Sosbud
26-Dec-2006 16:55:20 WIB
SAPA
Menangguk Rejeki Lewat Terompet



Artikel Terkait:
Berita HOT:
indosiar.com - Pergantian tahun identik dengan tiupan terompet yang bersahut-sahutan dan kembang api. Maka, tidak heran pedagang terompet musiman di akhir tahun banyak bermunculan diberbagai daerah, termasuk di Ibukota Jakarta. Mereka berlomba-lomba menciptakan berbagai kreasi, bentuk dan ukuran trompet yang akan dijualnya.

Satu minggu menjelang pergantian tahun disepanjang Jalan Melawai dan Jalan Sambas, Jakarta Selatan misalnya, beberapa pedagang terompet musiman telah menggelar dagangannya. Mereka umumnya berasal dari wilayah Bekasi, Bogor dan Parung.

Sebut saja Maman (23 tahun), pembuat dan penjual terompet ini, sejak tanggal 17 Desember 2006 lalu telah memajang terompet-terompetnya di Jalan Melawai, Jakarta Selatan. Pria lajang asal Bekasi, Jawa Barat ini, menggelar dagangannya mulai dari pukul 12.00 WIB sampai malam hari.

Menurut Maman, sejak usia 15 tahun, ia sudah diajak berjualan terompet bersama orangtuanya di kawasan Melawai itu. Lokasi disini sangat strategis untuk menggelar terompet-terompetnya, disamping tentunya ia telah memiliki langganan tetap, yaitu satu perusahaan yang berlokasi disekitar wilayah itu dan para pegawainya akan merayakan tahun baru bersama.

Dengan modal sekitar 3 juta rupiah Maman membeli bahan-bahan untuk membuat terompet di kawasan Parung dan Tangerang dengan cara dicicil. Bahan baku yang dipakai untuk membuat terompet antara lain kertas, karton, airmas, kertas 3 demensi, gunting, lem, bambu, isolasi dan cutter. Untuk hiasan terompet, ia memilih warna-warna yang cerah agar bisa menarik perhatian para pembeli.

Menurut Maman yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang ojek di kawasan Bekasi ini, ia telah membuat sekitar 6.000 terompet dari berbagai jenis. Terompet buatannya dijual dengan harga antara 5,000 rupiah hingga 80,000 rupiah, tergantung dari jenis, bentuk dan ukurannya. Ia membuat berbagai jenis terompet, mulai dari terompet kecil sampai terompet berbentuk berbentuk ikan terbang, keong, piston, trombone hingga saksofon.

Selama berjualan ditempat ini hingga tanggal 1 Januari 2007 mendatang, Maman dan keluarganya tidak pernah pulang ke Bekasi. Ia pun telah membawa perlengkapan seperlunya untuk tinggal sementara ditepi jalan yang sangat bising ini.

Meski masih sepi pembeli saat ini, namun Maman optimis terompet-terompetnya akan terjual habis menjelang pergantian tahun nanti. "Tahun lalu, semua dagangan saya habis terjual dengan keuntungan mencapai 4 juta rupiah. Kalau nggak habis, saya akan simpan di gudang dan diperbaiki lagi buat dijual menjelang tahun baru yang akan datang," kata Maman.

Bagi pembuat dan penjual terompet kertas, minggu inilah masa mereka menangguk untung hingga pergantian tahun tiba. Sebab sudah menjadi tradisi penghuni kota metropolitan ini memeriahkan malam tahun baru dengan tiupan terompet dan menyanyi.

Sementara itu di Jalan Hang Lekir, Jakarta Selatan, juga sudah tampak para pedagang terompet musiman bermunculan. Mereka sepertinya tidak mau melewatkan kesempatan untuk meraup keuntungan berdagang terompet ini.

Menurut seorang pedagang terompet dikawasan Hang Lekir, pada tahun 2000 lalu penjualan terompet sangat banyak peminatnya dan benar-benar meriah, bahkan para pedagang mengaku kekurangan dagangan.

Namun mendekati tahun 2003 - 2004, penjualan trompet agak kendor, bahkan tidak ada perayaan sama sekali karena saat itu terjadi bencana alam tsunami di Aceh dan Nias. Sehingga dana perayaan digunakan untuk membantu para korban.

Menurut para pedagang, kebanyakan yang membeli ditempat ini mereka yang mengendarai mobil dengan membawa anak-anak mereka. Biasanya para pedagang terompet ini melambai-lambaikan tangan kepada konsumen untuk datang dan membeli terompetnya.

Jika para pedagang terompet di Jalan Melawai dan Jalan Hang Lekir, Jakarta Selatan, menggelar dagangannya di pinggir jalan, berbeda dengan di kawasan Ciputat, Jakarta Selatan. Para pedagang terompet ditempat ini menjajakan terompetnya keliling kampung dengan mengayuh sepeda ontel.

Menurut pedagang asal Klaten, Jawa Tengah bernama Yono ini, ia sudah berjualan terompet sejak tahun 2000 lalu. Ia lebih memilih berjualan terompet keliling dari kampung ke kampung dengan sepedanya karena tidak punya tempat yang strategis untuk mangkal. Lagipula jika keliling kampung banyak yang membeli terutama anak-anak.

Terompet yang dibuat Yono pun terbilang biasa-biasa saja, sebab ia tahu pembeli dikawasan pemukiman padat penduduk ini tidak mau membeli terompet yang harganya mahal. "Yang penting bisa menyenangkan hati anak-anaknya, asal bunyi aja," katanya.

Harga terompet yang dijual Yono mulai dari harga 2500 rupiah sampai 15.000 rupiah. Harga yang bisa dijangkau untuk kalangan bawah. Meski murah, tapi Yono tetap memperhatikan suara dan bahan baku yang lumayan bagus. Menurut Yono, biasanya trompet akan laris manis pembeli pada tanggal 31 Desember menjelang tengah malam.

Meski hanya berjualan terompet menjelang pergantian tahun, tetapi Yono dan rekan-rekannya sesama penjual terompet berharap agar tahun yang akan datang bisa merubah ekonomi bangsa ini menjadi lebih baik lagi.(Suprihatin/Idh)

Nama:
Email:

More SAPA:
[ more Sapa ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :