
Kabupaten Banyumas, salah satu kabupaten di Jawa Tengah memiliki kekhasan tersendiri. Disinilah terletak Desa Pekuncen, sebuah desa di lereng perbukitan yang masuk dalam wilayah Kecamatan Jatilawang.
Di Desa Pekuncen hadir komunitas pengikut ajaran Kyai Bono Keling. Makam Kyai Bono Keling yang berada di Desa Pekuncen pun hingga kini sangat dikeramatkan para penganutnya. Semua ritual, merujuk pada Sang Kyai.
Desa Pekuncen yang kami datangi ini berpenduduk sekitar 5 ribu jiwa. Sebagian besar warganya hidup dari bertAni dan berkebun. Sawah bagi mereka adalah sekolah atau tempat belajar hidup. Jadi tidak heran, 50 persen penduduknya hanya tamat Sekolah Dasar. Bahkan 20 persennya masih buta huruf. Soal religi, mayoritas menganut Islam kepercayaan, hasil ajaran Kyai Bono Keling.
Kami menemui kepala desa setempat, Pak Darsum. Berbeda dengan bayangan kami, mereka cukup terbuka memberi informasi. Tak lama lagi di Pekuncen akan berlangsung sebuah ritual setiap bulan Syawal. Warga Pekuncen akan mengadakan pembersihan makam Kyai Bono Keling. Dalam ritual ini, Pekuncen akan didatangi sejumlah pengikut kepercayaan ajaran Kyai Bono Keling, yang berdomisili di luar desa.
Hari ketika kami datang ternyata Desa Pekuncen tengah berduka. Salah seorang warganya meninggal dunia. Hampir seluruh warga Pekuncen berbondong-bondong datang melayat, sambil membawa beras atau makanan untuk keluarga yang ditinggalkan.
Umumnya agama yang mereka anut adalah Islam. Namun Islam menurut mereka ada dua yaitu Islam sholat dan Islam salat. Islam sholat adalah yang melakukan peribadatan dengan sholat 5 waktu sedangkan Islam salat, tidak melakukan sholat 5 waktu, akan tetapi berbuat baik dan memberi teladan kepada semua orang, menghormati yang tua, dan memuja nenek moyang mereka yaitu Kyai Bono Keling.
Uniknya, seluruh ajaran sang kyai tidak ada yang tertulis. Semuanya disampaikan hanya melalui ucapan. Karena itu di Banyumas, ajaran yang disampaikan Kyai Bono Keling terkenal dengan nama Turki atau Pituturing Kaki yang artinya nasihat dari nenek moyang, yang diyakini mengandung kebenaran, kerukunan dan membawa kebaikan bagi semua orang.
Salah satu ajarannya antara lain soal membawa bahan makanan pada keluarga yang anggotanya meninggal. Sebagai imbalan, para pelayat diberi uang logam sejumlah 500 rupiah, tanda terima kasih. Besarnya imbalan ini disesuaikan dengan kemampuan. Para pelayat juga dilarang meninggalkan kediaman orang yang meninggal dunia sebelum jenazah dimakamkan.
Tidak adanya kitab tertulis mengenai ajaran sang Kyai Bono Keling, membuat posisi juru kunci jadi amat penting. Melalui dirinyalah, para pengikut Bono Keling mendapat ajaran secara lisan. Dalam tugasnya ini, sang kyai juru kunci dibantu sejumlah orang yang disebut Bedogol.
Kepada merekalah kami bertanya tentang siapa sesungguhnya Kyai Bono Keling. Tapi ternyata dalam hal ini mereka sangat tertutup. Mereka seperti enggan menjelaskan, siapa Bono Keling sebenarnya.
Yang mereka katakan hanyalah, Kyai Bono Keling dulunya seorang petani yang berasal dari Desa Pasir di Purwokerto. Tidak ada lukisan atau apapun yang bisa menggambarkan sosok sang kyai. Sosoknya terasa begitu dirahasiakan. Bagi penganut ajarannya, tidak penting sosok sang kyai diketahui publik luas. Ia cukup diketahui oleh keturunannya saja, sesuai dengan namanya Bono Keling yang berarti tempat yang dirahasiakan.
Menjadi Anggotanya....
Bagi penganut Islam Kejawen di Desa Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah, posisi kyai juru kunci adalah pemimpin umat dan adat. Saat ini kyai kunci dijabat oleh Mejasari. Usianya sudah 82 tahun. Ia merupakan juru kunci yang ke-12. Tidak ada batas waktu untuk jadi juru kunci. Bisa diganti jika yang bersangkutan mengundurkan diri, duda atau meninggal dunia.
Tugas yang diemban Mejasari sebagai juru kunci adalah melayAni umat yang datang dan melaksanakan ritual. Yang lebih penting lagi, memelihara makam Kyai Bono Keling. Dalam melaksanakan tugasnya, kyai juru kunci dibantu seorang wakil yang disebut pemanggul dan 5 orang asisten yang disebut bedogol.
Walaupun ajaran Bono Keling sudah seperti mendarah daging bagi warga Pekuncen, namun toh seseorang baru dipertanyakan arah kepercayaannya ketika ia sudah akil balig dan beragama Islam. Untuk perempuan, 17 tahun, pria, 12 tahun atau sudah disunat. Melebuh, demikianlah sebutannya bagi orang yang akan masuk ke dalam ajaran kepercayaan Kyai Bono Keling.
Penganut Bono Keling tidak mengharuskan keturunannya punya kepercayaan yang sama. Seperti pada keluarga Sumitro. Samini, anak perempuan Sumitro kini sudah berumur 17 tahun. Saatnya ia menentukan sikap, apakah mau ikut melebuh, yang berarti turut aliran kepercayaan Bono Keling, atau tidak. Seandainya Samini tidak mau pun, tidak ada sanksi baginya. Tapi tentu saja kesediaannya bergabung ini membuat orang tuanya bahagia.
Jika yang akan masuk jadi anggota Bono Keling, laki-laki, maka yang berhak mensahkannya adalah bedogol. Tapi bila perempuan yang akan melebuh, maka istri bedogollah yang mengangkatnya. Karena itu, selain juru kunci, para asisten atau bedogol dan istri mereka juga harus menguasai mantera-mantera.
Sayangnya, kami tidak boleh mengambil gambar, ketika mantera-mantera diucap sang istri bedogol. Bagi mereka, mantra itu sangat sakral dan hanya boleh diketahui umatnya. Sejak itulah Samini berhak mendapatkan semua ajaran Kyai Bono Keling.
Para pengikut ajaran Bono Keling datang berjalan kaki dari Cilacap. Sekitar 50 kilometer mereka tempuh, tanpa sekalipun berkendaraan. Beriringan, mereka membawa bahan makanan yang akan dimasak ramai-ramai di Pekuncen. Rombongan ini akan ikut ritual syawalan, atau mereka biasa menyebutnya sebagai turunan. Ritual turunan di Pekuncen merupakan kelanjutan dari tradisi nyadran yang dilakukan sebelum bulan puasa, sebagai ucapan syukur dan memohon keselamatan.
Dan bagi para pengikut yang berdomisili di Cilacap, berjalan kaki seharian Ini adalah syarat yang tak bisa ditawar, walau mereka tak tahu apa alasannya.
Di Desa Kali Urip, perbatasan antara Banyumas dengan Cilacap, para pejalan kaki dari Cilacap disambut perwakilan adat dari Pekuncen. Metuk, demikianlah istilahnya. Semua itu dilakukan untuk menghormati tamu yang datang. Semua barang bawaan, dibawa penjemput ke rumah kyai juru kunci.
Para tamu dari jauh ini dibawa ke balai adat untuk melakukan caos atau sungkeman pada kyai juru kunci dan seluruh bedogol, didampingi aparat desa. Para lelaki mengawali sungkeman, sementara kaum perempuan belakangan. Selain untuk menghormati orang tua, caos atau sungkem dilakukan juga untuk mendapat berkah dari Sang Pencipta melalui para kyai.
Malam Jumat Kliwon, semua perwakilan umat berkumpul di balai pasemuan atau tempat musyawarah. Disinilah akan berlangsung neduh atau puji-pujian, minta ijin kepada Kyai Bono Keling untuk merapikan lingkungan makam sang kyai. Sekaligus meminta keselamatan dalam pelaksanaan syukuran besok. Mantra ini diucapkan sebanyak 25 kali, dengan merujuk jumlah nabi dan dilanjutkan 17 kali sesuai jumlah sholat 17 rakaat.
Berguling-guling.....
Pagi ini kaum mudanya terlihat banyak bergerak. Hari ini memang ritual turunan dimulai, diawali dengan menyembelih hewan kurban. Air sungai yang mengalir, membuat mereka tak perlu repot-repot mencuci. Nantinya hewan-hewan ini dimasak bersama. Sementara itu, kyai juru kunci dengan seluruh bedogol dan para tamu, menuju ke pemakaman Kyai Bono Keling.
Sebelum memasuki Panembahan Kyai Bono Keling, semua harus berwudhu dulu. Tapi cara berwudhu ini sangat berbeda dengan ajaran Islam yang diturunkan Nabi Muhammad. Mereka hanya kumur-kumur dan mengusap muka.
Selain Kyai Bono Keling, tempat ini juga jadi peristirahatan terakhir para kyai juru kunci terdahulu dan sesepuh adat. Jumlahnya ada sekitar 20-an. Ritual turunan ini bisa dibilang semacam pembersihan makam. Sisa-sisa pembakaran kemenyan, yang menumpuk, dibuang.
Selain membersihkan kompleks makam, pagar bambu juga akan dibuat. Tape sebelumnya, para bedogol harus minta ijin dulu pada makam Eyang Bagus, yang semasa hidupnya orang kepercayaan Kyai Bono Keling. Pembuatan pagar bambu ini hanya dilakukan setahun sekali pada tradisi turunan. Sama seperti acara memasak, dalam pembuatan pagar bambu ini juga semua aktif bekerja.
Barulah setelah semua pagar selesai diganti, kini warga bisa sungkeman ke makam Kyai Bono Keling. Sungkeman harus diawali kaum perempuan, kemudian diikuti para lelaki. Perempuan dipimpin Nyai Bedogol yang dituakan, sedangkan kaum prianya dipimpin kyai juru kunci. Saat inilah apa saja keinginan dan harapan umat kejawen Bono Keling bisa disampaikan di tempat ini.
Saat kami di sana, memang banyak yang datang untuk menunaikan nadzar mereka yang terkabul, saat mereka memohon sesuatu di sini sebelumnya. Salah satunya, sumiati. Ia datang bersama anaknya yang dulu sering sakit-sakitan. Tapi sekarang sudah sembuh.
Pemerintah daerah setempat pernah berniat menjadikan kawasan Pekuncen sebagai daerah wisata. Namun para pemimpin adat menolaknya. Mereka khawatir, umat kejawen di Pekuncen akan terlena dengan kemewahan, padahal tradisi leluhur mereka melarangnya.
Mereka juga tak hirau dengan anggapan orang terhadap kepercayaan yang mereka anut. Bagi umat Bono Keling, kesederhanaan, saling menghormati sesama, patuh pada pemimpin dan hormat pada yang lebih tua serta mengedepankan kebersamaan dan gotong royong, sudah cukup untuk menunjukkan hidup mereka punya makna.(Idh)