Reporter : Medi Trianto
Juru Kamera : Rudi Asmoro
indosiar.com, Jayapura - Desa Tablanusu, Kecamatan Depapre merupakan desa nelayan yang terletak di Kabupaten Jayapura, Papua. Untuk menuju desa yang sempat menjadi basis pasukan sekutu pada Perang Dunia Kedua ini butuh waktu 2 jam perjalanan darat dari Kota Jayapura hingga ke pelabuhan Kecamatan Depapre. Dari pelabuhan, perjalanan dilanjutkan menggunakan perahu bermesin tempel selama sekitar 20 menit.
Keberadaan dermaga kayu di Kecamatan Depapre, Papua ini sangat penting artinya bagi warga Desa Tablanusu dan sekitarnya. Karena tidak ada jalan darat yang bisa menembus desa mereka.
Jadi dari dermaga inilah kami diantar Yakobus, sang pemilik kapal, menuju Tablanusu. Untuk menjalankan perahu bermesin tempel 40 PK ini, Yakobus dibantu seorang temannya.
Selama perjalanan, keindahan alam Papua tertera jelas. Bahkan sejumlah peninggalan sejarah bisa dilihat melalui perjalanan ini. Seperti bekas dermaga milik pasukan sekutu. Lalu ada desa adat yang kini telah dikosongkan, termasuk juga prasasti salib sebagai tanda masuknya agama Kristen di awal tahun 1900-an.
Di sejumlah tempat, indahnya terumbu karang yang dijaga kelestariannya secara adat, juga bisa dinikmati. Keindahan Desa Tablanusu berbeda dengan umumnya desa yang terletak di tepi pantai. Di desa ini tidak terlihat hamparan pasir. Pantainya dipenuhi batu koral kecil yang sudah ada sejak leluhur mereka menetapkan pindah ke wilayah ini.
Tidak berbeda dengan kondisi pantai, hampir seluruh wilayah di Desa Tablanusu seperti jalan desa, halaman hingga teras rumah diselimuti batu berukuran kecil ini. Sehingga kemanapun kaki melangkah, suara gesekan batu koral yang terinjak akan terdengar. Konon karena gesekan batu yang menyerupai isakan inilah Desa Tablanusu dikenal sebagai Desa Batu Menangis.
Kehidupan di Desa Tablanusu pada siang hingga sore hari hanya diwarnai oleh sejumlah anak yang bermain-main. Siang hari, Tablanusu memang sepi. Para perempuan dewasa disini biasanya mencari keong dekat desa. Keong-keong hasil buruan mereka kebanyakan bukan untuk dijual, tapi untuk menu makan malam mereka sekeluarga.
Sementara bagi para lelakinya, siang hari adalah waktu beristirahat. Seperti umumnya desa nelayan, sebagian besar warga Tablanusu lebih senang mencari ikan pada malam hari. Terutama pada masa bulan gelap karena di saat itulah ikan lebih mudah ditangkap.
Melaut bersama Efraim
Di Desa Tablanusu, Efraim dikenal sebagai nelayan yang ulung dalam mencari ikan. Pria yang telah memiliki enam orang anak ini lebih senang melaut, atau mencari ikan pada malam hari. Sementara dari pagi sampai menjelang keberangkatannya melaut, Efraim melewatkan waktu bersama keluarganya.
Usai bercengkrama dengan keluarga, Efraim mulai mempersiapkan diri untuk melaut. Termasuk berbagai peralatannya. seperti lampu petromaks dan alat pancing. Tak ketinggalan 2 bilah tombak yang digunakan untuk membunuh ikan besar.
Bila semua telah siap, Efraim pun akan berangkat. Perahu milik Efraim adalah perahu tradisional yang hanya dapat muat satu orang. Lampu petromaks yang dibawa dari rumah, diikat di ujung perahu sebagai penerangan. Hanya dengan mengandalkan pencahayaan dari petromaks inilah Efraim akan mencari ikan yang bermain di permukaan air.
Ombak yang cukup besar malam ini membuat upaya Efraim menuju ke laut lebih cepat. Ombak menyeret perahu kecil Efraim menuju laut lepas. Tapi kecepatan perahu dirasa masih belum cukup. Kalau sudah begini, maka dayung pun digunakan.
Selama mendayung, mata Efraim pun awas memperhatikan gerakan air. Mencari gerakan ikan buruan. Hingga akhirnya berhentilah kami.
Sambil menunggu kailnya dimakan ikan, Efraim memperhatikan permukaan air guna mencari ikan tenggiri yang bermain di permukaan. Tak lama kemudian Efraim merasakan pancingnya telah dimakan ikan. Hasil pancingan pertama ini sungguh menambah semangat. Ukuran ikannya cukup besar.
Tak lama, kail pun dilempar kembali. Namun saat menunggu kailnya dimakan ikan, Efraim melihat seekor ikan tenggiri yang cukup besar di dekat perahunya. Secara perlahan, Efraim menyiapkan tombak bermata lima. Dengan cepat dilemparkannya ke arah ikan tersebut. Seekor ikan tenggiri berukuran cukup besar berhasil ditombaknya.
Sementara itu, di wilayah lain di perairan Desa Tablanusu, sekelompok nelayan juga tengah berupaya mencari ikan. Namun cara yang mereka lakukan berbeda dengan Efraim yang mengandalkan lampu petromaks dan pancing. Kelompok nelayan ini tidak menggunakan lampu petromaks. Satu-satunya cahaya yang terlihat hanyalah dari sebuah senter yang kerap kali menghilang cahayanya di dalam laut. Kelompok nelayan ini mencari ikan dengan cara menyelam.
Biasanya para pencari ikan ini melaut secara berkelompok. Terdiri dari dua hingga tiga orang, mereka berbagi tugas untuk menyelam dan menjaga perahu secara bergantian. Perahu kecil ini memang harus mereka jaga, supaya tidak terdorong ombak ke arah pulau karang.
John yang mengigil kedinginan ini adalah salah seorang penyelam. Ia tengah menunggu dua temannya yang berada di dasar laut untuk mencari ikan karang dan lobster.
Tak lama, seberkas cahaya timbul dari dasar laut. Tapi bukan berarti mencari ikan sudah selesai. Sesaat kemudian teman John yang lain juga muncul ke permukaan, dengan seekor lobster di tangannya. Dengan cara menyelam, John dan rekan-rekannya mampu memperoleh 15 lobster dan puluhan ikan karang hanya dalam waktu beberapa jam saja.
Saat hasil tangkapan telah dirasa cukup, berarti saatnya pula untuk pulang. Tak jauh beda dengan John dan teman-temannya, malam ini peruntungan Efraim cukup bagus. Tiga ekor ikan tenggiri besar dan sejumlah ikan lainnya. Hasil tangkapan ini akan dibawa ke pasar di dermaga Depapre. Dengan perahu tradisional, para nelayan Tablanusu, butuh waktu hampir satu jam perjalanan menuju pasar.
Buah pinang di Pasar Ikan
Pagi hari saat matahari baru menampakan sinarnya Efraim telah mendayung perahu tradisionalnya menuju Dermaga Depapre. Kendati lelah karena hingga dini hari mencari ikan, Efraim tak henti mendayung. Satu jam hampir berlalu. Akhirnya Dermaga Depapre dengan latar belakang Bukit Cycloops mulai terlihat.
Mendekati dermaga, tenaga Efraim seolah bertambah karena melihat Absalom, pedagang yang kerap memborong hasil tangkapannya.
Dermaga Depapre sudah dipenuhi para nelayan dan pedagang yang datang dari sentani hingga Jayapura. Namun Efraim tidak mencari pedagang lainnya. Ia langsung menawarkan hasil tangkapannya kepada Absalom. Seperti ada kontrak tak tertulis di antara mereka.
Dengan cepat Absalom membayar ikan tenggiri milik Efraim dengan harga 2 ratus ribu rupiah setiap ekor. Usai transaksi, Efraim pun langsung pulang, berlayar kembali ke desanya. Sedangkan Absalom tetap menunggu nelayan lainnya di dermaga. Untuk menghilangkan rasa jenuh saat menunggu para nelayan, Absalom mengeluarkan sebuah bungkusan dari celananya.
Seperti kebiasaan masyarakat Papua pada umumnya Absalom selalu mengkonsumsi buah pinang. Cara makannya, Absalom mencampurkan sirih ke dalam kapur sebelum mengunyahnya bersama pinang. Sambil memakan pinang, Absalom berharap masih ada nelayan yang datang untuk menjual ikannya. Absalom yakin masih banyak nelayan yang akan datang karena dirinya memahami kekayaan laut di daerah Tablanusu. Kekayaan yang selalu dijaga dengan ketat secara adat.
Kekayaan laut Tablanusu memang selalu dijaga secara adat. Secara rutin, sejumlah areal terutama daerah terumbu karang ditutup melalui serangkaian upacara adat. Penutupan areal ini dilakukan dari satu tahun hingga dua tahun. Berdasarkan aturan yang bernama kiaitiki atau sasi ini tidak ada seorangpun dapat mencari ikan di wilayah trersebut.
Dengan berpegang teguh pada adat warisan leluhur ini, kekayaan ikan di perairan Deparpe khususnya Tablanusu niscaya akan terus terjaga. Sehingga kekayaan laut tidak untuk dimanfaatkan generasi mereka saja, namun anak cucu mereka dapat juga merasakan hal serupa. Ssebuah perilaku bijak dari pedalaman Papua.(Ijs)