
Inilah Andria Amborowati Ningsih atau biasa dipanggil Ambar. Sosok penting dalam kasus terungkapnya pencurian lima arca di Museum Radya Pustaka Solo, Jawa Tengah, karena berani membeberkan pencurian dan pemalsukan arca dilakukan di museum oleh Kepala Museum.
Menurut mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Dasar UGM Yogyakarta ini, koleksi museum yang pertama diketahuinya hilang adalah piring keramik Cina pada Maret 2005.
Piring yang biasa tergantung di dinding raib. Namun saat itu Kepala Museum Mbah Hadi menyatakan piring tidak hilang, dan keesokan harinya piring memang kembali terlihat, namun dengan bentuk dan model yang berbeda.
Saat itu Ambar sempat berdebat dengan Mbah Hadi, namun berakhir dengan pemecatannya. Ambar kemudian melaporkan kasus ini ke salah satu dosennya yang meneruskannya ke Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah.
Sejak itulah mulai terungkap adanya pencurian benda - benda koleksi Museum Radya Pustaka yang melibatkan orang dalam termasuk lima arca kuno peninggalan Dinasty Syailendra yang menjadi koleksi museum.
Kasus pencurian ini akhirnya menyeret Kepala Museum Kanjeng Raden Tumenggung Hadi Darmo Dipuro, petugas museum Jarwadi dan Gatot serta Heru Suryanto seorang kolektor benda kuno menjadi tersangka.(Danuk Nugroho Adi/Dv)