
Reporter : Sisca Tiur Gurning
Juru Kamera : Warsam Aji
indosiar.com, Magelang - Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, disitulah letak Kecamatan Dukun. Berada tepat di lereng Gunung Merapi. Kebanyakan warganya bekerja sebagai petani, dan mayoritas beragama Katolik. Yang membuatnya istimewa, perayaan natal di tempat ini sarat dengan warna tradisi setempat. Berlangsung di tengah indahnya panorama Gunung Merapi. Berlangsung pula di tengah kegalauan warga atas terganggunya keseimbangan alam di kawasan Merapi.
Sehari menjelang natal, anak-anak di Kecamatan Dukun melakukan ritual pengambilan air di salah satu mata air di Desa Tangkil, Ngargomulyo. Mayoritas warga Kecamatan Dukun, memang beragama Katolik. Ada sekitar 3 ribuan jumlahnya. Bisa dibilang semua hidup dari usaha pertanian. Dekat dengan alam. Karena itu tak heran, semua anak tidak canggung menempuh jalanan curam menuju mata air. Yang akan memandu ritual pengambilan air suci, Romo Kirjito, pastor Paroki Saint Maria Lourdes Sumber.
Ada semacam pentas teater yang dilakonkan warga, untuk menggambarkan mahluk Merapi, penunggu air jernih yang terpancar tanpa henti. Menjadi sebuah pengakuan nyata, air adalah awal dan sumber kehidupan. Sepatutnya, keberadaannya terus dijaga.
Mungkin aneh mengapa harus ada ritual seperti ini. Tapi bila ditelusur, sudah sejak lama warga yang tinggal di Merapi percaya, kawasan gunung berapi ini punya banyak hal gaib. Bila diganggu, ia akan murka. Sebuah keyakinan yang berperan besar dalam menjaga lingkungan dan keseimbangan alam di Merapi. Dalam pemahaman inilah, ritual pengambilan air turut ambil bagian dalam perayaan natal di Kecamatan Dukun.
Bahkan, gereja Katolik, Paroki Saint Maria Lourdes Sumber, mempopulerkan gerakan mencintai air. Mengingat Merapi dulu amat kaya dengan mata air, namun kini tak semudah dulu menemukannya. Banyak tanah terkikis akibat penambangan pasir Merapi yang dilakukan membabi buta.
Ada hal lain yang berbeda dalam natal kali ini. Akan ada pembagian nasi gurih. Nasi gurih inilah yang sekarang tengah disiapkan para ibu di setiap wilayah Gereja Katolik Lereng Merapi.
Ternyata, makanan yang sudah dimasak bersama ini bukan untuk sekedar disantap. Nasi ini jadi bentuk perenungan dan pembelajaran kepada umat, makan itu adalah doa. Ungkapan terima kasih atas makanan yang ada. Kental memang penghormatan warga Dukun terhadap Merapi. Bagi mereka, hasil karya Sang Pencipta harus dihargai keberadaannya dengan cara memperlakukan ciptaannya itu dengan baik.
Misa malam natal di Paroki Saint Maria Lourdes Sumber, berlangsung di 3 wilayah. Salah satunya di Gereja Gubug Selo, Grogol. Lagi-lagi, nuansa tradisional terasa lekat. Bahkan tata ibadah pun berlangsung dengan iringan gending Jawa.
Dari sisi aturan pelaksanaan ibadah, apa yang dilakukan Paroki Saint Maria Lourdes Sumber ini disebut sebagai inkulturasi. Maksudnya, bentuk budaya lokal diperbolehkan untuk memperdalam penghayatan terhadap keimanan.
Jadi misalnya, jangan harap ada hiasan pohon natal, yang terang benderang disini. Gereja yang terbuka tanpa dinding sekat ini, berhiaskan hasil bumi, air dan rangkaian pernak-pernik dari daun kelapa.
Malam itu nasi gurih hasil masak tadi siang jadi simbol penghayatan. Lewat makanan, umat bisa belajar menghargai kekayaan alam yang dianugerahkan Sang Maha Pencipta.
Natalan Petani....
Sebelum misa dimulai, Romo Kirjito memimpin ritual pemberkatan bibit tanaman dan alat-alat kerja petani. Memang umat di Paroki Sumber ini hampir seluruhnya berprofesi sebagai petani. Bisa jadi misa natal di sini adalah natalan kaum tani. Kesederhanaannya, yang jauh dari hingar-bingar kota, membuat perayaan natal di sini terasa amat menyentuh kalbu, membuatnya menjadi lebih khidmat.
Perayaan natal di Kecamatan Dukun bukan saja khidmat, tapi juga seperti sebuah pesta rakyat. Salah satunya, tarian kuda kepang yang dilakukan anak-anak warga Kecamatan Dukun. Kesenian memang jadi salah satu aktifitas yang banyak diikuti warga, terutama anak-anak. Bahkan ada sebuah komunitas seni yang tumbuh subur disini. Sang romo pun tak mau ketinggalan, ikut ambil bagian, memainkan gending.
Natal ala para petani di Merapi ini mengundang kami untuk mengenal lebih dekat hidup mereka sehari-hari. Itulah sebabnya, selesai misa natal, kami ikut dengan Barnabas Delan, yang pulang menuju rumahnya.
Barnabas Delan yang berumur 60 tahun, kini hanya hidup berdua dengan istrinya. Keempat anak mereka sudah berkeluarga. Bagi mereka, perayaan natal tak ada beda dengan hari biasa. Aktifitas bertani, tetap harus jalan terus.
Kali ini Pak Barnabas mengajak kami untuk menemaninya mengarit, menebas rumput untuk makanan 2 ekor sapi miliknya. Ternyata lumayan jauh juga perjalanan menuju tempat mengarit. Perlu waktu sekitar satu jam berjalan kaki. Tapi lelah seperti tak terasa karena hijaunya alam di sini.
Tapi bagi Pak Barnabas, indahnya alam di Merapi sudah jauh berkurang dibandingkan dulu. Maraknya penambangan pasir yang dilakukan membabi buta, banyak merusak lingkungan di Gunung Merapi. Sehingga gerakan mencintai lingkungan seperti yang diusung gereja Katolik di Merapi ini didukung penuh olehnya dan warga lain.
Dibalik suka cita natal, ada keprihatinan warga desa Kecamatan Dukun saat ini. Bukan karena Merapi yang tak pernah lelap, namun sebuah kegundahan, karena alam Merapi yang terus menerus diekploitasi tiada henti, diambil pasir dan batunya. Khawatir, alam Merapi yang indah dan subur, akan berubah menjadi bencana.
Kegundahan Merapi....
Gunung Merapi, penuh dengan misteri dibalik keindahannnya. Merapi bisa tiba-tiba murka, sehingga memuntahkan isi perut bumi. Namun membuat alam sekitar menjadi kaya dan subur. Pasir dan batu yang melimpah, kekayaan yang menarik minat untuk dieksploitasi.
Kami menyusuri jalan yang dilewati truk-truk pengangkut pasir dan batu. Hampir seluruh jalan rusak berat. Karena selama 24 jam, seperti tiada henti, truk hilir mudik mengangkut kekayaan Merapi.
Kerusakan jalan adalah salah satu hal yang dirasakan langsung oleh warga, saat ini. Ongkos transportasi pun jadi naik hampir 2 kali lipat. Mempengaruhi mobilitas warga. Stabilitas keamanan pun terganggu. Warga resah, khususnya di Kecamatan Dukun, karena eksploitasi ini tidak memberi kontribusi apapun kepada warga.
Dan yang lebih menakutan, jika kerakusan tiada batas, alam pun jadi murka. Keprihatinan ini pun menjadi pergumulan gereja. Bersama warga tanpa pandang perbedaan, gerakan moral mulai digalakkan, terlebih dahulu dengan gerakan mencintai air.
Menggunakan momentum natal untuk memperbaiki lingkungan, sejatinya menunjukkan agama bukan hanya soal tata ibadah, tapi juga memberi jawaban dalam persoalan kehidupan. Dari perayaan natal yang sederhana, kearifan itu datang. Sebuah kearifan yang membumi.(Ijs)