
indosiar.com, Sumba - Kabupaten Sumba Barat, yang terletak di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, beberapa bulan lalu pernah mengguncang kita dengan cerita pilu busung lapar yang diderita ribuan anak usia balita. Kini sekian bulan berlalu, nyatanya busung lapar masih jadi teror di tempat ini.
Musim kering berkepanjangan dan tradisi setempat seperti adanya budaya berpesta meski mengalami gagal panen. Minimnya pengetahuan pola asuh yang benar, juga kondisi rumah yang tidak sehat, kian memperparah busung lapar di Sumba.
Tangan mungil yang berkerut ini milik Anton Detu Bulu, salah seorang penderita busung lapar yang dirawat di Rumah Sakit Karitas, Weetebula, Sumba Barat. Meski telah berumur 6 bulan, berat badannya hanya 4 kilogram. Kedua kakaknya sudah meninggal dunia, juga akibat busung lapar.
Anton tidak sendirian. setidaknya ketika kami datang, ada lebih dari 30 anak yang menderita berbagai komplikasi penyakit akibat busung lapar, dirawat di sini. Salah satunya, Rivaldi.
Balita berusia 20 bulan, warga Desa Pondobohila, Kecamatan Laura ini, pernah dirawat Agustus lalu akibat busung lapar yang ia diderita. Ia sempat pulang, tapi 3 bulan kemudian kembali dirawat. Busung lapar membuatnya gampang terkena penyakit. Rivaldi menderita TBC kronis, bahkan kini saluran pencernaannya infeksi.
Kisah Margaretha tak jauh beda. Balita berusia 19 bulan yang tinggal bersama orang tuanya di Desa Ringurara, Lamboya ini, telah didata petugas puskemas setempat sebagai penderita busung lapar. Namun kondisinya tidak juga menunjukkan perbaikan hingga kini.
Lukas Legahodi, penderita busung lapar lainnya, sehari-harinya diasuh oleh sang nenek yang telah berusia 65 tahun. Ayahnya lebih memilih bekerja di ladang, sementara ibunya meninggal akibat TBC sejak Lukas berusia 5 bulan. Sejak saat itu, kesehatannya menurun.
Kondisi Marlina Peda tidak kalah tragis. Meski telah berusia 5 tahun, berat badannya hanya 10 kilogram. Berbagai penyakit sering menerpanya, seperti diare, sesak napas, campak, dan malaria. Marlina tinggal bersama seorang adiknya yang berusia tiga tahun, ibunya yang tengah mengandung, dan ayahnya yang hanya seorang buruh tani. Di sebuah gubuk sangat sederhana, yang berukuran 1,5 kali 2 meter di daerah Kodi, Sumba Barat.
Desa Pati Aladete di Kecamatan Lamboya tak banyak beda dengan desa lain di Sumba Barat. Miskin, dan pengetahuan orang tua tentang nilai gizi makanan pun amat minim.
Seperti ketika kami datang bersama petugas puskesmas setempat, menjenguk Lukas Legahodi, salah seorang penderita busung lapar. Oleh sang nenek, ia diberi makan nasi. Hanya nasi. Tanpa lauk, tanpa sayur, tanpa sumber protein apapun. Padahal mereka memelihara ayam yang produktif bertelur. Sayur-mayur juga tinggal memetik.
Ini bukan hanya terjadi pada Lukas seorang. Kondisi ini sudah biasa pada kebanyakan anak-anak di Sumba Barat. Selain itu, anak-anak yang seharusnya butuh perhatian ekstra ini, dalam kesehariannya diasuh oleh kakak mereka, yang juga masih kecil, atau nenek mereka, sementara orang tua anak-anak ini bekerja di ladang atau kebun.
Masyarakat Sumba Barat sebagian besar adalah petani tadah hujan yang miskin. Maka saat musim kemarau panjang tiba dan gagal panen melanda, mereka bertahan hidup hanya dengan mengkonsumsi jagung serta singkong. Tidak ada yang lain.
Kekeringan yang lebih parah dialami masyarakat Kecamatan Kodi. Sebagian besar warga kecamatan yang berada di daerah pesisir Pantai Sumba Barat ini, hidup di bawah garis kemiskinan. Keterpurukan mereka kini semakin parah, setelah kenaikan harga BBM per 1 oktober 2005 lalu. Rumah tempat mereka tinggal juga punya kontribusi besar terhadap kondisi kesehatan penghuninya.
Warga di Desa Sumba Barat tinggal di rumah panggung yang disebut 'umma'. Ukurannya pun kebanyakan tidak luas, ada yang hanya sekitar 2 kali 2 meter. Umumnya, tidak punya sirkulasi udara yang memadai.
Sumba Barat pun menjadi endemi beragam penyakit menular mematikan seperti tbc, cacingan, malaria, diare, dan campak. Bahkan data Rumah Sakit Karitas, di Weetebula menunjukkan, hampir setiap hari ada warga Kecamatan Kodi, yang meninggal dunia akibat penyakit-penyakit tersebut. Ironisnya, dalam keterbatasan perekonomian mereka, masyarakat Sumba masih sangat menjunjung adat. Bagi mereka, lebih baik tidak makan, asal ritual adat yang sebetulnya berbiaya mahal, tidak terlewatkan.
Bahkan tak jarang, demi adat dan gengsi, warga Sumba Barat berhutang ternak seperti kerbau, kuda, dan babi, kepada tetangga dan kerabatnya, meski akhirnya tak sanggup membayar kembali. Anak-anak mereka pun jadi korban. Sementara itu, para petugas kesehatan di lapangan, juga seperti kehilangan akal.
Indikasi Penyelewengan Itu.....
Para petugas kesehatan di puskesmas wilayah Sumba Barat, umumnya sudah paham benar mengenai masalah yang mereka hadapi. Tapi toh sulit juga untuk bisa mengubah sebuah tradisi, bila itu hanya dilakukan sendiri-sendiri. Gizi buruk dan busung lapar sebetulnya memang bukan hal baru di Kabupaten Sumba Barat, NTT. Anak-anak di daerah ini sudah sangat lekat dengan kondisi kurang gizi, serta beragam penyakit menular lain akibat rendahnya daya tahan tubuh mereka.
Meski demikian, pemerintah baru memberi perhatian dan menetapkan status kondisi luar biasa, atau KLB, busung lapar awal Agustus 2005 lalu, setelah kasus ini ramai diangkat di media massa.
Tak tanggung-tanggung, pemerintah pusat mengucurkan dana penanganan KLB busung lapar sebesar hampir 5 miliar rupiah untuk Pemda Sumba Barat. Namun penggunaan dana KLB itu, seolah tak terlihat hasilnya. Masih banyak anak-anak Sumba Barat yang menderita busung lapar.
Dinas Kesehatan Sumba Barat mencatat, terjadi sejumlah kendala dalam pemberian makanan tambahan ini. Antara lain formula makanan yang tidak cocok, sehingga banyak anak yang sakit perut atau menolak makan.
Margaretha, yang berusia 19 bulan ini, awal Agustus lalu telah didata Puskesmas Kabukarudi, Lamboya, sebagai salah satu penderita busung lapar. Meski demikian, ketika kami temui 4 bulan kemudian, kondisi kesehatannya tidak juga membaik. Hampir setiap bulan rata-rata pasien penderita busung lapar yang dirawat di Rumah Sakit Karitas, Weetabula, berjumlah lebih dari 40-an balita.
Rumah sakit swasta ini tidak pernah membebankan biaya perawatan sepeserpun pada pasien penderita busung lapar. Namun anehnya, Pemda Sumba Barat tidak memberikan dana sedikitpun juga bagi rumah sakit swasta yang dikelola sebuah yayasan Katholik ini. Derita anak-anak di Sumba Barat seolah masih belum cukup dengan jalur birokrasi ini. Ada indikasi, terjadi penyelewengan dana.
Longgarnya pengawasan, dan kurangnya kepedulian aparatur pemerintah terhadap masalah ini, seolah saling melengkapi dengan ketidaktahuan warga akan pola asuh anak yang benar. Menyebabkan busung lapar tetap bertahan di wilayah ini. Mengundang ancaman lain. Ancaman penyebaran penyakit seperti diare dan malaria otak, yang berpotensi menurunkan kecerdasan, bahkan merenggut jiwa. Padahal di tangan anak-anak ini jugalah, masa depan bangsa berada.(Idh)