Sosbud
19-Dec-2007 09:54:40 WIB
PROFIL
Dr Munti Yuhana : Penelitian Dunia Yang Mengasyikkan



Bagi Munti Yuhana, Spi.M.Si, saat ini menjadi waktu yang tepat untuk memulai penelitian agar bisa mengukir nama peneliti Indonesia di GenBank di Amerika Serikat (Pusat database DNA yang didirikan tahun 1982, red). Disela-sela kesibukannya sebagai dosen fakultas perikanan Institut Pertanian Bogor (IPB), wanita yang lahir 37 tahun lalu ini terus mencari sumber-sumber mikrobiologi yang bermanfaat bagi manusia dan ini menjadi keharusan yang selalu ditekuni.

Mikrobiologi Indonesia Paling Lengkap

Munti adalah salah satu pemenang Fellowships for Women in Science 2007 untuk kategori Material Sciences, yang dilombakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Departemen Riset dan Teknologi beberapa waktu lalu. Baginya, meneliti adalah dunia yang sangat mengasyikan untuk dilakoni. Bahkan Munti rela menomor duakan kehidupan pribadinya, demi menghasilkan sebuah kumpulan bakteri mikroba yang layak untuk dimanfaatkan.

Ketertarikannya terhadap mikrobiologi air khususnya hewan laut menjadi perhatian profesornya di Indonesia. Karena itu ketika ditemukan seekor ikan Raja Laut, jenis ikan purba yang dikenal dengan sebutan Coelacanth (Coelecanth latemeria) di perairan Sulawesi Utara, sang profesor memintanya untuk melakukan penelitian

Hasil penelitian dan uji laboratorium terhadap jenis hewan langka tersebut menunjukkan adanya jenis ikan yang hidup semasa dinosaurus. Kemampuannya bertahan hingga abad ini dikarenakan jenis makanan yang dikonsumsinya berupa plakton dan jenis microbiologi banyak terdapat diperaian Indonesia. Itu mengapa ikan purba itu mampu bertahan hingga kini. Penemuan hewan jenis ikan purba itu merupakan yang kedua kalinya setelah penemuan pertama dengan jenis yang sama juga terjadi di pantai Manado oleh sejumlah nelayan ditahun 1998. Berdasarkan penemuan itu, Munti kemudian menyimpulkan bahwa bakteri dan mikrobiologi di Indonesia tergolong paling lengkap untuk jenis wilayah tropik.

Tesis 8 Jam

Wanita yang lahir dan tumbuh besar di kota Pacitan, Jawa Timur ini tidak pernah menyangka perjalanan hidupnya akan sampai sebagai peneliti, apalagi sebagai ilmuwan. Anak ke-6 dari 8 bersaudara ini, hanya bercita-cita menjadi guru, mengikuti jejak kedua orang tuanya sebagai guru SD negeri di kota tempat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lahir dan sekolah. "Mulai dari SD, SMP, dan SMA hingga kuliah, saya bersekolah ditempat yang sama dengan Presiden SBY," cerita Munti.

Ketertarikannya terhadap ikan dan hewan air, mulai tumbuh ketika memasuki masa di SMA. Untuk mengikuti minat dan kata hatinya itu, dia rela berpisah dengan saudara dan kedua orang tuanya menuju ke Bogor. Di fakultas Ilmu Periakanan persisnya, dia menimba ilmu tentang kehidupan hewan air.

Bagi penyuka Lumenus Bakteri (Bakteri Kunang-kunang) ini, terpilih menjadi pemenang lomba bergengsi seperti Fellowships for Women in Science 2007 itu adalah yang pertama kali diraihnya. Ajang semula yang pernah digelar tahun 2004 lalu, gagal diikutinya karena harus mengikuti pendidikan penelitian di pegunungan Alpen, Switzerland.

Berdasarkan pengamatannya, para peserta yang pernah masuk menjadi pemenang dalam ajang bergengsi ini memiliki pengalaman dan latar belakang lebih lama dan matang dibidangnya masing-masing. "Semula saya sudah melupakan rencana mengikuti Womens Sciences ini, karena saya harus berangkat keZurich menjadi asisten dosen. Tiket pesawat sudah saya pegang," jelasnya.

Namun niat baik untuk meniti karir di Indonesia itu memang harus dilakoninya. "Termasuk harus mengorbankan kesempatan tawaran menjadi guest researcher dan senioar researcher di University of Zurich selama satu tahun," Munti menambahkan sambil tersenyum. "Seorang teman sesama dosen meminta saya untuk mengkoreksi judul bahasa Inggris dari salah satu tesisnya. Ternyata tesis tersebut untuk lomba itu. Ia pun menyarankan saya untuk mengikutinya. Sempat panik, karena tidak ada bahan tulisan. Tetapi ide sudah ada di kepala."

Selama waktu yang tersisa sekitar 8 jam itu, tidak disia-siakan oleh Munti. Dengan cepat ia menuliskan dan memasukan data analisa hasil uji penelitiannya tentang eksplorasi keragaman komunitas mikroba dalam microbial flocs yang sangat bermanfaat dalam peningkatan produktivitas pada usaha tambak udang intensif. Penelitian yang masih dalam pengujian lapangan dan massal itu, berhasil dikembangkan di tambak-tambak udang di Lampung.

Untuk menghasilkan bakteri menguntungkan sebagai penyeimbang bakteri patogen memang dibutuhkan waktu penelitian khusus di Indonesia. Waktu yang ditempuh pun tidak bisa dalam sekejap, tapi dengan melakukan pengujian secara rutin, baik secara struktur maupun massal. Berdasrkan proses itu, tingkat keberhasilan baru bisa dicapai dalam waktu dua atau tiga tahun kedepan. "Pertanyaannya adalah apakah mempunyai cukup dana untuk melakukan research terhadap itu," jelasnya

Mengetahui peserta lainnya merupakan para seniornya, Munti pun tidak berharap banyak dengan hasil tulisan singkatnya itu. Apalagi, hasil karyawanya itu harus bersaing dengan 7 orang peserta lain yang memiliki hasil penelitian lebih baik. "Waktu itu ada pengajuan hasil analisis terhadap flu burung, itu kan lagi sering di bicarakan, sementara saya hanya pemberantasan bakteri pada peternakan udang," paparnya.

Nasib berkata lain, berdasarkan penilaian panitia, Munti berhasil meraih juara kedua untuk kategorie Material Sciences. Sementara gelar grant recearch atau juara pertama diduduki oleh Uun Yanuhar Dosen Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang.

Capailah Pilihan Sendiri

Walaupun bukan posisi pilihan, namun cita-citanya menjuarai ajang tingkat dunia ini berhasil meraih kesuksesan. Tidak hanya itu, Munti juga akan diikutsertakan di lomba yang sama dengan ajang yang lebih besar yakni tingkat dunia. Pesaing pun tentunya lebih banyak dan kompetisi yang lebih sulit.

Munti menganggap apa yang diraihnya sebagai pengalaman berharga sekaligus awal dari karier di tempat kerjanya sebagai dosen. Keberhasilannya ini bisa dijadikan acuan untuk mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi di kantornya itu. Setidaknya keberhasilannya di Woman in Science, telah melengkapi jenjang kepangkatannya di dunia pendidikan. Gelar professor pun hampir diraihnya dalam waktu dekat. "Tapi bukan itu yang menjadi tujuan, karena orang tua saya mengajarkan, teruslah belajar jangan berhenti sampai akhir hayatmu, tekunilah satu ilmu dan ajarkan kepada orang lain agar manusia Indonesia pintar dan cerdas," tandasnya mengakhiri perbincangan.(Bagus Herawan/Ijs)

Nama:
Email:

More PROFIL:
[ more Profil ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :