
Pemeran utama film Cut Nyak Dhien seakan terpatri dalam dirinya. Menurut Christine, Cut Nyak Dhien memiliki nilai besar dan kuat. Berani membuka mata menghadapi musuh dan tradisi yang mempermasalahkan gender dan persoalan hidup lainnya.
Sosok Christine Hakim, tentu tak terlepas dari perjalanan karir sebagai aktris film yang selalu erat dengan akting - aktingnya yang prima disetiap filmnya. Pantas Christine sering memperoleh Piala Citra. Kiprahnya sebagai bintang film sudah mendunia. Aktris dan produser film ini telah mengukir beberapa prestasi internasional, antara lain pernah menjadi anggota Dewan Juri Festival Film Internasional Cannes (FFIC) ke 55 di Perancis, 15 - 26 Mei 2002. Di festival itu penerima penghargaan Nikkei Asia Prizes bidang kebudayaan dari koran besar Jepang, Nikkei Shimbun ini duduk sederet dengan juri lain, Sharon Stone dan Michele Yeoh. Panel juri diketuai oleh sutradara terkenal AS David Lynch.
Kini Christine lebih suka bergerak dibelakang layar. Ia lebih fokus sebagai produser film. Daun di Atas Bantal dan Pasir Berbisik adalah film produksinya. Aktivitas Christine selalu bersentuhan dengan kegiatan sosial, terutama dengan anak - anak. Menurutnya anak - anak adalah cikal bakal dari sebuah bangsa. Sebuah bangsa akan tumbuh besar dan berkualitas apabila kesejahteraan dan pendidikan anak diperhatikan sejak usia dini.
Melihat begitu seriusnya perhatian Christine terhadap anak - anak, UNICEF mengangkatnya menjadi Duta Anak Indonesia. Itu juga yang menjadi alasan Christine menerima tawaran Arswendo Atmowiloto membintangi film Anak - anak Borobudur. Film yang menggambarkan kejujuran dan keberanian anak membela sesuatu yang diyakininya benar.
Soal anak, sejak menikah dengan Edo Eduard Jeroen Lezer, Christine belum dikaruniai anak. Tapi kasih sayangnya terhadap anak dituangkan lewat anak - anak jalanan di Malioboro Yogyakarta, yang juga menjadi pemeran utama di filmnya Daun Diatas Bantal.
Sebagai aktris film Christine memegang teguh komitmen profesinya. Berkat komitmennya itulah Pemerintah RI memberinya penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma, sederajat dengan Bintang Jasa Utama. Kepada Alamanda dan fotografer ambil dari Jelita, Christine Hakim menuturkan soal film dan kehidupan.
Apa alasan utama Anda bermain di film Anak - anak Borobudur ?
Arswendo Atmowiloto itu idealis. Jika membuat sesuatu dia punya visi dan misi. Karena itu waktu dihubungi saya yakin kwalitas film seperti apa yang akan dibuatnya. Walau saya sendiri belum menerima skenario dan saya tidak bicara masalah honor, saya sudah menyatakan bersedia. Difilm ini saya semakin tertarik, karena konteksnya mengangkat soal kejujuran. Secara sinematografi dan artistik film ini mempunyai standar yang baik, terutama jika diikutsertakan ke festival - festival film.
Tampaknya Anda sekarang lebih tertarik dengan film yang mengangkat soal anak - anak ?
Ha ha ha .... Benar, karena anak - anak adalah masa depan. Mereka yang akan memajukan negeri ini dimasa datang. Tapi itu tergantung bagaimana kita mendidiknya. Mereka generasi penerus, mereka aset, mereka investasi kita. Harus dipupuk, dibina, dijaga, dilindungi. Saya tidak percaya investasi negara hanya ekonomi saja. Lalu pertanyaan saya siapa yang akan menggerakkan ekonomi kalau bukan manusianya ? Dan sekarang, kita tidak pernah memikirkan secara serius, manusia seperti apa yang akan dilahirkan nanti. Di Indonesia ada 13 stasiun teve swasta. Berapa yang masih punya program khusus untuk anak - anak ? Tidak lebih dari 5. Bayangkan. Selebihnya program - program yang tidak pantas dikonsumsi oleh anak - anak.
Apakah film Anak - anak Borobudur jawaban tidak adanya film anak - anak yang baik ditengah bangkitnya perfilman nasional kita ?
Benar. Masyarakat selalu mengeluh, selalu mengritik, tidak ada film anak - anak yang baik. Sekarang dibuat oleh orang gila semacam Mas Wendo, yang berani mengeluarkan uang dengan menggadaikan rumahnya untuk membuat film anak - anak yang bermutu. Ini wajib kita apresiasi. Harapan saya mudah - mudahan, film ini bisa menginspirasi keluarga Indonesia, anak - anak Indonesia, agar mereka bisa lebih berprestasi, agar anak - anak bisa lebih bersikap jujur.
(Sebagai aktris Christine banyak belajar dari almarhum Teguh Karya yang identik dengan film - film bermutu. Selain menggali ilmu dari Teguh, Christine selalu membuka pikiran, hati, mata, dan perasaannya. Kadang - kadang juga membuka telinganya. Seperti di filmnya Daun Diatas Bantal, Christine tidak segan - segan belajar dari anak - anak jalanan di Malioboro, Yogyakarta).
Sejak kapan Anda tertarik dengan film anak - anak ?
Terus terang ini tidak terlepas dari proses perjalanan panjang seorang Christine Hakim. Tahun 1977, saat saya mulai tertarik dengan film - film yang mengangkat tema sosial, politik dan budaya, pada akhirnya tidak bisa dihindari subyektifitas saya, kekhawatiran saya, insting saya, dan komitmen saya, akan pentingnya sebuah regenerasi. Omong kosong kalau kita berbicara regenerasi tanpa menyentuh persoalan anak - anak. Setelah saya pahami, saya lihat, saya dengar, saya cerna, saya pikirkan, dan saya rasakan, muncul komitmen baru dalam diri saya. Apalagi saya ditunjuk kadi duta UNICEF, ketertarikan saya pada anak - anak semakin kuat.
Sebagai Duta UNICEF, Anda melihat seperti apa anak - anak Indonesia ?
Saya kasihan melihat anak - anak Indonesia yang kurang mempunyai ruang dan waktu, kebebasan, untuk betul - betul tumbuh optimal. Apalagi setelah krisis ekonomi seperti sekarang ini, puluhan juta anak terkena gejala busung lapar, karena gizi buruk. Saya miris melihat ini. Generasi seperti apa yang akan dihasilkan nanti. Untuk membenahi ini perlu keterpaduan menyeluruh. Jangan hanya kita benahi pendidikan, tapi soal kesehatannya setengah - setengah. Bagaimana anak akan menyerap ilmu dengan baik dan benar kalau dia tidak sehat. Pertumbuhan IQ nya bagaimana ? Ini yang memprihatinkan. Ditengah - tengah situasi masyarakat yang menawarkan gaya hidup konsumtif, banyak anak Indonesia yang kehilangan jati diri. Semua ini akibat pola didik yang salah, selalu mengacu pada materi. Didiklah anak - anak dengan cinta kasih dan ketulusan. Kalau semua bisa dipegang, saya yakin tidak akan ada anak - anak jalanan di Indonesia.
Apakah Anda bangga menjadi orang Indonesia ?
Sangat bangga, bahkan dalam berbagai kesempatan, terutama kesempatan menghadiri acara - acara perfilman internasional, saya selalu berusaha melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk Indonesia. Kalau seandainya saya present diri saya sendiri, orang juga pasti ingin tahu tentang Indonesia. Kan ada kesempatan yang memang harus dimanfaatkan ? Artinya, itu kan gatheringnya orang film dunia. Lain lagi kalau hanya mempresentasikan diri saya tanpa membawa misi ?
Bagaimana mental budaya anak - anak Indonesia ditengah globalisasi seperti sekarang ini ?
Mereka berdiri di persimpangan dalam keadaan budaya yang gamang. Mau jadi orang barat nggak mampu. Jadi orang Indonesia nggak bangga. Ada dekadensi. Sebab itu saya bersama teman - teman baik dari dunia usaha maupun kalangan perfilman berusaha mengangkat kembali budaya - budaya luhur itu, agar kita bangga menjadi orang Indonesia.
Dan ini tentunya tidak mudah ?
Jelas. Tapi saya harus mempunyai keyakinan. Kalau itu mutlak bukan dalam bentuk agama saja. Tapi keyakinan adalah keyakinan dalam melakukan sesuatu. Tentu tidak sekadar slogan kosong, tapi perlu saya perjuangkan.
(Kemampuan akting Christine Hakim sudah diakui. Sejak film Cinta Pertama, yang dimainkan bersama Slamet Rahadjo Djarot langsung menyabet Piala Citra. Ia pekerja yang baik dan profesional. Dalam berbagai kesempatan, terutama kesempatan internasional, ia selalu berusaha melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk Indonesia. Ia sering tampil sebagai pembicara dalam berbagai symposium internasional, seperti tahun 1994 di Womens Film Festival Kyoto Jepang. Tahun 2002, ia tampil sebagai pembicara dengan makalah yang berjudul Emergencies Discovering The New Generation of Asian Women Film).
Seperti apa kondisi perfilman Indonesia sekarang ?
Saya rasa perfilman kita masih dalam taraf berjuang. Tapi kalau saya lihat dari sisi industri, jelas ada peningkatan. Dua tahun lalu ada 12 judul yang diproduksi, sekarang sudah 14 judul. Tapi kalau dari segi tematik dan kualitas, harus dioptimalkan. Saya sangat rindu melihat film - film yang dihasilkan sekualitas almarhum Teguh Karya. Kalau saya melihat kondisi seperti sekarang, memang agak sulit.
Membutuhkan komitmen dan dedikasi yang tinggi agar bisa menghasilkan film - film sekelas Teguh Karya. Justru yang menjadi kekhawatiran saya sekarang ini adalah idealisme para insan perfilman kita sudah agak luntur. Mereka lebih money oriented. Bukan semua seperti itu, masih ada beberapa yang mempunyai dedikasi tinggi. Tapi konyolnya kiprah mereka tertutup, karena sudah didominasi film - film yang money oriented ini.
Dari sineas muda kita siapa yang bisa menghasilkan film - film bermutu ?
Saya melihat ada Rudy Sudjarwo, seperti menemukan almarhum Teguh Karya. Hanya kalau almarhum Teguh Karya lebih kental dengan sisi artistiknya, Rudy lebih kepada sisi directing. Ada lagi Maruli Ara, hanya sayangnya Maruli sekarang sedang asyik membuat sinetron. Ada juga Garin Nugroho, Riri Reza, Nia Dinata, banyak sebenarnya sineas muda kita yang berpotensi.
Kapan Anda akan membuat film lagi ?
Yah, nanti kalau ada orang gila yang mau menginvestasikan uangnya, ha ha ha .... Tapi saya masih punya obsesi membuat film mirip Cut Nyak Dhin, judulnya nantilah .....
Kenapa Anda begitu tertarik dengan Tjut Nyak Dhien ?
Sebetulnya tidak juga. Kebetulan Tjut Nyak Dhien saya bintangi. Tapi jujur saya akui, Tjut Nhyak Dhien merupakan film yang sangat fenomenal dalam karir saya sebagai bintang film dan juga sebagai manusia. Karena melalui film ini banyak nilai - nilai yang saya dapatkan sebagai bekal saya melangkah, dari proses pembuatan film atau karakter Tjut Nyak Dhien itu sendiri.
Apakah Anda akan menjadi Tjut Nyak Dhien didunia perfilman Indonesia ?
Saya tidak ingin menjadi siapa - siapa. Saya hanya mau menjadi diri saya sendiri. Saya terinspirasi dengan konsistensi perjuangan Tjut Nyak Dhien . Saya banyak belajar dari Tjut Nyak Dhien, bahwa jika kita ingin mencapai apa yang kita inginkan harus konsisten dan konsekwen dengan apa yang kita perjuangkan. Nggak bisa berhenti ditengah jalan.
Kenapa sekarang Anda lebih banyak dibelakang layar ?
Sekarang dan realistis saja. Sejak saya menikah, saya harus membagi waktu. Dengan bekerja dibelakang layar saya jadi lebih mudah memanaj waktu. Karena aktivitas saya sekarang tidak hanya difilm, tapi juga banyak melakukan kegiatan sosial. Saya mau semuanya berjalan seimbang.
Artinya Anda rela untuk tergusur dari pentas perfilman nasional ?
Oke, kalau mau dilihat dari sejarah perjalanan karir saya ditambah dengan kondisi perfilman nasional kita yang saat ini banyak dikuasai oleh para sineas muda, saya harus realistis. Biarlah saya berbagi dengan mereka untuk meneruskan perjuangan didalam dunia film. Tapi ada hal lain, yang saat ini terus terang menjadi skala prioritas hidup saya, yang mengacu kepada keberadaan saya sebagai manusia. Saya ingin lebih memfokuskan aktivitas sosial saya, apakah itu didunia pendidikan maupun kesehatan yang khususnya ada kaitannya dengan anak - anak. Dan itu juga yang menjadi obsesi saya.
Film - film produksi Anda seperti Daun di Atas Bantal, nilai komersilnya agak kurang, apakah Anda tidak ingin mengikuti trend ?
Saya tahu film produksi saya tidak begitu komersil. Saya tidak ingin membuat film seperti era Teguh Karya, yang saya pikir itu memang jaman Teguh Karya. Tapi saya juga tidak ingin membuat film mengikuti trend. Saya adalah saya . Walau film - film saya tidak laku, saya tidak khawatir. Hidup adalah pilihan. Saya tidak hidup dari film, tapi dari Tuhan. Selama saya bisa menjaga hubungan baik dengan Tuhan maka saya tetap yakin, tidak takut kelaparan, tidak takut melarat. Tuhan bukan hanya menyertai tapi meridhoi setiap langkah hidup saya.
Itulah Christine Hakim. Wanita kelahiran Kuala Tungkal Jambi, 25 Desember 1956 ini selalu tampil anggun dan tenang. Ia memiliki kecantikan alamiah dan nyata. Kini obsesinya ingin mengoptimalkan kerja sosial yang kini menjadi aktivitas utamanya.(Tabloid Jelita/Dv/Ijs)