
indosiar.com, Katingan -Kalimantan Tengah, adalah sebuah provinsi yang hampir 90 persen wilayahnya diselimuti hutan. Hutan inilah yang menjadi sumber kehidupan satu-satunya bagi warga yang tinggal di daerah pedalaman. Sumber kehidupan yang sering mendapat gangguan dari mulai penebangan liar yang membabi buta, kebakaran hingga ketergantungan pada apa yang disediakan alam.
Beberapa waktu lalu Tim Teropong masuk ke salah satu daerah di Kalimantan Tengah yang dikenal sebagai daerah penghasil rotan. Yaitu di Kabupaten Katingan sekitar 40 kilometer dari Ibukota Kalimantan Tengah, Palangkaraya.
Selain melihat keseharian para petani rotan yang kebanyakan merupakan Suku Dayak Katingan, kami juga bermaksud menyaksikan tradisi setempat yang penuh mistis. Konsep religi mereka dikenal dengan sebutan Kaharingan.
Salah satu desa penghasil rotan di Katingan adalah Desa Sawang Beringin. Kesanalah kami menuju menggunakan kapal klotok. Kapal klotok adalah alat transportasi satu-satunya untuk menghubungkan satu desa dengan desa yang lain di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.
Ini memang kondisi umum di Kalimantan. Sebagian besar wilayahnya belum punya sarana transportasi darat yang memadai untuk masuk ke pedalaman sehingga sungai akhirnya jadi satu-satunya jalan.
Akhirnya kami pun sampai di Desa Tawang Beringin. Rupanya kedatangan kami berbarengan dengan datangnya puluhan ikat rotan yang baru dipetik oleh para petani di lahan kebun mereka. Satu ikat biasanya memiliki berat hingga 80 kilogram dengan panjang rata-rata sekitar 7 meter.Rotan-rotan ini ditimbang dulu sebelum direndam di sungai sekitar 3 malam agar rotan lebih kuat.
Desa Tawang Beringin memang tak bisa dipisahkan dari rotan. Hampir seluruh warga mengantungkan hidup pada kayu yang berbentuk seperti lidi besar ini.
Sayangnya, harga rotan kini terus merosot. Biasanya 1 kuwintal rotan dijual dengan harga 120 ribu rupiah kini hanya 80 ribu rupiah. Rotan pun kini tak sebanyak dulu. Alhasil, penghasilan pun jauh berkurang. Bukan hanya para petani yang kena dampak. Warga yang mencari tambahan dengan membersihkan batang rotan yang sulurnya berduri pun kena imbasnya.
Lilis Sumarni misalnya, dalam sehari ia biasanya membersihkan 500 batang sehari dengan harga 7 ribu rupiah untuk setiap 100 batang. Kini paling banyak hanya sekitar 200 batang sehari. Berarti perolehannya berkurang dari 35 ribu rupiah menjadi hanya 14 ribu rupiah sehari.
Rotan yang sudah dipetik ternyata tidak bisa begitu saja langsung ditawarkan ke calon pembeli. Setidaknya perlu waktu satu minggu untuk mempersiapkan rotan yang layak jual.
Selain proses pembersihan dari duri dan kulit kayunya, rotan masih harus dibakar dulu semalaman menggunakan karbit. Warna rotan yang sudah melalui proses pembakaran akan berubah menjadi putih. Baru setelah itu dijempur hingga kering dan akhirnya siap dijual.
Seharian sudah kami melihat desa penghasil rotan di Desa Tawang Beringin, Kabupaten Katingan. Esok kami akan kembali lagi ke desa ini untuk melihat secara langsung bagaimana petani memetik rotan di hutan. Orang Dayak biasanya menyebutnya dengan istilah menetes.
Menetes Rotan
Pagi ini kami sudah sampai di Desa Tawang Beringin. Karena rencananya akan ikut ke hutan mencari rotan. Para petani di sini biasa berangkat pagi dan pulang sore hari.
Sebagian besar warga Katingan memiliki kebun rotan sendiri. Setiap kepala keluarga rata-rata punya lahan minimal 1 hektar. Bila kebun rotan mereka belum bisa menghasilkan, para petani harus mencarinya di hutan.
Seperti yang dilakukan Pak Okek. Pria setengah abad ini tengah bersiap-siap ditemani dua orang temannya. Dengan menggunakan perahu kecil atau perahu getek, Pak Okek bersama rekan-rekannya berangkat ke hutan. Akhirnya sampai juga di pinggir hutan yang dituju.
Perjalanan menyusuri hutan pun dimulai. Berbeda dari tampak diluar. Hutan yang kami lalui ini tidak terlalu rapat. Tidak semua hutan ada pohon rotannya. Karena itu butuh kejelian petani untuk mengira-gira keberadaanya juga harus jeli melihat jenis dan kualitasnya.
Umumnya di hutan Katingan ini ada dua jenis pohon rotan yang tumbuh subur yaitu jenis rotan Sega dan rotan Irit. Kedua jenis rotan ini punya kualitas berbeda. Rotan Sega kualitasnya lebih baik dari rotan Irit. Selain tebal, jarak antar puku lebih panjang dan bisa hidup lebih dari 10 tahun.
Sedangkan rotan Irit, batangnya kecil jika tidak dipanen selama 5 tahun, rotan ini akan mati. Harga rotan Sega pun lebih mahal dibandingkan rotan irit.
Pohon rotan senantiasa tumbuh menjalar ke atas mengikuti pohon besar yang ada didekatnya. Untuk memudahkan menarik rotan dari bawah, alang-alang yang ada disekitarnya harus dibersihkan terlebih dahulu.
Yang sulit bila banyak rotan yang melintang ke atas hingga saling bersilangan. Mau tidak mau pohon itu harus dipanjat dan ini beresiko sangat besar. Terpuruknya harga rotan membuat para petani seperti Pak Okek dan rekan-rekannya tidak bersemangat memetik rotan. Apalagi banyak penampung yang masih berhutang kepada mereka.
Jumlah yang belum dibayar kepada tiga ratusan petani rotan di Desa Tawang Ringin mencapai 200 ton. Jumlah sebanyak itu antara lain karena sudah menjadi kebiasaan proses jual beli rotan dilakukan dengan cara dicicil atau dikredit.
Dalam kondisi seperti sekarang, hal itu memberatkan para petani. Sementara Pemda setempat belum mampu membeli secara langsung dari petani akibat keterbatasan dana. Saat ini memang Pemda setempat telah membangun pabrik pengolahan rotan setengah jadi, supaya hasil rotan dari petani bisa langsung dijual ke pabrik tersebut.
Namun sayang, lokasinya jauh dari desa. Sehingga adanya pabrik tersebut belum bisa membuat harga rotan pulih seperti semula. Rencananya tahun 2006, Pemda Katingan akan membangun 4 pabrik yang letaknya terjangkau oleh desa-desa penghasil rotan.
Terpuruknya harga rotan ini dijadikan momentum bagi warga Desa Tawang Beringin untuk berdoa kepada roh leluhur mereka agar harga rotan kembali normal. Sebuah doa yang didasarkan pada konsep religi Dayak yang dikenal dengan sebutan Hindu Kaharingan.
Mengucap Nadzar
Di Kalimantan Tengah, konsep religius Suku Dayak dikenal dengan sebutan Hindu Kaharingan. Dalam Hindu Kaharingan, roh-roh nenek moyang orang Dayak dipercaya bersemayam pada pohon, goa atau batu yang besar. Sehingga ritual keagamaan mereka sering menggunakan media seperti itu.
Demikian juga dalam ritual yang akan digelar tak lama lagi. Pak Okek, sang petani rotan yang kami ikuti aktivitasnya, ternyata juga merangkap sebagai dukun adat desa. Pisur, demikianlah orang Dayak menyebutnya.
Pak Okek Sang Pisur diminta kepala desa untuk melakukan sebuah ritual nazar sebagai ihtiar menemukan jalan keluar atas merosotnya harga rotan. Untuk mempersiapkan ritual yang akan dilaksanakan, Sang Pisur mengajukan sejumlah syarat yang harus disiapkan oleh yang bernazar.
Kali ini ada sekitar 12 macam yang diminta. Antara lain lawang atau nasi yang dimasak dalam bambu. Selain nasi bambu ini, syarat lain adalah hewan qurban. Hewan yang diminta biasanya ayam dengan warna yang berbeda. Tapi bila nazar dilakukan sampai lebih dari 3 kali, maka hewan yang disediakan haruslah sapi atau kerbau.
Setelah semua perlengkapan ritual tersebut tersedia, seluruh warga yang hadir termasuk yang nazar harus minum baram atau tuak. Minuman kas Dayak yang terbuat dari beras ketan.
Bila semua sudah minum tuak, ritual pun dimulai. Semua sesaji yang akan dipersembahkan kepada roh halus ini dimantrai diatas dupa yang telah diberi kemenyan. Termasuk 3 ekor ayam yang jadi syarat utama. Ayam-ayam ini akan disembelih dan sebagian darahnya disisihkan dalam mangkuk kecil.
3 ekor ayam yang telah dimantrai dan disembelih itu harus dibersihkan dan dimasak. Bila sudah siap dibawa bersama sesaji lain ke balai petahu. Sang Pisur juga membawa beras putih yang disimpan dalam sebuah mangkuk bersama bunga merah dan uang.
Beras putih ini mutlak ada karena beras inilah yang akan menghubungkan Sang Pisur dengan roh halus. Semua ini juga akan dibawa ke balai petahu. Balai petahu merupakan tempat atau rumah roh halus yang biasanya bersebelahan dengan balai basara, tempat ibadah umat Hindu Kaharingan.
Orang Dayak Hindu Kaharingan menyakini roh halus tersebut senantiasa menjaga dan melindungi warga kampung Tawang Beringin. Semua persyaratan ritual sudah siap di balai petahu. Saat memulai lagi ritual selanjutnya. Mantra pun kembali diucap.
Ritual yang dilakukan di balai petahu ini merupakan ritual inti. Karena pada saat inilah Sang Pisur langsung berhubungan dengan roh halus yang akan dimintakan permohonannya. Mantra pertama yang dibacakan adalah mantra meminta ijin kepada sang pengawal roh yang disimbolkan dengan 7 patung yang terbuat dari kayu dan satu batu yang diyakini anak roh halus.
Dengan segelas baram atau tuak, Sang Pisur kemudian memberi minum 7 patung tersebut dan mengoleskan darah ayam pada patung tersebut sebagai tanda hormat.
Mantra berikutnya adalah mantra untuk memanggil roh halus yang ada di balai petahu agar turun berkomunikasi dengan sang dukun Pisur. Hanya lewat beras, Sang Pisur bisa berkomunikasi dengan para roh.
Sebagai tanda hormat, Sang Pisur mengoleskan darah ayam pada 7 buah patung yang kemudian diikuti kaum perempuan warga desa yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Pisur. Setelah itu mereka diwajibkan minum tuak.
Bukan hanya yang menyaksikan ritual yang harus minum tuak. Sang dukun adat pun berkali-kali harus meneguknya. Saat membaca mantra misalnya, Pak Okek harus sering minum. Hal ini penting supaya mantra yang diucapkan lancar. Jadi semakin banyak minum tuak, semakin fasih sang Pisur mengucap mantra.
Dari pembicaraan Sang Pisur dengan roh ini akan diketahui apakah permohonan orang yang bernazar akan terkabul atau tidak. Roh yang dipercaya hadir di tengah-tengah kami ini juga akan menyampaikan permintaan apa yang harus dibayar si pemohon bila terkabul. Dalam ritual ini sang roh meminta disembelihkan seekor sapi bila nazar kesampaian.
Percaya atau tidak, tapi banyak gambar yang terekam dalam kamera kami tidak bisa dilihat hasilnya. Padahal sama sekali tidak ada indikasi kerusakan dalam peralatan kami.
Kejadian ini berawal dari batalnya lokasi ritual yang seharusnya agak masuk ke dalam hutan, tapi kemudian dipindahkan agar lokasi ini berdekatan dengan desa. Sejak itu banyak kendala yang ditemui dalam pelaksanaan pengambilan gambar. Konon menurut sang Pisur, roh halus yang ia panggil kurang berkenaan dengan lokasi ritual.
Tapi setidaknya nazar sang kepala desa telah disampaikan. Dan akhirnya kami termasuk juru kamera kami juga harus ikut ritual ini. Sang Pisur memohon agar semua diberi keselamatan.
Kami berusaha mencari jawaban yang rasional atas kendala yang kami hadapi. Tapi toh tak ada jawaban yang pasti. Karena setelah dibawa ke Jakarta, tidak ada masalah sama sekali dengan peralatan kami.
Entahlah apa yang terjadi, tapi Desa Tawang Beringin di Kalimantan Tengah meninggalkan kenangan. Kenangan atas sebuah keyakinan warga setempat terhadap para leluhur. (Sup)