Nusantara
3-Jan-2006 16:31:25 WIB
TEROPONG
Kaki Naik Si Sapi Sonok



Berita HOT:
Tayang: Selasa, 3 Januari 2006 Pukul 12.00 Wib
Reporter : Sisca Tiur Gurning
Juru Kamera: Medi Trianto

indosiar.com, Pamekasan - Pulau Madura, bagian Provinsi Jawa Timur terkenal memiliki keunikan budaya. Dimana sapi menjadi bagian tradisi mereka. Sapi jadi hewan kebanggaan yang dipamerkan dalam acara tahunan.

Selain karapan sapi yang terkenal, ada sebuah acara khusus bagi sapi betina yang didandani bak ratu kecantikan. Ajang itu adalah festival Sapi Sonok kesanalah perjalanan kami sekarang.

Kabupaten Pamekasan akan menyelenggarakan acara yang mempertemukan sapi-sapi Sonok unggulan se Madura. Festival ini biasanya mengawali acara pesta rakyat karapan sapi.

Perjalanan menuju Pulau Madura dari Ibukota Jakarta kali ini kami lalui lewat darat. Memang meletihkan. Jarak yang harus ditempuh hampir 1000 kilometer. Namun suasana perjalanan cukup menyenangkan. Karena kondisi jalan lintas selatan menyuguhkan keindahan alam tersendiri.

Setiba di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, kami harus menggunakan kapal penyebrangan untuk menuju ke Pulau Madura. Hanya memakan waktu 30 menit untuk menyebrang. Namun masih sekitar 2 jam lagi untuk sampai di Kabupaten Pamekasan.

Persiapan mengikuti kontes Sapi Sonok sudah terasa dikediaman Haji Zaenudin yang berdiam di wilayah Waru Barat, Kabupaten Pamekasan. Walau kontes tingkat kabupaten sudah sering diikutinya, tapi untuk kontes yang akan berlangsung besok berbeda. Karena besok pesertanya adalah para pemenang di tingkat kabupaten se Madura.

Seperti perlakuan istimewa terhadap sapi jantan karapan demikian juga sapi-sapi betina ini diperlakukan. Yang akan bertanding besok adalah Den Ayu dan Titisan Air Mata. Jangan salah, itu bukan nama dua ekor sapi, tapi untuk dua pasang sapi.

Anggapannya, satu pasang sapi yang terdiri dari dua ekor ini bisa tidak kompak bila masing-masing punya nama sendiri. Sapi Sonok andalan milik Haji Zaenudin antara lain adalah Titisan Air Mata.

Berbagai penghargaan sebagai sapi terindah sudah sering diterima sang sapi yang kini berusia 5 tahun. Dengan bobot tubuh rata-rata 6 kuwintal, sapi-sapi betina ini tampak bersih dan molek.

Untuk kandang pun mereka mendapat tempat khusus. Bahkan musik kas madura sronen selalu diperdengarkan melalui tape rekorder. Perawat juga disediakan untuk bertugas menjaga kebersihan tubuh sapi, kandang dan makanan mereka.

Supaya terlihat menawan, tanduk sapi juga mendapat perhatian. Biar mengkilat harus sering disemir. Begitu pula bulu mata hingga seluruh tubuh harus dibersihkan dan dirapikan.

Sapi-sapi ini tidak hanya dimanjakan dengan perawatan. Mereka juga harus rajin latihan. Sapi Sonok milik Haji Zaenudin dilatih oleh Salawi, mantan jaga karapan.

Pelatih yang sering juga disebut pawang ini mengajarkan cara berjalan dan cara menjejakan kaki depan keatas sebuah kayu. Inilah sebabnya mengapa diberi nama Sapi Sonok. Yang berasal dari bahasa Madura Sokonah Nungkok atau kakinya naik. Hal ini menjadi penilaian penting dalam kontes nanti.

Hanya sapi yang terlatih yang bisa menaikkan kaki ke atas kayu, sehingga tampak rapi dan anggun. Kaki sapi yang tepat meletakkan kaki diatas papan tanpa meleset mendapat nilai yang tinggi.

Hari ini Haji Zaenudin tampak puas. Sapi kesayangannya berlatih dengan baik. Ia percaya sang Titisan Air Mata akan tampil tidak mengecewakan dalam kontes besok.

Mendandani Sapi

Hari ini di Halaman Eks Karesidenan Pamekasan, Madura sudah mulai ramai. Sebanyak 24 pasang sapi betina pemenang di tingkat Kabupaten Bangkalan, Sampang, Sumenep dan Pamekasan, akan ikut kontes Sapi Sonok.

Truk-truk pengangkut sapi seperti tak ada hentinya berdatangan. Yang mengiringinya pun banyak. Maklum, selain pawang dan para asistennya, sang pemilik juga biasanya mengajak rombongan kesenian kas Madura Sronen. Dengan musik ini diharapkan sapi-sapi akan berlengak lengok anggun.

Setelah turun dari truk, kesibukan langsung terasa ditiap rombongan. Layaknya ratu kecantikan, pasangan sapi betina didandani dengan pernak pernik perhiasan. Ada perangkat perhiasan untuk penutup leher, penghias kepala bahkan untuk tanduk.

Perhiasan yang dipakai untuk mendandani sang kontestan ini umumnya mahal harganya. Bisa jutaan rupiah karena sebagian terbuat dari emas.

Sementara sang sapi dihias, para pemusik sronen juga seperti tidak mau kalah. Selain mengenakan pakaian tradisional, para pemain sronen tidak ketinggalan beraksi dengan memakai kacamata hitam dan kaos kaki.

Umumnya para pemusik sronen ini terdiri dari 2 pemain trompet, pemain kenong, kendang dan pemain gong serta kencer.

Seperti seorang model yang demam panggung saat hendak kontes, hal ini juga dialami oleh sapi betina yang bernama Liga 2005 ini. Tubuhnya selalu bergerak seolah bisa.

Sehingga sang pawang akhirnya memijat lidah si Liga 2005 ini dengan minyak kelapa dan memberinya makan. Menurut sang pawang, sapi betina ini belum mengenal medan. Karena baru pertama kali iku dalam ajang sebesar ini.

Peserta yang ini bernama Putri Keraton. Pemiliknya Muhammad Faizal Affandi, siswa kelas 1 SMU dari Sampang. Faizal (15), adalah pemilik sapi Sonok paling muda yang ikut dalam kontes tahunan ini. Memang sedari kecil, Faizal sudah menyukai budaya sapi Sonok dan itu juga karena warisan dan didikan sang ayah guna menjaga tradisi budaya.

Suasana kian semarak. Terlebih lagi setiap peserta membawa rombongan pemusik sronen yang terus memainkan musik mereka masing-masing. Kelompok pemusik pengiring untuk karapan sapi da sapi Sonok ini biasanya dimiliki atau khusus disewa pemilik sapi.

Sebelum kontes di mulai, seluruh peserta sapi Sonok melakukan pawai bersama. Salawi, si mantan jogi karapan yang kini jadi pawang sapi Sonok si Titisan Air Mata juga ikut beraksi.

Para pawang mengarahkan sapi berjalan perlahan-lahan sambil menari bersuka. Kontes kecantikan sapi betina kas Madura atau kontes Sapi Sonok tampaknya sudah siap digelar.

Saat Kakinya Naik

Setiap pasangan sapi Sonok akan melewati lapangan yang panjangnya 180 meter. Untuk putaran pertama, arena hanya dilalui oleh dua pasangan sapi Sonok dan pawangnya.

Titisan Air Mata, wakil dari Pamekasan akan unjuk kebolehan. Setelah mendapat aba-aba para peserta berjalan perlahan-lahan unjuk kebolehan berjalan anggun lurus kedepan.

Sapi-sapi betina ini harus berjalan lurus kedepan dalam waktu 15 menit. Jika sapi mengijak tali pembatas maka akan ada pengurangan nilai sebanyak 5 poin. Di ujung lintasan, sapi-sapi betina yang terlatih baik ini kelihatan berhati-hati saat menaikkan kaki depan.

Yang unik bagi mereka yang sudah merasa sapinya banyak melakukan pelanggaran penilaian maka dengan sendirian sang pawang akan menurunkan sapinya duluan sebagai pengakuan kalah.

Liga 2005 sepasang sapi betina yang tadi terkena demam panggung kali ini akan memasuki arena. Sepertinya pasangan sapi betina ini dapat tampil dengan baik. Selain ketepatan berjalan, keserasian saat melangkah juga turut dinilai. Demikian pula dengan kebersihan kuku, tubuh dan kepatuhan pada perintah sang pawang menjadi aspek yang cukup menentukan.

Seluruh kontestan yang berjumlah 24, semuanya sudah tampil. Dalam kontes ini ada kategori golongan atas dan golongan bawah. Bagi kontestan yang menang akan masuk babak berikutnya. Begitu juga bagi yang kalah.

Lucu juga rasanya, mereka yang kalah masih tetap ada kesempatan bertanding seperti dalam karapan sapi. Kontes masih berlanjut. Kali ini yang maju tiga pasang sapi terbaik.

Para pesiden pun turun panggung. Piala penghargaan akan diserahkan oleh mereka. Semua bersuka menari bergembira. Berbeda dengan karapan sapi, kontes sapi Sonok ini bukanlah ajang untuk mendapat kemenangan.

Semua kontestan memperoleh piala penghargaan. Sebagai apresiasi terhadap pemilik sapi yang sudah merawat dan memelihara sapi-sapinya dengan baik sambil menjaga tradisi budaya.

Budaya sapi Sonok bernilai menjauhkan masyarakat dari unsur penganiayaan terhadap hewan, sekaligus memelihara dari kepunahan. Menjadi sebuah inspirasi penghargaan terhadap hewan di Madura dapat melahirkan kekayaan tradisi budaya. (Sup)

Nama:
Email:

More TEROPONG:
[ more Teropong ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :