indosiar.com, Maluku - Di Maluku Tengah, Maluku tradisi syawalan diperingati dengan pagelaran duel menggunakan lidi berduri. Tradisi yang dipertontonkan setiap tanggal 7 syawal di Desa Morela ini untuk mengenang keberanian para kapiten atau pemimpin perang warga Maluku saat menghadapi kekuatan penjajah Belanda.
Inilah tradisi duel dan pukul sapu lidi berduri yang masih tetap dilestarikan warga Desa Morela, Maluku Tengah, Maluku. Tidak tanggung-tanggung, selama berlangsungnya duel, seluruh pelaku yang terlibat mengalami luka hingga berdarah.
Tradisi ini sudah berlangsung secara turun temurun dan diselenggarakan setiap tanggal 7 Syawal. Peserta duel dibagi dalam dua kelompok, masing-masing terdiri dari 15 orang.
Para peserta bergantian menyabet tubuh lawannya dengan lidi pohon enau mengikuti alunan gendang.
Meksi darah bercucuran dari tubuh setiap peserta namun tidak satupun yang mengaku kesakitan. Tradisi duel dan pukul sapu lidi ini pertama kali dimainkan para kapiten atau pimpinan perang yang berasal dari Maluku pada masa penjajahan Belanda.
Semua dimainkan sebagai tanda perpisahan setelah mereka berhasil mempertahankan benteng Napapaha dari serbuan Belanda.
Tradisi duel dan pukul sapu lidi yang hingga saat ini dilestarikan untuk mengenang keberanian para pahlawan tersebut. Luka dan kucuran darah akibat pukulan batang pohon enau berduri ini seketika lenyap setelah tubuh para pelaku diolesi getah daun jarak yang telah diberi mantra. Bahkan mantra-mantra inilah yang diyakini menghilangkan rasa sakit. (Jabar Tianotak/Sup/Ijs)