

indosiar.com, NTT - Suku Boti yang berdiam di bagian tengah Pulau Timor, Propinsi Nusa Tenggara Timur, adalah salah satu anak Suku AtOni Meto. Suku asli para leluhur orang Timor. Mereka bermukim di Dusun A. Sebuah dusun nun diatas perbukitan, yang secara administratif ada di wilayah Desa Boti, Kecamatan Ki'e, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Boti dikenal sebagai suku yang masih memegang teguh adat istiadat dari para leluhur mereka, AtOni Meto. Sebuah keunikan yang mereka coba pertahankan di tengah derasnya perubahan zaman.
Jarak Dusun A, tempat Suku Boti tinggal, dengan Kota Kupang, ibukota Propinsi Nusa Tenggara Timur, hanya sekitar 180 kilometer. Tapi butuh waktu 8 jam-an untuk tiba disana. Jalan perbukitan yang berkelok-kelok, ditambah hadangan tebing dan curamnya jurang, membuat kendaraan yang menuju ke sana harus sangat hati-hati. Sepanjang perjalanan beberapa kali terlihat api menyala dikejauhan, tanda ada penduduk yang sedang membuka kebun dengan membakar hutan. Akhirnya, tiba juga di pintu gerbang, menuju ke perkampungan Dusun A. Ini adalah gerbang pertama, atau biasa disebut dengan gerbang luar.
Para penjaga gerbang luar ini adalah anak pemimpin adat dan spiritual Suku Boti, Usif Nune Benu. Usif adalah gelar yang diberikan Suku Boti, terhadap raja mereka. Dalam Bahasa Dawan, para penjaga gerbang luar memberitahu, Usif Nune Benu sudah menanti kehadiran kami sejak sore hari tadi. Padahal sama sekali tidak ada pemberitahuan sebelumnya, kami akan berkunjung. Konon, itu adalah salah satu kelebihan sang raja. Selalu tahu bila tamu akan datang.
Begitu malam tiba, suasana di perkampungan Suku Boti nyaris gelap gulita. Listrik memang belum menjangkau dusun ini. Penerangan hanya berasal dari sebuah lampu minyak, yang menyala di kediaman sang raja. Ditengah gelapnya malam itulah, Usif Nune Benu memaparkan beberapa aspek kehidupan Suku Boti. Misalkan metode penanggalannya. Walaupun perhitungan satu tahun Suku Boti sama dengan tahun masehi. Namun jumlah hari dalam penanggalan Suku Boti berjumlah 9 hari.
Saat pagi hari, barulah terasa betapa asri lingkungan di sini. Sangat kontras jika dibandingkan dengan sebagian besar wilayah Pulau Timor yang kering. Segarnya alam di Boti ini bisa jadi berkat prinsip hidup mereka. Bagi Suku Boti, alam adalah sebuah harta yang harus dijaga, karena itulah sumber kehidupan mereka. Hal ini berkaitan erat dengan kepercayaan peninggalan nenek moyang yang mereka anut. Halaika.
Dalam Halaika, kedekatan antara manusia dengan alam dan sang pemilik alam atau paftuah, dilambangkan dalam kolomanu. Sebentuk patung terbuat dari kayu, yang diletakkan di atas rumah adat. Kolomanu, selain melambangkan kedekatan dengan alam, juga merupakan pertanda, di tempat tersebut ada pemimpin dan masyarakat yang dipimpin.
Saat ini, warga Boti hanya terdiri dari 70 kepala keluarga, dengan 311 jiwa. Tidak seluruhnya tinggal di Dusun A. Sebagian berdiam di dusun - dusun sekitarnya, yang jaraknya 3 hingga 5 kilometer dari Dusun A. Walau terpisah dusun, namun mereka tetap patuh pada Usif Nune Benu, sang raja Boti. Kepatuhan itu misalnya ditunjukkan pada saat pemberian tugas. Masing-masing punya tanggung jawab. Setiap minggu, sang Usif mengumpulkan warganya, memeriksa soal pembagian tugas tersebut.
Untuk menjalankan pemerintahannya ini, raja Boti dibantu dua orang amaf, atau tetua adat. Amaf pertama adalah Suli Neolaka, yang bertugas mengurusi keseharian warga, seperti urusan kebun, kematian, hingga menentukan pohon mana yang boleh ditebang, dan pohon mana yang tidak boleh disentuh. Amaf kedua adalah Bota Benu Nesimnasi. Tugasnya, melakukan hubungan dengan pihak luar serta menjaga keamanan. Jabatan Usif dan kedua amaf ini merupakan jabatan turun temurun.
Boti Muda, Tergodakah Kau
Suku Boti, saat ini bisa disebut sebagai satu - satunya suku di Pulau Timor yang masih memegang teguh adat istiadat peninggalan nenek moyang mereka. Mulai dari cara berpakaian, bersikap, hingga bermasyarakat. Mereka pun hanya boleh menggunakan barang yang mereka buat sendiri. Tapi walaupun adat dijalankan secara ketat, umumnya orang Boti ramah, terbuka menerima tamu.
Ada pembagian tugas yang jelas antara kaum lelaki dan perempuan. Para lelaki bertugas mengurusi permasalahan di luar rumah, seperti berkebun, dan berburu. Sementara urusan rumah tangga, diserahkan kepada kaum perempuan. Walau pembagian peran ini lazim dijumpai dalam sebuah komunitas adat, ada satu hal yang membuat Boti agak berbeda. Mereka menganut monogami atau hanya beristri satu. Bahkan mereka punya tanda.
Seorang lelaki Boti yang sudah menikah, dilarang memotong rambutnya. Bila rambut para suami ini semakin panjang, mereka akan menggelungnya seperti konde. Kalau aturan potong rambut ini dilanggar, maka ia tidak lagi diakui sebagai penganut Halaika. Yang berarti harus keluar dari komunitas Boti.
Neno, yang berusia 18 tahun, adalah salah satu contoh keseharian pemuda Boti. Neno, seperti kebanyakan pemuda Boti lainnya, hanya sempat mengecap pendidikan hingga kelas 3 SD. Ia lebih memilih untuk keluar dari sekolah, dan tenggelam dalam kesibukan keseharian warga Boti. Para pria Boti memiliki tugas, merawat kebun dan memelihara hewan peliharaan mereka.
Meskipun hanya bersekolah hingga kelas 3 SD, dan harus menjalani kehidupan adat yang tak mudah, tidak pernah terlintas dalam benak Neno, untuk meninggalkan dusunnya. Ia memang belum pernah menginjakkan kaki di Kota Kupang, namun toh ia mengaku tidak tertarik dengan kehidupan lain di luar kehidupan adat Suku Boti.
Kehidupan yang sama juga dijalani oleh Oni. Gadis belia cucu Usif Nune Benu. Seperti Neno, Oni juga tidak melanjutkan sekolah setelah ia menyelesaikan kelas 3 SD-nya. Berbeda dengan Neno, Oni yang kini berusia 15 tahun, masih ingin meneruskan sekolah. Apa daya, orang tuanya, melarangnya bersekolah lebih tinggi lagi.
Bagi orang tua Suku Boti, sekolah formal tidaklah mengajarkan kearifan hidup kepada anak-anak mereka. Waktu yang dihabiskan di sekolah akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk mempelajari cara menenun kain tradisional Boti, yang terkenal dengan motif khas-nya, lotis bebnise, atau motif hewan kaki seribu. Sebuah keterampilan yang harus dimiliki semua wanita Boti.
Ketrampilan menenun Oni dan perempuan Boti lainnya ini bukan saja untuk dipakai sehari-hari. Tapi juga dipamerkan di sebuah rumah khusus, yang mereka sebut Rumah PKK. Untuk dijual kepada para turis, dengan harga berkisar antara 25 ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Hasilnya mereka bagi sesuai dengan porsi kerja, dan sebagian lagi dibelikan hewan ternak.
Walaupun Suku Boti tetap berusaha berpegang teguh pada kebiasaan adat, tak bisa dipungkiri, perubahan - perubahan kecil mulai terlihat di tengah mereka. Benang untuk menenun misalnya. Ada yang mereka beli di toko. Padahal sebelumnya, seluruh proses menenun, termasuk pembuatan dan pewarnaan benang, dikerjakan sendiri oleh para perempuan Suku Boti. Demikian juga dengan pakaian. Saat ini mulai terlihat beberapa warga Boti menggunakan pakaian yang bukan buatan mereka sendiri. Sebuah hal yang sebelumnya ditabukan oleh adat.
Regenerasi dan Putra yang Terusir
Tidak mudah menjalani kehidupan yang sarat tuntutan adat seperti Suku Boti. Kuatnya tarikan dunia luar, sedikit banyak mulai memberikan warna lain terhadap kehidupan mereka. Apalagi Boti bukanlah suku yang terisolir ataupun menutup diri dari dunia luar. Adat yang mengharuskan mereka menggunakan benda-benda buatan sendiri, mulai diabaikan.
Selain benang tenunan yang tidak lagi alami, perlengkapan makan yang tadinya dibuat sendiri, kini dibeli di toko.itu juga yang diamati Primus Lake, seorang peneliti sosial asli Timor. Walaupun Suku Boti berusaha keras mempertahankan kehidupan tradisional mereka, tanda - tanda perubahan sudah mulai nampak.
Ditengah perubahan itu, ketegasan memegang teguh adat, ditunjukkan oleh sang Usif sendiri. Putra tertuanya, Laka Benu, tidak lagi memiliki keterikatan secara adat dengan Suku Boti, setelah ia memilih untuk memeluk salah satu agama tertentu. Walaupun Laka Benu masih tetap diperbolehkan berhubungan dengan masyarakat Boti, tapi ia bukan lagi bagian dari masyarakat adat Boti.
Sang raja Boti, Usif Nune Benu, yang sudah berusia lebih dari 80 tahun ini, memang tak bisa dipungkiri adalah orang yang paling berperan menjaga agar Suku Boti tidak melupakan ajaran para leluhur mereka. Selain sikap tegas terhadap anak sulung yang sebetulnya ia harapkan sebagai penerus tahta, sang Usif pun paham betul pentingnya menjaga keharmonisan hidup dengan alam. Karena alam akan memberi, apa yang diterimanya dari manusia.
Pusat kehidupan Suku Boti memang bersumber dari alam, selaras dengan kepercayaan Halaika yang mereka anut. Bahkan ritual besar pun diadakan sebelum melakukan panen. Ritual yang mereka lakukan di sebuah bukit bernama Faen Mate, berjarak sekitar 8 kilometer dari kediaman Usif Nune Benu.
Di bukit Faen Mate ini juga mereka kadang berkumpul, mendengar wejangan raja. Pohon tua di bukit ini bukanlah sembarang pohon. Biasa disebut dengan nama toas atau haumonef, pohon tua ini punya 3 buah cabang. Masing-masing melambangkan hubungan dengan paftuah sang penguasa alam, hubungan manusia dengan alam serta hubungan dengan leluhur. Hubungan yang selalu dijaga Suku Boti sejak dulu kala.
Namun para tetua adat dan beberapa orang di Boti, bahkan sang Usif sendiri, amat paham, tak mudah lagi kini menanamkan keyakinan prinsip luhur Suku Boti ini, terutama terhadap kaum mudanya.
Untuk mengantisipasi ancaman ini, sang Usif pun sudah mempersiapkan anak ketiganya, Nama Benu, sebagai penerus kepemimpinan Suku Boti bila dirinya mangkat kelak.
Jalan yang akan dihadapi Nama Benu, sang pewaris tahta Boti ini kelak, niscaya tidaklah mudah. Godaan modernisasi toh perlahan sudah mulai mereka rasakan. Di satu sisi, hal itu mungkin membawa perbaikan kualitas hidup, namun di sisi lain kerap menjadikan manusia lupa akan ajaran luhur nenek moyang. Tampaknya, kelangsungan adat di Boti, satu-satunya suku di Timor yang masih mempertahankan tradisi leluhur dengan ketat, tengah diuji ketangguhannya.(Idh)