Sosbud
21-Jul-2007 12:24:16 WIB
PROFIL
Ajeng Astiani : Bintang Dari Padang Gersang



Saat itu, memang tak seorangpun sadar ia adalah bintang yang tertutup tebalnya debu jalanan. Ajeng ibarat bongkahan emas berlapis tebalnya asap kendaraan. Tapi kini kilau emas nan mungil itu mulai berpendar. Bintang yang tadinya redup perlahan bersinar.

Tiga tahun lamanya, Ajeng Astiani berkutat dengan kerasnya kehidupan jalanan. Naik turun dari 1 bis ke bis kota lainnya. Dideretan bangku belakang, Harry ayahnya dengan tulus mengiringinya dengan petikan gitar. Sementara Mama Cindy dengan suaranya yang lumayan bagus, turut menjadi backing vocal. Dari situ Ajeng berharap plastik kumal bekas bungkus minuman yang ia sodorkan terisi uang recehan.

Menggelandang di Stasiun Senen

Sejak menderita penyakit paru - paru, Harry yang ternyata seorang musisi, praktis tak bisa apa - apa. Seluruh hartanya terjual habis untuk biaya hidup dan berobat. Hutang menumpuk dimana - mana. Tak ada lagi rumah untuk berteduh, juga tak ada setitikpun belas kasihan yang didapat dari teman - teman atau kerabat dekatnya. Ia mencoba menghubungi teman - temannya yang sudah sukses seperti Deddy Dores, Jamal Mirdad, Kuntet Mangkulangit, Johnny Iskandar. Meski sudah mengesampingkan harga diri dan nyaris memohon layaknya pengemis kepada mereka, tetap saja kekecewaan yang didapat.

Harry putus asa, lalu mengajak istri dan 6 anaknya hidup menggelandang. Stasiun Senen, persisnya disebelah WC umum yang beraroma tak sedap adalah saksi bisu kemelaratan keluarganya. Kurang lebih 3 bulan lebih lamanya Ajeng dan saudaranya tinggal dari 1 stasiun ke stasiun lain. Dilantai Stasiun Senen yang dingin dan kotor, hanya beralaskan kardus bekas, setiap malam Harry meninabobokan Ajeng dan ke 5 anaknya. "Paginya kami dibangunkan petugas stasiun. Disuruh pindah meskipun mata kami masih mengantuk. Makanya supaya tidak terus dimarahi petugas, kami berpindah - pindah dari 1 stasiun ke stasiun lain," kata Mama Cindy seraya terbata - bata.

Ajeng memang anak kurang beruntung yang dilahirkan dengan segala kekurangan. Tiga tahun lalu, tepatnya ketika ayahnya menderita penyakit paru - paru stadium 2, ia memutuskan berhenti sekolah. Padahal waktu itu ia baru kelas 2 SD. Harry tak bisa lagi menafkahi keluarganya. Ibaratnya, urat nadinya dipotong sekalipun, tak akan keluar uang dari situ. "Akhirnya aku bersama Ajeng memutuskan untuk mengamen. Mencari uang untuk berobat ayahnya dan membeli susu 4 adik Ajeng yang masih kecil - kecil, kata Mama Cindy yang pernah mencari uang dengan bekerja sebagai pembantu rumahtangga.

Diperkampungan kumuh, disebuah gubuk yang terbuat dari kayu dan kardus (pernah dijadikan lokasi untuk sinetron Rumah Kardus), didaerah Pedongkelan, Jakarta Timur, Ajeng dan keluarganya diterima menetap oleh masyarakat setempat. Dengan ukuran kamar tidak lebih dari 2 x 2 meter, seluruh keluarga Harry yang berjumlah 8 orang tidur berhimpitan. Panas gerah bukan masalah, asal mata bisa terpejam barang sejenak. Disitulah dengan kondisi yang serba tidak menguntungkan, penyakit paru - paru Harry bertambah parah.

"Kalau banjir, anak - anakku malah berenang. Tidak peduli disamping mereka banyak kotoran manusia yang mengambang. Mereka benar - benar anak - anak yang mandiri dan mengerti kesulitan orangtuanya." kata Mama Cindy tak kuat menahan airmatanya.

Ngamen

Dengan segala himpitan hidup, Ajeng akhirnya bertekad membantu sang mama. Buku pelajaran ia tanggalkan, alat tulis pun dilupakan. Dalam benaknya cuma satu, bagaimana caranya adik - adiknya bisa minum susu dan penyakit ayahnya bisa diobati. Mengamen adalah cara satu - satunya paling mudah untuk mencari uang. "Gagasan mengamen muncul waktu aku dan Ajeng asyik menyanyi didepan rumah di Pedongkelan. Kata Ajeng suara kami bagus, kenapa tidak ngamen saja. Nah, dari situ kemudian aku dan Ajeng mulai ngamen, "kata Mama Cindy.

Mama Cindy tidak bisa berkata banyak manakala ditanya mengapa Ajeng harus putus sekolah. "Mau tidak mau, Ajeng memang harus berhenti sekolah. Karena kami sudah tidak bisa lagi membiayainya. Untuk makan saja carinya setengah mati, apalagi mikirin sekolah, "kata wanita asal Semarang ini.

Sebetulnya banyak orang yang ingin memungut anak dan membiayai sekolah Ajeng. Tapi nyatanya perlakuan kasar mereka justru dirasakan Ajeng. "Katanya mau jadi orangtua angkat, tapi wajah Ajeng malah dilempar dengan remah roti," tambah Mama Cindy.

Awalnya terasa berat. yang namanya jalanan, sudah pasti identik dengan beringas dan urakan. Pengamen - pengamen lama, dengan wajah sangar belepotan debu, melirik sinis Ajeng dan mamanya. "Kami sempat di kurang ajarin mereka. Mungkin karena pengamen baru. Tapi kami berusaha berperilaku dan bersikap baik terhadap mereka. Akhirnya mereka malah malu sendiri, terus membuka jalur untuk kami," kata Mama Cindy.

Masalah tidak berhenti sampai disitu. Ketika anak - anak jalanan mulai menerima kehadiran Ajeng dan keluarganya, kelakuan sopir yang ugal - ugalan dijalan sempat membuat Ajeng jatuh terjerembab. "Waktu itu Ajeng sedang mengejar bis kota. Mau ngamen. Bis sempet berhenti, tapi ketika kaki Ajeng sudah naik satu, sopir malah tancap gas. Mungkin nggak senang dan sengaja ingin ngerjain kami. Ajeng jatuh. Badannya lecet - lecet. Bahkan ada luka ditangannya yang tidak bisa hilang," cerita Mama Cindy.

Dari hasil ngamen, cukup banyak uang yang didapat Ajeng. Satu hari, setelah menyisir kawasan Cawang, Semanggi, Grogol, Kalideres, Blok M, uang 50 ribu rupiah bisa terkumpul. Uang itu nantinya dibawa pulang. Dibelikan kebutuhan untuk adik - adik Ajeng dirumah, untuk beli beras dan makanan. Jika ada sisanya, digunakan untuk bayar utang di warung. "Dari uang yang ada kumpulkan akhirnya Ajeng dan adik - adiknya bisa sekolah lagi. Aku bahagia sekali. Nggak percaya waktu itu pagi - pagi bisa melihat Ajeng dan adik - adiknya berangkat sekolah memakai seragam merah putih lagi. Bahagia banget aku bisa menyiapkan lagi sarapan untuk mereka sebelum berangkat sekolah. Kayak mimpi. Soalnya sudah lama sekali Ajeng tidak sekolah, sekitar 4 tahunan," katanya.

Karakter Ajeng Dibentuk di Jalanan

Jalanan, jelas banyak membentuk karakter Ajeng. Diusianya yang masih sangat muda, Ajeng menjelma menjadi gadis mandiri, cuek dan tidak peduli dengan cibiran orang. "Sampai sekarangpun, meskipun sudah masuk 10 besar Mama Mia, Ajeng masih cuek. Nggak bagus juga karena aku takut orang - orang justru menggangapnya sombong," tutur Mama Cindy.

Pernah satu kali kejadian saat show Mama Mia. Dengan cueknya Ajeng duduk sambil angkat kaki. "Ajeng nggak sadar kalau dia sedang ada di Mama Mia. Kebiasaan Ajeng waktu duduk diterminal terbawa - bawa ke Mama Mia. Aku sih sudah peringatkan soal itu," kata Mama Cindy.

Acuh dan cuek memang telah terbentuk dalam diri Ajeng. Ia tak perlu lagi malu berhadapan dengan banyak orang. Karena dalam sehari - hari ia selalu bertemu dan berhadapan dengan ratusan orang di bis kota. "Kami sudah terlalu sering dihina orang, jadi sudah kebal. Cibiran dan omelan dari penumpang yang tidak senang atas kehadiran kami , itu sudah hal yang sangat lumrah dalam keseharian kami. Ajeng sudah nggak peduli," kata Mama Cindy.

Sejarah masa lalu yang pahit, telah membawa Ajeng ke ajang Mama Mia. Sejarah itu pula yang membuatnya memiliki harapan dan semangat untuk terus berjuang dalam hidup. "Kami tidak melupakan sejarah masa lalu. Sejarah yang sangat panjang. Karena jika kami melupakan, Tuhan pasti murka. Kami tidak merasa menjadi bintang dari padang gersang," tutur Mama Cindy yakin.

Bukan Terpaksa

Sementara Ajeng mengaku, bukan dengan keterpaksaan ia menjalani pengamen. Ia tidak keberatan melepas masa kanak - kanaknya yang bahagia untuk membantu orangtuanya. "Kadang ada perasaan capek dan jenuh. Tapi kalau Ajeng balik melihat mama, papa dan adik - adik, rasa capek dan jenuh semuanya hilang. Ajeng nggak mau melihat mama dan papa menangis. Ajeng juga nggak mau melihat adik - adik Ajeng susah," harap Ajeng, kelahiran Jakarta, 24 November 1994.

Sejujurnya ada perasaan kecewa ketika Ajeng harus meninggalkan bangku sekolah. Tapi apa mau dikata, kondisi keluarga memaksanya. "Tapi sejauh ini aku asyik - asyik saja kok, "katanya.

Ada keinginan tulus dalam hati Ajeng bila nantinya ia meraih sukses diajang Mama Mia. Dengan suara yang sudah diberikan Tuhan sekarang, Ajeng berharap bisa memberikan kehidupan layak untuk orang - orang yang ia cintai. "Terutama kedua orangtuaku dan teman - teman. Mudah - mudahan aku bisa membelikan rumah untuk mama dan papa, biar nggak usah pusing mikiran bayar kontrakan lagi, "katanya berharap.

Meski hidup tak berkecukupan Ajeng tetap bangga ketika bisa masuk 10 besar Mama Mia. Tapi aku nggak mau sombong, karena perjalanan di Mama Mia masih sangat panjang. Aku tidak mau lupa diri dan rendah hati. Nanti kalau aku sudah menjadi artis terkenal pun, aku ingin tetap mengamen. Tapi nggak setiap hari, dalam seminggu mungkin 3 kali ngamen untuk menghibur orang. Kan nggak ada salahnya menyenangkan orang lain. Pokoknya, sejarahku sebagai pengamen tidak boleh dilupakan," ujar Ajeng.

Sampai sekarangpun Ajeng dan orangtuanya masih tetap mengamen. Tapi kali ini ada misi tambahan. "Selain cari uang, aku juga cari dukungan dari para penumpang," katanya.

Perjuangan Ajeng dan keluarganya pantas dibanggakan dan ditiru. Mereka adalah cerminan sebuah perjuangan yang gigih. Ditengah kepungan dan deraan kesulitan, mereka pantang menyerah. Karena mereka yakin, Tuhan tidak pernah tidur. Tuhan pasti melihat derita umat-Nya, dan bisa dengan mudah mengubah nasib bila terus berdoa, bersabar dan berusaha.(Tabloid Jelita/Dv/Ijs)

Nama:
Email:

More PROFIL:
[ more Profil ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :