Sosbud
26-Jun-2008 11:15:34 WIB
PROFIL
DR. Meutia Farida Hatta Swasono
Generasi Muda Harus Kenal Bung Hatta



Berita HOT:
indosiar.com - Beliau adalah putri pertama Bung Hatta, salah seorang proklamator Republik Indonesia, yang lahir ketika Bung Hatta telah berusia 45 tahun. Wanita kelahiran Yogyakarta, 21 Maret 1947, kini menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan pada Kabinet Indonesia Bersatu.

Sebagai si sulung, yang baru lima tahun kemudian memiliki adik yang bernama Gemala, sangat banyak kenangan Meutia Farida Hatta Swasono dengan sang Ayah, yang walau cukup sibuk dengan tugasnya sebagai wakil presiden namun tetap berusaha menjalin kehidupan keluarga dengan berkumpul setiap makan malam dan makan siang. "Saat makan siang, kami harus kumpul. Di situ kami bisa bertemu satu keluarga," kata Meutia.

Meskipun cukup lama tidak memiliki adik, Meutia kecil tidak menutup diri dari pergaulan. Ia sering bermain-main dengan anak-anak tukang kebun dan anak-anak pelayan. "Dari kecil, orangtua sudah membiasakan saya hidup di dunia yang berbeda-beda. Saya diajarkan prinsip bahwa semua teman sama. Kekayaan itu nggak penting, yang penting adalah bagaimana kita bisa berteman dengan orang," jelas Meutia.

Selain itu, keluarga Bung Hatta, menurut Meutia, bukanlah keluarga yang mengejar kemewahan hidup. Bagi mereka, nama baik dan harga dirilah yang utama dan harus terus dijaga.

Kenangan indah masa kecil, yang lainnya diceritakan istri dari DR. Sri Edi Swasono ini, adalah setiap akhir pekan sering diajak ibu dan ayahnya ke villa di Mega Mendung, tempat ayah dan ibunya menikah. Di sana ayahnya sering membawa Meutia dan adiknya jalan-jalan di kebun teh dan mengenal banyak orang. Semakin banyak mengenal orang dari berbagai lapisan masyarakat membuat mereka menjadi tidak canggung dan terbiasa untuk berada di mana saja.

"Misalkan hari ini saya berada di kalangan menteri, besoknya di kalangan miskin, bukan masalah bagi saya. Saya tidak merasa seperti nyonya yang begitu suaminya menduduki suatu jabatan, terus over acting. Kami lahir dalam dunia yang beragam, ndak sempat mau sombong," ungkap Meutia yang banyak mendapatkan berbagai hal atau pelajaran baru dari ayahnya setiap jalan-jalan.

Selain dari Ayah, Meutia juga mendapat didikan dari ibunya, Rahmi Rachim yang terpaut 24 tahun lebih muda dari Bung Hatta. Namun menurut Meutia, ayahnya bukan ayah dan suami yang dominan meskipun usianya jauh tua. "Ayah sangat toleransi dan selalu menerapkan disiplin kepada dirinya sebelum ke orang lain. Kalau dia mengatakan, ayo jangan berantakan, dia sendiri tidak akan berantakan dulu. Karena dari pendidikan ayah, saya juga terbiasa. Misalnya kalau pergi ke toko, saya jadi mikir dua kali untuk beli barang mahal. Karena saya pikir orang lain mungkin tidak bisa membeli seperti barang yang saya mau," ceritanya.

Karena terbiasa menerapkan disiplin itulah, Meutia dan adik-adiknya dimasukkan ibu mereka ke sekolah katolik sejak SMP. Rachmi Hatta memilih sekolah Katolik karena zaman dulu meskipun sekolah Katolik namun tidak terkait dengan sekolah agama. "Waktu itu hanya sekolah Katolik yang fasilitasnya cukup dan disiplinnya ketat. Mula-mula ada perdebatan antara ayah dan ibu, tapi akhirnya ayah bisa mengerti niat ibu menyekolahkan kami di sekolah Katolik. Lagipula waktu itu belum ada sekolah-sekolah Islam seperti sekarang", ujar Meutia.

Seperti anak lainnya di luar sekolah, Meutia juga belajar berenang, les piano dan balet untuk melenturkan badannya. Ia juga pernah belajar naik kuda tapi kemudian berhenti karena pernah jatuh.

Sikap toleransi juga diterapkan ayah Meutia dalam pendidikan anak-anaknya. Ia tidak pernah mengindoktrinasi sesuatu hal. Meutia dan adik-adiknya tidak pernah harus suka pada politik, tapi kalau pada waktu itu ada yang tertarik ke politik, Bung Hatta pasti akan membimbing dengan sepenuh hati.

"Kalau beliau ditanya tentang konsep politik atau ilmu sosial politik, maka Bung Hatta akan menjelaskan sedikit lalu menghimpun buku-buku yang berkenaan dengan itu dan menyuruh kita membaca. Tapi kalau kita tidak menunjukkan minat mengenai suatu topik tertentu ya... dia jawab secukupnya saja," kata Ketua Umum Yayasan Bung Hatta ini.

Bung Hatta juga sangat disipilin dalam soal waktu. Mulanya hanya rasa takut dimarahi yang membuat Meutia pulang tepat waktu. Tapi setelah orangtuanya meninggal ia pun risih kalau pulang lewat dari jam yang ditentukan. Satu hal yang diajarkan Bung Hatta dan dipertahankan menjadi warisan keluarga adalah ketika ia dan adik-adiknya dilibatkan untuk mengenal semua teman-teman orang tuanya.

Ikut mengantarkan tamu yang akan pulang sampai teras rumah dan mendampingi ayah dan ibu setiap ada undangan sudah menjadi kebiasaan Meutia. Dampaknya, meski ayahnya sudah pensiun sebagai wakil presiden, masih banyak teman-temannya yang datang ke rumah. Meutia pun bisa banyak memiliki tempat bertanya dan mengadu ketika orang tuanya sudah meninggal.

Sekarang Meutia menerapkan ajaran-ajaran ayahnya pada anak laki-laki satu-satunya. "Saya minta dia untuk wajib lapor pulang jam berapa. Dia juga harus ikut saya menghadiri undangan. Saya mengajarkan dia untuk mengenal teman-teman saya bukan untuk cari apa-apa, tapi supaya orang mengenal kami sebagai keluarga. Kami ini kan keluarga proklamator, beban untuk tidak berlaku sembarangan itu pasti tetap ada sampai sekarang," kata wanita yang berharap dari Yayasan Hatta, orang tetap bisa mengenang sifat baik Bung Hatta.

Meutia Hatta meneruskan kuliahnya di jurusan Antropologi Universitas Indonesia yang waktu itu masih berada di bawah Fakultas Sastra. Jurusan itu ia ambil karena sejak kecil ia sudah diperkenalkan dengan masyarakat, sehingga ia makin tertarik untuk mendalami masyarakat dan kebudayaannya. "Minat itu dikembangkan lewat pengalaman," sebut wanita yang pernah mendampingi ayahnya ke Hawaii menjadi senior fellow di East West Center Honolulu, Hawaii. Meutia yang mendapat giliran waktu itu karena ibunya harus mengurus dua adiknya yang masih kecil-kecil. Mahasiswi semestar III yang tidak terbiasa bekerja itu terpaksa harus mengepel, mencuci dan memasak untuk ayahnya.

Meutia sendiri tidak berminat mengambil degree di luar negeri karena banyak kredit kuliah yang harus diulang. Sehingga untuk menambah pengetahuannya, Meutia Hatta hanya mengambil kursus antropologi psikiatri, culture and mental health dan mempelajari mata kuliah yang tidak ada di Indonesia. Berkat ketekunannya mendalami bidang ini, puluhan tahun kemudian, Meutia menulis disertasi untuk program S3 juga tentang antropologi psikiatri, culture and mental health.

Sebelum menjabat sebagai Menteri, ibu satu anak, pernah mengajar di Fisip jurusan Antropolog UI. Dan karena ia suka jalan-jalan, pada tahun 1997 Meutia juga bertugas sebagai Ketua Program D3 Pariwisata Fisip UI yang dibangun oleh jurusan Antropolog. "Kami fokusnya pada usaha perjalanan wisata budaya. Ini upaya untuk melatih mahasiswa melihat wawasan budaya dari objek wisata. Sehingga kalau nantinya mereka merancang paket tur, mereka memilih objek yang ada budayanya," papar anak proklamator yang berharap agar generasi muda mau mencari data tentang Bung Hatta.

Menurutnya kebanyakan orang Indonesia lebih terpukau dengan body language atau simbol daripada mencari data lewat bacaan. "Orang lebih banyak mengagumi Bung Karno lewat visualisasi. Sedikit sekali yang tahu mengenai Bung Hatta. Ya saya maklum karena memang tidak dipublikasikan. Padahal Bung Hatta juga banyak jasanya pada negara. Coba saja cari datanya lewat bacaan, kekuatan Bung Hatta itu ada pada tulisannya," tandasnya.(Ijs)

 

Nama:
Email:

More PROFIL:
[ more Profil ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :