ?

Siapapun bisa. Nggak harus begini dan begitu. Sedapatnya saja, yang bisa menarik perhatianku. Aku ingin pria itu bisa 'menaklukkan' diriku. Aku ini wanita yang sangat mandiri. Waktu sekolah di Amerika, aku melakukan semuanya sendiri. Seminggu sekali cuci baju bisa 2 karung !

Mengingat usia Anda yang sudah kepala 3, apakah Anda tidak ingin segera menikah ?

Targetku dibawah umur 35 tahun sudah menikah. Ada yang meramal aku menikah umur 34. Ibu bapak juga sering nanyain soal ini, tapi tidak secara langsung. Sebenarnya aku ingin segera menikah. Tapi aku harus selektif memilih calon suami, karena jodoh itu kalau bisa sekali seumur hidup.(Tabloid Jelita/Dv/Ijs)

Nama:
Email:

More PROFIL:
[ more Profil ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :