
Berikut petikan wawancaranya dengan Madina dan fotografer Devizar dari Jelita :
Secara global, bagaimana kondisi anak - anak Indonesia saat ini ?
Menurut saya, pemerintah kita setengah hati dan sepotong - potong mengurus permasalahan anak. Buktinya belum ada badan komprehensif yang mengurus permasalahan anak. Malah cenderung menumpang dibadan - badan lain seperti urusan wanita dan pemuda. Padahal seharusnya dibuat badan yang khusus menangani anak, misalnya seperti UNICEF secara spesifik.
Seperti kita tahu, kasus pelacuran bawah umur dan child traficking menjadi masalah nyata yang sampai saat ini tak tertangani. Menurut Anda, ada yang lebih serius dari masalah ini ?
Ada, masalah pelacuran pendidikan. Bayangkan, ada kecurangan pendidikan yang dilakukan guru dengan memberikan jawaban kepada anak murid. Ketika tertangkap basah, mereka bilang ini sudah menjadi kesepakatan rayon. How come ? Menyontek saja ada rasa deg - degan takut ketahuan, dan ini lebih parah dari menyontek karena jelas - jelas disahkan. Anak - anak sudah dibekali pelajaran melacurkan ilmu, berbohong dan korupsi nilai ujian. Parah sekali. Ini tragedi nasional.
Anda menyebut ini pelacuran ?
Yah. Pelacuran ada dimana - mana. Pelacuran agama, pelacuran politik, pelacuran pendidikan. Apapun namanya, ini tetap pelacuran. Dan parahnya, korbannya adalah anak - anak. Mau jadi apa negara kita ?
Seiring dengan perkembangan jaman, tentu anak - anak juga bisa menikmati hasil kemajuan itu. Benar begitu ?
Siapa bilang ? Banyak anak - anak penderita demam berdarah yang terpaksa pulang padahal belum sembuh karena saking banyaknya antrian pasien. Harga susu semakin mahal, hingga banyak yang tidak kuat membeli. Tidak ada lagi bagi - bagi susu gratis disekolah seperti dulu. Makin maju, tapi kondisi anak - anak justru makin terpuruk.
Anda baru saja melakukan kegiatan di Sidoarjo dan menggelar trauma center untuk anak - anak disana. Bagaimana kondisi anak - anak korban Lapindo ?
Saya ingin mengetuk hati masyarakat bahwa ada anak - anak menjadi korban akibat lumpur Lapindo. Ada seribu lebih anak - anak korban lumpur Lapindo yang mengalami tingkat depresi mengerikan. Anak - anak umur 4 tahun, tapi bicaranya sangat kasar ketika berbicara dengan orangtuanya. Cara becanda mereka sangat kasar. Perilaku mereka seperti orang dewasa, padahal masih SD. Tidak terkontrol. Ini jelas efek yang berbahaya kedepannya. Demo orangtua mereka sambil mengeluarkan kalimat kasar adn hujatan, kemudian melekat diotak mereka dan menjadi kebiasaan. Tidak perlu bertahun - tahun, beberapa hari saja dengan kondisi ini pasti akan membentuk watak yang tidak baik.
(Untuk mendirikan sebuah trauma center, menurut Roostein, membutuhkan waktu minimal 6 bulan. Sebab bukan hanya membagikan kue atau permen kepada anak - anak, tapi lebih kepada pendampingan. Melakukan tahapan terapi untuk mereka. Selalu ada ketika mereka merasa takut, sedih atau marah).
Depresi apalagi yang mereka alami ?
Mereka sudah masuk taraf malas belajar. Ini karena situasi yang sangat tidak mendukung. Bayangkan saja, mereka pergi kesekolah relokasi dengan truk seperti binatang. Mereka mesti tinggal dari satu pengungsian lalu terpaksa dipindah - pindah lagi karena tempatnya muncul lumpur baru. Bahkan berdasar keterangan beberapa orangtua anak korban lumpur Lapindo, malam hari mereka sering bermimpi buruk dan berteriak - teriak. Ini jelas dampak buruk.
Dilokasi pengungsian, dengan tenda darurat, anak - anak pasti tidak memiliki ruang cukup untuk bermain ?
Tentu. Yang sangat memprihatinkan, mereka sering menyaksikan kedua orangtua mereka saat melakukan hubungan biologis.
Dengan tekanan - tekanan psikologis tadi, akan jadi seperti apa anak - anak korban lumpur Sidoarjo ?
Jangan tunggu sampai umur mereka 17 tahun. Lima tahun kemudian mereka akan berubah menjadi pelaku anarkis yang berdarah dingin. Ada 3 trauma yang akan melekat dalam benak mereka. Pertama trauma rasa takut, sedih dan yang paling berbahaya adalah dendam. Tentu mereka akan membalas siapa dan apa yang membuat nasib mereka seperti sekarang.
Lalu, kira - kira solusi apa yang dianggap tepat untuk mencegah efek - efek berbahaya yang tadi Anda sebutkan ?
Trauma center itu mutlak harus ada. Anak punya mimpi dan dunianya sendiri. Berhak gembira, dilindungi dan merasa nyaman. Trauma center bertujuan untuk mengembalikan hak - hak yang hilang itu kepada mereka. Tapi sayangnya pemerintah belum sadar dengan ini. Karena bencana Lapindo karena humam error, bukan bencana alam, banyak yang justru tidak simpati.
Banyak yang memancing dalam air keruh. Memanfaatkan situasi untuk keuntungannya. Berdasar hasil penelitian Anda, adakah anak - anak korban Lapindo yang dijadikan pelacur oleh pihak tak tertanggung jawab ? Atau dijual begitu ?
Ada. Tapi aku tidak spesifik menangani itu. Bagi saya itu excess. Dengan keterpurukan keadaan dan ekonomi, mereka bisa dengan sangat mudah dibujuk menjadi pelacur. Apalagi, di Pulau Jawa sangat mudah untuk melacur. Pengalamanku di Atambua (Timor Leste), pernah 16 anak perempuan hilang dan tahu - tahu sudah ada dijadikan pelacur di Bali.
Anda menyebut pelacuran ada dimana - mana. Separah apakah kondisinya ? maksud saya pelacuran dalam arti sebenarnya ?
Nggak usah jauh - jauh, di Jakarta banyak anak - anak SMU menjajakan diri masih memakai seragam sekolah. Bukan karena mereka melarat, tapi alasannya cari duit pulsa dan ganti casing handphone. Ini penyakit metropolitan, cari gengsi bukan karena kebutuhan. Malah ada juga anak SMP yang umurnya masih 12 - 14 tahun. Anak - anak SMU sekali dibooking bisa dapat uang 100 sampai 125 ribu. Yang SMP sekitar 100 sampai 175 ribu. Kalau ditanya orangtuanya, mereka bilang pulang les. Malah ada remaja - remaja hamil yang pura - pura menjaga counter HP. Alasannya ada pria hidung belang yang suka booking remaja hamil !
Siapa yang harus disalahkan ?
Anak - anak itu tidak sepenuhnya salah juga. Tapi susah juga mengatasi masalah ini. Karena aparatnya sendiri juga masih bisa dibeli dengan uang. Kita tidak bisa ngomong apa - apa lagi kalau sudah begitu. Mau berbicara kesejahteraan anak tapi tidak didukung oleh faktor - faktor lain, sama saja bohong.
(Roostien tegas mengatakan ketidak setujuannya ketika lokalisasi Kramat Tunggak digusur. Itu bukan solusi, malah justru akan menyebarkan para WTS alumni Kramat Tunggak ke daerah - daerah lain. Ada yang terang - terangan, tapi dia juga yang sembunyi - sembunyi dengan menjual minuman 'plus'. Mengakomodir para WTS lebih tepat ketimbang mereka harus 'jemput bola'. Lokalisasi dianggap sebagai safety belt).(Tabloid Jelita/Dv/Ijs)