
Sebuah bukti bahwa Fiersha adalah 'macan' festival yang kenyang naik turun panggung. Modal Fiersha, suaranya yang kuat dan merdu. Kekurangan yang disandang, itu nomor kesekian, bahkan tidak pernah dihiraukan sedikitpun.
Semua jenis lagu ia kuasai. Mulai dari pop, rock bahkan dangdut sekalipun. Tekadnya bulat, musik adalah dunianya. Fiersha rela menempuh perjalanan berkilo - kilometer dengan sepeda motor bersama ibunya untuk mengikuti sebuah kontes dangdut. Meski hasilnya, karena faktor umur ia ditolak.
Bakat Musik
Mama Ace menyadari kelebihan puteri pertama dari 2 bersaudara ini. Sejak kecil, ketika Fiersha berumur 1 tahun, bocah polos yang kini duduk dibangku SLTP ini sudah menunjukkan bakat seninya memainkan alat musik. Sebuah piano mainan mungil dihadiahi mama Ace untuk Fiersha. "Waktu itu yang aku belikan cuma piano mainan kecil berwarna merah. Ajaib, ternyata Fiersha bisa menekan tuts do sampai si dan sebaliknya," katanya.
Mama Ace dan keluarga kaget melihat bakat musik Fiersha. Dari situ mama Ace membelikan sebuah piano mainan lebih besar untuk Fiersha. Saat itu usia Fiersha baru 2 tahun. Entah kebetulan atau tidak, bakat musik Fiersha diikuti dengan talentanya menyanyi. "Fiersha sering aku pancing dengan kasetku (Mama Ace mantan vokalis band). Ternyata Fiersha suka. Lalu aku pancing dengan kaset anak - anak. Eh, nggak tahunya dia malah nggak suka. Dia sukanya malah sama lagu - lagu orang dewasa seperti Desy Ratnasari, Paramitha Rusady, Inka Christy, dan lain - lain," katanya.
Mama Ace bangga dan bahagia dengan bakat penyanyi puterinya itu. Rupanya Fiersha kecil tertarik dengan suara mamanya yang lumayan merdu. Setiap Mama Ace menyanyi, Fiersha meraba - raba mulut dan leher mamanya yang pernah manggung dibeberapa tempat. Getaran yang dirasa Fiersha dileher sang mama membuat Fiersha heran.
Dari situlah Fiersha semakin tertarik. "Aku bilang ke Fiersha, aku kepengin banget Fiersha menjadi penyanyi. Aku akan sangat mendukung. Soalnya, aku brcita - cita menjadi penyanyi tapi dilarang oleh orang tuaku. Yah, itung - itung meneruskan cita - citaku," kata Mama Ace.
Juara MTQ dan Nyanyi
Sejak masih TK khusus, Fiersha sudah berani tampil didepan umum. Setiap ada acara disekolah Fiersha pasti diminta tampil. Menurut Mama Ace, Fiersha pernah tampil dihadapan walikota Bandung. Namun kematangan suara Fiersha baru terbentuk saat duduk dibangku kelas 2 SD Wiyata Guna (SD yang menerapkan program inklusi untuk penyandang cacat).
Saat itulah Fiersha mulai melalang buana, pentas dari 1 panggung ke panggung lainnya untuk mencari pengalaman. "Sampai tahun 2006 Fiersha sudah mengumpulkan 9 tropi. Bukan cuma dari nyanyi saja, ada juga yang dari perlombaan Musabaqoh Tilawatil Qur'an (MTQ)," tutur Mama Ace bangga.
Pengalaman Fiersha tak bisa lagi terhitung dengan jari. Bukan cuma di Bandung dan sekitarnya. Di Jakarta pun Fiersha punya segudang cerita menyanyi. Belum lama ini, dalam acara memperingati hari HIV / AIDS sedunia, Fiersha diundang untuk menyanyi.
Tidak selamanya perjalanan Fiersha mulus. Batu kerikil dan sandungan sering ia temui. Misalnya saja waktu hendak mengikuti kontes lagu dangdut didaerah Cikadut (Badung pinggiran). Jarak rumah Fiersha yang berada dibilangan Paledang ke Cikadut cukup jauh, berpuluh - puluh kilometer.
Perjalanan ditempuh Mama Ace dan Fiersha dengan sepeda motor. Fiersha sempat ingin mundur lantaran tak tahan panas dan lelah. Namun berkat dorongan Mama Ace, Fiersha bersemangat lagi. "Saya yakin Fiersha bisa bersaing di kontes itu. Karena dia pernah ikut perlombaan lagu dangdut tingkat kelurahan dan menang. Waktu itu umur Fiersha baru 8 tahun.
Saat itu dia suka semua jenis lagu. Kebetulan di Cikadut ada kontes dangdut. Fiersha pengin ikut. Tapi setelah menempuh perjalanan jauh dan sempat nyasar, kami malah ditolak. Alasannya umur Fiersha terlalu muda (waktu itu kontes dangdut untuk anak umur 15 tahun keatas)," tutur Mama Ace.
Dengan segala kecewa Mama Ace dan Fiersha meninggalkan kontes nyanyi dangdut itu. Peluh dan panas keduanya tak terbayar lantaran alasan umur. Meski Mama Ace sudah mengiba kepada panitia, malah hingga pada akhirnya berubah ngotot, tetap saja Fiersha ditolak. "Saya minta Fiersha supaya tidak sedih dan menangis. Fiersha bilang iya, asal dibelikan eskrim, ha ha ha, "kenang Mama Ace.
Pengalaman pahit itu ternyata tak membuat Fiersha dan Mama Ace patah arang. Malah semakin gencar mereka berusaha mengikuti festival menyanyi. Setiap ada spanduk dipinggir jalan yang mengiklankan lomba nyanyi, semangat Fiersha dan Mama Ace terpicu lagi untuk ikut. Diakui Mama Ace, tidak pernah ada penolakan yang mereka terima, lantaran alasan kekurangan pada diri Fiersha. "Sejauh ini kami tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu. Kalau ditonton dan diperhatikan banyak orang karena melihat Fiersha, itu sering. Dan bagiku itu lumrah. Mungkin mereka merasa kasihan melihat keadaan Fiersha," ujar Mama Ace Jumawa.
Dulu ketika Fiersha belum lahir, Mama Ace mengaku memiliki perasaan sama ketika melihat anak dengan kelainan. Sebut saja tunanetra. Namun belakangan setelah Fiersha hadir ditengah kebahagiaan keluarganya, perasaan itu justru berubah. Apalagi dengan kelebihan yang ada pada Fiersha. "Fiersha itu mandiri kok. Ia merasa enjoy dengan apa yang ada pada dirinya. Jadi tidak perlu dikasihani. Fiersha bisa menjadi dirinya sendiri, papar Mama Ace.
Kacamata Kuda
Fiersha sering mendapat perlakuan tak menyenangkan dari teman - teman dan lingkungan. Tapi ibarat berjalan, mereka memakai kacamata kuda. Tidak perlu lihat kiri atau kanan. Ejekan teman - teman sebaya Fiersha sudah tak lagi mempan. Bahkan ejekan demi ejekan dijadikan cambuk untuk memecut semangatnya. "Supaya Fiersha tidak sakit hati, aku sering bilang ejekan - ejekan itu hal biasa. Kan Fiersha artis. Padahal waktu itu kita belum masuk Mama Mia loh, ha ha ha," kata Mama Ace berseloroh.
Apa yang didapat sekarang, bagi Mama Ace belum maksimal untuk Fiersha. Pasalnya, Fiersha masih harus bersaing dengan peserta lainnya untuk menjadi juara. Mereka tidak mau berbangga hati dulu meskipun nilai vote lock yang mereka dapatkan dari juri selalu memuaskan hati. "Kami masih dalam tahap berikhtiar. Kami berharap tapi mau berlebihan. Takutnya kalau nggak kesampaian malah kecewa. Keputusan apapun yang akan kami dapat nanti, kami akan terima dengan lapang dada. Yah, syukur - syukur bisa menjadi pemenang. Siapa sih yang nggak mau menang ? "terang Mama Ace.
Dengan nada malu - malu disertai tertawanya yang khas Fiersha mengungkapkan, kelak ia ingin menjadi guru musik. Selain musik, menulis adalah hobi lain Fiersha. Bahkan Fiersha sudah menulis puluhan puisi dan cerpen yang diilhami dari pengalaman pribadi. Sebuah puisi tentang kegigihan Mama Ace merawat Fiersha pun sudah dituangkan dalam secarik kertas. "Aku kepengin banget menjadi seorang penulis nantinya. Aku memang suka menulis puisi dan cerpen," kata Fiersha.
Menanggapi ejekan - ejekan yang sering diterimanya, Fiersha menjawab enteng. Katanya, sudah tidak mempan lagi ejekan - ejekan itu bagi dirinya. "Aku sering diejek waktu mau jajan ke warung depan. Tapi ya sudahlah, aku nggak mau peduli. Meskipun mereka bilang aku buta kek, apa kek, aku nggak mau peduli," katanya.
Sekolah Biasa
Sejak masuk SD Wiayata Guna, Fiersha memang sudah mengikuti program pendidikan inklusi, sebuah program penyetaraan penyandang cacat dengan anak - anak normal yang disokong oleh pemerintah dan Badan PBB UNESCO. Fiersha sekolah bersama anak - anak normal. Meskipun dalam belajar Fiersha menggunakan huruf braile. Ketika SMP pun, Fiersha masuk SMP Negeri 47, sekolah yang juga menerapkan program pendidikan inklusi.
Disekolah ini Fiersha diperlakukan seperti murid - murid lainnya, tidak mendapatkan keistimewaan. "Lumayan susah mengurus agar Fiersha bisa bersekolah di sekolah biasa, negeri pula. Aku harus mengurus kesana - sini, ribet juga. Tapi akhirnya alhamdulillah Fiersha diterima," kata Mama Ace bahagia.
Meski memiliki kekurangan Fiersha mengalahkan anak - anak normal. Meski sudah dikenal banyak orang, rupanya Fiersha tak ingin menghentikan prestasi menyanyinya di Indonesia saja. Ia memiliki cita - cita untuk go internasional. "Yah, cita - citaku memang kepengin go internasional. Karena belum ada penyanyi yang seperti aku bisa go internasional," katanya bangga.
Fiersha berharap, bukan cuma gambarnya saja yang sampai keluar negeri (dalam beberapa buku terbitan Unesco, foto Fiersha memang terpampang dibeberapa halaman). Kalau bisa Fiersha juga diberi kesempatan keluar negeri, apalagi untuk menyanyi. "Ya mudah - mudahan saja Fiersha bisa go internasional. Dia belum pernah keluar negeri dan naik pesawat. Jika memang cita - cita go internasional itu terwujud, adalah kesempatan bahwa dengan kekurangan yang disandangnya, ternyata Fiersha bisa berprestasi dimata dunia," kata Mama Ace berharap.
Sebagai gadis yang memiliki kekurangan, Fiersha memang bisa dikatakan hebat. Ia juga tak pernah memikirkan kelak menjadi apa. Yang ia inginkan hanya ingin membuktikan dirinya bisa melebihi anak - anak normal dan berprestasi dengan yang ia bisa.(Tabloid Jelita/Ijs)