
Pulau Madura. Itulah tujuan kami kali ini. Tepatnya ke Kabupaten Pamekasan. Akan ada perhelatan yang sudah jadi tradisi tahunan, yakni kerapan sapi atau adu cepat sapi-sapi terbaik se-Madura, dalam memperebutkan piala bergilir presiden.
Kerapan sapi di Madura konon lahir dari tradisi masyarakat petani, ketika membajak sawah. Akhirnya melahirkan sebuah kebiasaan, saling berkejaran untuk jadi yang terdepan. Kini, tradisi itu bukan lagi sekedar hiburan, namun sudah berkembang menjadi sebuah ajang menaikkan gengsi, meningkatkan martabat.
Sesaat lagi acara bergengsi di Madura, Kerapan Sapi Gubengan, digelar di Stadion Sunarto Hadi Wijoyo, Kabupaten Pamekasan. Para pemenang tingkat kabupaten yang akan bertarung untuk tingkat Madura, mulai berdatangan. Masing-masing bangga dengan sapi andalan mereka.
Setiap kabupaten mengirimkan enam pasang duta di ajang tahunan ini. Terdiri dari tiga pasang juara golongan pemenang dan tiga juara golongan kalah. Seluruh peserta kerapan sapi berjumlah 24 pasang. Urutan bertanding sudah ditentukan jauh-jauh hari, jadi masing-masing sudah tahu siapa lawannya.
Yang unik, setiap sapi yang masuk ke arena, akan diikuti iring-iringan pendukungnya, lengkap dengan rombongan kesenian khas Madura, Saronen. Membuat suasana jadi begitu meriah. Para calon juara pun terlihat gagah. Kulit mengkilat terkena sinar matahari, ditambah atribut dandanan yang mentereng.
Dalam kerapan sapi, sapi yang akan berpacu akan melaju sepasang-sepasang. Masing-masing dikendalikan seorang joki. Karena itu dipasanglah kaleles, sebagai tempat joki berpijak.
Dulu, peran joki biasanya dilakukan oleh orang dewasa. Tapi seiring waktu, kini banyak joki dari kalangan anak-anak. Seperti Dian. Usianya masih 8 tahun, menjadikannya sebagai joki termuda dalam ajang kerapan sapi piala presiden kali ini. Sudah 2 tahun Dian menjadi joki, untuk pasangan sapi Gagak Rimang dari Kabupaten Pamekasan. Pasangan sapi ini adalah pasangan sapi favorit yang diprediksi akan jadi juara.
Rasa sayang dan bangga pada hewan yang sudah seperti miliknya ini memang bisa dipahami. Karena tidak mudah untuk sampai ke tahap ini, tahap sapi-sapi jagoan dari empat kabupaten se-Madura beradu. Sang joki harus menang di tingkat kecamatan hingga kabupaten dengan pasangan sapi yang sama. Jadi kebanggaan tersendiri, jika bisa tampil dalam acara gubengan.
Selain sulit, karena harus tetap kokoh berdiri ditarik 2 ekor sapi yang berlari kencang, seorang joki juga harus bisa dipercaya si pemilik sapi.
Pacuan dimulai. Stadion Sunarto Hadi Wijoyo semakin padat dengan penonton, yang ingin menyaksikan tradisi tahunan bergengsi ini. Teriknya matahari seolah kian memanaskan suasana. Babak pertama, pasangan sapi dilepas berpacu, untuk menentukan masuk dalam golongan menang dan kalah. Hari inilah sebuah gengsi dipertaruhkan.
Pertaruhan Gengsi...
Peta kekuatan setiap pasangan sapi, bukan hanya sudah diketahui lawan-lawannya. Soal kekuatan dan kelemahan semua peserta ini juga dipahami para penonton setia kerapan sapi.
Ini bukan hanya soal kegemaran mereka terhadap kerapan. Dalam setiap kerapan bahkan untuk tingkat kecamatan sekalipun, selalu ada pertaruhan uang. Suasana kian meriah ketika akhirnya kerapan sapi dimulai. Panjang lintasan yang harus dilalui 180 meter.
Masing-masing peserta diberi waktu 15 menit untuk bersiap-siap. Penentu kemenangan adalah juri di garis finish, yang akan mengangkat bendera berwarna sesuai dengan asal lintasan pemenang.
Para penggemar kerapan, memprediksi 3 pasang sapi, yakni Sinar Alam dari Kabupaten Bangkalan, Gagang Rimang dari Kabupaten Pamekasan, dan jagoan Kabupaten Sampang milik Haji Ahmad Hasan, Lek Kolek, akan masuk babak final.
Ada yang berbeda dalam kompetisi tahun ini. Peraturan tidak boleh menganiaya sapi, dihapuskan. Jadi kini, setiap pengerap dan pendukung, dapat memperlakukan sapinya, dengan bebas, demi kecepatan berlari. Pasangan sapi yang biasanya dirawat dengan istimewa, sekarang justru diperlakukan tidak wajar. Semua itu bertujuan agar sang sapi dapat berlari sekencang-kencangnya, mendahului lawan sampai garis finish.
Akibatnya, sapi tidak bisa tenang saat bersiap-siap di garis start. Perlu banyak orang untuk memegang sapi-sapi yang gelisah ini supaya mereka tidak maju mendahului aba-aba. Terkadang untuk start saja dapat memakan waktu cukup lama.
Semua berupaya, kemenangan ada di tangan mereka. Hadiah seolah bukan perkara yang utama dalam ajang ini. Gelar juara adalah yang terpenting. Karena dengan jadi juara, sang pemilik pun akan terangkat keberadaannya.
Kemenangan Gengsi…
Kerapan demi kerapan, berjalan. Golongan menang dan golongan kalah, masuk babak selanjutnya. Pada babak semi final, pasangan favorit Gagak Rimang, dengan nomor urut 17 akan berhadapan dengan Lek Kolek yang bernomor urut 24.
Dian gagal masuk babak final. Langkahnya terhenti oleh Lek Kolek, dengan joki Saleh, yang berumur 12 tahun. Mungkin faktor pengalaman Saleh juga menjadi penentu kemenangan. Saleh sudah menjadi joki sapi kerap sejak usianya masih 6 tahun. Dan sudah lebih dari satu tahun ini bocah yang kini berumur 12 ini, memacu Lek Kolek, milik Ahmad Hasan.
Buat pengusaha besi bekas di Jakarta, Ahmad Hasan, memiliki sapi kerapan adalah untuk sebuah gengsi. Padahal harga sang sapi, Lek Kolek tidak murah. Seratusan juta rupiah. Belum lagi biaya perawatan setiap harinya sekitar 500 ribu rupiah.
Bagi orang Madura, kekayaan berlimpah tidak ada artinya bila ia belum punya sapi kerapan jagoan. Jika sapinya menjadi juara, masyarakat akan mengenalnya sebagai pemilik sapi yang andal di Madura. Pengakuan itulah yang sungguh dinanti.
Saat yang ditunggu tiba. Putaran final golongan menang. Untuk babak ini, ada 3 pasang sapi kerap yang akan berpacu, yaitu Sinar Alam milik Haji Tohir dari Kabupaten Bangkalan, Bintang Ngalle milik Haji Nurun Tajala dari Kabupaten Sampang, dan Lek Kolek milik Haji Ahmad Hasan, juga dari Kabupaten Sampang. Penonton menunggu dengan antusias. Hampir satu jam berlalu. Belum juga dilepas.
Lek Kolek, duluan menyentuh garis finish, menyusul Sinar Alam dan Bintang Ngale. Semua bersuka, demikian juga Saleh, sang joki, Lek Kolek berhasil meraih juara satu. Kemenangan sudah diraih, namun tidak terhenti sampai disini. Tahun depan kerapan sapi se-Madura akan digelar lagi. Salah satu ajang pembuktian martabat kembali diraih.
Sang juara sudah didapat. Perjuangan selama setahunan, seolah terbayar sudah. Tapi bukan berarti semua selesai hanya sampai di sini. Tahun depan, Kerapan Sapi Gubengan se-Madura ini akan kembali digelar. Mampukah Lek Kolek mempertahankan martabat tuannya kembali. Ataukah justru nasibnya berakhir di tempat pemotongan.(Idh)