Sosbud
20-Dec-2005 17:03:52 WIB
TEROPONG
Grebeg Syawal di Makam Sunan



Berita HOT:
Tayang: Selasa, 20 Desember 2005 Pukul 12.00 Wib
Reporter : Gusti Eka Sucahya
Juru Kamera: Iwan Agung

indosiar.com, Cirebon - Sebagai kota yang terletak di pantai utara tanah Jawa, Cirebon adalah jalur perlintasan transportasi kendaraan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah yang sibuk dan strategis. Selain itu, Cirebon juga dikenal memiliki keragaman budaya dan tradisi yang kuat bernuansa religi.

Daya tarik spiritual yang dimiliki kota Cirebon antara lain adalah keberadaan makam salah seorang penyebar agama Islam di nusantara Sunan Gunung Jati. Kesanalah kami menuju.

Komplek peristirahatan terakhir sang sunan yang terletak di Astana Gunung Jati ini tak pernah sepi dari kunjungan para pesiarah.

Kami datang pada suatu malam diawal bulan Syawal. Tepatnya tanggal 7 peritungan tahun Hijriah. Bergabung bersama ratusan pesiarah yang datang dari berbagai daerah berkumpul di komplek makam Sunan Gunung Jati.

Doa dan zikir dari para pesiarah seperti berkumandang tiada hentinya di komplek makam yang sudah berusia ratusan tahun ini. Memuji kebesaran Tuhan sekaligus mendoakan sang pejuang Islam. Terkadang doa pun dipanjatkan melalui senandung dan nyanyian.

Sekelompok pesiarah yang sebagian besar terdiri dari mereka yang telah lanjut usia ini berasal dari daerah Begisik. Salah satu wilayah Cirebon. Mereka adalah kelompok yang secara turun temurun selalu datang dan melakukan pujian setiap ada perayaan besar di sini.

Mereka berseru kepada sang penguasa hidup untuk mengampuni dan memperingatkan mereka yang lalai melaksanakan perintah.

Tidak ada yang tahu bahkan diantara mereka sendiri, kapan mereka pertama kali mulai melakukan senandung rohani ini. Namun sejak leluhur-leluhur mereka terdahulu, tradisi semacam ini terus dipegang teguh.

Dingin dan gelapnya malam seakan tak kuasa menahan laju para pesiarah yang terus berdatangan dari berbagai daerah di tanah air. Ratusan pesiarah ini datang dengan tujuan merayakan Grebeg Syawal. Sebuah tradisi yang dilaksanakan setahun sekali oleh keturunan sang Sunan Gunung Jati yakni Keraton Kanoman Cirebon.

Pagi harinya, suasana di komplek Makam Sunan Gunung Jati kian ramai seiring kehadiran Sultan Kanoman ke 12 Sultan Raja Emirudin. Sang sultanlah yang akan memimpin jalannya prosesi Grebeg Syawal.

Ribuan pesiarah langsung menyambut Sultan Raja Emirudin. Semuanya akan menyentuh pakaian atau tubuh sang sultan. Mereka menyakini, siapa yang bisa menyentuh tubuh sang sultan akan mendapat berkah.

Siraman Air Keramat

Ritual Grebeg Syawal yang berlangsung di komplek makam yang punya arsitektur unik ini sebetulnya adalah prosesi berdoa bersama. Yakni berzikir dan tahlil setelah bulan ramadhan berlalu.

Grebeg Syawal merupakan tradisi religi yang sudah dilaksanakan sejak Sunan Gunung Jati masih hidup ratusan tahun lalu. Berdoa dan berzikir, hanya itu inti dari perayaan Grebeg Syawal. Tidak ada prosesi lain. Namun dalam perjalanannya, berkembang berbagai macam mitos, seputar prosesi ziarah kubur ini.

Sugesti sepertinya memang sudah tertanam dan sulit untuk dibendung. Tanpa tahu siapa yang semula menyebarkannya, banyak diantara para peziarah yang datang kemudian berhadap mendapatkan berkah dari sang sunan. Seperti terlihat di salah satu sudut makam. Ada sebuah sumur yang dianggap keramat.

Para peziarah tak segan-segan menyiramkan air ke badan mereka seraya berharap mendapatkan berkah. Walau demikian, peziarah yang datang dengan niat sepenuhnya berdoa dan berzikir juga tidak sedikit. Mereka tetap khusuk mengirimkan doa bagi sang sunan yang telah berpulang ratusan tahun lalu.

Sisi lain yang menarik dari prosesi Grebeg Syawal ini adalah lingkungan makam Sunan Gunung Jati yang penuh dengan ornamen bernilai seni tinggi.

Keunikan bangunan komplek makam ini terlihat dengan badung yang berunsur Jawa, Timur Tengah dan Cina dalam arsitekturnya.

Bentuk bangunan dengan atap limasan memang ciri kas Jawa. Namun hiasan disekeliling dinding kental bernuansa Cina. Bisa jadi ini merupakan penghormatan terhadap salah seorang istri Sunan Gunung Jati Putri Ongpin yang berasal dari Cina.

Sedangkan hiasan kaligrafi cerminan dari pengaruh Timur Tengah. Sebuah bukti asimilasi budaya yang mengambarkan kearifan masa lalu. Komplek makam Sunan Gunung Jati dikelilingi 9 lapis pintu dengan tembok kokoh. Makam sang sunan berada dibalik pintu pertama yang merupakan pintu terdalam.

Sedangkan di lingkar berikutnya beristirahat para raja Cirebon dan kerabatnya yang notabene adalah keturunan sang sunan. Para peziarah hanya boleh masuk arena makam sampai kedepan pintu ke tiga. Termasuk kami tim Liputan. Karena setelah pintu ketiga hanya Sultan dan kerabat keraton saja yang boleh masuk.

Pintu ketiga inipun hanya dibuka pada saat-saat tertentu seperti perayaan Grebeg Syawal saat ini. Pembatasan pintu masuk bagi para peziarah untuk menghindari pengkultusan terhadap sunan, sekaligus untuk melindungi berbagai peninggalan kuno seperti guci berusia ratusan tahun yang berada di dalamnya.

Setelah kurang lebih selama 3 jam berada didalam komplek makam, Sultan Raja Amirudin diiringi para kerabat keraton beristirahat di Balai Panca Nipi menikmati hidangan santap siang sederhana. Sebagian makanan yang dihidangkan untuk sultan juga dibagikan kepada para peziarah yang berkerumuh disekitar Balai Panca Nipi.

Rangkaian Grebeg Syawal berakhir menjelang tengah hari dan ditutup dengan doa dan zikir yang dilakukan oleh sultan dan para kerabat Keraton Kanoman.

Menyaksikan Bidadari

Selain kental bernuansa religi, Keraton Kanoman juga memiliki warisan budaya yang tak kalah berharganya. Peninggalan tersebut berupa kereta kencana peninggalan Sunan Gunung Jati serta tarian Bedhaya Rimbe yang terakhir kali ditarikan sekitar 40 tahun lalu.

Keraton Kanoman yang telah berdiri sekitar 5 abad lamanya sehari-hari memang lengang. Tak banyak aktivitas yang terjadi. Disalah satu sudut Keraton Kanoman terdapat sebuah bangunan yang menyimpan perjalanan sejarah Cirebon di masa lalu.

Salah satu saksi bisu sejarah perjalanan Kerajaan di Cirebon adalah kereta kencana Paksi Naga Lima. Sebuah kereta kencana yang memadukan bentuk naga, burung dan gajah. Sebuah bukti pengaruh budaya Cina,Timur Tengah dan Hindu.

Bentuk naga mewakili budaya Cina. Burung melambangkan mitos Buroq dari kisah Islam di Timur Tengah, serta gajah atau lima yang berasal dari budaya Hindu.

Kereta ini dulunya pernah dipakai oleh Sunan Gunung Jati dan kemudian dipakai saat penobatan raja-raja Cirebon.

Dalam bangunan ini juga terdapat meriam rampasan zaman Belanda, perisai yang digunakan prajurit Keraton Kanoman serta berbagai benda yang menunjukkan terjadinya hubungan baik dengan kerajaan lain.

Sementara itu di bangsal Jinem yang berada didalam keraton tabuhan gamelan tengah mengiringi sebuah latihan tari. Bukan sembarang tarian yang tengah mereka latih. Inilah tari bedhaya rimbe, yang usianya sudah ratusan tahun. Namun tarian sakral ini hanya ditarikan untuk menghormati tamu agung.

Di hadapan ratusan tamu undangan, tarian yang hampir terlupakan inipun digelar. Untuk memberikan kesan hikmad, lampu sempat dimatikan. Penerangan hanya berasal dari lilin yang berada di tangan para penari.

Inisiatif untuk kembali menampilkan tari bedhaya rimbe dimunculkan oleh Sultan Raja Emerudin agar tarian ini tidak terlupakan di telan jaman. Moment silaturahmi di bulan Syawal pun dianggap tepat untuk kembali menampilkan tarian sakral ini.

Bedhaya Rimbi ditarikan 6 penari dengan posisi berjajar dan berhadapan. Rimbi sendiri bermakna berkilauan. Maknanya kurang lebih layaknya bidadari yang memancarkan cahaya berkilauan. Begitulah simbolisasi budaya rimbe.

Tak banyak yang bisa menarikan bedhaya rimbi, karena itulah re generasi menjadi sangat penting. Beban meneruskan dan mempertahankan tarian sakral ini kini berada di pundak para generasi muda Cirebon khususnya Keraton Kanoman.

Keinginan serupa juga disampaikan para penari pengiring yang masih berusia sangat belia.

Kami beruntung bisa menyaksikan tarian yang langka ini. Yang antara lain dihadirkan juga khusus untuk memberikan apresiasi pihak Keraton Keraton Kanoman terhadap sejumlah media massa termasuk kami dari Tim Liputan Program Teropong Indosiar.

Mempertahankan warisan leluhur memang bukan perkara mudah. Namun Keraton Kanoman tidak memiliki pilihan lain. Melestarikan budaya dan warisan leluhur adalah sebuah keharusan yang tak dapat ditawar.

Sehingga generasi di masa depan, masih bisa mengenal budaya asli tanah kelahiran mereka. Sebuah perjuangan yang tak akan mengenal kata selesai. (Sup)

Nama:
Email:

More TEROPONG:
[ more Teropong ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :