
Menurut Ketua Badan Regulator Pelayanan Air Minum (BRPAM) DKI Jakarta Ahmad Lantiri, kenaikan itu diputuskan karena sejak setahun terakhir tidak ada kenaikan, sementara biaya operasional terus mengalami kenaikan akibat inflasi. Sebelumnya pihak operator mengusulkan kenaikan tarif PAM sebesar 25,5%. Namun yang disetujui 10,5%. Dengan demikian harga tarif untuk rakyat miskin naik Rp 100 menjadi Rp 1050 per meter kubik. Kelas menengah naik menjadi Rp 3900 per meter kubik dan golongan atas naik Rp 12200 per meter kubik.
Ahmad Lanti menambahkan kenaikan ini juga terkait dengan meningkatnya produksi air oleh PAM Jaya. Lanti berharap kenaikan tarif PAM itu tidak membebani warga miskin akibat naiknya beberapa kebutuhan pokok secara bersamaan. Dirinya juga berjanji akan selalu mengkontrol pihak operator agar memberi pelayanan lebih baik. Untuk itu, Ahmad Lanti mengingatkan agar PAM Jaya memenuhi target seperti memenuhi kebocoran pipa PAM, menaikan volume air tertagih, meningkatkan jumlah sambungan dan pelayanan kepada konsumen.
Berbarengan dengan kenaikan tarif PAM, Pertamina terhitung sejak tanggal 1 Januari 2007, menaikkan harga bahan bakar minyak nonsubsidi baik untuk masyarakat maupun kalangan industri. Kenaikan ini disebabkan naiknya patokan harga minyak dunia, sekitar empat hingga 6,9 persen. Penguatan nilai dolar Amerika Serikat juga menjadi salah satu pemicu kenaikan tersebut.
Harga BBM yang naik antara lain Pertamax yang naik delapan persen dari Rp 4.800 menjadi Rp 5.200 per liter. Sedangkan Pertamax Plus naik dua persen, menjadi Rp 5.350 per liter. Kenaikan juga terjadi pada beberapa jenis BBM untuk industri, seperti premium yang naik 1,9 persen menjadi Rp 4.838 per liter, minyak tanah industri naik menjadi Rp 5.540 dan minyak diesel menjadi Rp 4.886 per liter.
Kenaikan harga BBM dan PAM itu tentu saja memancing berbagai komentar. Pengurus YLKI Soedaryatmo menyatakan kenaikan tarif PAM yang berlaku efektif mulai 1 Januari 2007, sangat memberatkan apalagi konsumen saat ini telah dibebani oleh tarif listrik dan BBM, beberapa waktu lalu yang mengakibatkan daya beli menurun drastis. Sehingga sangat tidak wajar bila pihak PAM juga menaikkan tarif air.
Selain itu, kenaikan tersebut juga sangat bertolak belakang dengan buruknya pelayanan PAM terhadap konsumen. YLKI sendiri mencatat keluhan sering terjadi aliran air mati tanpa penjelasan dari pihak PAM. Bahkan YLKI menuding kenaikan tarif air sebesar 10 % itu, hanya menguntungkan pihak operator saja.
YLKI mendesak kepada Pemprov DKI Jakarta sebagai pihak regulator untuk membatalkan atau menunda kenaikan tarif PAM yang telah diberlakukan, hingga pelayanan terhadap konsumen diperbaiki. Perbaikan mutu pelayanan harus diutamakan, dibandingkan menaikkan tarif.
Para pelanggan PAM pun menyatakan ketidak senangannya dengan kenaikan tarif mereka. Sebagian besar menyatakan selama PAM tidak memberikan pelayanan yang baik, tak pantas rasanya menaikkan tarif. "Kalau pagi hari, curah airnya kecil padahal kan itu saat-saatnya kita butuh air buat mandi, masak, dan mencuci. Belum lagi suka bau kaporit dan agak kotor. Ngapain kita bayar mahal kalau pelayanannya saja tidak memuaskan," kata Wulan, pelanggan PAM di Duri Kepa, Jakarta Barat.
Senada dengan Wulan, seorang pelanggan PAM di Kemanggisan, Slipi, Jakarta Barat, Rina mengatakan PAM sangat arogan dalam menaikkan tarif padahal bukan rahasia lagi kalau air dari aliran PAM suka macet. "Kalau ngak dibantu sama mesin pemompa air, bisa-bisa seluruh aktifitas keluarga terganggu. Kadang lancar alirannya, kadang macet. Yang jelas dalam sebulan itu, pasti ada hari dimana aliran air PAM suka ngak beres. Kalau mau dapat air PAM banyak, kita musti nampung di malam hari. Percuma rasanya langganan PAM," keluh Rina.
Sementara itu, mengenai kenaikan harga BBM non subsidi tidak terlalu terasa bagi konsumennya. "Percuma protes juga, harga pasti sudah naik. Lagi pula, kenaikannya sudah dari tahun lalu, jadi kita ngak terlalu mikirin lagi. Cuma yang memberatkan itu, harga-harga yang lain ikut naik. Harga sembako, ongkos, listrik, dan sekarang air lagi," ucap Herman, warga yang bertempat tinggal di Sunter, Jakarta Utara itu.
Sementara itu, kenaikan harga BBM membuat nasib para guru sekolah dasar negeri semakin terjepit. Besarnya gaji yang pas-pasan membuat mereka harus mencari alternatif sumber pemasukan lain untuk menghidupi keluarga.
Meski telah menjadi guru SD selama 9 tahun, tapi kondisi perekonomian keluarga Malik sangatlah berat. Menanggung 4 orang anak yang tiga diantaranya bersekolah, gaji guru kelas IV SD Teluk Naga II Tangerang Banten yang hanya sekitar 1 juta rupiah dan dipotong berbagai cicilan ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga setiap hari.
Nasib 9 pengajar lain, rekan kerja Malik juga tidak jauh berbeda. Munarsih, guru honorer yang telah mengajar selama 3 tahun di SDN Teluk Naga II yang hanya berpendapatan 350 ribu rupiah per bulan ini sebagian besar gajinya kini habis untuk biaya transportasi yang semakin tinggi menyusul harga BBM. Untuk menyambung hidup, ia mencari alternatif lain dengan membuka usaha.(Idh)