Sosbud
30-Mar-2007 10:36:34 WIB
SAPA
Puisinisasi di Stasiun Gambir



Berita HOT:
indosiar.com - Sabtu, 17 Maret 2007 lalu, aula stasiun kereta api Gambir, Jakarta Pusat, tidak seperti biasanya. Ditengah-tengah bunyi kereta api dan ramainya penumpang yang hilir mudik, tampak sekelompok orang sedang sibuk membenahi karya-karya seni yang akan dipamerkan. Sebagian lainnya, terlihat sibuk mencoret-coret kertas, entah apa yang ditulisnya.

Tampak lama, seorang wanita membuka acara yang bertajuk Banjir Puisi di Stasiun. Rupanya orang-orang yang hadir di stasiun itu adalah seniman kata-kata atau bisa dibilang para penyair. Jangan membayangkan mereka adalah para orang tua seperti halnya para penyair Pujangga Baru. Wajah dan penampilan para seniman kata-kata itu, muda dan gaul. Beberapa diantara mereka malah berpenampilan, nyeni.

Acara dimulai dengan musikalisasi puisi dari Kuartet Otak dan Chair. Sungguh suatu penampilan yang menarik, karena pembacaan puisi dilakukan dengan cara yang berbeda. Memadukan musik dan puisi !

Satu persatu para seniman kata-kata itu menampilkan puisi dan membacakannya dengan gaya khas masing-masing. Ada yang membuka sepatunya, tiduran di sofa, bergerak kesana kemari mendekati audiens atau tetap dengan khas penyair, membaca dengan hikmat penuh perasaan.

Untuk mengusir kebosanan, acara diselingi dengan talk show dengan para seniman kata-kata dari Komunitas Bunga Matahari, CCF dan pihak Kereta Api Indonesia.

Menurut perwakilan CCF Jakarta, pentas budaya dan sastra itu merupakan rangkaian dari Bulan Puisi (Printemps des Poetes) 2007. BUlan Puisi ini tidak hanya diadakan di Indonesia, tetapi juga di gelar di 60 negara di mana CCF berada. Dan seperti halnya di Perancis, dimana seniman biasa tampil di ruang publik, maka Stasiun Gambir pun dipilih untuk menjadi tempat memasyarakatkan puisi.

Deru kereta api yang lewat tidak mengurangi penghayatan untuk membacakan puisi. Beberapa peserta, ternyata sudah tidak asing lagi di dunia kata-kata. Sebut saja penulis puisi Johannes Sugianto, yang akhir tahun lalu meluncurkan buku kumpulan puisinya "Di Lengkung Alis Matamu", Olin Monteiro, salah satu dari trio penulis buku "Merah Hitam Kesumba, Aurelia Tiara penulis buku kumpulan puisi "Sub Rosa Poem", Gratiagusti Chananya (Anya) Rompas, pendiri komunitas Bunga Matahari, dan MC/penyiar radio, Ivy Battuta.

Cukup sampai disitu ? Ternyata belum. Para penonton yang bukan dari kalangan komunitas Bunga Matahari dan CCF pun diajak untuk membaca puisi secara spontan. Penonton pun menyambutnya dengan antusiasme tinggi. Terbukti salah seorang porter ikut berapresiasi dengan membaca puisi hasil karyanya sendiri. Hasannudin, demikian nama porter tersebut.

Ternyata Hasanuddin tidak hanya cekatan berlarian mengejar kereta untuk menjajakan tenaganya mengangkut barang bawaan para penumpang, tetapi juga lihai membaca puisi. Ia pun mendapat sambutan meriah dari sesama porter juga para pengunjung stasiun. Tak sedikit, bahkan memandang kagum padanya. Selain itu, indosiar.com pun, berkesempatan menunjukkan kebolehan membuat dan membacakan puisi buatan sendiri. Jadi, siapa bilang puisi milik kalangan tertentu ?

Seperti yang tertera dalam situs Bunga Matahari (www.bungamatahari.org), BuMa merupakan komunitas puisi yang dibentuk pada 19 April 2000 oleh Gratiagusti Chananya Rompas. Hingga Agustus 2006, anggota milis ini tercatat sebanyak 1000 orang, baik di Indonesia maupun luar Indonesia.

BuMa memiliki semboyan “semua bisa berpuisi” dan dikenal mempunyai karakter tulisan yang beragam dan segar karena puisi-puisi yang masuk BuMa tidak hanya yang ‘berat’ dan serius, tetapi juga yang ‘ringan’ dan cenderung nyeleneh. Hal inilah yang memungkinkan BuMa untuk terus menyemangati dan mewadahi minat dan bakat menulis puisi juga menstimuli keberanian dan keasyikan membaca puisi di semua kalangan.(foto dan teks : Arizal Wahyudi/Idh)

Nama:
Email:

More SAPA:
[ more Sapa ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :