jeruk bali
Sosbud
18-Apr-2008 11:49:09 WIB
PROFIL
Prof Dr Boediono : Jabatan Prestige Bukan Babak Baru



Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono - Jusuf Kalla telah memilih siapa calon Gubernur Bank Indonesia untuk masa periode mendatang. Dialah Boediono, anggota kabinet yang ditempatkan di posisi Menteri Koordinator Perekonomian. Penjelasan pemerintah itu menjawab teka-teki apa strategi ekonomi yang tengah pemerintah bangun bagi bangsa ini.

Bagi Boediono, dipilih atau terpilih menduduki suatu jabatan prestige bukan merupakan babak baru dimulainya kehidupannya. Sebelum terlibat sebagai Menteri Koordinator di Kabinet Indonesia Bersatu itu, Boediono telah memegang jabatan penting, seperti Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas di era Kabinet Reformasi Pembangunan Presiden RI ketiga BJ Habibie dan Mentei Keuangan di era Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri.

Doktor Ekonomi Bisnis lulusan Wharton School University of Pennsylvania, Amerika Serikat pada tahun 1979, ini dikenal sebagai seorang ekonom bertangan dingin. Ini terlihat saat ia menjabat Menteri Keuangan dalam tim ekonomi Kabinet Gotong-Royong yang disebut publik kala itu sebagai The Dream Team. Selama menjabat Menkeu, pemilik gelar Master of Economics, Monash University, Melbourne, Australia mampu membenahi bidang fiskal, masalah kurs, suku bunga dan pertumbuhan ekonomi yang cukup seret saat itu.

Ditangan Boediono juga, nilai rupiah terhadap Dollar menguat hingga kisaran Rp 9000-an per dolar AS dari angka Rp 11.000. Begitu pula dengan suku bunga berada dalam posisi yang cukup baik merangsang kegiatan bisnis, sehingga pertumbuhan ekonomi menaik secara signifikan. Penampilannya yang kalem dan santun serta terukur berbicara itu membuat situasi ekonomi yang saat itu masih kacau menjadi dingin.

Beberapa saat menjabat Menkeu, langkah pertama yang dilakukannya adalah menyelesaikan Letter of Intent dengan IMF yang telah disepakati sebelumnya serta mempersiapkan pertemuan Paris Club September 2001. Paris Club ini merupakan salah satu pertemuan penting karena menyangkut anggaran 2002. Setelah itu, dia bersama tim ekonomi Kabinet Gotong-Royong, secara terencana mengakhiri kerjasama dengan IMF (Dana Moneter Internasional) Desember 2003. Sikap itu membuktikan dia bukan lagi dari haluan kiri, kanan atau kanan tengah seperti yang disimpang siuarkan.

Departemen Keuangan di bawah kendali pria kelahiran Blitar, Jawa Timur, 25 Februari 1943, itu pun berhasil melampaui masa transisi pascaprogram IMF, yang sebelumnya sudah dia ingatkan akan sangat rawan, bukan hanya menyangkut masalah dana, tetapi juga menyangkut rasa percaya (confidence) pasar. Apalagi kala itu, Pemilihan Umum 2004 juga berlangsung. Kondisi rawan itu pun berhasil dilalui tanpa terjadi guncangan ekonomi.

Walau belum pernah terjun ke dunia perbankan, namun dia faham betul apa langkah yang patut diambil bersama Bank Indonesia dan tim ekonomi lainnya. Sayangnya langkahnya yang panjang itu agar terseret dengan sikap Kwik Kian Gie sang pimpinan di badan perencanaan pembangunan nasional yang kala itu tampak berbicara sendiri dalam menghadapi krisis bangsa.

Rapot birunya itu pun terbaca oleh SBY yang saat itu, galau menghadapi dilema merombak susunan kabinet Indonesia Bersatunya. Melalui pernyataan SBY di Medan, nama Boediono kembali di disebut masuk ke dalam struktur tim ekonomi pemerintahan negeri ini. Siapa sangka, pasar investasi kemudian menyambutnya dengan sebuah semangat baru atas krisis kepercayaan pelaku bisnis terhadap iklim investasi di Indonesia.

Boediono dinilai mampu membenahi sektor makro-ekonomi yang kini belum didukung pemulihan sektor riil dan moneter. Juga perdagangan di lantai Bursa Efek Jakarta (BEJ) naik signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEJ langsung ditutup menguat hingga 23,046 poin (naik sekitar 2 persen) dan berada di posisi 1.119,417, berhasil menembus level 1.100.

Diungkapkan, inflasi tahun 2005 yang lebih buruk dari tahun 2004 dinilai jauh dari harapan. Tentu ada faktor yang bisa menjelaskan mengapa inflasi buruk. Harus ada keterpaduan atau harmoni kebijakan fiskal yang dibuat pemerintah dan kebijakan moneter dari Bank Indonesia.

Kenapa kemudian Presiden menginginkan orang yang tepat di posisi yang tepat untuk duduk di kursi piminan Bank indoneia, sepertinya seluruh elemen bangsa dan masyarakat sudah memahami. Pemilihan figur didasarkan pada kemampuan melakukan koordinasi dan kerja sama tim yang baik. Seperti orang yang sudah mengerti karakter pimpinannnya (SBY) saat memaksanya menduduki Menko perekonomian, maka penunjukkan Gubernur Bank Indonesia kepada pemilik yang sedikit bicara banyak bekerja ini pun harus diamininya.(berbagai sumber : Her/Ijs)

Nama:
Email:

More PROFIL:
[ more Profil ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :