Sosbud
19-Aug-2007 12:49:57 WIB
PROFIL
Nungky Kusumastuti : Tari Adalah Jiwa Saya



Berita HOT:
Menari adalah dunia Nungky Kusumastuti. Tak sekadar lemah gemulai menggerakkan tubuhnya, bahkan Nungky bertekad menjadi pemikir seni tari. Niatnya menggebu mengenalkan dan mengembangkan tari tradisional kepada kaum muda, meski dihadang banyak kendala.

Jika sudah menari, Nungky Kusumastuti seakan lupa usia. Usianya telah memasuki seakan lupa usia. Usianya telah memasuki kepala lima. Tapi Nungky masih luwes. Meski tak segemulai dulu, toh gerak tubuhnya tetap mencerminkan ia penari handal. Dunia tari memang merupakan panggilan jiwanya, disamping film, sinetron dan teater.

Nungky mengenal dunia akting lewat almarhum Teguh Karya di film November 1928. Selain berkesenian, wanita yang pernah menari dihadapan Lady Diana, Bill Clinton, Corry Aquino dan Marthe Graham ini juga menjadi dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dan menjadi Pembantu Dekan I di Fakultas Seni Tari dan Pertunjukkan.

Tak sekedar menari, Nungky juga tergerak untuk mengenalkan dan mengembangkan seni tari, khususnya tradisional kepada kaum muda. Berikut petikan wawancaranya dengan Alamanda, Chaca dan fotografer Atok Sugiarto, dari Jelita :

Apakah menjadi penari harus memiliki bakat khusus ?

Benar. Menjadi penari memang harus mempunyai talenta khusus. Artinya sudah memiliki bakat dari lahir. Setelah itu, barulah diasah dengan mengikuti kelas - kelas khusus menari, sehingga kemampuan menari meningkat dan menjadi penari yang terampil. Jika hanya mengandalkan bakat dari lahir saja tidak akan cukup. Harus terus dilatih.

Sebagai artis sekaligus praktisi tari, bagaimana Anda melihat anak muda sekarang yang tidak tahu tari tradisional ?

Sebenarnya wajar - wajar saja. Karena sekarang makin banyak tempat - tempat hiburan yang menampilkan tarian modern, dan langkanya fasilitas pendukung, seperti pementasan tarian tradisional. Sekolah tari tradisional pun sangat jarang dijumpai, jika dibandingkan maraknya sekolah tari modern yang dibuka akhir - akhir ini. Wajar jika anak muda sekarang kurang peduli dengan tari tradisional.

Apa yang membuat anak muda sekarang kurang mengenal tari tradisional ?

Salah satunya kurangnya informasi soal tari. Tidak adanya dukungan dari guru dan orangtua. Ini juga mempengaruhi keinginan anak mengenal dan mempelajari tari, juga minimnya dukungan pemerintah dibidang tari. Jadi saya tidak bisa menyalahkan anak - anak muda. Jangankan untuk terjun langsung sebagai penari, untuk menyaksikan pementasan tari saja sarananya minim. Bagaimana mereka mau tertarik dengan tari sementara sosialisasinya tidak ada ?

(Terlahir dengan nama Siti Nurchaerani Kusumastuti. Selain sebagai penari, ia dosen dan juga pemain film dan sinetron. Film yang pernah dibintangi selain November 1928, Lontar, Perempuan dalam Pasungan, dan yang terbaru Mengejar Matahari).

Bagaimana Anda menyikapinya ?

Saya bersama Ratna Riantiarno dan teman - teman yang lain sejak 9 tahun lalu berinisiatif mendatangi sekolah - sekolah untuk program apresiasi tari. Dalam mementaskan tari, kami lebih memfokuskan pada tarian klasik dan tradisional, agar mereka tahu bahwa budaya kita sangat banyak dan beragam, sekaligus memperlihatkan bahwa menari tidak susah.

Tentu banyak kendala yang harus dihadapi ?

Jelas. Bahkan kalau mau mengikuti ego, saya akan menolak melakukan ini. Bayangkan, ketika saya temui para guru, mereka menolak mentah - mentah. Coba pikir. Apa mereka tidak percaya dengan seorang Nungky Kusumastuti ? Mau nangis rasanya. Tapi saya ingat, inilah risiko sebuah perjuangan. Butuh kesabaran.

Apa yang Anda harapkan ?

Sebenarnya tidak muluk - muluk. Kami hanya ingin kaum muda lebih tertarik menyaksikan pementasan tari. Syukur - syukur mereka akan tergugah untuk melakoni seni tari. Dalam melakukan apapun, pasti ada kendala yang harus dihadapi. Tak terkecuali dalam mengembangkan seni tari, khususnya untuk remaja. Mungkin karena perubahan jaman membuat mereka tidak tahu bagaimana seni tari itu.

Minimnya fasilitas dan informasi membuat mereka men-judge tarian tradisional itu kuno. Maka kami mengajarkan tarian yang tidak terlalu sulit. Awalnya kami mengajarkan tari tradisional yang sederhana, lalu tingkat kesulitannya ditambah. Karena untuk melakukan inovasi - inovasi dalam gerakan tari, penari harus lebih dulu menguasai tradisional.

Benarkah belajar di sekolah tari lebih mahal dibanding sekolah musik ?

Tidak juga. Biaya sekolah tari tidak seberapa jika dibanding sekolah musik. Mau cantik, mau ini, mau itu, semua hal juga perlu biaya kan ? Hanya orang yang tidak mengerti yang akan mengatakan bahwa sekolah tari lebih mahal. Padahal sebenarnya lebih murah.

(Sejak umur 5 tahun Nungky sudah mengenal tari. Karena orangtuanya memiliki apresiasi tinggi tentang tari. Mereka memberi kebebasan Nungky dan saudara - saudaranya mengambil sekolah yang diminati. Ketika Nungky dan keluarganya tinggal di Aceh dan Banjarmasin mendapat les tari. Sejak itu Nungky bertekad hidup dari tari.)

Anda bisa memberi contoh, sebuah tari bisa digemari remaja ?

Misalkan dalam group cheerleaders, mereka tetap menggunakan musik modern agar terkesan lebih anak muda. Tapi dalam tariannya, tanpa disadari banyak orang, mereka memadukan antara tari tradisional dan tari modern. Hasilnya sungguh memuaskan, mereka menang dalam perlombaan. Itu salah satu bukti bahwa tari tradisional tidak sulit. Dengan kombinasi yang pas, maka akan menghasilkan tari yang bagus.

Indonesia memiliki beragam budaya. Adakah benang merah kesamaan dalam tari tradisional ?

Tidak semuanya. Ada yang ada, ada yang tidak. Karena disetiap tempat kita mempunyai berbagai macam gerakan yang memiliki filosofi, musik dan geraknya masing - masing. Misalkan tari Jawa dan tari Bali tidak sama. Penari Bali belum tentu bisa menari Jawa, begitu juga sebaliknya. Karena masing - masing tarian sangat berbeda dan memiliki gerakan tersendiri. Bagi orang awam, tari Bali hanya satu bentuk tarian saja. Tetapi beda hal jika yang melihat adalah orang yang mengerti tari, bisa membedakan antara tarian Bali Klungkung, Bali Utara atau Bali Selatan.

Apalagi dibandingkan dengan Sumatera dan Kalimantan yang letaknya berbeda - beda. Tetapi jika diperhatikan dengan seksama, ada beberapa tarian yang memiliki persamaan. Misalkan tarian Ambon, Jambi, Riau dan Kalimantan. Keempatnya hampir sama, karena sama - sama dipengaruhi kebudayaan Arab dan sama - sama masuk daerah pesisir.

Apa yang mendasari Anda memilih tari sebagai profesi, selain film dan sinetron ?

Setelah menyelami dunia tari, saya semakin ketagihan. Saya sudah merasakan asyiknya bekerjasama dengan kawan - kawan dalam membuat sebuah pementasan. Setelah selesai manggung, saya merasa bangga karena kreasi saya dan kawan - kawan dilihat banyak orang.

Setelah lulus SMU, sebenarnya saya ingin sekolah hukum disalah satu perguruan tinggi di Bandung. Tapi karena tidak diterima, saya masuk IKJ. Awalnya orangtua keberatan. Tapi saya meyakinkan bahwa saya komit dalam bidang tari. Ternyata hasilnya bisa dilihat sekarang. Saya memang tidak kaya. Tapi masih tetap bisa hidup dari tari. Jujur, kalau mau cari uang, saya bisa dapatkan dari film dan sinetron.

Apakah menggeluti dunia tari menjadi semacam dedikasi ?

Benar. Karena hidup juga harus ada idealisme yang harus saya pegang dan dijalani. Dan itu saya dapatkan di dunia tari. Dedikasi saya pada dunia ini begitu besar, sehingga saya rela mendatangi sekolah - sekolah atau mencari sponsor untuk kepentingan dunia tari. Untungnya saya mendapat sokongan dari Ford Foundation.

(Nungky Kusumastuti, wanita Yogyakarta yang masih terus berkiprah di dunia seni tari. Bahkan ia berencana meraih gelar doktor dalam seni tari. Walau tubuhnya sudah tidak lentur lagi, toh bisa menjadi peneliti dibidang tari. Tentu itu tidak sulit, karena sekarang ia banyak berkiprah dibidang akademisi tari seperti di IKJ).(Dv/Ijs)

Nama:
Email:

More PROFIL:
[ more Profil ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :