Sosbud
8-Sep-2007 07:22:55 WIB
PROFIL
Margareth - Mama Saidah 3 Tahun Sembunyi



"Jujur, sebenarnya proses pembentukan Margareth menjadi penyanyi karena obsesi saya yang tidak kesampaian. Untuk saya push Margareth. Paling tidak, obsesi saya terwakili oleh Margareth."

Menggapai prestasi memang sungguh sangat sulit. Jalan terjal dan berliku harus dilalui demi terwujudnya cita - cita. Seperti yang dialami Saidah Dince Rohani Siahaan atau dikenal dengan Mama Saidah di Mama Mia Indosiar, dengan putrinya, Margareth. Sebelas tahun lamanya Mama Saidah dan Margareth menyusuri mal yang satu ke mal lainnya, hanya untuk mengikuti lomba menyanyi.

Sesungguhnya, obsesi Mama Saidah lah yang membuat ibu dan anak ini antusias mengikuti berbagai lomba nyanyi. Sejak remaja, wanita berdarah Batak ini memiliki obsesi untuk menjadi penyanyi. Sayang, Saidah muda tak bisa mewujudkan mimpi lantaran dilarang kedua orangtuanya. Ia pun harus mengubur mimpinya menjadi penyanyi. Sebuah cita - cita setinggi langit akan rasa gemebyarnya dunia bintang yang ia dambakan harus ditanggalkan demi mematuhi orangtuanya.

Tapi bukan berarti Mama Saidah meninggalkan hobinya menyanyi. Mama Saidah tetap senang menyanyi, walau hanya sebatas dilingkungan rumahnya. Paling tidak itulah yang bisa dilakukan untuk menggambarkan sebuah mimpi akan cita - cita yang tak kesampaian. "Saya sering menghibur diri dengan menyanyi bila sedang mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang menumpuk. Karena sejak saya mempunyai anak pertama hingga keenam, semua saya kerjakan sendiri tanpa pembantu rumah tangga," kata Mama Saidah yang ditemui Jelita dirumahnya yang terletak dikawasan padat penduduk, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Rupanya darah seni Mama saidah menurun pada salah satu puterinya, Margareth. Mama Saidah mengetahui bakat menyanyi Margareth, sejak puterinya itu berusia 5 tahun. Secara tidak sengaja, ia mendengar Margareth bersenandung. Padahal dulu Mama Saidah mengira anak - anaknya tak ada yang mewarisi bakat seninya. "Saya terkejut campur gembira. Wow, ternyata ada juga anak saya yang bisa menyanyi, "katanya bangga.

Tampaknya pucuk dicinta ulam tiba. Saat mengetahui bakat nyanyi Margareth, Mama Saidah mencari kesempatan untuk mewujudkan obsesi masa mudanya melalui Margareth. "Jujur saja sebenarnya proses pembentukan Margareth menjadi penyanyi karena obsesi saya sendiri yang tidak kesampaian. Untuk itu saya push Margareth. Paling tidak, obsesi saya terwakili oleh Margareth," kata Mama Saidah.

Perjuangan Mama Saidah mewujudkan obsesi lamanya ternyata tidak mudah. Bersama Margareth yang saat itu masih kecil, Mama Saidah mendatangi mal - mal di Seantero Jakarta yang menggelar ajang lomba nyanyi. Tujuannya hanya satu : mengikusertakan Margareth agar bisa menyanyi, sekaligus mencari celah mewujudkan cita - citanya yang tertunda. "Puji Tuhan ternyata usaha awal saya menjadikan Margareth penyanyi berhasil. Diusia 5 tahun, Margareth sudah berhasil jadi juara meskipun bukan juara pertama," kenang Mama Saidah.

Perjuangan Mama Saidah dan Margareth terus berlanjut. Ironisnya itu dilakukan secara sembunyi - sembunyi. "Selama 3 tahun, setiap hari Minggu saya bersama Margareth keluar rumah mengikuti perlombaan nyanyi. Dan konyolnya, suami saya tidak tahu. Saya selalu menyiapkan barang - barang keperluan Margareth dimalam hari, dan esok paginya berangkat secara sembunyi - sembunyi sebelum ayahnya bangun tidur," kata Mama Saidah.

Mama Saidah terpaksa melakukan itu, karena trauma dengan pengalamannya masa lalu saat orangtuanya tidak merestui cita - citanya menjadi penyanyi. Ia khawatir suaminya (nama suami tak mau ditulis di Jelita) juga tidak memberinya ijin. "Kalau hal itu sampai terjadi, bisa kandas lagi deh obsesi saya," katanya sambil tersenyum.

Didukung Ayah

Semakin bertambah usia, prestasi Margareth semakin berkembang. Tak hanya dibidang seni, disekolah pun Margareth tak ketinggalan. Ia membuktikan pada ayahnya dengan membawa pulang banyak piala dan nilai sekolah yang bagus. Namun itu tak cukup melunakkan hati ayahnya. Selama bertahun - tahun ayahnya tidak pernah mau datang melihat langsung Margareth memamerkan suara emasnya. Yang dilakukan pria yang bekerja sebagai PNS di BPKP itu hanya melarang dan melarang.

Suatu hari, ketika hendak berangkat lomba, secara sembunyi - sembunyi Margareth menderita flu berat. Ia tidak bisa meninggalkan lomba karena sudah masuk babak final. Melihat kondisi Margareth yang sedang sakit, tentunya sang ayah tidak mengijinkan Margareth keluar rumah. Namun Mama Saidah bersikukuh untuk tetap datang ke acara tersebut.

Akhirnya sang ayah mengalah dan memberi ijin pada Margareth, dengan syarat ia sendiri yang mengantarnya. Tentu saja membuat Mama Saidah panik. Pasalnya ia khawatir caranya dengan sembunyi - sembunyinya selama ini akan terbongkar. "Waduh gawat ! Bagaimana kalau suami saya tahu kalau Margareth selama ini keluar rumah hanya untuk menyanyi di mal ? Selama di perjalanan saya berdoa semoga suami saya tidak marah," cerita Mama Saidah.

Ternyata kekhawatiran Mama Saidah sama sekali tidak beralasan. Walau sempat terkejut, ayah Margareth akhirnya memberi restu. "Apalagi Margareth pada waktu itu berhasil menjadi juara pertama. Suami saya akhirnya berbalik mendukung perjuangan kami berdua," jelas Mama Saidah.

Matang di Panggung

Boleh dibilang, mental Margareth mulai tertempa dan matang diatas panggung perlombaan satu ke perlombaan lainnya. Mama Saidah pun menyadarinya dan semakin memberi bekal untuk puteri tercintanya itu. "Demi Margareth saya rela mengantarkannya seminggu 2 kali untuk latihan olah vokal di Duren Sawit hanya dengan menggunakan bus umum," ucap Mama Saidah.

Sementara Margareth sendiri, tidak bisa melupakan pengalaman yang membentuknya menjadi pribadi penuh percaya diri. "Bayangkan, saya pernah bersama mama pergi ke tempat pertunjukan dengan bergelantungan di bus kota. Dan konyolnya lagi, waktu itu saya sudah memakai kostum lengkap untuk panggung. Awalnya malu, tapi saya akhirnya cuek saja," kenang Margareth sambil senyum.

Tak hanya itu saja, pengalaman menggelikan yang dialami Margareth dan Mama Saidah. Pernah suatu hari, ketika mau tampil di hotel berbintang dikawasan Senayan, mereka hanya bisa menyewa angkot untuk datang ke tempat acara. "Lucunya, kita turun di lobby hotel tersebut. Karuan saja banyak mata memandang kami keheranan. Yah, itulah cara Mama menempa mental saya, agar selalu tidak sombong. Mama adalah segalanya untuk saya," puji gadis yang mengidolakan Maria Carey dan Ruth Sahanaya ini.

Walau sudah cukup banyak pengalaman menyanyi dihadapan orang banyak, tapi tidak serta merta menghilangkan rasa gugup pada diri Margareth. Terutama menjelang tampil diatas panggung. "Biasanya untuk mengatasinya saya teriak - teriak kayak orang gila atau telepon kakakku, agar kepercayaan diriku bisa bangkit lagi," kata Margareth.

Jika Margareth bermasalah dengan rasa gugup, lain lagi dengan Mama Saidah. Ia mengaku sangat takut jika harus berada di depan umum dan memegang mik. "Jika saya terlanjur memegang mik, maka sulit sekali untuk mengontrol volume suara. Kadang kekerasan, kadang kekecilan. Dan itu sering membuat saya malu," kata Mama Saidah.

Kini, perjuangan ibu dan anak ini sudah setengah jalan menuju apa yang mereka idam - idamkan. Cucuran keringat Mama Saidah selama bertahun - tahun demi Margareth seakan terbalas dengan penampilan prima Margareth di ajang Mama Mia. "Demi Margareth apapun akan saya lakukan, termasuk berusaha untuk menghilangkan rasa gugup yang berlebihan bila tampil di Mama Mia Show," janji Mama Saidah.

Bangga Tampil di Televisi

Kebanggaan Margareth - Mama Saidah pun membuncah saat mereka bisa tampil di televisi dan disaksikan jutaan pasang mata. Panggung Mama Mia memang bukan panggung yang sama. Mama Mia adalah panggung yang penuh tantangan, baik untuk Margareth maupun Mama Saidah. Jika Margareth telah teruji mentalnya di berbagai panggung, berbeda dengan Mama Saidah harus membenahi mental, ketika muncul di televisi sebagai manajer puterinya. "Aduh, kalau urusan ngomong diatas panggung dan dihadapan orang banyak saya pasti grogi. Lebih baik saya menyanyi," kata Mama Saidah.

Boleh jadi Mama Saidah memang tidak biasa berbicara, apalagi memresentasikan puterinya. Ia harus mampu meyakinkan banyak orang demi cita - cita, demi mewujudkan mimpi, demi masa depan. Tapi karena sudah menjadi niatan, mau tak mau Mama Saidah harus bisa bicara didepan banyak penonton. "Sejak Margareth umur 5 tahun, saya selalu setia mendampingi dia menyanyi dari panggung satu ke panggung lain. Sebatas menemani dan mendorong semangatnya. Tapi sekarang saya harus bicara. Yah, apa adanya. Yah beginilah saya," katanya.

Berbeda dengan Mama Saidah, Margareth tampak lebih memiliki mental entertainer. Karena ia sudah menapakkan kaki, naik turun panggung. Dimanapun ia tampil didepan banyak orang serasa telah terbiasa. "Aku sih biasa - biasa saja. Nggak grogi sama sekali. Tapi malah bangga. Apalagi masuk teve dan ditonton jutaan orang. Malah aku lebih percaya diri. Karena aku percaya, semua orang yang mengenal aku pasti nonton aku nyanyi di televisi, di panggung Mama Mia. AKu sangat, sangat bangga," kata Margareth.

"Sebelum di Mama Mia ini saya sama sekali tidak tahu bagaimana menjadi manajer. Karena selama ini saya hanya menemani Margareth menyanyi. Itu saja. Tapi sekarang sediki banyak saya tahu bagaimana menjadi manajer," kata Mama Saidah bangga.

"Saya akan tetap memanajeri Margareth sampai kapanpun. Soal memanajeri artis, saya bisa belajar dari mas Helmy Yahya. Sebenarnya lewat panggung Mama Mia ini saya sudah banyak belajar, terutama kekurangan saya dan Margareth. Ini penting untuk kebaikan dimasa yang akan datang," kata Mama Saidah.

Kini Margareth - Mama Saidah sudah menuju 10 besar Mama Mia Show Indosiar. Dipanggung inilah mereka mempelajari atau diberi pengetahuan tentang keartisan dan manajer artis. "Dari Mama Mia inilah saya dan Margareth tahu lebih banyak tentang dunia entertain. Dari panggung ini pula kami dikenal. Kalau boleh mewakili seluruh peserta Mama Mia, kami semua bukan apa - apa sebelum ada Mama Mia. Ini bukan sanjungan, tapi memang nyatanya begitu," kata Mama Saidah berterus terang.(Tabloid Jelita/Dv/Ijs)

Nama:
Email:

More PROFIL:
[ more Profil ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :